• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

menuju perjalanan dan semakin jauh

Kurapikan semua buku dan pakaianku. Kulipat dan kutaruh di tempatnya. Aku berkemas. Berkemas untuk suatu perjalanan jauh. Dan selamat tinggal. Semua.

Jika ada orang datang menemuiku malam ini dan menawarkan bantuannya, aku akan sangat berterimakasih dan menyampaikan satu-satunya permintaanku saat ini: tolong sampaikan maafku untuk semua orang yang pernah berbicara denganku.

Aku masih mengingatnya, suatu hari di mana awan yang bergulir begitu lambat bergerak, angin yang bertiup begitu tenang menghembus, ombak yang mengalun begitu tenang mengelus, dan semuanya melambat, semuanya seperti lelah menjalani hidupnya.

Beberapa dari kita kadang tak punya kesempatan untuk mengatakan permintaan maafnya. Beberapa dari kita tak sempat untuk mengatakannya, beberapa dari kita ketakutan untuk mengatakan maafnya. Dan tak pernah berubah.

Apa yang mengubah kita? Tiap pandangan kita? Tiap pengertian kita? Tiap keinginan dan kehendak? Bagaimana seseorang bisa melakukannya? Mati untuk sesuatu yang tak berarti? Begitu sampahkah hidup ini baginya? Atau terlalu sia-sia dia mencoba?

Apa yang terjadi? Badai yang mengoncang lautan, lautan yang menenggelamkan daratan, darat yang gempa dan meruntuhkan gunung, gunung yang meletus dan menghitamkan sungai, sungai yang mongering dan manusia yang kering kerontang.

Seseorang sedang sekarat. Di tangannya ada segenggam pasir dari sebuah pantai yang tak pernah dikunjunginya. Dia tidak lagi memiliki permintaan walau hanya satu. Dunianya telah mengelabu dan dia membiarkannya begitu. Karena waktu yang datang padanya semakin menipis. Tapi hanya satu, ada kecewa dalam hatinya, dia tidak pernah datang ke pantai yang pasirnya kini dalam genggaman tangannya.

Apakah badai ini, apakah topan ini, apakah puting beliung ini, apakah rebut ini, apakah deru yang menggerung dan merobohkan rumah-rumah dan menerbangkan gentingnya yang rapuh datangnya dari dalam hatiku? Datangnya dari balik tulang dadaku? Dari dalam benakku? Atau, mungkinkah, dari hati, dada dan benak orang lain? Tapi siapa yang semenyengsara itu di dunia ini?

Tenanglah, tenanglah, tenanglah, ada sesuatu yang sedang berayun dengan lembut. Tenanglah. Ada selembar daun yang sedang gugur, ada seutas benang yang kusut, ada seberkas cahaya yang kini menyembuhkan semuanya. Tenanglah. Tenanglah. Tenanglah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: