Posted in think

Setercemar Nil, Seruntuh Bangunan

pencemaran industri di sepanjang Nil
pencemaran industri di sepanjang Nil
Menjelang runtuhnya kepemimpinan Turki Utsmani di wilayah Timur Tengah, beberapa anggota dari suku nomad Yordan bergerak ke arah barat daya, meninggalkan tanah kelahirannya yang chaos menuju dataran luas Mesir. Mereka berhenti di sebuah lembah dengan satu aliran anak sungai Nil. Itu sungai yang kecil dan menghilang di bebatuan, tapi cukup untuk menghidupi komunitas yang sejak mereka bangun populasinya tak pernah melebihi seratus jiwa. Mereka menyebut permukiman baru itu Tabriz. Itulah tanah idaman mereka, sebuah desa padang pasir yang terbebas dari segala kepentingan sekaligus tak berkuasa; bebas dari pengaruh dan tak mempengaruhi apa-apa; memelihara domba serta merawat tanaman dan tercukupi segala kebutuhannya dari anak sungai kecil sungai Nil. Sebuah kampung damai yang tiap malamnya diisi pujian lagu-lagu sufi, pujian pada keagungan Tuhan serta kekaguman pada bintang-bintang. Kini, kita hanya bisa menyaksikan sisa-sisa pondasi tembok penyimpanannya. Hidup di lembah beberapa ratus mil jauhnya dari Cairo dan beberapa ribu mil dari kampung asalnya ternyata tidak mencegah orang Tabriz menemui keruntuhannya. Kampung itu tidak bertahan sampai seratus tahun.

Adalah sungai kecil yang menghidupi mereka yang juga telah menghancurkan peradaban bersahaja Tabriz. Memang mereka tak pernah mencemari sungai itu, bahkan mereka senantiasa memeliharanya, tapi para penduduk kota-kota besar dan pusat perindustrian yang berjejer di sepanjang aliran Nil yang bertanggung jawab. Mereka membuang sampah rumah tangga, sampah pertanian dan segala bahan kimianya, serta pembuangan sisa industri ke sungai Nil. Pencemaran itu mengubah air murninya menjadi aliran naga keruh penuh racun.

Dalam kurun lima tahun, terhitung sejak enam tahun setelah perang negara Arab melawan Israel tahun 1967, di mana kemudian industrialisasi menggila di sepanjang aliran sungai Nil, sungai itu telah menjadi demikian tercemar sehingga hampir 57% spesies ikannya punah tanpa sempat diselamatkan. Salah satu dari ikan tersebut kini hanya bisa Anda saksikan relief besarnya di salah satu bagian piramida Giza, ikan khouz, dipercaya masyarakat kuno sebagai perwakilan dewa air yang bertugas mengawasi kemurnian sungai Nil. Begitu sungai besar Nil tercemar, polusinya pun menyebar ke anak-anaknya yang tak bersalah. Maka, tak lama kemudian, kampung kecil tabriz pun kehilangan satu-satunya sumber air yang mereka punya. Menghancurkan pertanian dan akar hidup yang mereka bina. Memusnahkan malam-malam sufi yang mereka rayakan dengan pujian dan kekaguman pada Tuhan dan alam ciptaannya. Ikan khouz telah pergi.

“Terakhir kali saya menemui keluargaku di Tabriz tahun 1983,” kata Hussein, salah satu penduduk Tabriz yang bisa membaca perubahan Nil beserta bahaya apa yang akan ia bawa lebih cepat dari saudara-saudaranya. “saya pindah ke Kairo dan melakukan pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup. Tahun 92, ketika saya kembali ke Tabriz untuk Idul Fitri dan peringatan Syeikh Maleki, aku tak menemukan satu orang pun di sana. Aku telah kehilangan keluarga serta kehidupan yang damai. Semoga suatu hari nanti aku bisa bertemu mereka. Lebih penting lagi, semoga suatu hari nanti kami bisa membangun Tabriz kembali.”

Hussein mungkin cerdas karena dia bisa mengambil langkah persiapan ke Kairo sebelum Tabriznya runtuh. Tapi dia gagal memahami bahwa tidak akan ada lagi kampung kecil di lembah Mesir untuk waktu yang sangat-sangat lama. Tidak selama Nil masih tercemar oleh buruknya keserakahan manusia.
***
Aku demikian bodohnya waktu itu hingga mengira batu bata merah yang dipakai orang Bawean membangun rumah pastilah semuanya didatangkan dari Jawa. Aku bahkan tidak tahu terbuat dari bahan apa bata merah itu. Ketika seorang teman memberitahuku bahwa bata merah terbuat dari tanah, aku sama sekali tak mempercayainya. Bagaimana bisa bata yang solid dan kokoh seperti itu terbuat dari tanah? Bagaimana cara merekatkannya dan membuatnya keras? Aku sudah sering bermain tanah liat, membentuk berbagai macam sosok kemudian membakarnya agar lebih kuat—walaupun hasil bakaranku lebih sering retak dan gagal. Yang paling kupahami adalah, tidak ada satupun hasil pembakaran tanah liat yang menyerupai batu bata. Keras dan warnanya. Maka aku pun menyimpan pertentanganku tentang bata merah dengan teman-temanku dalam diriku sendiri. Sampai kemudian, pada tahun ‘98, ketika aku mulai duduk di kelas empat madrasah, aku pun menemukan kebenaran dari perkataan temanku. Bata merah memang terbuat dari tanah. Dan dibakar.

Setiap kampung di Bawean memiliki pemandian umumnya sendiri yang mereka sebut ‘songai’. Di Bawean songai tidak harus berupa sungai, air mengalir sebagaimana sungai di tempat-tepat lain, tapi ia bisa berupa kolam dengan mata air. Penduduk menamai songai berdasarkan letaknya sesuai arah mata angin (ada Songai Dojo untuk yang terletak di utara, Songai Borak untuk yang di sebelah barat), berdasarkan pohon besar yang tumbuh di tempat mata airnya (Songai Potak, Somber Jeruk), atau berdasakan nama desa. Karena tak jarang sebuah songai bisa berada di antara beberapa desa, maka songai yang sama bisa memmiliki beberapa nama berbeda. Seperti di Kumalasa dan Kumala Baru. Di antara keduanya terdapat sebuah songai yang oleh orang Kumalasa disebut Songai Temor, dan orang Kumala Baru menyebutnya Songai Borak.

Aku tinggal di Kumalasa dan sungai favoritku adalah Songai Potak. Terletak di kaki bukit lebat macam hutan purba jaman dinosaurus, dengan pohon potak raksasa berusia ratusan tahun sebagai sumber mata airnya, Songai Potak adalah yang terbesar di Kumalasa. Untuk menuju ke sana aku harus melewati sawah-sawah serta menyeberang sebuah kali kecil selebar satu meter yang pasti mati di musim kemarau dan menjadi pembuangan limbah keluarga tiap musim hujan.

Pada suatu hari ketika aku sudah duduk di bangku kelas empat, pada sebuah perjalanan ke Songai Potak, kutemukan mereka, beberapa pekerja dari Jawa dengan tubuh kotor oleh tanah dan kulit mengkilat oleh keringat. Mereka sibuk mencangkul tanah, mengumpulkan, mengaduknya dengan air, mencetak, dan …. membakarnya dengan api yang demikian menggelora sehingga walaupun aku tak melihat apinya (mereka menata batu bata kering menjadi semacam bangunan berongga dan menaruh api di dalam rongga tersebut), aku bisa merasakan panasnya dari jarak beberapa meter. Tak jauh dari tempat pengadukan dan pembakaran, bertumpuk-tumpuk bata merah siap pakai untuk pembangunan rumah. Teman-temanku ternyata benar.

Aku senang karena pada akhirnya aku tahu hakikat dari bata merah. Ini pengetahuan yang memuaskan karena aku mendapatkannya tanpa harus dipermalukan temanku sendiri. Dan selama beberapa minggu sejak hari itu, tiap kali aku berangkat mandi ke Songai Potak, aku selalu menyaksikan kegiatan yang sama dari para pekerja kasar tersebut. Hanya sesekali kulihat ada colt dengan bak terbuka datang mengambil bata yang siap jual. Sesekali para pekerja itu menggodaiku yang jalan sendiri tanpa memperhatikan jalan di depanku.

Kegiatan pembuatan bata merah terhenti ketika musim penghujan datang. Tidak bisa menjemur dan membakar adalah penyebab utama tutupnya industri musiman tersebut. Maka di musim hujan, mulai Desember sampai Februari, dalam perjalanan ke songai potak, yang kusaksikan bukan lagi pekerja-pekerja berkulit hitam yang sibuk mencangkul, mencetak, menjemur dan membakar, tapi kesunyian dan kehampaan yang terasa agak mengerikan. Juga genangan air keruh di areal bekas pencangkulan yang sangat luas. Aku ingat sekarang, tanah yang mereka pakai sebagai bata berasal dari sawah yang tiap musim hujan akan menghijau oleh benih-benih padi. Kali ini yang tersisa hanya kekosongan. Tidak ada bata, tidak ada sawah.
***
Saat aku masih kelas empat madrasah tentu saja aku tak mengenal sungai Nil selain bahwa ia tempat Nabi Musa dihanyutkan oleh ibundanya. Sama halnya dengan peristiwa pembuatan bata merah dalam perjalanan ke Songai Potak, yang aku tahu hanyalah bahwa aku telah tahu sesuatu. Dan itu menyenangkan. Butuh lebih dari satu dekade bagiku untuk menyadari sesuatu telah terjadi di sana. Sesuatu yang buruk.

Nil adalah pusat budaya Mesir kuno dan kini menjadi pusat industri Mesir modern. Kehidupan berputar dan selalu terjadi di sepanjang daerah yang dilaluinya. Nil adalah anugerah yang kini dirusak menjadi—agaknya—bencana dengan segala pencemarannya, limbahnya, racunnya. Bagi kami orang Bawean, pertanian adalah kehidupan yang membentuknya sejak dulu kala. Mulai dari era berhuma sampai kini merantau ke Malaysia, pertanian tetap saja menjadi nafas tak terpisah. Sawah dan ladnag masih menjadi pemandangan di sepanjang perjalanan. Dan apa yang dilakukan industri bata merah? Merampasnya.

Tebak, berapa luas lahan yang harus rusak dan tak berfungsi setelah kegiatan pengerukan? Seluas area yang dipakai untuk pembuatan bata merah.

J’roube, sebuah perkampungan Aborigin di pedalaman Australia, harus menyaksikan warganya terlunta-lunta karena usaha pembuatan bata. Pemerintah Australia yang berniat untuk mengurangi kepadatan penduduk di kota-kota besar seperti Sidney dan Canberra, berencana membuka kota baru di tempat yang agak jauh di negara bagian Queensland. Rencana itu diwujudkan tahun 2000. Untuk membangun sebuah kota dengan segala fasilitisnya, dibutuhkan lebih dari satu milyar batu bata. Para pelindung masyarkat Aborigin menentang agenda tersebut karena hanya akan membuat penduduk lokal yang tempat tinggalnya tak lebih dari 1 mil dari lokasi pembangunan kota baru tersisih dan akhirnya terlunta-lunta. Pembangunan kota baru berarti berkurangnya wilayah pengembaraan.

Pemerintah negara bagian menjawabnya dengan melatih 654 warga J’roube membuat bata merah. “Mereka akan mendapatkan pekerjaan yang lebih menguntungkan dari pada sekedar berburu dan mengumpulkan makanan dari perdu di sabana.” Ucap Richard Knoxx, kepala proyek pembangunan kota yang akan dinamai J’roube City—setelah rencana nama New Tonsville ditolak banyak warga.

Pertengahan tahun 2000, ada sekitar 1000 pekerja kasar tengah membuat bata merah di dekat pemukiman warga aborigin J’roube. “Industri raksasa tengah berlangsung di rencananya kota baru J’roube City,” lapor Margareth Benneth, seorang wartawan dari Wellington Post. “Tapi, sepeti yang bisa Anda saksikan, bukan warga suku J’roube yang menjalankan pekerjaan ini. Mereka adalah para pekerja dari hampir seluruh Asia. India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Thailand, dan beberapa negara Asia lainnya. Kemungkinan besar, sebagian dari mereka adalah imigran gelap.”

Hal ini sudah diprediksi banyak orang sebelumnya. Warga nomad suku Aborigin bukanlah orang-orang yang bisa berhenti duduk untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan menyelesaikannya untuk mengerjakannya lagi esok hari. Mereka adalah penguasa padang rumput dan padang pasir. Duduk bukanlah gaya hidup mereka, mengelana adalah obat bagi kebahagiaan mereka.

Gelisah oleh kenyataan hanya beberapa puluh orang J’roube yang bersedia bekerja sebagai pembuat bata merah, Richard Knoxx memutuskan untuk mengambil semua orang yang ada guna menyelesaikan mega proyeknya. Maka pada akhir tahun 2004, bulan Oktober, di bawah segala macam tuduhan dan pengusutan serta tuntutan, Knoxx berhasil merampungkan J’roube City dengan gemilang. Dua bulan lebih cepat dari jadwal. Knoxx merayakan keberhasilannya dan mengadakan pesta natal dan tahun baru yang sangat megah di sana. J’roube City yang sanggup menampung 20.000 penghuni siap untuk mengurangi kepadatan penduduk di kota-kota besar Australi. “Kami akan memperbesar kota indah ini begitu jumlah penduduk mencapai 80% dari kapasitas.” Ujar Knoxx pada ABC. Sekarang, delapan tahun setelah hari yang penuh pesta dan membanggakan itu, J’roube City memiliki sekitar 5000 penduduk. 23 persennya adalah imigran gelap yang tak menemukan tempat lebih aman selain kota terisolir sperti J’roube. Sisanya, J’roube City berakhir sebagai arena kejar-kejaran kanguru serta tempat pembuatan film horor murahan.

Kerugian besar itu belumlah berakhir di sana. Hampir areal seluas 9 kilometer yang sebelumnya adalah padang rumput subur dengan banyak semak dan buah tumbuh di sana-sini, kini tergeletak tak berharga. Kering dan mati. Tanahnya terbuka dan retak oleh sengatan matahari. Seluas sembilan kilometer, hanya ada hamparan tanah yang menerbangkan debu setiap kali angin berlalu. Itulah lokasi penggalian tanah untuk bata merah J’roube City. Warga Aborigin yang tak ikut menikmati gaji, tak menikmati perumahan, terpaksa mendapatkan segala kehancuran. Lahan subur mereka hilang menjadi kota mati yang sia-sia.

Ini mmbuatku bertanya-tanya, mengapa pembuatan bata merah harus menggunakan tanah subur tempat kehidupan berdiri dan ditopang? Mengapa mereka harus membiarkan kehidupan sesungguhnya mati untuk sesuatu yang belum tentu melindungi? Mengapa tidak mengambil tanah dari lahan yang kering dan mati saja? Apakah karena alasan kecukupan air? Demi menghemat biaya pengadaan air maka mereka tidak mau membuka industri bata merah di tanah yang jauh dari sungai? Sedangkan kita semua tahu, hanya tanah di dekat sungailah yang paling baik untuk bercocok tanam. Di sekitar kita, tidak hanya di Bawean atau di Jawa, tapi hampir di seluruh dunia, industri bata merah telah menjadi ironi yang menakutkan. Tanpa memperdulikan lahan yang mereka pakai, apakah itu lahan pertanian atau bukan, mereka menggali dan menggali tanah subur untuk tembok-tembok mati.

Tak ubahnya Nil yang telah kehilangan harapan untuk dimurnikan, industri bata merah juga menghadapi dilema yang sama. Industri sepanjang lairan sungai Nil akan terus berkembang dan dibangun guna memenuhi kebutuhan dari kelahiran-kelahiran yang terus datang. Pembuatan bata merah pun tak kan berakhir seiring dengan kebutuhan akan rumah yang terus menggurita. Tiap tahun ribuan rumah baru berdiri, dan setiap rumah paling sedikit membutuhkan 5000 butir batu bata. Maka tiap tahun pula kita kehilangan sumber pangan yang berharga. Kelemahan manusia membuatnya mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah di depan mata, melupakan musibah yang akan datang selanjutnya. Sampai akhirnya nanti harus ada lebih banyak orang memahaminya. Bayangkan berapa banyak benih yang bisa tumbuh di setiap biji bata merah yang disusun sebagai tembok rumah? Berapa banyak makanan yang bisa dituai dari tiap tanah subur yang dibakar dan dimatikan? Mari lebih bijaksana dalam membangun—lakukan untuk menjaga kehidupan bukan untuk meruntuhkan.

24 juni 2013

PENTING UNTUK DIBACA:

Kawan, saya menjanjikan Anda semua untuk menghadirkan sebuah tulisan yang membangkang, yang mendurhakai peraturan. Dan memang begitulah adanya. Artikel yang barusan Anda baca sebagiannya adalah fiksi. Jangan menggunakannya sebagai rujukan diskusi atau pembahasan ilmiah. Tapi, mengapa saya demikian nekad (dan gila) melakukan pemalsuan ini? Jika Anda tidak terlalu murka padaku, berilah lima menit lagi untuk membaca penjelasan saya. Semoga memadai.

Saya yakin, buku yang pertama-tama dibuat manusia bukanlah novel. Pastinya itu buku keagamaan atau pemujaan, baru kemudian buku perundang-undangan dan susila. sedangkan novel, ia baru muncul sekitar tahun 1007 di Jepang dengan judul The Tale of Genji, ditulis oleh seorang wanita ningrat bernama Murasaki Shikibu. Apakah yang ingin disampaikan Mbak Murasaki lewat dongengnya itu? Sebuah ajaran kebaikan, sebuah kisah inspirasi yang diharapkan bisa membantu Jepang bangkit dari keterpurukan peradilannya. Pertanyaannya, mengapa harus menyampaikan kebenaran dalam bentuk novel? Tidak cukupkah kitab-kitab dan buku-buku filsafat? Tidak cukupkah puisi dan kaligrafi kata-kata suci? Jawabannya sudah diberikan oleh Mbak Murasaki Shikibu.

Beliau tahu bahwa manusia belajar dari berbagai macam cara yang tidak semua bisa memahaminya. Seseorang mungkin akan tercerahkan dengan membaca kitab-kitab, yang lainnya akan kelelahan. Namun ketika dia membaca novel yang berhasil menyentuh sanubarinya, dia pun berubah dan mulai menikmati kitab karena kesadarannya. Akan tetapi, bukankah novel hanya sebuah kisah fiksi belaka? Dongeng belaka? Cerita karangan? Ya, benar, tapi jangan lupa, novel hadir dengan membawa pesan kebenaran. Kebenaran, itulah semangat yang perlu untuk dilihat. Mbak Murasaki punya kebenaran dan dia tidak memilih cara lain untuk menyampaikan kebenaran itu melainkan dengan cara menulis novel.

Hubungannya dengan artikel palsu ini apa?

Selama ini, setiap kali kita mendengar kata artikel pasti yang terbayang adalah suatu bacaan yang penuh dengan ‘pelajaran’, yang semua datanya harus valid, dan, mungkin saja, Anda tidak bisa membacanya sambil menikmatinya. Artikel kadang terjerumus menjadi suatu bacaan yang menjemukan. Sodorkan sebuah artikel lingkungan pada teman-teman Anda dan lihat berapa orang yang menerimanya dan membacanya dengan bersemangat. Bandingkan dengan meminjami mereka majalah film atau komik atau novel. Itu penilaian dari sudut pandang pembaca. Bagaimana pendapat mereka yang berencana menulisnya? Artikel juga bukanlah hal yang mudah. Seringkali saya mendengar teman-teman yang memiliki banyak ide brilian dan berencana menuangkannya dalam artikel justeru kemudian berakhir di tengah jalan. Kenapa? Jawaban mereka biasanya: “kekurangan data, Mas; gak bisa nulis yang serius, Mas; susah, Mas, gak kayak nulis cerpen.” Maka ide hebat mereka pun terlunta tanpa seoran pun mendengarnya.

Aku memikirkan hal serupa dan juga bertanya-tanya, tidak bisakah menulis artikel serius tentang masalah serius dengan cara yang menyenangkan dan ketika membacanya tak ubahnya dengan membaca kisah detektif yang menghibur sekaligus menegangkan? Apakah aku harus merekayasa?
***
Pagi ini saya terpikir tentang bata merah. Dan, aku teringat beberapa hal yang baru kusadari bahwa itu bukanlah hal yang baik. Di Paciran, saya temukan sebuah gunung batu yang hilang 40%nya akibat digali orang untuk bahan bata putih—orang menyebutnya saren. Ini mengejutkan sekali, batu bata (baik yang merah dari tanah atau putih dari batu) yang kita buat untuk membangun tempat tinggal ternyata harus menghancurkan kehidupan terlebih dahulu sebelum bisa digunakan. Ini ironi. Dan saya merasa perlu menuliskannya dalam bentuk artikel karena akan terlau lama untuk menjadikannya novel dan aku tidak tahu bagamana caranya menjadikannya sebuah cerpen. Tapi, sebuah artikel butuh demikian banyak data dan itu juga salah satu yang membuatku menyerah. Aku tahu pendapatku tentang batu bata tidak salah, tapi bagaimana caranya agar menjadikannya bacaan yang menyenangkan sekaligus mencerahkan? Maka sejarah yang terjadi pada novel di tangan Mbak Murasaki pun terjadi pada artikel saya tentang bata merah. Bahwa sebuah pesan kebaikan yang ingin disampaikan dalam bentuk artikel tidak harus benar-benar sepeti artikel. Saya nekad menerabas aturan halal haram artikel.

Tapi tentu tidak semua orang akan setuju dengan hal ini. Saya juga menyadari bahwa artikel bohongan macam ini tidak sepenuhnya baik untuk dibaca. Ini hiburan yang mengabarkan sesuatu, tapi bukan ilmu pengetahuan untuk menilai sesuatu. Maka, artikel seperti ini harus punya nama baru. Sebuah definisi yang akan membantu pembacanya keluar dari ketersesatan dan menyelamatkan penulisnya dari penjara. Aku menyebut artikel ini dengan istilah ARFAN, artikel fantasi. Wakakakakaka.

KELEMAHAN
Sebagai sebuah usaha untuk membuat hal baru dalam bidang tulis menulis, arfan memiliki beberapa kelemahan besar yang mungkin akan menggagalkannya sebagai sesuatu yang baru. Yang saya temukan adalah sebagai berikut:

1. Ada sebuah situs internet (saya lupa alamatnya) yang konsisten dalam penulisan berita-berita palsu seputar selebritis. Di antara kebohongan yang pernah dipublishnya adalah kabar bahwa Justin Bieber sebenarnya seorang perempuan dan bahwa Jacko masih hidup.

2. Beberapa artikel ilmiah ternyata memang sengaja ditulis dengan berlandaskan kebohongan demi mencapai tujuan sang penulis—atau lembaganya. Bahkan National Geographic pun tak luput dari hal tersebut. Salah satu edisinya yang mengulas tentang manusia purba ternyata mencetak berita yang tak benar.

3. Buku biografi biasanya cenderung melebih-lebihkan kebaikan yang dilakukan oleh tokoh yang diceritakan.

Ketiga bentuk tulisan di atas, memiliki satu unsur yang sama dengan arfan: meleburkan fantasi dalam menyampaikan fakta. Namun mereka juga punya pembeda yang sangat jelas: untuk nomor satu, bedanya ada pada materi yang ditulis. Nomor satu membahas selebritis, arfan membahas persoalan hidup. Sedangkan nomor dua dan tiga, mereka dengan sengaja berusaha menyembunyikan kebohongannya, tapi arfan harus mengingatkan para pembacanya bahwa artikel yang dia baca tak sepenuhnya fakta—ditulis di akhir pun tak masalah. Mungkin pembaca berhasil menemukan celah-celah yang lain.

MAKA, teruslah menulis. Teruslah menyampaikan kebenaran. Teruslah berkarya. Dalam bentuk apa saja. Dengan gaya apa saja. Tapi jangan pernah lupa untuk jujur pada pembaca Anda—bahkan ketika Anda sedang membohonginya.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “Setercemar Nil, Seruntuh Bangunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s