Posted in Teaching, think

Cita-Cita Aneh Seorang Perempuan Yang Kini Menjadi Cita-Citaku Padahal Aku Masih Bukan Perempuan

Freedom WritersTahun 2006, pada sebuah acara diskusi Bahasa Inggris di kampus, kami sedang membahas tentang cita-cita. Dan salah satu kakak angkatan menyebutkan apa cita-citanya, “I want to be a good girl.” Tidak ada reaksi apa-apa dari para peserta diskusi yang memang jumlahnya sedikit itu. Moderator manggut-manggut, berpikir apa kiranya yang pas dan terdengar cerdas untuk menanggapinya. Tapi, seperti orang disetrum listrik 5000 volt bersamaan, aku dan David memekik sambil ketawa, “that means you are now not a good girl! Or in other word, you are a bad girl! Wakakakaka.”

Selama beberapa menit kemudian kami menggojloki kawan tersebut habis-habisan. Bayangkan, ada seorang gadis nakal di antara para pria baik yang gemar menabung dan selalu lupa gosok gigi. Walau pun kemudian kakak tersebut menjelaskan bahwa maksudnya menjadi gadis baik adalah ingin menjadi seseorang yang berbakti, mengabdi dan menghajikan ibu bapak, kami semua tetap menyerangnya habis-habisan: if you want to be a good girl, kata si David, that means only one thing, you are—dan kakak itu menghentikan kami semua dengan teriakan: DIAAAMMMM!

Saat itu, aku memang benar-benar menganggap cita-cita menjadi gadis baik adalah cita-cita yang lucu. Konyol. Layak di-guinnes book of record-kan dalam segmen cita-cita teraneh di dunia. Bagiku, apa susahnya menjadi orang baik? Berbuat baik sajalah, sudah cukup, kau akan menjadi baik. Jangan mencita-citakannya, karena menjadi baik adalah menjadi diri kita setiap harinya. Akan tetapi, tak kusangka, Tuhan memberiku waktu menunggu tujuh tahun untuk memahamkan aku betapa cita-cita menjadi ‘gadis baik’ sama tak mudahnya dengan cita-cita menjadi juara ke tiga dalam lomba qiro’ah tingkat kecamatan. Aku yakin benar Tuhan memang merencanakan ini, karena begitu aku mulai bercita-cita menjadi orang baik, tiba-tiba saja aku teringat pada kakak angkatanku itu. Untunglah pada saat aku mengalami pergeseran cita-cita tersebut beberapa waktu lalu, tidak ada David di sampingku. Pastilah dia akan tertawa ngakak bekakak lunjak-lunjak mendengarnya. Apalagi cita-cita menjadi baik yang kumaksud adalah menjadi baik dalam hal yang dia yakin benar aku sudah menjadi sangat baik tentangnya.
***
Aku memulai mengajar dengan semangat yang luar biasa. Aku benar-benar meledak-ledak dan tak tercapekkan. Jadwal yang berkejaran terasa seperti rangkaian jadwal konser yang dihadiri seribu penggemar fanatic. Mengajar menjadi ekstase yang luar biasa. Aku bisa berteriak tanpa henti secara marathon dari satu kelas ke kelas yang lain. Itu sungguh masa-masa yang menyenangkan. Aku yang biasanya teler jika berkegiatan tanpa sarapan terlebih dahulu, ketika mengajar itu malah tidak terjadi. Bahkan sering ketika aku ketinggalan sarapan aku tetap tak terbendungkan. Apalagi, ketika anak-anak menyukai bagaimana gaya mengajarku yang, ehm, sama sekali tidak seperti guru lainnya, melihat bagaimana mereka tertawa dan matanya berbinar ketika mengetahui jawaban sebuah masalah atau mendengar akhir dari sebuah dongeng akal-akalanku, sungguh menjadi momen yang menyehatkan. Ah, pastilah mereka mengira ada Naruto menyamar masuk pondok lalu menculik ustadz mereka yang asli, kemudian mengambil baju dan menyamar menggantikan ustadz tersebut.

Dari dulu aku memang kurang suka belajar yang terlalu formal. Aku ingin melompat jika berdiri saja tidak cukup. Aku ingin menari jika berjalan saja tidak cukup. Aku ingin bernyanyi jika bicara saja tidak cukup. Aku ingin melampaui batas kewajaran tapi tetap di bawah garis batas kurang ajar. Dan kemudian, ajaib, aku kehilangan tenaga. Aku termenung di depan pintu kelas dan menggaruk-garuk kepala. Mengajar telah berubah menjadi penjara ruang tertutup yang mengutukku menjadi si cocot beracun: membuatku bingung, membuat murid tidur.

Aku merasa sedang melakukan omong kosong. Aku merasa kehabisan pengetahuan. Aku merasa sudah terkuras dan tak ada lagi yang layak untuk kuberikan pada siapa pun.

Tapi ternyata aku tidak menjadi satu-satunya yang merana. Beberapa guru lain bahkan sampai kehilangan cahaya mukanya—wlaupun kemudian diketahui penyebabnya adalah karena wajahnya tetutup helm. Waktu itu hari-hari berubah menjadi masa-masa kelam dalam arena mengajar. Siswa tiba-tiba menjadi ‘tak dikenal’, siswa yang sudah membawa kebiasaan buruk dari rumah menulari yang lainnya, siswa yang tak suka diarahkan padahal kalau jalan sendiri pasti kesasar, siswa yang tidak menyukai gurunya padahal dia pun tampangnya na’udzubillah, siswa yang menjadikan setiap keterangan guru sebagai music pengantar tidur paling manjur se Jawa Timur, siswa yang menonjok kawannya dengan tujuan agar bisa tonjok-tonjokan, siswa yang siswa yang siswa yang siswa yang …. Hoaaaa! Ini ‘derita ala ratapan anak tiri’ yang tak pernah kuperhitungkaaaan! Aku muntab pada kegiatan mengajar kemudian muak dan akhirnya bermasa bodoh pada pendidikan. Ingin kutunggu sampai kelas sepi dan menghantam meja dengan keras sekali.

Aku pikir, keadaan di sekitarku waktu itu juga sangat mendukung proses terjun paung tersebut. Kalau kau lagi merana, tiba-tiba tetanggamu memutar lagu Kak Rhoma yang mengurai air mata, tak perlu satu menit bagimu untuk menangis darah. Kalau kau lagi jatuh cinta, lalu keponakanmu tak sengaja memutar lagu kasmaran di hp bapaknya, puisi pun akan meluncur dari jarimu seakan kau sebenarnya adalah Chairil Anwar yang terlahir kembali. Dan ketika guru tak bersemangat bertemu guru tak bersemangat lainnya, yang dibicarakan tinggallah keluhan-keluhan dan kekesalan serta menganggap terobosan sebagai kemustahilan yang paling mustahil untuk ditemukan. Itulah yang menimpaku. Sampai kemudian datang Onizuka.
***
Dia adalah mahasiswa yang dulunya berkawan dengan salah satu ustadz sewaktu masih kuliah dulu. Dia mahasiswa hebat yang entah bagaimana waktu itu Tuhan menakdirkannya menjadi agak gelisah dan butuh ketenangan. Kubilang pada kawanku Arya Aditya, ‘kita akan kedatagan anggota baru, seorang mahasiswa yang kehilangan jati dirinya!’ Adit cuma ketawa dan ketika kami akhirnya bertemu dengan si mahasiswa tersebut, kami langsung menjadi sahabat akrab. Bukan karena kami sama-sama orang yang kehilangan jati diri, tapi karena dia memang menyenangkan. Setelah kupikir-pikir, sepertinya mustahil seseorang yang sedang kehilangan jati diri bisa senormal dan semenyenangkan dia.

Beberapa hari sebelum dia meninggalkan podnok—sayangnya mahasiswa itu tidak sampai sebulan tinggal bersama kami—kucopy semua materi-materi pelajaran Bahasa Inggris yang dia punya juga ceramah-ceramah ustadz YM serta berbagai audio motivasi lainnya. Sampai kemudian, mendadak, kutemukan folder aneh di komputernya: Great Teacher Onizuka. Aku ingat pernah mendengar tentang pria Jepang tak tahu sopan itu, tapi aku penasaran, apalagi kenyataan bahwa Onizuka ini adalah preman yang jadi guru idaman. Maka aku ambil satu folder penuh, kemudian mulai menontonnya di malam terakhir kami bersama. Saat semua orang di kamar sedang tidur dan aku baru saja menyelesaikan satu episode Onizuka, aku berpikir—merenung dalam kontemplasi yang dalam dan serius: haruskah kubanting dan kupatahkan leher kepala sekolahku agar aku menjadi guru yang hebat dan agar administrasi sekolah menjadi lebih efisien?

Tapi tentu saja aku tidak melakukannya. Aku belum berpengalaman membanting lelaki yang sudah beristri. Bahkan setelah Arya kuberi folder Onizuka dan dia juga menontonnya kemudian dia pun ingin mematahkan leher orang, kami berdua tak benar-benar berani mematahkan leher siapa pun. Hanya saja, leher kami sendiri yang patah. Yaitu leher yang menopang keputusasaan dalam jiwa kami. Leher yang menjaga kehidupan Rasa Kecewa dalam mendidik siswa. Leher yang memelihara nyawa rasa muak dalam mengajar dan menghadapi siswa nakal. Semua leher tak berguna itu patah berantakan hancur berkeping jadi projektil kecil beterbangan disapu topan harapan setelah kami nonton Great Teacher Onizuka berduaan. Aku yang, baiklah kukatakan saja, memang agak gila, sangat terpesona dengan bagaimana Onizuka mengatasi masalah-masalah pendidikan yang dia hadapi di kelasnya. Bagaimana guru mantan preman itu meyakini bahwa setiap siswa yang nakal sebenarnya adalah siswa yang butuh bantuan: kita tinggalkan, dia akan semakin menghancurkan. Kita dekati, dia akan berubah dan mengerti arti kehidupan. Onizuka sukses membuka mataku dan menyelipkan kayu di kelopaknya agar ia tak menutup lagi. Membuatku bernafsu kembali dan mengalirkan darah muda pengajar berjiwa Satria Baja Hitam hasil persilangan Ultraman dan Sailor-Moon. Hanya saja, otak logisku kemudian agak menggangguku: bisakah aku memakai rantai di pinggang dan menyemir rambut untuk menunjukkan betapa gigihnya aku berusaha? Atau bahasa sederhananya, bisakah aku bertindak sepercaya diri onizuka? Aku adaah peragu, kau harus tahu itu. Maka aku butuh film yang lain.
***
Tidak berlebihan kalau ada yang bilang—atau dalam kasus tulisan ini, aku yang bilang—bahwa aku seorang pembicara public yang baik. Training yang bolak-balik kulakukan membuktikan itu. Aku suka bicara di hadapan ratusan orang. Lalu nyerocos sambil tak lupa membuat lelucon. Membuat mereka terharu dan tertawa. Membuat mereka terinsipirasi kemudian menyadari. Aku bisa melakukannya. Dan itu benar-benar kegiatan yang menyenangkan. Itulah salah satu sebab aku suka mengajar. Dan itu pula lah yang membuat para siswa memiliki kesan yang baik untuk bahagia menjadi muridku sejak awal perkenalan kami. Tapi aku seorang pembicara personal yang buruk. Ah, sangat buruk.

Aku orang yang membosankan ketika diajak bicara oleh hanya berdua. Aku bahkan lebih sering diam mendengarkan sambil sesekali mengatakan, ‘wow, oh gitu, hmmm, masak? Ha-ha, yah begitulah,’ sementara kawan dudukku mati-matian menumpahkan segala ceritanya yang paling berharga dan rahasia. Dan ketika dia ganti memintaku bercerita, dengan bingung akan kujawab, “ah, ceritaku gimana ya? Ya… cuma gitu. Gak seru blas!” Mungkin teman BAW yang pernah bertelepon denganku bisa mengkonfirmasi hal itu. Aku akan bingung mau bilang apa setelah beberapa detik yang antusias. Karena memang aku pembicara personal yang cenderung gagal. Dan kemduian aku pun benar-benar menyadari pertanyaan ini: mengapa aku selalu kesulitan untuk bisa membangun ikatan yang dalam dan saling terbuka dengan murid-murid yang bermasalah? Mungkin karena aku suka kebingungan ketika mendengar masalah yang mereka utarakan. Lalu aku mengajukan pertanyaan ini pada diriku sendiri ketika berdiri di depan cermin saat separuh jalan mencukur jenggot: Bisakah kebiasaan menulis membantuku?
***
Dari judulnya, Freedom Writers, aku sudah memastikan ini pastilah film tak berguna yang entah bagaimana bisa masuk ke computer kawanku. Aku bisa ‘melihat’ betapa membosankan kisah yang dibangun sang sutradara. Akan tetapi, karena saat itu aku sedang terobsesi untuk menonton film apa saja asal berkaitan dengan kehidupan penulis, aku pun mengcopy film Freedom Writers dan mungkin seminggu kemudian baru sempat menontonnya. Film itu sama sekai tidak menuturkan kisah kehidupan penulis, sama sekali bukan tentang sulitnya menerbitkan buku dan bagaimana seorang penulis akhirnya bisa menjadi pengarang yang besar, film itu benar-benar mengkhianatiku. Namun demikian, ia telah dengan tak terbantahkan berhasil membuatku terharu, ia membuatku tergugah, ia membuatku bergairah, ia membuatku merasa lebih pintar dari sebelumnya. Juga membuka pikiranku akan apa yag sebaiknya kulakukan untuk mengatasi kegagalanku dalam urusan interaksi personal. Karena ternyata Freedom Writers adalah tentang kisah nyata seorang guru, di Amerika sana, yang berhasil mengubah kehidupan murid-muridnya melalui menulis. Guru tersebut, Miss Gruwell, mengajar di sebuah kelas percampuran etnis yang mana semua muridnya saling bermusuhan dan setiap waktu mereka berpeluang untuk tewas di pinggir jalan ditembus peluru akibat pertarungan antar geng kesukuan. Pada saat itulah aku mulai bercita-cita menjadi orang baik.

Aku akhirnya mendapatkan kombinasi terbaik atas semua kekacauan dan pengetahuan yang terkumpul dalam diriku. Aku yang sedang kehilangan gairah dan semangat mengajar, Onizuka yang datang membawa semangat mengubah serta keyakinan bahwa tidak ada murid berandal, adanya hanya murid yang butuh pertolongan, dilengkapi oleh Miss Gruwell dengan pengetahuan bahwa aku bisa mengatasi gagal personalku dengan aktivitas tulis menulis. Aku tercerahkan. Aku tersenyum dan bisa berteriak sekencang yang aku mau dengan tetap merasa bahwa itu layak untuk kurayakan.

Sebelum momen tersebut tiba, memang akulah yang sejatinya bermasalah. Aku guru yang tidak baik. Yang kekurangan ilmu dan bebal otaknya. Aku hanya setumpuk daging dan tulang yang sangat bersemangat kemudian tiba-tiba otot-ototnya lemas dan kebingungan harus bagaimana—tak berdaya seperti sosis di mulut serigala lapar. Kenyataan itu sudah sangat cukup untuk mengijinkan tukang setempel mengecap dahiku sebagai: Guru Menyedihkan of The Year. Maka sungguh bahagia rasanya ketika kutemukan lagi bagaimana cara untuk berdiri dengan baik di depan murid-muridku. Aku bahagia karena aku tidak harus menjadi preman guna membuat perubahan, tidak harus menaiki motor gede ke halaman sekolah untuk membuat murid-murid tunduk hormat—sialnya, aku baru bisa naik sepeda onthel. Aku juga, hahahaha, tak perlu untuk meng-gulat seseorang sampai patah lehernya hanya untuk menunjukkan betapa seriusnya aku. Karena jalan keluar yang diberikan Miss Gruwell benar-benar menyenangkan: dengan menulis. Tapi menulis apa dan di mana?

Miss G yang mendapatkan kelas multi etnis pada masa Amerika masih panas-panasnya dengan isu rasial (tahun 90’an, kemudian tahun 99 terbit buku Freedom Writers), bisa dikatakan menghadapi sekumpulan preman jalanan dari pada menghadapi murid sekolahan. Mereka semua kenal anggota geng, mereka juga anggota geng, mereka semua pernah memegang senjata, mereka juga tahu di mana tempat mendapatkan narkoba. Dan mereka semua saling membenci. Jika ada mata pelajaran Cara Berkelahi Yang Baik Dan Benar Di Ruang Kelas, pastilah itu akan menjadi satu-satunya mata pelajaran yang bisa berjalan lancar. Tapi Miss G terus berusaha. Dia membangun kedekatan emosional dan membangun kepercayaan. Dan karena—seperti yang kutangkap dari filmnya—Miss G tidak punya cukup waktu untuk duduk mendengar semua cerita muridnya—selain itu, juga karena tidak mungkin ada dari murid-muridnya yang mau melakukannya—maka dia pun membagikan hadiah yang bisa menjadi mendia curhat tanpa beban dan kebohongan. Buku kosong.

Hari itu Miss G membagikan satu buku kosong untuk setiap siswa, dengan syarat: menulislah setiap hari di buku ini. Tulislah apa saja. Tulislah puisi, lagu kesukaanmu, keadaan hatimu, pendapatmu, perasaanmu, kemarahan dan kekesalanmu, harapanmu, segalanya. Kau boleh menulis apa saja. Aku aka memeriksanya setiap hari hanya untuk memastikan apakah kalian benar-benar menulis setiap hari atau tidak. Akan ku skip jika kalian tidak ingin aku membacanya. Tapi jika kalian ingin aku membacanya, kalian boleh menaruhnya di rak itu di akhir pekan dan akan aku baca. Tulisan kalian tidak akan dinilai, bagaimana mungkin aku bisa menilai kejujuran, bukan?

Astaganaga! Ini dia! Ini dia! Ini diaaaa! Inilah cara terbaik yang bisa kulakukan untuk mengatasi masalahku. Aku tidak mungkin mengajak muridku duduk dan berbincang dari hati ke hati. Di samping karena mereka—khususnya yang perempuan—sudah besar-besar dan bisa menimbulkan fitnah jika ada yang salah paham, juga aku hanya akan garuk-garuk kepala tiap kali mendengar secara langusng keluhan tiap siswa. Dengan menulis di buku, aku bisa membacanya, aku bisa merenungkannya, kemudian aku akan menuliskan apa yang sebaiknya untuk dilakukan oleh siswa tersebut. Dengan begini tidak ada yang harus terjebak setan atau harus cengengesan kebingungan! Thank you Miss Gruwelllllllll!

Tiga Hari Yang Lalu
“Nah, anak-anak,” kataku pada tujuh menit terakhir kelas, “aku punya sebuah hadiah utuk masing-masing kalian.”
“Horeeee! Oleh-oleh dari Bawean, ya Tad?” beberapa bersorak. Yang lain senyum dan berekspresi: asyik!
“Hehehe, maaf anak-anak, bukan jajan Bawean, perutku sendiri bahkan belum merasa tercukupi. Ini hadiah yang lain. Tapi tidak hari ini dan kalian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan saya terlebih dahulu untuk mendapatkan hadiah tersebut.”
“Aduh, atek ngono barang, Tad! (waduh, kenapa harus pakek beginian segala sih, tad).” Seseorang berseru, disahut dengan gerutuan yang sama oleh murid lainnya.
“Wahahahaha, apa kalian lupa kalau aku suka mengerjai kalian?” jawabku sambil tertawa. “Oke, siapkan selembar kertas dan tulislah pertanyaan-pertanyaan berikut. Kerjakan di asrama.”
Setelah semua siap dengan kertas dan pulpennya, aku mulai mendikte apa saja pertanyaan yang harus mereka jawab.
1. Siapa anggota keluargamu yang paling dekat denganmu dan sebutkan namanya.
2. Apa saja hobimu?
3. Apa yang kau harapakan dari gurumu?
4. Siapakah karakter inspiratifmu? Boleh tokoh fiksi boleh beneran (kukatakan pada mereka bahwa karakter inspiratifku, selain Nabi Muhammad, adalah Naruto! Ternyata mereka sudah tahu semua)
5. Pengen jadi apa besok di masa depanmu?
6. Siapakah sahabat terdekatmu sewaktu di rumah? Dan andai saya boleh menghubunginya, bagaimana caraku agar bisa menghubungi sahabat terdekatmu itu?
Kulihat jika ada banyak dugaan dan kelegaan membayang di wajah mereka. Lega karena ternyata bukan soal-soal Bahasa Inggris untuk mendapatkan sang hadiah. Penuh duga karena semua yang kutanyakan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan masing-masing mereka. Memang itulah yang ingn kudapatkan. Aku ingin lebih mengenal bagaimana diri mereka, apa yang membentuk mereka, apa dan siapa yang mempengaruhi pikiran mereka, siapa yang menjadi sandaran mereka, dan bagaimana mereka membayangkan kehidupannya di masa depan. Dengan semua jawaban yang mereka berikan nanti, aku mungkin akan lebih tahu bagaimana harus menjadi sahabat baik bagi mereka.
“Anak-anak, jawablah pertanyaan-pertanyaan tadi dengan jujur dan kumpulkan besok hari Senin.” Kataku kemudian.
Lalu seseorang bertanya, “Ustadz, apa hadiahnya?”
“sebuah buku.” Jawabku singkat. Beberapa orang menatapku penasaran. Dan, tiba-tiba saja, sesuatu berkelebat di otakku. Mataku pun men-scan semua mereka, dua puluh empat siswa. Haduuuh. “Yap, nanti semua orang akan mendapatkan satu buku special dari saya. Tapi …” aku bimbang untuk mengatakannya atau menyimpannya saja. Duh, menyebalkan. “yah, tapi hadiahnya tidak sekarang. Maksud saya, tidak bulan ini. Tunggu bulan depan ya kalau sudah ada, glek, uang, Mister akan berikan pada kalian.”
Dan akibatnya, hoaaah, sepertinya anak-anak menjadi prihatin. “Mister,” seorang siswi mengacungkan tangan.
“Yup, want to say something, gal?”
“Em…. Mister, kalau ternyata—”
Oh tidak, aku tahu kemana arahnya. Segera saja kupotong kalimatnya. “Tidak ada kalau! Semua sudah ditetapkan dan bulan depan kalian akan mendapatkan hadiahnya. Ok. Nah, waktu sudah habis, sampai jumpa besok dan selamat bersenang-senang. Assalamu’alaykum.”

NB.: entah bagaimana, aku merasa perlu mengatakan ini pada teman-teman semua. Ketika anak-anak memanggilku ustadz, itu karena mengikut aturan. Murid-murid harus menyebut para pendidiknya dengan sebutan ustadz-ustadzah. Jadi jangan membayangkanku sebagai sosok yang kalem, bermata teduh, tersenyum ramah, berjenggot rapih dan rajin gosok gigi. Wahahaha. Aku tidak begitu. Aku … aku adalah perkecualian yang berantakan. Aku … aku lebih tepatnya sebagai Rancho dalam film Three Idiots. Tontonlah Three Idiots maka kau akan tahu ustadz macam apa aku.

21 / 08 / 2013

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

3 thoughts on “Cita-Cita Aneh Seorang Perempuan Yang Kini Menjadi Cita-Citaku Padahal Aku Masih Bukan Perempuan

  1. Assalam..Mr.Arul. Salam kenal. Saya juga seorang guru bahasa inggris, usia 22 tahun dan cepat sekali merasa tua karena kehabisan ide ngajar. Karena iseng nyari metode di google, saya nyasar ke sini. Tapi…wow.. Tulisan Mr.ustadz ini inspiring sekalii.. Saya seperti menemukan apa yang selama ini terpendam. Keren Mister.. semoga saya nggak kehabisan kesempatan untuk terus baca tulisan semacam ini 🙂

    1. Hai Annis, senang sekali sampean mampir, membaca dan menyukai tulisan ini. Saya harap kita bisa terus saling berbagi semangat untuk mendidik murid murid kita.

      Salam semangat, Bu Guru 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s