Posted in sastra

Arul, Rancho dan Baudolino (sebuah resensi hemblekenyes ala-Arul Chandrana untuk novel international best seller karya Umberto Eco)

novel ini akan membuat Anda mencurigai sejarah
novel ini akan membuat Anda mencurigai sejarah
-Rancho, kau mau dengar kisah Baudolino?
-sekarang?

-iya, kapan lagi?

-heh Rul, dengar ya, aku sudah empat hari melotot di lab tanpa tidur gara-gara otot tulang belakang iguana dan sekarang kau mau mendongeng? Gila kau.

-jadi kau tak mau dengar?

-aku mau, tapi tidak sekarang. Hey, lihat, jam setengah dua dini hari! Aku hanya punya waktu dua setengah jam untuk mengganti tidur empat hari yang hilang!

-baiklah, tapi besok aku harus ke Kutub Utara.

-APA? Ngapain?

-ada katak bersayap serabut yang harus aku operasi. Dan beberapa specimen baru lainnya yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Kemungkinan aku di sana selama enam bulan.

-sialan!

-hahahaha, jadi, kau mau dengar kisah Baudolino gak? Kisah tentang petualangan, kepercayaan, persahabatan, monster, hypatia dan unicorn, sejarah dan pemalsuan, mitos dan pasar-pasar abad pertengahan, Pndapetzim, relic kristiani (mata Rancho melotot dan mulutnya menganga, yah, dia memang penggila semua yang kusebutkan tadi), perdebatan teologis, asal mula kain kafan dari turin, dan…. Kau akan mencret mendengar yang ini.

-apa? Apa? (Rancho bangun dari tidurnya. Duduk tegak)

-grasal. Bagaimana grasal itu ‘terjadi’.

-beruang bunting! Kau bikin aku gak bisa tidur beneran. Ayo, lanjutkan!

-hahahaha, aku tahu kau akan menyukai kisah ini. pikirkan, bagaimana jika semua sejarah hebat yang kita tahu dan kita yakini sekarang ternyata adalah… adalah ulah dari sekumpulan brengsek belaka? Atau, sekumpulan orang terpelajar yang berusaha menutup kesialan? Tragis bukan?

-yah, pastinya. Tapi apa maksudmu dengan ‘ulah’?

-perkamen. Semua perkamen dari masa lalu, siapa yang tahu keasliannya? Siapa yang tahu kebenaran kisahnya? Siapa yang tahu penulis sebenarnya? Mungkin sejak jaman dulu ghost writer sudah ada di bumi. Nah, bagaimana jika perkamen-perkamen suci itu, yang dijadikan sebagai rujukan keagamaan pun kronik suatu kerajaan, ternyata adalah tulisan dari seorang ABG usil yang baru saja sukses belajar menulis dengan baik dan rapi! Hahahaha.

-wahahahaha, kau gila! Eh, apa maksudmu Baudolino melakukan itu?

-yap, benar sekali. Sewaktu kecil, dia ditemukan oleh Frederick Yang Agung berkeliaran di hutan berkabut dekat desanya. Baudolino itu anak yang pintar dan pemberani. Frederick terkesan, dan Sang Kaisar Janggut Merah pun mengambilnya sebagai anak angkat. Di istananya, dia dititipkan pada Kardinal Otto, si penulis sejarah itu, dan untuk memuaskan hasrat belajar menulisnya yang tinggi, Baudolino mengerik tulisan-tulisan di perkamen kuno dan menjadikannya sebaga tempat menulis!

-hahahaha, pastinya tulisan Baudolino bercampur baur dengan perkamen-perkamen asli lainnya.

-pasti. Dan sang cardinal harus menulis ulang apa yang masih dia ingat dari perkamen ‘hilang’ yang penting itu. Sedangkan kau tahu sendiri, setiap tulis ulang pasti mengandung perubahan.

-tidak ada yang tahu hal itu?

-tentu saja! Jika saat ini kau mengarang tentang rahasia tulang belakang iguana dan tulisanmu hilang sampai kemudian ketemu tiga ratus tahun kemudian, siapa yang bisa membuktikan itu tulisan karangan atau hasil riset tahunan? Namamu yang ilmuwan itu sudah menjadi jaminan otomatis akan kebenarannya.

-wah, keren. Jadi penasaran, Nagara Kertagama itu benar-benar ditulis Mpu Prapanca atau ditulis orang istana mengatasnamakan Prapanca ya?

-saat itu Frederick masih bujangan, dan ketika Baudolino beranjak remaja Sang Raja menikah dengan wanita yang tak jauh usianya dari Baudolino, dan dia dengan lancang mencintai ibu tirinya itu.

-hah? Mencintai sang istri raja yang juga ayah angkatnya?

-benar. Tapi Baudolino tahu diri, dia setuju meninggalkan Italia, kerajaan ayahnya, pergi ke Perancis untuk belajar dan menjauhi cinta terlarangnya. Di Perancis itulah dia bertemu dengan semua anggota geng petualangnya.

-eh, tunggu, tadi kau bilang Italia, tapi Baudolino ketemunya di hutan, jadi dari mana sebenarnya Baudolino?

-dari desa tak jauh dari hutan.

-apa namanya?

-aku lupa.

-kau ingat-ingat!

-Frasch… entahlah

-hey, bagaimana aku bisa menikmati kisah dengan tokoh utama tak jelas asal-usulnya?

-kau baca sendiri nanti novelnya

-tapi sekarang kau sednag bercerita! Jadi apa nama desanya, Rul?

-hey Rancho, all iz well, all iz well, aku lupa apa tepatnya, tapi mari kita anggap saja namanya Frascheta. Ok?

-lumayan. Terdengar meng-abad pertengahan. Oh ya, di mana aku bisa mendapatkan novel itu?

-di mbak Eni Martini.

-apa? Itu kan penulis tiga ratus tahun yang lalu!

-wahahahaha, aku mendapatkan buku itu dari rak kakek moyangku yang mendapatkan nobel dua kali.

-dasar bekicot jenggot, ayoh, Lanjut!

-di Paris, Baudolino berkumpul dengan Abdul, Si Penyair, Boron dan  Rabbi Solomon. Mungkin aku melupakan nama yang lain, tapi tak masalah. Yang jelas, mereka semua mulai terobsesi untuk mencapai kejaraan Prester John. Raja Legenda Kristen yang dikatakan berkuasa di india. Mereka pun mencari jalan untuk mencapai ke sana dengan mencari peta berbentuk tabernakel. Kau tahulah, jaman dulu orang menganggap bumi dan langit seperti nampan dengan tutupnya tanggi yang melengkung.

-apa mereka berhasil mendapatkannya?

-tentu saja, walau pun sebenarnya tabernakel adalah peta yang salah untuk membawa ke kerajaan antah berantah. Tapi sejarah akan mereka ubah dengannya.

-apa mereka langsung berangkat ke ….

-tidak, tapi Baudolino harus kembali ke Italia, menemani ayahnya dalam banyak peperangan, termasuk perang melawan kota kelahirannya sendiri. Di mana di situ ayah kandungnya turut berjuang melawan dia dan tentara Frederick. Tapi Baudolino ini penipu kelas kakap. Dan dia menyelesaikan perang tersebut dengan menipu kedua belah pihak.

-tidakkah tipuannya terbongkar?

-terbongkar, sejak dari awal. Tapi tetap berhasil karena ke dua pihak—para pimpinan ke dua pihak—setuju untuk ditipu.

-wakakakakaka! Keren! Keren! Gila banget yang ngarang buku ini. Siapa sih orangnya?

-Umberto Eco. Kau tahu, dia lahir tahun 1932, di Turin, Italia. Nah, sekarang apa pikiranmu ttg pengarang buku tersebut?

-jangan-jangan sewaktu ABG dia pendukung Mussollini.

-yip, aku juga mikir begitu.

-oke, cukup dengan Eco, lanjut Rul.

– setelah itu, kerajaan-kerajaan Kristen Eropa mengalami kelesuan. Di timur Saladin sedang mencapai puncak kejayaannya dan berhasil menguasai Yerusalem. Baudolino menemani ayahnya untuk memberinya visi kehidupan baru: menemui Prester John, sang penguasa Kristen dari Timur yang tidak akan ditolak oleh siapapun yang mengaku sebagai penganut yang taat. Jika Frederick bisa menemui prester tersebut dan mendapatkan pengakuan sebagai rekannya yang berkuasa di Barat, maka semua kerajaan yang lain akan tunduk padanya.

-tapi, bagaimana caranya Frederick percaya akan keberadaan John? Bukankah itu cuma isapan jempol, semacam keberadaan Ratu Adil.

-Baudolino yang genius beserta geng Parisnya yang mengatasi kesulitan tersebut. Mereka membuat surat palsu mengatas namakan John! Hahahaha, keren bukan?

-tapi… dia membohongi ayahnya dong?

-begini, mereka percaya dengan kepercayaan terbesar bahwa kerajaan Prester itu benar-benar ada, hanya saja mereka belum tahu bagaimana atau di mana letak tepatnya. Yang mereka butuhkan hanyalah sedikit kebohongan untuk mendapatkan kebenaran yang besar.

-sialan itu orang, benar-benar jenius pendosa. Kemudian mereka berangkat?

-tidak secepat itu, utk menemui orang penting kau harus membawa hadiah penting juga, bukan? Dan Baudolino tak menemukan apa pun yang cukup penting di dunia Barat untuk bisa diberikan kepada raja tersebut.

-mengapa?

-karena bahkan batu jalan di kerajaan John terbuat dari mutiara!

-gila!

-jadi mereka membutuhkan sesuatu yang sanggup melampaui pesona dunia sekaligus mewakili kuasa ketuhanan.

-jangan-jangan… itu….

-benar, Rancho, itu grasal!

-geng Paris itu menemukannya?

-bukan, tapi Baudolino. Dengan cara yang tak terduga.

-bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?

-tak akan kukatakan di sini. Apa gunanya perpustakaan pribadi kakekku yang memenangi hadiah Man Booker Prize tiga kali terbuka lebar buatmu jika kau tak mau ke sana dan membaca sendiri buku tersebut?

-dasar mulut archaeopteryx, kau gak usah nyebut penghargaan kakekmu hanya untuk memberiku ijin berkunjung. Mentang-mentang nenekku cuma dapat satu kalpataru seumur hidupnya, kau jadi sombong begitu.

-hahahaha, tapi lumayankan, siapa sangka nenekmu Ade Anita ternyata berhasil menyelamatkan burung elang bersayap tiram dari kepunahan?

-okeh, lanjut lagi ceritanya.

-maka, dengan semua itu, geng dan grasal, dan ribuan tentara kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang bergerak ke Timur untuk menyerang Saladin, mereka pun berangkat. Tapi sayang, Frederick tewas di tengah jalan. Siapa yang membunuh? Kau akan pingsan ketika mengetahui jawaban sebenarnya yang oleh penulisnya disimpan dengan rapi sepanjang cerita.

-apakah mereka tetap pergi walau pun Frederick mati?

-tetap pergi, dan setelah melewati segala macam daerah berbahaya dan monster gila, melewati Abscasia yang hitam bagai malam, Sambatyon si sungai batu mengalir dan memercikkan api, akhirnya mereka sampai ke Pndapetzim. Suatu provinsi paling luar dari kerajaan Sang Prester. Itu perjalanan tujuh tahun, kawan.

-whoaaaaa, akhirnya mereka sampai juga.

-ya, dan harus pergi dari sana karena kehancuran yang tak bisa ditunda.

-oh…

-di Pndapetzim lah debat teologi terhebat terjadi, mempertanyakan Kristus dan statusnya sebagai tuhan anak. Memperdebatkan keimanan yang bercabang-cabang karena konsep yang tak berketetapan. Dan di situ pula, di provinsi yang SEMUA PENDUDUKNYA adalah monster berbudaya, Baudolino menemukan cinta sucinya setelah sekian lama. Dia seorang hypatia.

-hypatia… makhluk cantik yang…

-yap, makhluk itu. Dengan segala keluhuran philosofinya ttg tuhan dan dirinya sendiri.

-kisah yang hebat. Cukup Arul, simpan bagian akhirnya untukku. Aku ingin tahu sendiri bagaimana rupa kerajaan Prester John dan siapa pembunuh Frederick. Aku sudah bisa membayangkan betapa banyak kejutan yang akan kutemukan sepanjang cerita. Semua sejarah dan keunikannya. Keren sekali. Oh ya, apa kau sudah mempersiapkan untuk ke Kutub? Kenapa tidak istirahat? Kau bisa demam kalau kurang fit sewaktu di sana.

-maaf Rancho, sebenarnya aku berangkat ke Kutub seminggu lagi

-APA?

-ya, dan selama seminggu itu aku akan membaca Samudera Novara karya kakek moyangku untuk yang ke tiga puluh kalinya.

-APA? Jadi kau sama sekali tak sibuk?

-hihihi, tidak.

-dasar badut ekor monyet, hari ini aku akan kembali ke lab untuk terjaga seminggu penuh! Dan kau baru saja merampas satu-satunya kesempatan tidurku!

-bukankah aku selalu melakukan itu padamu, Rancho? Wakakakaka

-sialaaaaan! Kusumpalkan pelat uranium BT67Z ini kemulutmuuuuuu!

-Rancho, masih tersisa tiga puluh menit sebelum kau berangkat kerja. Kau pilih mana, mengejarku dengan bom nuklir atau tidur yang nyenyak?

-dasar kutu berang-berang pengunyah abu nawas, kubalas kau nanti!

23 / 04 / 2013 – 11:37

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “Arul, Rancho dan Baudolino (sebuah resensi hemblekenyes ala-Arul Chandrana untuk novel international best seller karya Umberto Eco)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s