• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Bagaimana Jika Yahudi Tidak Membangun Tembok Untuk Palestina?

tembok itu memisahkan mereka dari para yang 'lainnya'

tembok itu memisahkan mereka dari para yang ‘lainnya’

[ARFAN] Artikel ini saya susun berdasarkan berbagai tulisan berbahasa Inggris yang saya baca di situs-situs pribadi maupun lembaga resmi, juga dari beberapa video dokumenter dan siaran berita. Semua yang saya saksikan sebenarnya adalah potongan-potongan mozaik dari suatu peristiwa besar yang terserak dan tersamarkan oleh banyak peristiwa lainnya: perang, uji coba senjata, kenaikan harga barang, pembunuhan di jalanan, kecelakaan, kemenangan sebuah tim sepak bola, gempa bumi, artis bercerai dan banyak lagi lainnya. Tapi sekali Anda bisa membawa dirimu ‘ke atas’ dan melihat semuanya dengan melepaskan diri dari ikatan peristiwa-peristiwa yang lain, Anda akan berhasil melihatnya dengan utuh dan jelas. Maka Anda akan terkejut. Anda akan mendapatkan keutuhan pemahaman sebagaimana seorang penjelajah yang mendapatkan kesempatan naik helikopter dan melihat seluruh wiilayah yang pernah dijelajahinya dari udara. Anda akan melihat keseluruhan serta mampu membuat kesimpulan. Dan sebagaimana semua setiap penemuan lainnya, tidak semuanya menyenangkan.
***
Saya akan memulai artikel ini dengan mengutip keheranan dr. Moentz, “mengapa orang-oang Yahudi itu sangat bersemangat mengembalikan Perang Dunia ll ke dalam kehidupan modern kita? Kami telah membangunnya pada tahun 1961 Dan segera meruntuhkannya kemudian pada ‘89, tidak sampai tiga dekade. Tapi lihat, mereka, Para Yahudi itu dengan gigihnya membangun kembali apa yang telah kami, penduduk Berlin, tinggalkan. Aku melihat ini tidak hanya sebagai sebuah usaha untuk membangun negara, tapi sebuah langkah frustasi penyelamatan dari sesuatu yang tak bisa dihentikan oleh senjata. Tapi, apakah sesuatu itu?”
Dr. Moentz adalah seorang pakar kejiwaan dan analisa perilaku masyarakt dari Universitas Berlin, dan yang dia bicarakan di atas adalah mengenai dua tembok bersejarah di dunia: Tembok Berlin yang dibangun pemerintah Jerman Timur pada masa Perang Dingin dan Tembok Yahudi yang saat ini sedang dibangun oleh pemerintah Israel di atas wilayah Palestina. Semua orang sepakat bahwa pembangunan tembok Yahudi adalah upaya keras Israel untuk mewujudkan Tanah Yang Dijanjikan sebagaimana yang tercantum dalam kitab suci mereka. Akan tetapi, jika kita melihat ke seluruh dunia, pembangunan tembok untuk membatasi wilayah antar negara hanya terjadi pada abad-abad yang lampau. Dunia modern tidak lagi membangun tembok besar-kokoh-tinggi untuk mengamankan wilayahnya. Bahkan banyak negara di Eropa hanya menggunakan garis di atas permukaan jalan berpaving untuk membagi wilayah antar negara.
Tembok-tembok yang dibangun pada masa lalu diantaranya: Tembok Hadrian di Inggris, dibangun pada tahun 122 pada era Ingris Romawi dibawah pimpinan raja Hadrian. Tembok Besar Kroasia, dibangun pada abad 15 oleh rakyat Kroasia guna melepaskan diri dari kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, dan hancur pada tahun 1996 akibat gempa. Tembok Besar India, terletak di Rajasthan, dibangun pada tahun 1443 dengan panjang mencapai 36 kilometer. Dan yang paling terkenal, Tembok Besar Cina, berdiri sepanjang 20.000 kilometer, tembok ini dibangun pada abad ke 7 SM dan masih bertahan sampai sekarang. Jadi pertanyaannya, mengapa orang-orang Yahudi begitu memaksa untuk membangun tembok ini? Tidakkah cukup mengamankan wilayah dengan pagar besi dan kawat berduri serta pos penjagaan bersenjata lengkap dengan kendaraan tempur siap lepas di titik rawannya?
“Menurut saya,” ungkap dr. Moentz lebih lanjut dalam artikelnya yang berjudul ‘Can Anybody Read A Jewish Mind?’, “ada sesuatu yang lebih besar. Yang belum kita ketahui. Sesuatu yang sangat … sangat berbahaya sehingga setiap kegilaan untuk mencegahnya bisa diterima. Senjata tak sanggup menghentikan sesuatu itu, pagar kawat berduri tak sanggup membendungnya, peringatan dan tanda bahaya sama sekali tidak berguna. Dan Anda tidak perlu heran, pada banyak masalah, orang Yahudi tahu lebih cepat dari siapa saja di dunia.”
***
Tidak terlalu jauh dari Jerman, di Inggris Raya, dari kantornya di jalan Lancelot No. 22, York Shire, dr. Peterson menulis artikelnya yang ditentang oleh semua perusahaan produsen makanan dan peralatan bayi. Tulisan tersebut tampil di situs resmi Organisasi Persatuan Dokter Kota Leeds—satu-satunya organisasi kesehatan resmi yang mau mempublish artikel tersebut—hanya untuk lima hari. Hari ke enam artikel itu dihapus atas tuduhan memicu keresahan masyarakat dan tidak mendukung program kesehatan yang dirancang pemerintah. Sementara di situs pribadinya, artikel kontroversial itu bertahan selama seminggu lebih empat hari sebelum kemudian situs tersbeut down dan tidak bisa diakses—sampai hari ini. Seorang cracker menjebol situs pribadi dr. Peterson dan merusaknya. Tapi beruntung beberapa orang telah mengcopy dan menyebarkan artikel jujur tersebut secara mandiri dan persebarannya semakin pesat. Siapa saja yang membaca artikel berjudul ‘Greed Feeds Alergies’ akan dengan mudah mencurigai siapa dalang pencopotan artikel dr. Peterson dari situs resmi Organisasi Dokter Kota Leeds dan siapa yang menjebol situs pribadinya: perusahaan penyedia makanan dan peralatan bayi.
“Saya tidak tahu bagaimana bayi anda bisa bertahan jika anda masih menggunakan produk dari perusahaan-perusahaan itu.” Demikian dr. Peterson yang dikenal keras dan pedas dalam mengkritik mengawali Green Feeds Alergies. “Yang mereka hadapi semakin hari justeru semakin buruk, berkebalikan dengan semua usaha dan propaganda yang dipercaya para orang tua.”
Namun demikian, ada banyak pihak baik dari kalangan akademisi, ahli, maupun masyarakt awam yang menuduh dr. Peterson hanyalah perpanjangan tangan dari perusahaan tertentu yang ingin menekuk lawan-lawan bisnisnya. Sebuah tuduhan yang disangkal keras oleh sang dokter dengan prestasi summa cumlaude dari Harvard tersebut.
“Saya hanya ingin mengingatkan pada semua orang bahwa mereka terlalu mudah percaya. Mereka terpedaya oleh iklan dan akhirnya tanpa merasa curiga bersedia melakukan apa saja yang dikatakan perusahaan-perusahaan, padahal mereka hanyalah sekumpulan pencari uang, bukan orang-orang yang berkorban demi masyarakat. Saya berbicara tentang generasi baru, tentang harapan umat manusia, tentang menyelamatkan bayi-bayi kita dari proses pengrusakan yang, payahnya, diyakini sebagai jalan kebaikan. Ini sangat ironis. Dan lebih menyaktikan lagi mengetahui bagaimana cara masyarakat menyikapi usaha saya tersbut.”
Dr. Peterson mengawali penelitiannya tentang alergi sejak akhir 2005 kemarin, dipicu oleh keterkejutannya mendapati lebih dari separuh teman kelas anaknya mengidap alergi. “sesuatu yang besar tengah terjadi di sini dan tidak ada yang menyadarinya karena semua orang, saya katakan semua orang, mereka percaya tengah melakukan hal yang benar. Sesungguhnya tidak. Tiga puluh tahun yang lalu, hanya ada satu anak di kelas saya yang mengidap alergi, sekarang, saya terkejut mendapati lebih dari separuh teman kelas putri saya menderita alergi. Pastinya sebuah revolusi kesehatan telah terjadi jauh di bawah sana.”
Dokter pun mulai meneliti, memeriksa ribuan sampel di seluruh Inggris Raya, mencari sebab dari cepatnya penurunan kesehatan. Akhirnya sampailah ia pada satu kesimpulan yang bahkan dia sendiri terkejut mengapa baru menyadarinya sekarang. “Anda tahu, tubuh kita memiliki keajaiban yang mengagumkan. Dia bisa beradaptasi, dia bisa memanipulasi ancaman menjadi pertahanan. Seperti otot, Anda tahu, semakin sering Anda memberinya beban, dia justeru akan semakin kuat. Pertanyaan saya, sadarkah anda kesalahan apa yang telah Anda lakukan sejak bayi Anda lahir?”
Alergi, yang merupakan reaksi fisik terhadap substansi asing, bisa berupa gatal-gatal, bersin, mata merah, rasa sakit atau bahkan asma ternyata lebih banyak menimpa anak-anak yang menyusu menggunakan botol dari pada anak-anak yang menyusu langsung pada ibunya. Mengapa?
“Karena dengan menggunakan botol, para ibu telah membunuh salah satu kesempatan terbaik bagi manusia untuk membangun system kekebalan tubuhnya.” Tandas dr. Peterson.
Botol-botol minuman yang digunakan untuk bayi akan dibersihkan dengan kebersihan yang sangat keterlaluan. Disiram air panas dan dibasuh dengan disinfektan pembasmi germ (bakteri). Keyataannya, terlalu bersih adalah buruk. Bayi butuh untuk terpapar pada bakteri-bakteri tertentu. Dengan demikian tubuhnya akan meningkatkan system pertahanan dan memunculkan kekebalannya terhadap penyakit. Bayi yang mendaptkan pelayanan hidup terlalu steril justeru akan semakin rentan mengidap penyakit karena system imunnya sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berkembang.
“Dulu kami bermain lumpur, membuat patung dan istana dari tanah, bahkan memasukkannya ke mulut. Hahaha. Sekarang, apa Anda melihat ada orang tua yang mengijinkan anaknya bermain tanah?”
Dokter Peterson juga menuding keras semua iklan makanan dan peralatan perwatan bayi yang banyak beredar di masyarakat. Iklan-iklan itu membuat para orang tua ketakutan dan terobses pada kebersihan dengan cara yang berlebihan. Membuat mereka menganggap semua yang kotor adalah ancaman.
“Memang benar kotor itu buruk, ancaman, karena di sana kuman tinggal,” dr. Peterson menulis di artikelnya, “tapi cara mengatasinya bukan dengan menghindarinya. Cara menghadapinya adalah dengan membuat bayi-bayi kita kebal dan kuat. Membiarkan anugerah alam bekerja membangun kekebalan tubuh dan menguatkan mereka. Hanya karena keserakahan para pebisnis itu maka semua anak-anak yang lahir di era 90an sampai sekarang menjadi rentan dan rapuh.”
Selain menyoal obsesi kebersihan, dr. Peterson juga menemukan beberapa factor lain yang memicu meningkatnya alergi di kalangan generasi muda Inggris.
“Gaya hidup kita telah berubah jauh dari sebelumnya, dan perubahan itu terjadi mulai dari sejak lahir.”
Penggunaan telepon seluler, juga semua teknologi lainnya, membuat kita lebih sering terpapar terhadap radiasi. Kota besar juga membuat penduduknya lebih mudah terkena toxic atau bahan-bahan kimia berbahaya lainnya, semua itu melemahkan tubuh. Cara makan manusia juga sudah jauh berubah. Tidak ada lagi yang namanya buah musiman, semua buah kini tersedia sepanjang tahun. Bagiamana bisa? Dengan menggunakan segala macam peralatan dan bahan kimia, tentunya. Apa itu bagus? “Itu hanya bagus bagi orang-orang frustasi dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak kentara.” Gurau dr. Peterson.
Yang lebih buruk dari semua itu adalah kemungkinan bahwa fenomena alergi hanyalah sebuah pintu kecil untuk menuju ruangan sesungguhnya. Meningkatnya alergi hanyalah sebuah indikasi bahwa keadaan lain pun bisa terjadi. Ini semacam lonceng di pagi hari: bukan hanya bunyi lonceng yang akan kita dengar hari ini, tapi tak lama lagi semua suara akan menyusul.
“Jika Anda sudah rapuh, alergi mulai menggerogoti system kekebalan Anda, maka masalah-masalah yang lebih besar bisa mengendap dan menyiapkan musibah baru bagi kehidupan Anda. Kabar buruknya, ini bukan hanya menyangkut kehidupan Anda, tapi juga semua orang yang mengalami kondisi seprti Anda. Dan jumlahnya terus meningkat. Ini bisa terjadi di seluruh dunia.” Dr. Peterson menutup artikelnya.
***
“Musibah terbesar umat manusia bukanlah pertentangan antara manusia denan manusia, melainkan pertentangan antara manusia dengan alam. Karena semestinya, manusia dan alam adalah sepasang yang saling melindungi dan mencukupi.” Tulis Raj Binath Brandji dalam novel tunggalnya. Kisah fiksi ilmiah yang terbit lima bulan sebelum Perang Dunia II meletus. Novel tersebut hampir saja tidak akan dikenali umat manusia andai tidak karena, pada tahun 1988, berdekade setelah perang dunia ke dua usai, salah satu keturunannya membongkar rumah warisannya dan menemukan satu bendel naskah asli dari novel tersebut.
Ketika diterbitkan pada tahun 1990 di Australia dalam bahasa Inggris, novel yang berjudul Of Men and Zurbaim tersebut menjadi novel penulis asing terlaris baik di Australia maupun di Inggris Raya. Banyak orang mengatakan Raj sebagai Vernian terbaik dekade ini—andai saja dia menulis novel ke dua dan ke tiganya. Raj Binath Brandji tewas saat Perang Dunia ll berlangsung dalam salah satu pertempuran di daerah Punjab dan Of Men and Zurbaim adalah satu-satunya buku yang pernah dia tulis.
Sebagaimana karya-karya klasik Jules Verne yang menyajikan teknologi futuristic melampaui jamannya, Raj juga menulis kisah dalam kerangka serupa. Menceritakan petualangan seorang bocah bernama Raj yang terjebak pada sebuah dimensi yang disebut dengan istilah Arul Pavan—badai cahaya. Raj terseret ke sebuah kerajaan kuno yang tengah menghadapi ancaman wabah zurbaim. Para penduduk yang terinfeksi akan jatuh sakit dan mati tak lama berselang. Setelah dikubur, sehari kemudian, mereka bangkit dan mengejar manusia-manusia yang masih hidup untuk menularkan penyakit yang mereka bawa.
Dikisahkan jika asal mula wabah zurbaim adalah akibat dari pembangkangan umat manusia atas perintah dewa Visnu untuh menjaga kelestarian Hutan Suci. Atas perintah raja yang serakah, penduduk mengeksploitasi hutan bahkan sampai merusak arca batu Padhma—benda yang memiliki kekuatan menyimpan segala keburukan dan bencana.
Sebenarnya novel Of Men and Zurbaim merupakan ramuan dari science fiction dengan mitos daerah setempat. Zurbaim merupakan sosok makhluk berbahaya dalam cerita daerah yang hanya beredar di kawasan Ladakh. Tapi benarkah zurbaim adalah mitos yang hanya dimiliki masyarakat Ladakh?
“ada sebuah fakta menakjubkan dari novel ini,” kata Mr. Ma dalam film produksi National Geographic Society yang mengulas mitos-mitos dari berbagai negara. Mr. Ma adalah seorang ahli arkeologi sekaligus penggemar buku-buku karya Jules Verne. “Karakter wabah zurbaim yang disebutkan menghancurkan kerajaan Vashghola dalam dongeng masyarakat Ladakh, memiliki kesamaan yang identic dengan mitos-mitos dari belahan bumi lainnya. Yang lebih menarik lagi, persamaan tersebut bukan hanya sebatas kisahnya saja, tapi juga keadaan social dan geografi masyaraktnya. Sementara daerah-daerah lain yang berbeda kondisi geografisnya maupun keadaan sosialnya, tidak memiliki urban legend serupa zurbaim.”
Masyarakt Shen Deung, Cina Barat, menyebutnya Bong, orang-orang Phiasco, Venezuela, menyebutnya Guerra, suku D’mbanjhu, Tanzania, menyebutnya dengan istilah mayat jahat. Mungkin jika diadakan penelitian pada semua daerah yang memiliki keadaan alam dan social seperti Shen Deung, Phiasco, D’mbanjhu dan Ladakh, di manapun di seluruh dunia, akan ditemukan kisah-kisah serupa zurbaim.
“Apa yang memungkinkan munculnya kesamaan ini? Kau tidak bisa mengatakan bahwa masyarakt dari daerah-daerah tersebut pada jaman dahulu kala melakukan pertemuan rahasia dan bersekongkol untuk membuat kisah serupa. Itu sangat mustahil. Mereka masyarakat terisolir karena bentang alam yang ganas dan tidak memiliki sarana transportasi untuk untuk melakukan perjalanan antar benua. Tapi mereka memiliki kesamaan, mereka menderita karena keterbatasan sumber daya, dan mereka menjadi tidak perduli pada lingkungan karena desakan kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Bayangkan, jika ada suku-suku terpencil dari Afrika, Amerika, Asia, Eropa dan Australia, mereka memiliki kisah yang sama tentang gempa bumi, apakah itu karena mereka bersepakat membuat kisah serupa atau sama-sama pernah mengalami bencana gempa bumi? Sekarang, jika suku-suku yang sama memiliki kisah serupa tentang wabah ganas bernama zurbaim, apakah itu karena mereka bersekongkol atau mereka mengalaminya?”
Mr. Ma bersama timnya melakukan banyak kunjungan penelitian untuk menemukan misteri terbesar dari kesamaan kisah zurbaim di berbagai belahan bumi. Dan ketika salah seorang anggotanya mengajukan usul untuk memeriksa kitab suci agama-agama tua di dunia, Mr. Ma menanggapinya dengan bersemangat.
“Mengapa tidak! Ini sebuah peluang besar untuk mengetahui keuniversalan sebuah mitologi. Setiap agama besar itu telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Usianya sudah setua peradaban manusia. Dan apa yang kami temukan? Kami menemukan Rakshasha dalam Veda (kitab Hindu), Ushpa (hamba yang jahat dan terlahir kembali sebagai makhluk yang lebih jahat karena penolakannya pada cahaya kebaikan) dalam Tripitaka Gimya (kitab Buddha yang disusun dan hanya digunakan di Thailand), kami menemukan makhluk bernama Do Gyur dalam kitab kepercayaan tradisional Korea, kami bahkan menemukan sosok serupa zurbaim dari dongeng religious masyarkat Indian Amerika Selatan. Walau pun tidak semua makhluk tersebut memiliki kesamaan identic, namun tetap ada benang merah yang menyatukan makhluk-makhlukberbahaya tersebut.”
Bukan hanya itu, Mr. Ma dan tim juga meneliti kitab-kitab suci agama besar di dunia. Dan yang dia temukan benar-benar mengejutkan. “coba tebak, kami menemukan apa? Gog dan Magog dalam injil, sedangkan dalam kitab Islam—agama yang lebih muda dari Kristen dan yang paling banyak memiliki kesamaan, mungkin makhluk yang sama dengan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj. Kesamaannya adalah, Gog dan Magog atau Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai manusia buas yang merusak segalanya. Dating berbondong-bondong menyerbu umat manusia. Tanpa ampun. Buas. Penuh amarah dan sama seklai tidka bersifat seperti manusia walau pun berwujud seperti manusia.”
Penemuan-penemuan ini menjadi pertanda yang menunjuk pada arah yang jelas kesimpulannya bagi Mr. Ma dan timnya.
“Semuanya dengan sangat jelas memantik dugaan bahwa dulu, ribuan tahun yang lalu, sepertinya pernah terjadi sesuatu yang demikian berbahya atas keberlangsungan ras umat manusia. Sebuah katastrofi yang mungkin berhasil diatasi atau mungkin hanya berhasil diisolasi—seperti yang disinggung dalam kitab Qur’an. Sekarang kita semua telah melupakannya. Tidak ada lagi yang perduli pada kisah-kisah mitos seperti itu. Tidak ada lagi yang saling memberi peringatan akan ancaman bahaya dari zurbaim atau semacamnya. Atau, mungkin tidak semua. Kami juga menemukan sekelompok manusia bernama Uraim dari salah satu kitab suci agama besar berasal dari Timur. Sepertinya penganut agama tersebut benar-benar meyakini kebenaran kisah dalam kitab sucinya. Merekalah satu-satunya yang melakukan sesuatu atas hal itu. Setidaknya, demikian pendapatku. Terbukti hanya mereka yang membangun tembok besar, kokoh, panjang untuk membentengi perbatasan, untuk menjaga keselamatan warga negaranya.”
***
CNN: dalam perang Irak-Kuwait, seorang tentara Amerika menyerang rekan-rekannya setelah sehari sebelumnya ikut regu patroli menyisir wilayah yang baru saja dikuasai tentara sekutu. Setelah serangan yang menewaskan tiga serdadu itu, tentara yang bersangkutan tewas menembak kepalanya—namun sumber yang lain mengatakan jika dia tewas ditembak kepalanya oleh rekan-rekannya setelah berkali-kali ditembak tubuhnya tapi tidak mati juga.

“Ada pola yang aneh di sini,” ungkap Ron Guessner, seorang pengamat militer dalam sebuah wawancara dengan salah satu situs berita internet yang berbasis di Belanda. “Kasus tentara bunuh diri atau tentara yang mengamuk, melakukan tindakan berbahya bagi orang lain atau dirinya sendiri, 80% terjadi pada personil yang satu atau dua hari sebelumnya ikut berpatroli atau terjun dalam penyerbuan ke daerah-daerah baru. Daerah yang dicurigai sebagai sarang gerilyawan, bukan daerah yang dihuni penduduk. Seakan-akan semua peristiwa itu ingin berbisik: ada apa di sana? Apa yang mempengaruhi pikiran para tentara itu?”
Banyak kecurigaan yang muncul seputar masalah terbeut. Orang beranggapan tentara tersebut stress, tapi mengapa harus menunggu penyerbuan atau patroli ke daerah asing terlebih dulu? Apa yang demikian spesifik dengan daerah-daerah tersebut?
“Jika Anda menyempatkan diri untuk memeriksa laporan-laporan berita peperangan, Anda akan mendapatkan sedikit sekali keterangan mengenai kasus bunuh diri atau penyerangan oleh tentara.”
Ron juga menemukan fakta bahwa di lokasi pertempuran yang lain, seperti di Vietnam, Afghanistan, Korea Utara, atau Tamil, para tentara menyisir daerah yang dihuni—walau pun dengan jumlah yang sedikit, populasi yang tak pernah melebihi angka seratus—dan sekembalinya dari operasi tersebut—sebuah penyerbuan yang tak mendapatkan perlawanan apapun—muncul laporan adanya anggota pasukan yang mengamuk di camp, atau bunuh diri.
“Rancangan siapa ini?” ron mengajukan pertanyaan retoris pada pewawancaranya. “Sesuatu yang tak masuk akal sedang terjadi. Terlebih lagi, memerhatikan catatan kesehatan yang saya dapatkan menunjukkan bahwa para tentara yang mengamuk itu, atau yang bunuh diri, mereka 80% mengidap alergi. Sebegitu mudahkah pengidap alergi terpengaruh oleh keadaan suatu daerah sehingga melakukan hal-hal yang membahayakan jiwa?”
***
“saya mencermati banyak hal akhir-akhir ini. Dan saya sepertinya menemukan sebuah jawaban yang, jujur saja, sulit kupercaya untuk menjelaskan mengapa orang Yahudi demikian bersemangat membangun tembok pemisah dengan dunia luar. Saya katakan dunia luar, bukan hanya dengan orang Palestina.” Tulis dr. Moentz pada tahun 2010. “Mereka, orang-orang Yahudi di Israel menunjukkan sikap tertutup yang sangat terang-terangan. Tertutup mengenai alas an sejati pembangunan tembok pemisah, terang-terangan karena dengan kalap mereka terus membangun tembok tersebut tanpa peduli pada kecaman seluruh dunia ke atasnya.”
***
“Beri saya satu pertanyaan, pertanyaan yang sangat mengerikan tentunya, mungkin seperti ini: kira-kira, dari manakah kehancuran ras manusia ini akan bermula? Jawaban saya jelas: kehancuran itu akan berawal dari masyarakat yang paling rentan. Yang paling mudah dipengaruhi keadaannya—fisik maupun psikis. Masyarakat yang paling mudah untuk … berubah, bertransformasi menjadi individu baru. Alergi, itu mungkin hanya awal dari segalanya. Sebuah pertanda bahwa sebagian orang telah berubah menjadi begitu lemah bahkan untuk menghadapi zat-zat yang dulunya wajar bagi manusia. Dan, di manakah masyarakat yang paling lemah daya tahan tubuhnya terhadap substansi asing berada? Saya akan mengatakan dengan jelas pada Anda: masyarakat kota-kota besar. Yang demikian terobsesi pada kebersihan namun demikian sering terpapar pada toxic.”
***
“Jika Uraim memang benar nyata, dan, semakin lama saya meneliti saya semakin memercayai kebenarannya, maka bangsa itu mungkin akan menjadi satu-satunya bangsa yang selamat mempertahankan ras manusia.” Lanjut Mr. Ma dalam film tersebut. “Tidak ada seusatu pun yang memisahkan kita dari seluruh dunia. Tidak ada sesuatu pun yang akan mencegah kedatangan zurbaim, atau Bong, atau Guerra, atau mayat jahat, atau Gog dan Magog, atau appaun itu namanya dari depan pintu rumah kita. Jika suatu hari nanti, entah kapan itu akan terjadi, semua makhluk berbahaya itu bangkit bersamaan dari setiap penjuru dunia, dalam waktu singkat kita akan terperangkap di tempat tinggal kita sendiri.”
***
“Tapi yang paling mengerikan, jika Anda benar-benar ingin tahu,” lanjut Ron. “Bagaimana jika para tentara yang mengamuk itu memang bukan karena depresi? Bagaimana jika mereka mengamuk karena terinfeksi sesuatu yang kemudian mengacau pikiran dan kesadaran mereka? Bagaimana jika tempat-tempat yang mereka kunjungi itu mengandung … apa saja istilahnya yang dapat menginfeksi manusia? Seperti penyakit rabies. Sedangkan para tentara yang tidak bunuh diri, atau tidak mengamuk, bukan berarti mereka selamat dari wabah tersebut? Bagaimana jika … boleh saya menyebutnya virus? Bagaimana jika virus itu tetap bertahan dalam tubuh tentara tersebut, menunggu saat yang tepat untuk mulai bekerja dan melumpuhkan inangnya.
“Atau, karena para tentara yang selamat itu memang memiliki system imunitas yang baik maka virus itu tidak berhasil memengaruhi para tentara tersebut. Tapi, dalam skema yang lebih buruk, bagaimana jika ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing, kembali ke kota-kota asal mereka, kembali bersosialisasi dengan kawan dan kerabat, lalu berinteraksi dengan lima atau tujuh orang yang mengidap alergi, virus itu pun menular dan tiba-tiba saja beraksi! Anda bisa membayangkan kekacauan seperti apa yang akan terjadi? Ini akan menjadi bencana internasional. Terjadi di seluruh dunia.”
***
Pembaca yang budiman, ini adalah sebuah Arfan, Artikel Fantasi, tapi perlu anda ingat, tidak semua yang saya tulis di sini adalah imajinasi. Sebagian saya tulis berdasarkan sumber yang benar ada. Ada fakta mengerikan yang sedang terjadi di sekitar kita. Anda hanya perlu untuk sejenak naik lebih tinggi di atas semua berita terebut, lalu menatapnya dengan menyeluruh, dan temukanlah benang merah dari peristiwa besar yang sedang terjadi diam-diam.

Arul Chandrana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: