Posted in ehon, novel terbaru, sastra

#5PLUS1 Antitesa: Hopes and Fears (Parajhoka Bawean Yang Menjadi Penulis Mizan)

para penerima beasiswa #5plus1 Antitesa generasi pertama
para penerima beasiswa #5plus1 Antitesa generasi pertama
AKU MENGKHAWATIRKAN banyak hal. Dan sebanyak itu pula aku merasakan takut. Perjalanan baru lagi jauh, aku khawatir untuk menempuhnya. Orang-orang baru yang tak kukenal, aku khawatir untuk ada di sekitarnya. rencana hidup baru yang asing dari diriku, aku ragu untuk menerjuninya. Dengan banyaknya khayalan di kepalaku, ramainya keinginan di benakku, andai aku bukan seorang penakut, aku pasti sudah 60.976 mil jauhnya dari kampung halaman—sekarang aku hanya berjarak sekitar 1200 mil saja. Namun demikian, aku punya sebuah mimpi yang tak bisa menunggu lebih lama. Waktu hanya membuatnya semakin buruk dan tak sabaran. Mimpi itu seperti bisul. Yang sudah membesar dan bosan membuat nyeri, pengennya meledak dan membuat raungan terkeras yang bisa dibayangkan keluar dari mulut raksasa paling gila di dunia. Mimpiku itu sudah menunggu sejak aku kelas enam SD, sudah lima belas tahun. Dan begitu sebuah kesempatan besar datang, ‘bisul’ itu pun meledak. Membuncah, membuat raungan yang demikian nyaring sehingga setiap ketakutan, kekhawatiran dan keraguan harus menutup mata untuk sementara. Oh ya, demi keadilan, perlu kukatakan di paragraf pembuka ini bahwa ada banyak orang yang membantu peledakan tersebut.

Mipiku itu adalah menjadi penulis dengan bukunya yang terkenal dan dibaca banyak orang dari berbagai generasi di berbagai belahan bumi—tapi baru-baru ini aku menambahkan satu detail lagi: serta menghasilkan nafkah yang layak. Itulah impianku, impian yang telah begitu lama dipingit, seperti perawan sendiri lagi kesepian dan berkeras menolak mati.

Tumbuh besar sebagai kutu buku di sebuah pulau kecil yang membaca buku bukanlah bagian dari budayanya, tentu saja dengan sukses telah menempatkanku sebagai bocah yang tak biasa. Tapi itu bukan berarti luar biasa. Aku anak yang tertutup. Mungkin agak sedikit parah. Dan aku pun mulai bicara pada pikiranku sendiri. Mendengarkan suaraku sendiri. Sampai kemudian, aku berdialog dengan kertas dan pulpen. Tak selalu kertas bersih, karena buku yang kupakai adalah buku bekas kakak perempuan dan sepupuku. Aku suka mengumpulkan buku pelajaran bekas mereka dan memanfaatkan sisa kosong di sana. Menjadikannya diari dan penampung cerita khayalan sehari-hari. Tanpa rencana apapun, tanpa tahu seperti apa arah yang harus kutempuh, tanpa tahu apakah hobi ini bisa menjadi pekerjaan atau hanya menjadi penampungan, aku terus mengerjakannya dan mengerjakannya. Sampai akhirnya orang-orang mulai mengatakan bahwa aku bagus di dalamnya—aku bisa menulis dengan baik dan mempengaruhi pembacaku, katanya. Ya, pada akhirnya orang-orang berkata jika tulisanku bagus. Itu membuat harapanku menjadi lebih besar dan lebih bernafas. Si perawan sendirian telah menyaksikan pangeran akhirnya datang dari kejauhan.
***
Awal tahun 2013, Mbak Dhani mengabariku tentang perhelatan penulis tingkat internasional di Ubud, Bali. Saat itu aku sudah menerbitkan sebuah novel berjduul Pemburu Rembulan dan Mbak Dhani ingin aku berpartisipasi dalam acara tersebut. Dia jelaskan apa syarat-syaratnya dan setelah beberapa menit yang penuh dengan antusiasme, akhirnya aku pun menjawab sarannya yang besar itu: maaf Ka, aku takut kesasar. Aku gak berani ikut acara tersebut.

Bisa kubayangkan bagaimana ia ternganga dan ingin melemparkan blender di mejanya ke lobang hidungku. Mungkin ditambahi beberapa wajan dan mesin cuci akan lebih baik. Dia berteriak heran, dan aku hanya tertawa cekikikan. Dia sedikit memarahiku tapi aku jelaskan bahwa aku sangat baik dalam melupakan arah jalan dan menyesatkan petunjuk perjalanan. Maka tentu saja aku menang. Mbak Dhani tak lagi memaksaku ikut Ubud Writer, dan aku bisa tenang hidup dengan ketakutanku. Kawan baikku itu menang. Ketakutan. Kekhawatiran akan apa yang akan aku lakukan di sana. Keraguan akan keselamatan selama perjalanan. Mereka bertiga menang. Aku tetap duduk di ruangku dan bangun pagi untuk mengajar. Tak ada yang rugi bukan ketika aku tak merasa rugi?

Tapi itu tak berlangsung lama. Mbakku itu tiba-tiba menelepon lagi dengan saran yang lebih mengerikan: ikutan seleksi beasiswa Mizan, Antitesa, nanti dapat beasiswa ke Bandung (APA? BANDUNG?) selama enam bulan (WUUUAAAPPPPAAAA? Enam bulannn?). keren lho Rul, kamu akan ketemu penulis-penulis hebat. Mas Tasaro juga ada di sana (ups, Tasaro? Penulis hebat itu? Orang asing itu? Dengan semua timnya? No…)

Aku mendebat Mbak Dhani. Tentu saja. Wajib itu. Mustahil bagi orang sepertiku tidak mendebat saran untuk pergi ribuan mil jauhnya tanpa mendebat si pemberi usul. Bahkan mantan presiden berumur 70 tahun pun akan kudebat jika mengetok pintuku hanya untuk mengajukan usul gila yang sama.

Aku menang.
Aku tidak akan pergi ke mana-mana.
Tapi kali ini Mbak Dhani tak mau orang lain menang.

Lewat media apa pun, dia mengingatkanku. Bahwa aku harus ikut. Bahwa aku harus mengirim naskahku dan mendaftarkan diriku. Bahwa ini kesempatan yang luar biasa. Bahwa aku penakut yang mengerikan jika harus melepas tiap kesempatan. Bahwa… tunggu! Sudah! Cukup! Dia akhirnya berhasil meyakikanku. Dia berhasil membuat ketakutanku duduk sejenak di kursinya dan menyaksikan dalam bungkam. Yup, perempuan yang tak kenal lelah ternyata lebih ‘mengerikan’ dari pada cita-cita yang jago bersabar.

Jadi aku pun mengiyakan usul tersebut. Aku menyegerakan membuat draft dari kisah yang sudah lama didongengkan dalam kepalaku—jika kau punya alat penyadap isi pikiran, dan kau putuskan membongkar pikiranku, kau akan langsung tuli oleh jutaan kisah yang berteriak nyaring begitu mereka lepas dari cangkangnya. Kukabarkan pada keluarga dan beberapa teman tentang keikutsertaanku di seleksi #5plus1 Antitesa, pada satu kelas di sekolah, juga pada satu-satunya grup menulis yang kuikuti dengan sepenuh hati, BAW. Mereka semua mendukung dan itu membuatku semakin tenang. Sampai kemudian pengumuman dua puluh besar datang dan, ditulis dengan cara paling kurang ajar di dunia tulis menulis, kudapati namaku tertera di sana. Bukan diurutan pertama, tapi khusyuk bersimpuh di nomor 13. Nomor yang akan membuat orang Eropa dan Amerika mencret jika menemuinya di bungkus sandwich mereka. Tentu saja aku senang. Teman-temanku juga senang. Ibuku pun turut bergembira. Kecuali beberapa muridku yang sebelumnya kubilang bahwa pemenang seleksi ini akan menjalani beasiswa enam bulan di Bandung. Dan, sebenarnya, di sela-sela kegembiraan itu, aku merasakan kobaran kekhawatiran. Ini kekhawatiran paling purba dalam diriku yang akan selalu keluar kapan pun aku dalam situasi serupa. Aku berkata gugup dalam hingar-bingar tawaku: sial, aku bakalan kesasar!

Ketegangan berlanjut. Dua puluh besar masih akan diseleksi lagi. Diambil sepuluh untuk mendaptkan beasiswa; pembinaan dan kontrak penerbitan. Semuaya menggiurkan sekaligus mengkhawatirkan. Sampai kemudian, pada sore hari senin yang kering, setelah seharian menunggu kabar pemenang, pengumuman itu pun direlease di dunia maya. Tidak berupa tulisan, tidak berupa foto, tapi video. Tidak kusangka, ternyata panitia benar-benar hebat dalam membuatku tersiksa. Youtube adalah situs paling mustahil di sini. Dengan modem yang mulai terkenal keleletannya, aku hanya bisa membuka video singkat itu sampai pada tiga belas detik pertama. Aku tak tahu apa bunyi keseluruhan pengumumannya. Apakah aku berhasil atau tidak. Sampai kemudian, seorang kawan yang lain, Mbak Linda, mengabariku bahwa aku harus kesasar, aku harus khawatir, aku harus gugup, karena aku salah satu dari sepuluh pemenang itu. Aku harus ke Bandung. Seorang diri. Naik kereta. Untuk pertama kali. Aku stress.

Ayolah kawan, kau kira aku berkebihan ya? Tidak. Ini sungguhan dan aku sudah ‘agak tidak beres’ karena nekad membeberkan kelemahanku sendiri. Memang benar ketika mengetahui aku salah satu pemenang aku berteriak kegirangan, aku melonjak, sujud syukur dan melambung kelangit. Ini kemenangan yang gegap gempita bagiku. Semua murid tahu bagaimana aku memerah mukaku karena luapan api bahagia. Tapi aku tak pernah naik kereta. Bahkan Bawean tak punya rel-nya. Aku pun tak pernah punya alasan bagus untuk naik kereta. Naik kereta api belum pernah terjadi padaku.

Kecuali kemudian pada hari keberangkatan tersebut. Di mana aku harus menempuh perjalanan sangat panjang dengan kendaraan asing bukan kepalang, bersama para penumpang yang semakin lama semakin beragam, menuju tempat tak ‘tergambarkan’, dan, halakadala, ketika kubaca nama-nama jalannya, aku tahu ini saatnya bagiku untuk mulai minta bantuan polisi. Dan dalam kepanikan itu, obat yang baik pun datang. Semakin lama semakin manjur dan semakin menenangkan. Pribadi-pribadi yang baik dan menyenangkan. Ternyata para penerima beasiswa Antitesa adalah orang-orang baik smeua. Tak satu pun dari mereka mantan tahanan penjara Shawshank atau pelarian dari Al-Catraz. Bahkan panitianya pun sangat ramah dan membuat ku tak sabar untuk segera menjumpai dan belajar dari mereka.

Kusebutkan nama-nama para penerima beasiswa tersebut, bukan hanya untuk melengkapi catatan ini, tapi agar kau tahu di dunia yang berantakan ternyata masih ada orang-orang yang—sejujurnya—juga berantakan tapi masih berhati budiman. Mereka itu Mahrus Aly sang controversial kita—baik orang maupun karyanya. Ginanjar Teguh Iman yang mengeroncongi hidupnya. Beni Jusuf ‘sang dukun teluh’ yang kami semua sepakat untuk mencurigai beliau bahwa untuk menghabisi masa lajangnya beliau harus melayangkan teluh pada gadis baik hati yang kini jadi isterinya itu—wakakakakaka. Agung Djatmiko sang pembangun kapal yang awalnya sediam besi dalam kegelapan, eh, ternyata, bisa bersuara nyaring juga; persis seperti besi di tengah malam ketika dipukul pake tulang belakang dinosaurus jantan. Mbak Tuti Adhayati sang kartini yang tentunya tak mirip dengan kartini. Mbak Tita Rosianti yang entah bagaimana, seluruh tentang dirinya tampak seperti komedi, termasuk caranya tertawa benar-benar mirip dengan orang yang tertawa segenap jiwa. Mbak Ria Fariana sang dosen sejuta umat yang punya jebakan khusus untuk membuat mahasiswanya gemar membaca. Dan terakhir, Mbak Susanti Iry yang, ayolah, hahaha, beliau tampaknya sedang berusaha untuk menjadi ornag Afrika karena novelnya bersetting Afrika: tanah dan sejarahnya. Semua orang yang kusebutkan tadi sebagain besar sudah ‘tak normal’. Kemungkinan besar otak kanan mereka terlalu anjlok ke kanan, atau mungkin otak kirinya yang sudah tergelincir ke kanan. Tapi percayalah, apapun kesan pertama yang mereka berikan kau harus tahu betapa mereka semua orang yang baik hati dan sangat menyenangkan. Aku tak pernah ragu untuk mengakui bahwa mereka sahabat-sahabat yang baik dan meng-kangenkan.

Aku pernah mendengar, tapi lupa dari mana, bahwa katanya para seniman itu suka slengekan dan bertindak sesukanya sendiri. Mereka tampil dengan tak peduli siapa di sekitar mereka seakan ingin mengatakan bahwa inilah aku dan terimalah aku apa adanya karena aku adalah mutlak dan orang lain harus mau menghargai diriku walau mungkin aku tak menghargai mereka. Aku juga ada mendengar tentang para penulis yang sudah mapan dan menjadi pelit dengan ilmunya, menjadi risih dengan anak bau kencur yang suka merubuti dengan berbagai pertanyaan. Yah, semua hal yang buruk-buruk lebih mudah diingat dan lebih kuat bertahan dari pada hal yang baik-baik. Kau setuju kan? Jadi semua itulah yang untuk sementara waktu menyinggahi benakku. Sebelum aku mengenal mereka semua, para penyelenggara beasiswa penulisan tersebut. Para anggota tim Antitesa. Dan ternyata, menyenangkan sekali, ternyata kekhawatiranku salah. Ah, sungguh sangat lega ketika kekhawatiran negatifmu ternyata tidak benar. Kau akan sangat rela menjadi orang yang salah sangka dalam situasi seperti itu.

Mas Tasaro GK, yang berperan sebagai kepala suku, gembong penulis, pimpinan kawanan orang kreatif, adalah sosok pembina yang menyenangkan, bijaksana, banyak ilmu dan memancing siapapun untuk terus bertanya. Beliau orang yang akan membuat siapa saja tidak keberatan bermurid padanya. Eng …. atau mudahnya, anggap sajalah beliau itu Dumbledore—dengan membuang topi Bruno Mars, syal, jeans dan jaket kulit yang biasa ia kenakan. Mas Mahab Adib, bertindak sebagai tukang pemutar knop kotak tertawa sekaligus yang bertanggung jawab untuk menambah kadar ketakwarasan dalam darah kami. Ia begitu tenang sekaligus begitu menghanyutkan. Mas Faith Zam yang selalu lupa menyadari bahwa dia tak mirip Kak Rhoma sama sekali—sungguh terlalu! Tapi penelitian intensifnya atas sejarah hidup Kak Rhoma sepertinya telah meracuni otak ketersadarannya sehingga mengira Kak Rhoma adalah saudara tirinya. Tak apalah, kami para penerima beasiswa #5plus1 Antitesa pun hanya tersenyum menganggukinya. Bahkan memintanya menyanyikan salah satu lagu Kak Rhoma—dan baru ia nyanyikan kemudian selepas sholat maghrib, di meja makan, sendirian, tak ada yang mendengarkan. Wakakakakakaka. Kang Kun-Ken sang kartunis. Tukang coret moret buku yang menunjukkan pada kami teknik membangun cerita yang baik dan teratur menggunakan prinsip-prinsip penyusunan cerita dalam komik. Cara yang ia sebutkan itu benar-benar mempermudah bagi para penulis untuk memulai kisahnya. Di situ kita akan langsung menentukan tokoh baik dan jahat, menentukan tujuan hidup, menentukan rintangan dalam meraih tujuan tersebut, menentukan apa yang bisa membantu perjuangan, dan kejutan berbahaya dari musuh utama serta bagaimana mengakhiri kisah dengan indah. Mungkin beberapa saat lagi Kang Kun akan menikahkan salah satu karakter komiknya dengan Mahrus Aly. Apapun keadaannya. Karena Kang Kun telah gagal mendapatkan restu dari orang tua Ginanjar. Terakhir, anggota brigade antitesa yang paling ngartis sampai-sampai agak disayangkan karena dia malah terjebak dalam geromboloan si berat yang aneh ini. Dia adalah Eyang Hadi. Sang pelukis dan pembaca gurat tulisan tangan. Seniman ini memang harus disebut dengan nama tadi: Eyang Hadi. Eyang akan benar-benar mewakili seluruh jati dirinya dengan hampir sempuna dan mutlak. Yah, memang, itu salahnya sendiri, tentu saja. Pikirkan, mulai dari sikapnya yang terlalu tenang. Rambutnya yang ditata berbeda dengan rambut Oom Beni jusuf. Cara ketawanya yang tidak sebangsa setanah air dengan cara ketawa Mahrus Aly. Pakaiannya yang berbeda dengan pakaian usatadzah Ria. Terlebih lagi keahliannya membaca kepribaian dari gambar / lukisan serta guratan tulisan tangan. Semua keahlian dan kepribadian aneh tersebut tentunya sudah cukup untuk membuat pria muda ini pantas bergelar eyang. Eeeyyaaaaang Hhhhaaaaddddiiiiii …..

Selama di akademi kami mendaptkan begitu banyak ilmu (juga makanan!) baru yang mengejutkan. Bahkan bukan hanya tentang penulisan, penerbitan dan tour di percetakan Mizan yang luar biasa besar (aku langsung berfoto dengan beberapa buku yang belum beredar di took lho, hahahaha), tapi juga materi analisisa diri, mengenal karakter dan kecenderungan dalam berkreasi. Di Antitesa #5plus1 kita ditunjukkan apa saja bentangan psikologis yang bisa mendukung kepenulisan kita juga apa yang bisa menjadi penghambatnya. Aku pribadi terheran-heran ketika Eyang Hadi mulai bicara soal kepribadian—sambil tersenyum, agak malu, imut-imut, bersuara rendah, diplomatis, tapi percaya diri—berdasarkan pilihan hewan yang kuambil. Hewan pertama melambangkan sosok seperti apa yang kita ingin menjadi. Hewan kedua melambangkan bagaimana pandangan kita terhadap diri sendiri. Hewan terakhir adalah diri kita sebenarnya yang belum kita sadari.

Hewan pertamaku adalah penguin. Penguin bertanduk, tentu saja. Kedua aku memilih hiu (tapi ketika menggambarnya malah menjadi paus. Hahahaha. Sebenanrya wujud hiuku terpengaruh oleh karakter hiu (?) yang dibuat Google Doodle untuk memperingati novel Moby Dick). Dan, hewan ke tiga yang kupilih, adalah, naga. Naga. Hewan mitos yang dipercaya dalam hampir semua kebudayaan besar di seluruh dunia. Akulah si pengkhayal kelas berat. Akulah si pembangun duniaku sendiri dan melanglang buana dalam petualangan khayali yang pesona dan pikatnya tak terjamah oleh khayalan manusia lainnya. Eyang Hadi benar. Aku memang pengkhayal. Dari sebermula aku bisa menggunakan otakku dengan baik dan benar, otakku telah melenceng amat banyak ke kanan. Aku pendongeng. Penghibur dengan kata-kata. Pembuat cerita dan penikmat fantasi dunia maya. Maka besar sekali maknanya bagiku ketika Mas Tasaro memberikan wejangan kenangannya di atas kertas lukisan hiu-pausku tersebut: imajinasimu adalah masa depanmu. Yup, aku setuju dengan Anda Mas Tasaro. Sangat amat setuju. Imajinasiku adalah lebih besar dari diriku.

Materi jurnailistik yang diberikan mas Faith Zam benar-benar bikin gila. Sebenarnya bukan hanya materinya yang menggilakan, tapi branding orangnya yang menyerupakan dirinya dengan Kak Rhoma Irama. Hahahaha, peace Mas. Namun demikian, Mas fatih membuka wawasan kami tentang jurnalistik yang bersifat faktual sebagai sarana untuk menghidupkan fiksi yang khayali. Tentu saja, karena baginya jurnalistik adalah: Jujur, Terkenal, Manis dan Cantik. Nah, novel mana yang tak akan menjadi luar biasa jika di dalamnya mengandung kejujuran, keterkenalan, kemanisan dan kecantikan? Kemudian beliau meminta kami untuk melakukan wawancara di jalan dan aku pun berhasil bicara dengan seorang pria Lamongan yang membuka warung nasi ayam goreng di Bandung. Tak jauh dari tempat kami di asramakan.

Aku berbincang-bincang dengan Pak Farhan, nama pemilik warung tersebut, yang ternyata berasal dari Karanggeneng—salah satu desa di Lamongan. Nah, sambil wawancara, karena tahu nanti Mas Faith akan meminta kami untuk menjadikan tokoh dalam wawancara sebagai tokoh cerita, aku telah menemukan apa karakter yang tepat untuk pria berjenggot yang murah sneyum itu. Ini yang kutulis di kelas menulis Mas Faith:

“Kisah tentang seorang pria Lamongan yang membuka warung tepi jalan di sebuah kota besar. Pada suatu malam gerimis, ada tiga lelaki berjas makan di warungnya dan—terpikat oleh masakannya yang lezat—menawarinya bekerja di rumah si orang kaya, menjadi juru masak menggantikan juru masak sebelumnya yang sudah dua bulan pulang dan tak kembali. Pria pemilik warung setuju karena gajinya lebih besar dari penghasilannya buka warung, juga karena ia ingin tinggal di tempat yang lebih nyaman.

Kemudian, setelah lima bulan berlalu, pria itu pun tahu apa yang sebenarnya terjadi: ayah, ibu, isteri dan anak tukang masak sebelum dirinyanya telah mati. Mereka dibunuh oleh sang majikan. Termasuk kemudian si tukang masak sendiri. Mereka sekeluarga mengalami nasib malang itu karena si koki ingin berhenti bekerja dari sang majikan. Pria lamongan itu telah menyadari bahwa majikannya adalah gembong mafia yang lebih suka membunuh dari pada membiarkan saksi mata keluar dari rumah. Tokoh utama kita tak punya pilihan, jika dia ingin pulang dengan selamat, menemui keluarganya di rumah sebagai manusia bukannya gundukan merah di tanah, dia harus menyelesaikan semua yang tinggal di rumah celaka tersebut. Semua tanpa sisa.”

WOW, JIKA DARI MEWAWANCARAI pemilik warung tenda tepi jalan bisa menjadi kisah sekeren itu, bayangkan jika memwawancarai seorang penjaga hutan? Pasti ruarr biasa!

Harus kuulangi lagi, bahwa bisa menjadi bagian dari angkatan pertama #5plus1 Antitesa bekerjasama dengan penerbit Mizan adalah suatu anugerah yang benar-benar luar biasa. Ini keajaiban. Ini pintu yang sudah lama kucari untuk memasuki dunia ajaib yang kuimpikan. Di sini, bersama kawan-kawan luar biasa dan mentor hebat tak terkira, aku merasa bisa meledak kapan saja dan membuat hingar bingar di kepalaku terdengar sampai jauh ke belahan bumi lainnya. Di akademi kami mendaptkan materi yang mengasah kami agar mahir membuat opening cerita, mahir membuat karakter / tokoh yang berkesan di hati pembaca, alur yang memikat juga ending yang menghentak. Bahkan juga membuka sisi-sisi psikologi yang selama ini menjadi dua bagian tak terpisah dalam proses menulis kami: kadang menjadi kawan, kadang menjadi lawan. Kupikir, inilah sekolah menulis terlengkap yang ada. Bisa kupastikan, siapa pun yang mendapatkan kesempatan ini, menjadi penerima beasiswa Antitesa ini, dia benar-benar mendapatkan keberuntungan yang besar dalam hidupnya.
***
Memikirkan kereta api membuatku merasa bodoh dan ketinggalan jaman. Aku tak pernah menaikinya. Bahkan aku tak pernah menyentuhnya. Aku hanya sering melihat kuda besi itu berlari tak perduli sambil berteriak dan meledek para pengendara yang harus berhenti dan meyilahkannya pergi. Kereta api selalu menjadi kendaraan aneh bagiku (yah yah yah, aku tahu sebagian dari Anda sudah tahu bahwa aku tidak tahu bagaimana rasanya naik pesawat terbang). Bahkan aku masih sering keseleo lidah mengatakan ‘terminal kereta api’. Hahahaha. Tapi untunglah, Mbak Triana (nama ini jika diacak akan berubah menjadi ini: a train, sebuah kereta api) datang membantu. Beliau bersedia bersusah payah turun dari planet Neptunus untuk membantu membeli tiket kereta. Maka jadilah aku berangkat dengan kereta api. Untuk pertama kali. Seorang diri. Menebah malam hari. Dan tiba di Bandung sangat pagi. Bersiap untuk mengkesasarkan diri.

KAWAN, AKU MASIH saja penakut. Tak bisa kusangkal itu. Aku masih saja mengkhawatirkan banyak hal, itu kenyataan. Aku juga ragu untuk menetapkan keputusan. Itu memang aku dan kupikir di luar sana banyak juga orang yang sama sepertiku. Kalau itu dirimu, kawan, hey, kita berbagi masalah yang sama. Percayalah, keadaanmu tidak jauh lebih buruk dari diriku. Hanya saja, apa yang terjadi padaku sepertinya telah membuktikan bahwa untuk membuat lompatan besar dalam hidupmu TIDAK SELALU kau harus membunuh rasa takutmu, menyingkirkan kekhawatiranmu, memusnahkan keraguanmu, tidak harus selalu begitu.

Aku telah hidup dengan tiga perasaan itu dan masih terus bersamanya. Namun demikian, mendapatkan dan mengikuti program Antitesa, aku yakin aku telah melakukan satu lompatan besar dalam hidupku. Ini sebuah ‘luar biasa’. Teman-teman yang sama penakutnya dengan diriku, jika memang rasa takutmu demikian beralasan dan demikian lengket untuk dibuang, biarkan, BIARKAN! Bawa terus takutmu itu, pelihara, jangan perdulikan tetanggamu yang mati-matian menghinamu dan memaksamu mencampakkan perasaan itu. Rasa takut itu milikmu. Kekhawatiran dan keraguan, jika memang kedua perasaan itu begitu beralasan untuk terjadi padamu, bawa semuanya dalam hidupmu, simpan baik-baik di sana, PELIHARA! Tapi ingat, apapun dirimu, apapun masalahmu, apapaun penghalangmu, apapun cemooh yang melinggis otakmu, KAU HARUS TERUS BERGERAK MAJU. Teruslah bergerak! Jangan diam. Jangan berhenti. Bawa serta setiap ketakutan, kekhawatiran dan keraguan dalam tiap langkahmu. Tapi ingat, jangan pernah berhenti, teruslah melangkah! Terus maju! Terus membuat langkah baru. Aku datang ke Bandung dengan segala penyakit hati melekat tak pergi, tapi aku memutuskan untuk melangkah. Aku memutuskan untuk tidak berdiri diam. Aku memutuskan untuk menjadikan hari itu sebagai hari pertama kali berkereta api, hari pertama kali menjejak Bandung seorang diri, hari pertama bertemu para penulis besar yang aku yakin semua itu akan mengubah diriku menjadi lebih baik. Lebih dekat pada mimpiku. Kuputuskan rasa takutku untuk tidak mendiamkanku.

Kawan-kawan yang ingin menjadi penulis tapi masih diliputi rasa takut, dicekam kekhawatiran, diracuni keraguan, simpan semua Perasaan menyebalkan itu. RAWAT semua hambatan kepribadian itu. Tetaplah menjadi si penakut yang penuh kekhawatiran dan meragukan segala hal. Tapi ingat kawan, ingat dan lakukan ini sebaik mungkin, kau tetap harus bergerak maju. Kau harus terus melangkah mendekati setiap peluang yangmembawamu lebih dekat untuk menjadi penulis ‘sesungguhnya’. Saat terlahir ke dunia kau pun terlahir sebagai penakut, cengeng dan peragu, tapi kau terus bergerak maju, kau terus mendobrak dengan tetap membawa ketakutanmu. Dan kau pun akhirnya berhasil, tangguh sampai pada hari ini. Kawan, kau harus tetap menulis ceritamu. Kau harus tetap mengirim naskahmu. Kau harus tetap berdoa pada Tuhanmu. Insya Allah enam bulan lagi Mas Tasaro beserta timnya, Antitesa, akan menggelar acara serupa, kau ikutlah! Ikutlah wahai para penulis penakut di segala penjuru dunia! Jangan kahwatir, ketakutanmu tak akan membunuhmu, dia akan menjadi sahabat terbaikmu.

Aku tak memintamu untuk membunuh rasa takutmu, menyingkirkan kekhawatiranmu, memangkas keraguanmu, aku tidak memintamu untuk bersusah payah melakukan semua itu, tidak, aku hanya memintamu untuk tidak berhenti bergerak. Terus maju. Terus melangkah. Terus merangsek menuju tempat yang akan mewujudkan cita-citamu. Terus maju dan berdoa.

NOTE
• Sebelum berangkat, aku mampir di rumah sahabatku Amar yang isterinya sedang hamil. Sepertinya aku agak berbahaya bagi ibu-ibu hamil. Menjelang maghrib, isteri kawanku itu mulai mules dan harus dibawa ke bidan. Menjelang isya, si Amar datang dengan wajah panik dan mengatakan harus ke rumah sakit di kota Tuban! Waduh, aku ditinggal sendirian di rumahnya, menjadi tamu sekaligus tuan rumah semalaman. Untungnya, di sana ada banyak makanan. Hahaha, Amar, kau memutuskan hal yang sangat berbahaya malam itu.
• Terimakasih untuk ibunda tersayang yang doanya tak pernah lekang oleh jaman, tak hancur oleh waktu, tak pudar oleh ruang. Beliau yang mengawalku sejak semula sampai nanti akhirnya. Terimakasih untuk semua kakak-kakakku, kak rizal, kak khafid, mbak leli, yang percaya bahwa aku bisa. Untuk semua keluarga yang tak lelah mendukungku. Terimakasih untuk Dik Titin atas segala supportnya yang luar biasa.
• Terimaksih untuk sahabat-sahabatku yang dengan sadar mau menerima resiko bahwa berada di sampingku berarti harus menerima beberapa puluh persen kegilaan yang tak mungkin ditentangkan. Habibi yang murah hati tapi belum juga beristeri, David sang seniman yang telah membantu membuatkan gambar WPAP dan ilustrasi Novara, Adit yang mengantar kemana pun aku pergi serta menetapkan suatu madzhab baru dalam tradisi mentraktir juga semua rekan dan teman lainnya.
• Terimakasih untuk semua teman-teman BAW, kalian adalah keluarga besar yang semuanya adalah orang-orang hebat. Mbak Leyla, mbak Lyta, Mbak Eni, Mbak Afra, Mbak Ade, Mbak Atik, Mbak Mugniar, Mbak Anik, Mbak Marisa, Yusi, Santi, Asagi, juga semua mbak yang lainnya yang namanya kueja satu persatu dalam hati. Terimakasih juga untuk mas Umar Al-Faruk, Sholich Mubarok, Andri Husein dan semua lainnya.
• Terimakasih pula untuk murid-muridku yang mau menerima ketiadaanku untuk seminggu. Semoga kta semua akan menjadi orang yang lebih baik dari kita hari ini. Terkhusus, terimakasih buat Tsaqif untuk gambar-gambar kerennya. Benar-benar membantu dalam menghadirkan dunia Novara bagi pembaca
• Terimakaish untuk semua teman penerima beasiswa Antitesa #5plus1 yang sangaaaaaat baik dan giiiiiilllllaaaaaaaa! Hahahaa, kalian semua telah memberiku waktu istirahat dari profeesi sebagai orang lucu dan bisa dengan tenang menikmati kelucuan kalian. Oom bije, mas agung, ginanjar, mahrus, mbak ria, mbak tuti, mbak susanty, dan mbak tita. Ternyata aku memang merindukan kalian smeua.
• Terkahir, tapi bukan berarti terpinggir, terimaksih sebanyak-banyaknya untuk Mizan, Mas Indra, untuk semua guruku tim antitesa, Mas Tasaro, Mas Adib, Mas Faith, Eyang Hadi dan Kang Kun Ken, aku berhutang demikian banyak pada kalian. Hutang yang demikian besar dan tak bisa hilang. Terimaksih telah menerimaku, Si Tarzan gunung ini, untuk menjadi bagian dari Mizan. Terimakasih pula untuk semua bimbingan yang telah kalian berikan. Antitesa akan selalu berbeda dan terus memberi makna.

08 / 05 / 2013

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “#5PLUS1 Antitesa: Hopes and Fears (Parajhoka Bawean Yang Menjadi Penulis Mizan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s