• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SANTO seorang sahabatku

Aku ingat ketika suatu pagi ibu membuat nasi goreng kuning dan aku berpesan padanya untuk membuatnya agak gosong, untuk apa? Tanya ibu. Buat gantinya ikan, jawabku. Dan ibu hanya tertawa. Tapi beliau melakukannya. Menggorengnya sampai gosong dan susah payah mengerik bagian gosong tersebut buatku, juga sepupuku, juga saudara-saudaraku. Pastilah ibu tak habis pikir bagaimana bisa di dunia ini ada orang-orang sekonyol kami. Saat itu, aku tidak memikirkan banyak tentangnya, tentang nasi goreng yang digosongkan itu, selain bahwa rasanya yang renyah mengingatkanku pada kerupuk juga rempeyek. Tapi sekarang, dengan pikiran yang lebih ruwet dan bacaan yang lebih gila, aku tersenyum sendiri dan menggumam, ‘sesuatu yang gosong sekalipun bisa menjadi enak jika kita bisa menerimanya dengan suka cita’. Nasi goreng buatan ibu memang enak, tentu saja, kau pun boleh membuktikannya, tapi gosong yang sedikit itu membuatnya menjadi begitu berharga dan spesial. Seandainya aku lebih awal tahu akan filsafat gosong itu, mungkin aku akan lebih bijaksana dalam hidup, karena ternyata tahun-tahun berikutnya hidupku pun penuh dengan gosong-gosong yang semakin lama rasanya semakin enak untuk dibicarakan. Setidaknya untukku sendiri.

Sewaktu kanak-kanak aku punya seorang sahabat yang menyenangkan. Dia menonjol di antara kami bukan hanya karena gigi depannya yang menonjol, tapi juga karena kebaikan hatinya, kemurahan hatinya, kelembutan hatinya dan keriangan hatinya. Dia tidak begitu saja marah jika ada yang menyalahinya. Tapi dia akan begitu saja menyerahkan sebagian jajannya jika kawannya meminta. Dia mudah memaafkan pada siapa saja yang menyurukkan jabat tangan. Dan, dia begitu menyenangkan diajak main perang-perangan—itulah menurutku yang terbaik dari segala kualitas baiknya. Perang-perangan adalah permainan masa kecil yang paling kugemari dan tak semua anak mau melibatkan diri. Berbeda dengan yang lain, kawanku itu selalu meneriakkan ‘AYO’ untuk tiap tawaran perang yang kuajukan.

Kami memanggilnya Santo. Bukan karena dia mirip salah satu orang suci dalam agama kristiani, bukan karena itu, tapi karena nama lengkapnya Susanto. Entah mengapa saat itu aku sama sekali tak terpikir untuk memanggilnya Susan walaupun aku tahu di TV ada cewek cantik bernama Susan yang selalu nempel di tangan Ria Enes. Bersama, aku dan Santo menjalani hari-hari sekolah yang menyenangkan dan layak untuk dinantikan.

Kami memang tak saling kunjungi ke rumah masing-masing. Jarak satu RT bagiku waktu itu sudah sangat jauh dan mustahil untuk kujelajahi sendiri. Kami hanya bertemu di sekolah, atau di pemandian umum di dekat pohon besar dan angker di pinggir perkampungan. Dan kapan pun kami bertemu, kami bercanda seperti orang kesetanan. Aku akan mengejarnya, dan dia lari sekencang yang dia bisa. Aku berubah menjadi monster, dan dia berlagak jadi satria baja Hitam RX. Walaupun agak sulit diterima akal (satria baja hitam selalu tersenyum lebar tapi Santo selalu monyong ke depan) aku tak mempermasalahkannya. Aku menerimanya seikhlas orang tua menerima kelahiran bayinya, apa adanya.

Perang-perangan pun terjadi dengan gegap gempita. Saling kejar. Saling teriak. Naik kebangku dan melompat dengan ancaman mematikan. Berlagak menendang tapi hanya memecah udara kososng jauh dari badan. Memukul kuat dengan efek suara dari mulut sendiri. Menciat-ciat seakan itu bisa membuat kami bisa menjadi benar-benar hebat. Juga membunyikan ledakan setelah melemparkan senjata yang hanya tampak di mata kami berdua. Itu perang yang selalu terjadi antara monster dan Santo.

Suatu hari di musim hujan, kampungku semalaman dibasahi guyuran yang demikian lebat sehingga halaman sekolah menjadi kolam kecil coklat tak bersahabat. Tak ada yang bisa melewatinya kecuali dengan melompati beberapa bongkah batu yang ditata sebagai pijakan. Aku dan santo berdiri saja menatap kesunyian yang mengambang di atasnya. Tapi kemudian, seperti Archimedes dengan momen eurikanya, kami sadar bahwa teras sekolah adalah termpat yang menjanjikan sejuta kegembiraan bagi Perang Baja Hitam. Kami pun langsung berubah menjadi pahlawan dan monster kegelapan. Tentu saja aku monsternya—suatu peran yang bisa kumainkan tanpa banyak beban pikiran. Dengan hati penuh keriangan bukannya kebencian, aku yang monster mengejar Santo yang ‘meliuk di antara siswa lainnya dengan kelincahan yang luar biasa sampai tiba-tiba SPLASH! Dia terpeleset. Jatuh berdebam. Terjengkang. Pakaiannya basah. Dan aku tertawa melihatnya terlentang. Santo juga tertawa. Semua anak yang melihatnya jatuh pun ikut tertawa. Lalu dengan tenang dia bangun dan menyeretku masuk kamar mandi. Kami berdua membersihkan pakainnya yang kotor dan basah.

Walaupun santo sama sekali tak marah, tetap saja aku takut. Apa kata ibunya jika dia pulang dengan pakaian basah semua? Bagaimana jika keluarganya tahu aku yang membuatnya jatuh berdebam di sekolah? Ah, pastilah mereka akan melarangnya bermain denganku mulai sekarang sampai seterusnya. Lantas dengan siapa aku akan bermain perang-perangan? Itu ketakutanku. Yang, kalau tak salah, tiga bulan kemudian menjadi kenyataan. Santo mati. Kata dukun, dia kena setan penghuni tanaman burnie.

Usianya baru delapan tahun. Masih sangat muda. Tapi setan di kampung kami tak pernah pandang usia. Suatu hari, bersama anak-anak di RT-nya santo pergi ke rimbunan di bagian luar utara desa. Jauh melewati Bun Dojo dan hampir mencapai Sempol. Di sana mereka mendapati tanaman burnie yang masak-masak buahnya. Santo tak bisa menahan diri. Mengambili buahnya seakan itu cabai yang aman dipanen petani sesuka hati. Sepulangnya ke rumah, malam harinya, tubuhnya demam dan panas tinggi. Aku tak tahu apakah dokter dipanggil, tapi kyai telah dimintai air yang dibacai. Dukun-dukun juga didatangi untuk menemukan penyebab dan mendapatkan air bermantra. Kata kunyit yang diiris dan diolesi kapur, dia kena setan kaju burnie.

Mungkin seminggu dia menderita panas sebelum kemudian Pak Yasin, juru siar berita kematian sekaligus tukang adzan jumatan, menyobek langit desa dengan salamnya yang mengerikan. Di desaku ada aturan unik tentang pengumuman menggunakan TOA, hanya berita kematian yang boleh diawali dengan salam. Maka setiap kali sebuah pengumuman berawalan salam mengumandang, semua orang akan berhenti dari kegiatannya, rumah yang ada di bagian lereng akan keluar penghuninya dan menjulurkan leher untuk mendengar lebih jelas, orang-orang tua akan menggumam kira-kira siapa di antara teman masa muda mereka yang lebih dulu pergi ke sana. Sedangkan anak-anak yang sedang rame bermain dengan kawan-kawannya akan kabur berhamburan pulang menuju rumahnya masing-masing mencari perlindungan dari ngerinya berita kematian—itu karena kami mempercayai hantu bisa muncul dari orang mati. Tapi siapa sangka jika yang mati hari itu adalah Santo? Kawanku bermain yang hebat itu. Kawanku bermain yang tulus itu. Kawanku bermain yang selalu serius dengan peran pahlawannya itu. Sampai sekarang aku masih menyesal, karena aku tak pernah menjenguknya selagi dia masih hidup dan menderita. Aku bahkan tak ingat apakah aku menyaksikan prosesi penguburannya. Aku hanya ingat jika aku duduk berlama-lama di samping kuburnya selepas jumatan. Menziarahi dan mendoakannya.

Kematian Santo adalah gosong dari masa kecilku yang, sialnya, ternyata tak juga bisa menjadi hal yang enak untuk dikenang. Bagaimana mungkin sebuah kematian sahabat kesayangan bisa menjadi kenangan yang menyenangkan?

Berikutnya, Pak Muslihin. Beliau….guru pertama yang memintaku mendongeng di depan kelas. Hahahaha, dan aku mengecewakannya. Ah, kuceritakan lain kali saja kisah tentang guru kurus itu. Aku tak yakin menceritakan dua orang mati di satu essay seperti ini bisa membuat keadaan lebih baik. Dua orang yang kusayangi. Dan oh ya, perlu dicatat, teori nasi goreng gosongku sama sekali tak berlaku untuk peristiwa-peristiwa ini. Aku memang bukan orang yang selalu benar.

15 / 04 / 2013 ; 15:51

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: