• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Bawah Tanah

Kemarin aku berbincang dengan pria yang lebih mirip sebagai konspirator pemberontakan besar dari pada sebagai seorang sopir bayaran tanpa pekerjaan tetap. Dia bicara tanpa melihat mataku tapi tiap kali dia menoleh ke wajahku aku merasa seakan dia sedang mengelupas kulit mukaku dan mencari tahu apakah aku meragukannya atau tidak. Dan perasaan bahwa kalau-kalau dia berpikir aku tidak begitu serius menanggapinya membuatku benar-benar tak nyaman.

Tapi bagaimana tidak, menceritakan sesuatu yang demikian besar dan mengejutkan sementara aku tidak sedang siap untuk dikagetkan seperti itu, mendorong instink purbaku untuk menemukan keyamanan bagaimanapun caranya. Sebuah organisasi rahasia yang bergerak di bawah dan mengumpulkan semua informasi baik yang rahasia maupun yang terbuka.

Aku mencari celah untuk meyakinkan diriku dia sedang membual atau, semoga saja, sedang mengkhayalkan suatu perlawanan yang sudah lama dia impikan semenjak dia masih aktif di ketentaraan. Dan belum terlaksana sampai sekarang; maka khayalanlah jalan yang ia ambilkan.

Dia menceritakan organisasi tanpa namanya yang beranggotakan sembilan orang—mengikut mitos angka supranatural dari legenda wali songo—dan bekerja diam-diam. Ketika dia sedang asyik mengelupasi kerahasiaan perkumpulan rahasianya itu, tiba-tiba seakan dia terkejut bahwa dia telah bercerita terlalu blak-blakan dan dia harus menyelamatkan dirinya serta kedelapan kawannya. Buru-buru dia memperingatkanku untuk tak pernah menyebutkan namanya dan gerakan-gerakan rahasianya di forum-forum atau di khalayak ramai. Kami ada, katanya, tapi belum saatnya orangorang tahu bahwa kami memang ada. Lalu dia melanjutkan, nanti orang-orang akan tahu tentang kami dari buku yang akan kami publikasikan. Segera, setelah dia mati.

Dia dan komplotannya sedang mengamati dengan cermat sebuah perusahaan yang sedang menuju besar tapi tiba-tiba akan jatuh berantakan. Kebangkitan seketika yang kami semua tak bisa memperkirakan bagaimana akhirnya, dan itu sangat menarik perhatian kami. Dia melanjutkan sembari menyesap rokoknya yang tinggal separuh. Itu alasan berdirinya organisasi tersebut. Tapi bukan penjelasan tersebut yang membuatku tertarik untuk tetap menyimak perkataannya sambil terus menyalakan radar pendeteksi kepalsuan, yang membuatku bertahan berbincang dengannya yang mulutnya selalu mengepul asap adalah kenyatan bahwa aku termasuk salah satu pegawai di perusahaan tersebut. Dan dia tahu benar itu, karena dia pun bekerja pada Bos yang sama denganku. Nantinya, semua hasil penelitian kami akan kami terbitkan. Semua ornag harus tahu, pada saatnya nanti.

Dia (berusaha) meyakinkanku bahwa kegiatannya itu bukanlah suatu aksi subversis sistematis ataupun aksi penggerogotan terencana, dia juga dengan terbuka menyatakan bahwa komplotannya akan dengan suka rela menghentikan penerbitan bukunya jika Keluarga Besar Bos keberatan dengan peluncurannya. Tapi mereka akan benar-benar memanfaatkan hasil penelitiaannya. Ketika perbincangan kami sampai pada kata ‘hasil penelitian’, kilatan gairah dan ambisi memijar tanpa malu-malu di matanya.

“Apa yang sebenarnya ingin Bapak dapatkan?”

“Sebuah jawaban. Yang belum pernah kami saksikan secara langsung sebelumnya.”

“Jawaban itu…?”

“Apa yang akan dilakukan oleh seorang pemimpin, pemimpin yang terberkati, ketika menghadapi masalah besar yang dia ciptakan sendiri. Kau tahu kan, Bosmu adalah orang yang paling egois dan susah mendengarkan orang di sekitarnya, tapi begitu mudah terpengaruh oleh prestasi yang dicapai orang-orang jauh di luar sana. Itu semua mempengaruhinya dengan cepat dan kuat.”

Kau benar, kataku dalam hati. Dia memang begitu.

“Karena sifatnya itu, dan kekerasan hatinya, dia menjadi begitu mudah mengubah keputusan, megambil kebijakan, menetapkan aturan dan mengeluarkan orang. Semua itu bisa dia lakukan dengan atau lebih seringnya tanpa meminta pertimbangan orang lain. Apa aku benar?”

“Yeah.” Aku menggumam.

“Organisasi dan strukturnya hanyalah perangkat keresmian dan perkakas untuk membuat tanda tangan. Dan baru-baru ini, dia telah melakukan hal terbesar, ah, atau mungkin terburuk dari yang pernah dilakukan seorang pemimpin perusahaan. Setidaknya di propinsi kita ini. Sebenarnya bahkan aku tak pernah mendengar hal serupa pernah terjadi di negeri ini. Dan itu sangat menarik perhatian kami!”

Aku bisa melihatnya dengan jelas. Beberapa hari yang lalu, Bos mengeluarkan dua manager sekaligus yang mengakibatkan perginya orang-orang penting di bawah mereka. Kita sedang berperang, kata Bos dalam rapat klarifikasi tiga hari kemudian.  Seorang manager yang terlalu berpengaruh bisa menjadi sosok yang terlalu dita’ati. Itu akan menghancurkan loyalitas pada perusahaan dan menggantikannya pada loyalitas personal. Dan itulah penjelasan yang dia berikan pada kami yang menatapnya masygul. Tapi masalahnya perusahaan ini baru berjalan delapan belas bulan!

Apapun itu, sopir yang masih berjiwa militer tersebut kembali melanjutkan ceritanya mengenai organisasi bayangannya.

“Kami tim yang kompak, dengan pembagian tugas yang jelas, serta target yang pasti. (Di antara) Kami ada informan, analis, penyandang dana, konseptor, pendamping Bos, telinga di masyarakat, dosen, pemilik penerbit dan, kau akan terkejut untuk yang terakhir ini, keluarganya sendiri.”

“Keluarga Bos?”

“Siapa lagi?”

“Tapi siapa?”

“Menantunya.”

“Ah!” aku berjengit. Dia membaca garis mukaku.

“Kami bukan kumpulan para bandit pendengki yang ingin menghancurkan perusahaanmu.”

“Bukan begitu.”

“Kami juga tidak bermaksud menghancurkan nama baik Bos atau pun perusahaan.”

“Mengapa Bapak tidak berterus terang saja? Bapak pendampingnya, kan!”

“Berterus terang tentang apa? Menantunya saja tidak.”

“Tentang…kegiatan yang Bapak lakukan. Tindakan mata-mata. Bagaimana pun juga, memata-matai bukanlah hal yang bisa dibenarkan, dengan alasan apapun.”

“Aku tidak bilang memata-matai.” Dia memutar-mutar rokoknya yang baru di sela-sela jari tangannya. Tangan yang besar dan kasar. Dulu sebelum menikah dan pindah ke kota kami—dan berumah tepat di sebelah bagunan perusahaan—dia adalah anggota tentara dan pernah terjun dalam operasi militer di Timor Leste. Itu lama sebelum perusahaan berdiri. “Tapi kami memang mengamati. Menggunakan semua sumber daya, mengolah semua informasi, dan menarik kesimpulan-kesimpulan akurat tentang semua yang terjadi di perusahaan.”

“Aku tidak tahu apa manfaatnya. Semua kegiatan yang bapak sebutkan tadi, apa pengaruhnya itu bagi perusahaan? Bahkan bagi Bos pribadi pun itu tidak ada.”

“Karena kami tak punya orang yang bisa menyampaikan hal itu pada kalian. Semua yang kami temukan, pada akhirnya hanya menumpuk di file computer dan malam-malam diskusi yang menyenangkan.”

“Bukankah Bapak sering bepergian bersama Bos? Itulah kesempatan terbaik untuk memb—”

“Memberinya saran? Hahahaha.” Dia tertawa terbahak-bahak dan seketika aku ingat bahwa menyarankan seseorang untuk memberi saran pada Bos sungguh adalah suatu saran terbodoh yang mungkin disarankan oleh pemberi saran. Aku tersipu. “Kau bicara seakan tidak mengenal dia. Yang kami inginkan adalah seseorang yang ada di sana. Di dalamnya. Di forumnya. Ketika pertemuan sedang dihelat, semua orang berkumpul dan mendengarkan, aku ingin orang kami itu bicara dan mengingatkan Bos bahwa tidak semua keputusannya bisa benar atau diterima.”

“Itu bukan hal yang mudah.”

“Tentu saja, dan itulah mengapa kau harus mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa ada suatu organisasi yang mengawasi perusahaan dengan sangat teliti dan cermat.”

“Aku?”

“Ya, siapa lagi yang bisa?”

“Aku …”

“kau boleh mengatakan pada semua peserta sidang, khususnya pada Bos, bahwa ada sebuah kelompak multi profesi yang mengawasinya. Dan bahwa setiap tindakannya direkam dan nantinya akan dibukukan. Itu sesuatu yang pasti. Tapi namaku jangan kau sebut. Aku masih ingin bersamanya. Aku masih ingin melihat aksi-aksinya. Kehebohan dan kekacauan serta caranya mengatasi semua itu. Walaupun dengan membeberkan keberadaan kami bisa mengubah gaya spontannya, tapi itu layak diambil demi keberlangsungan perusahaan. Kami semua sangat menyayangi kalian.”

 

Perbincangan kami berakhir bersama dengan datangnya Bos ke tempat kami berada. Dia mengajak kami makan dan aku tersenyum di belakang punggungnya. Sopir itu tertawa keras sambil berjalan tegas di sebelahku. Aku lapar, dan aku tak ingin memikirkan banyak hal untuk sementara ini. Setidaknya, aku masih bisa menghbur diri bahwa mungkin, mungkin, organisasi itu hanya omong kosong belaka. Walau pun dia dulunya seorang tentara dan pernah jadi mata-mata, tapi aku tak terlalu yakin organisasinya itu benar-benar ada. Orang iseng macam apa yang mau mengorbankan banyak dana hanya untuk mengamati perusahaan kecil seperti milik kami? Atau, ah, katakanlah ia memang ada, setidaknya dia telah meyakinkanku bahwa mereka tidak bermaksud jahat. Aku bisa menenangkan diri lebih lama lagi.

Dan aku tambah lapar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: