• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Bang Ali dan Telinga Bocor

kuping itu berubah menjadi antena parabola

kuping itu berubah menjadi antena parabola

(Naskah ini selesai tepat pukul 09.29 dan langsung saya posting tanpa melewati proses editing. Jika teman-teman menemukan salah eja atau salah ketik, mohon maklum. Saya akan sangat senang jika Anda mau membantu saya mengedit ejaan tersebut. Mengapa saya memposting naskah yang belum editan? Karena tiga hal. Pertama, beginilah dulu caraku menulis. Aku seorang penulis sekali jadi dan tak kuusik lagi. Bagiku, tulisan yang diedit adalah tulisan yang kehilangan keasliannya. Keilhamannya. Kedua, karena saya ingin menunjukkan—bagi yang ingin tahu—seperti apa itu tulisan yang tidak melwati proses editing. Saya sadari bahwa editng adalah kewajiban bagi semua penulis. Oleh karena itu, dengan melihat contoh nyata ini, Anda akan menemukan bukti nyata betapa pentingnya editing. Ketiga, hehehe, aku males ngedit.)

Aku mengalami gangguan telinga sejak kanak-kanak. Bukan sejak lahir, tapi sejak kanak-kanak, tepatnya, saat aku masih kelas satu SD, saat itu aku ada di pondok khusus anak-anak, saat itu aku usil dan iseng, dan saat itu aku bosan sekaligus tolol. Semua kombinasi tersebut menjadikanku sangat masuk akal untuk mencederai diriku sendiri. Membuat telingaku yang malang bermasalah sepanjang kariernya sebagai penguping.

Sepertinya itu terjadi siang hari, saat kami semua dipaksa untuk tidur dan kami membenci itu—sebagaimana hampir semua anak kecil lainnya yang hidup di antara kutub utara dan selatan. Aku berdampingan dengan temanku si Fuadi—oh Tuhan, jangan salah sangka, dia bukan A. Fuadi yang penulis itu, dia Fuadi yang jadi kuli di Malaysia—dan yang tergeletak di tengah-tengah kami adalah: sebutir biji sirsak-nangka belanda. Aku sedang terkutuk oleh rasa bosan, kutukan yang sama menimpa Fuadi juga. Aku sedang diracuni udara tolol, udara yang sama dihirup Fuadi juga. Aku sedang dihasut rasa usil, setan yang sama menghasut Fuadi juga. Maka kami pun mulai bergantian memasukkan biji sirsak ke dalam telinga kami dan mengeluarkannya. Fuadi menaruhnya dalam rongga telingaku, mengeluarkannya, lalu aku menaruhnya di rongga telinga Fuadi, dan mengeluarkannya. Bolak balik seperti itu. Aku lupa siapa yang memulai permainan bodoh itu, tapi aku ingat bagaimana permainan tuyul itu berakhir: biji sirsak itu tertanam dalam telingaku. Hampir setahun ia di sana. Sampai membengkak dan membuat telingaku sakit. Dokter di dekat pondok yang kudatangi mengatakan satu-satunya cara mengeluarkannya adalah dengan membongkar kepalaku. Aku ketakutan dan pasrah. Menganggap lucu andai suatu hari nanti dari telingaku muncul ranting sirsak dengan tiga daun di ujungnya. Tapi, bibiku yang hanya lulus SMP (benarkah?), membantai habis dokter tak tahu diri itu.

Saat pulang ke rumah nenek, pertanian illegal di kepalaku ketahuan dan membuat nenek serta buyutku panik. Walaupun setelah mendengar ceritaku mereka menyalahkan Fuadi bukan penulis yang sahabatku itu, aku saat itu sudah bisa menilai bahwa ini bukan kesalahan Fuadi seutuhnya. Ini kecelakaan anak-anak. Dan aku tak menyalahkannya. Tapi bibiku tidak tinggal diam. Saat itu dia masih menjadi perempuan yang menolak menaati dokter. Maka dia pun bertindak. Keberanian yang luar biasa, tapi lebih tepatnya, kecerdasan yang luar biasa: dia mengambil penjepit jenggot, nenek memegangu tubuhku, besi stainless yang dingin itu ditombakkan dalam telingaku, mulutnya yang yang kokoh menggigit ujung dari benih sirsak, lalu, bibi menarik cikal bakal pertanian tersebut dengan kebencian seorang petani mencabut gulma yang telah mengganggu keluarganya selama 9 turunan. Aku menjerit. Nenek menangis. Buyut menatapku ha-ha-ha. Bibiku mengomel. Biji itu dibantingnya ke tanah. Bentuknya sudah hampir membusuk. Dengan sebongkah batu kali, nenek menghantam biji malang itu dengan merapalkan nama Fuadi pada setiap hantaman. Dan begitulah semuanya berakhir dan berawal.

***

“OAAAWWWW!” aku mengerang begitu tanpa sengaja menyentuh daun telingaku.
Pertama kalinya sejak bertahun yang lalu, aku merasakan sakit di telinga dan menancap sampai ke kepala. Sakit itu mulai kurasakan sejak beberapa hari yang lalu. Dari sekedar nyeri biasa, berubah menjadi kaku dan tak bisa disentuh, sampai akhirnya meradang dan menyakitkan. Aku teringat pada temanku yang melakukan terapi asap-lilin untuk telinganya yang sakit kemarin hari, kedengarannya menarik dan menjanjikan, maka aku berencana untuk menemui saudaraku yang merokok untuk meniupkan asap rokoknya ke dalam telingaku. Dan sampai sekarang itu belum terjadi. Yah, mungkin sebaiknya tidak, kita tak pernah tahu jangan-jangan asap rokok itu bisa menembus sampai ke otak! Lalu otakku berkabut, pikiranku berkabut, pandanganku berkabut, dan tulisanku berkabut! Itu sangat mengerikan.

Maka solusi yang kemudian muncul di kepalaku adalah, tentu saja, menemui dokter. Masalahnya aku bukan orang yang tangkas dalam urusan dokter ini. Mungkin ini pengaruh dari hasil vonis belah kepala yang dia berikan berjuta tahun yang lalu. Atau, mungkin ini memang murni dari rasa malasku berkunjung ke dokter. Dan setelah beberapa hari menunda, setelah beberapa jeritan kecil tertahan, setelah beberapa cenut menghantam, aku pun diantar kakakku pergi mengunjungi dokter terhebat—terdekat—di lingkungan kami. Namanya Dr. Wadda’. Jika beliau di tinggal di Bawean, secara naluriah kami semua akan memanggilnya Bu Woddo, seperti temanku yang bernama Mawaddah dan berkahir dengan panggilan Woddo. Tapi di sini, di Jawa, tepatnya di Blimbing, kami memanggilnya Pak Wadda. Ya, beliau ini berjenis lelaki. Seperti salah satu karakter dalam komik Dr. Koto: lelaki dan bernama Wadda.

Kami jalan kaki menuju tempat prakter dokter tersebut. Ketika kubilang dekat, itu artinya beberapa ratus meter away from my house. Dan sepanjang jalan, cenut itu semakin menancap ke kepalaku. Gila, aku sama sekali tak menduga jika sakit telinga bisa menyerang sampai kepala. Setiap kali cenut itu memuncak, aku ber ‘aow’ kecil. Akhirnya kakakku memutuskan untuk naik becak. Sebenarnya aku menyukai jalan kaki, apalagi malam hari, aku bisa merasakan banyak hal. Tapi saat ini, naik becak adalah pilihan terbaik. Walaupun nantinya aku malah akan melakukan jalan kaki terkonyol di dunia perpasienan.

Akhirnya kami pun sampai di ruang praktek Dr. Woddo yang menempel dengan apotik, tepat pukul delapan malam, satu jam yang lalu dokter tersebut mengunci pintu ruang prakteknya dan pulang dengan mobil silvernya. Kakakku terlongong, aku ber’aow’ kecil. Penjaga apotik mengabarkan kepergian dokter tersebut. Maka seperti biasa, aku berdiskusi dengan kakakku tentang apa tindakan yang harus kami ambil selanjutnya.

Aku : heweg heweg heweg heweg
Kakak: gowok gowok gowok gowok
Aku : heweg heweg heweg heweg
Kakak: gowok gowok gowok gowok

Meskipun tepat 19 centi di belakangku dipajang ratusan obat modern dan suplemen kesehatan tradisional, termasuk jamu Madura yang entah kenapa selalu dikaitkan dengan kedewasaan, kami memutuskan untuk tidak membeli obat di sana. Kami sudah tahu bagaimana apotek tidak akan melayani pembelian tanpa resep dokter, kecuali kau bisa menyebutkan nama obatnya dengan spesifik.

Kakakku pun menggamitku menuju terminal Blimbing. Bukan untuk pergi ke luar kota, tidak, tapi karena terminal blimbing itu oleh pemerintah setempat sekaligus dicangkok dengan pasar yang buka siang dan malam. Waktu siang, pasarnya sangat ramai dan sesak. Semua orang dengan semua kebutuhan tumpah ruah di sana. Pembeli dan pengemis berdesakan di antara pengangkut barang. Ikan dan parang bersandingan di meja kayu para pedagang. Tawa dan keringat ber—ups, kalau begini, sebaiknya aku membuat kisah tersendiri tentang pasar ini suatu hari nanti. Nah, di malam hari, hanya beberapa stand saja yang buka, hanya yang berjejeran dengan terminal. Tapi, para penjual makanan, martabak, kentucky palsu, mie ayam, penjual jam dinding dan kaset bajakan, semuanya berjejalan meramaikan. Ini seperti pasar malam tanpa keranjang putar. Dan di antara mereka semua, berdirilah stand Bang Ali. Kepada lelaki itulah kakakku membawaku.

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke pasar Blimbing di malam hari. Dulu aku dan David pernah mencari majalah bahasa inggris bekas di sini—Hello Magazine. Dan David pernah mendapatkan The Time bekas di sini. Dari kunjungan-kunjungan itu, aku mendapati atau satu deret, terdiri dari tiga atau empat stand, yang berisi para penjual obat. Aku tak tahu harus menyebut mereka tabib, dukun, suhu, dokter, atau sekedar penjual obat biasa. Karena mereka luar biasa! Walau pun tidak berkeliling dan membuat demonstrasi layaknya penjual obat keliling, atau berkicau licik layaknya salesman merayu, tapi mereka benar-benar actor luar biasa dalam menawarkan obat-obatannya pada para pelang, eh bukan, tapi pada para pengunjung pasar yang kebetulan lewat dekat mereka. Rumusnya adalah: semua orang di dunia adalah sakit, dan semua orang di dunia cukup pemalu untuk bertanya tentang obat karena ingin menutupi penyakitnya. Maka di situlah mereka berada, berteriak menawari siapa saja yang lewat. Bang Ali adalah salah satu dari mereka.

Tidak berubah dari tahun pertama aku berkunjung ke sini, pemandangan stand penjual obat itu masih didukung dengan segala artificialnya yang mencolok: pajangan obat segala macam merk dan khasiat menutupi dinding belakang, toples-toples dan botol-botol berisi obat plastikan, serbuk dan entah apa lagi, termos dan gelas jamu serta telur ayam kampong, dan, tentu saja, gadis-gadis pendamping sang tuan yang tampil mengesankan. Para penjual (sekaligus pemilik) yang selalu mengenakan pakain rapi dengan baju dimasukkan celana memberikan kesan nakal bahwa dia itu James Bond bidang pengobatan yang sedang didampingi para gadis-gadis hebatnya. Sialan, mereka luar biasa menawan dan aku tak percaya mereka.

Aku pernah sekali melihat kakakku minum obat dari salah satu kios tersebut. Tanpa kursi duduk, penjualnya menyerahkan segelas cairan kehitaman beraroma pekat. Sepertinya kuning telur yang membuatnya demikian kental. Kakakku menelannya sekali tegukan dan segera si penjual menyerahkan dua butir pil. Kakakku menelannya lagi dan dia berbisik padaku, itu pil placebo—tipuan. Dan sejak saat itu, aku selalu berasumsi jika para pengobat dan gadis-gadisnya itu, yang beroperasi di pasar Blimbing, adalah orang placebo dengan pekerjaan placebo beserta bahan-bahan placebo. Maka ketika malam itu kakakku membawaku ke sana, dengan tujuan mempercayakan nasib telingaku kepada salah satu placebo itu, aku berontak. Aku berkata dengan tegas padanya, para apoteker jauh lebih terdidik dari pada mereka. Pastilah mereka tahu obat macam apa yang ccok untuk kuping bocor dan bengkak begini. Kakakku manut. Dia menyetujuiku dan meninggalkan Bang Ali beserta seluruh koleganya. Kami jalan kaki lagi menuju apotek yang tadi. Ini seratus meter perjalanan dua kali tanpa hasil.

“mbak, ada obat buat sakit telinga?”
“sakit telinga yang gimana mas?”
“sakit nyeri, berdengung, rasanya kayak bengkak, cenut-cenut mbak.”
Aku yakin sekali, awalnya penjaga itu menyambut kami dengan senyum khas Alfamaret dan bersiap mencabut nota pembayaran. Tapi begitu kujelaskan detail gejala kuping, wajahnya mulai mengeras dan itu membuktikan keraguan kakakku dari awal.
“mas,” kata penjaga tersebut, “resep dokternya mana? Saya gak bisa jual kalau gak ada resepnya.”

Aduh, keterlaluan. Kakakku pun maju dan berdebat dengannya, mencoba meyakinkan bahwa tak masalah adiknya yang bungsu ini bisa dicekoki obat apa saja asal ada gambar telinga di bungkusnya dan dia akan membayar kontan untuk merk apapun yang dia berikan. Tapi apoteker itu malah menjawab kami dengan satu kalimat tegas yang memutus segalanya:

“saya gak berani mas, kalau ada apa-apa, nanti saya yang dituntut. Itu kan penyakit dalam, butuh resep dokter.”

Tujuh belas menit lewat dan tertolak.

***

Seratus meter lagi kami tempuh. Tadinya kami naik becak untuk menghindari jalan kaki berlebihan, sekarang kami malah berputar-putar dengan bodohnya. Ini tiga ratus meter yang sia-sia gara-gara persepsi dan tidak percaya diri. Begitu apotek gagal, kakakku segera memutuskan bahwa untuk urusan telinga ini, dan agar ‘aow-aow’ itu tidak terus berlanjut, aku harus dibawanya ke Bang Ali dan menerima apapun cairan coklat yang dia berikan untuk ditelan, atau dioleskan, atau dicelupka, atau diteteskan. Aku tak bisa menolaknya. Setidaknya, aku punya sebuah pertimbangan, kalau pun memang Bang Ali ini gadungan dan membahayakan, seharusnya semua orang di Blimbing sudah berubah jadi zombie akibat praktek ilegalnya itu. Tapi nyatanya orang-orang masih bertahan sebagai orang dan kepopuleran Bang Ali menjadi demikian merajalela. Kakakku mengutip, kalau ada orang sakit, mereka akan bilang, bawa aja ke Bang Ali. He’s a damn great fake doctor!

Dan, seperti tahun-tahun yang lalu, tidak berubah sedikit pun, aku dikejutkan lagi oleh Abang ini. Tampilan tokonya masih menggunakan dekorasi kuno itu tapi, Bond Girls yang berdiri di sekitarnya jelas-jelas orang baru yang entah dari mana beliau mendapatkannya. Kini aku yang terlongong, dan kakakku yang begitu yakin mendatangi orang macho itu dan menyebutkan keluhanku.

“Obat sakit telinga ada Bang?”
“Oh, dik, ambilkan yang itu.” Bang Ali menyebutkan satu merk obat. Seorang Bond Girl meraih sebuah obat dengan bungkus warna biru tawar dan gambar sebuah telingan ideal di mukanya.
Gila, orang ini tanpa bertanya gejala penderita langsung saja mengambil obat!
“Bang, kakakku tampaknya agak kurang puas, “sakit telinga dalam Bang, yang-”
“Cekot-cekot kan? Iya, ini obatnya, untuk luka, cekot-cekot,” dia menyorokkan obat tersebut pada kakakku dan kini aku yang tidak terima dan harus bicara.
“Bang, telinganya itu sampe agak bengkak, mungkin infeksi, nyeri sampe ke kepala.”
“Lha iya Mas,” dia bicara dengan logat yang baru kusadari kalau itu sanga-sangat aneh, “obat sakit telinga. Sampean mau ngobatin telingakan, bukan kepala? Ini obatnya telinga!”

***

“Wahahahaha, wahahahaha, warakakakaka, Bang Aliiii!!!!” aku dan kakakku ketawa sepanjang perjalanan pulang naik becak. Orang itu benar-benar gila! Wahahaha! Benar-benar outstanding! Para apoteker yang dengan begitu hati-hati dan teliti menolak kami ternyata Bang Ali dengan entengnya menjuali kami obat telinga itu.

Yang membuatku sangat terkesan adalah bagaimana dia dengan sangat percaya diri menerima kami, bagaimana dia dengan sangat yakin menunjuk obat yang bahkan dia belum dengar keluhan pasiennya, bagaimana dia dengan sangat intelek menempeleng kecerewetan pelanggan yang kurang percaya pada kata-katanya.Bang Ali ini pasti keturunan wali atau entah apa saja yang bisa menurunkan anak keturunan seperti itu.

Tawa kami lebih keras lagi saat melewati apotek tersebut. Di sinilah, baru saha terjadi pertunjukan jungkir balik antara kekuatan pendidikan dan kekuatan tekad. Para apoteker melayani para pembelinya dengan pendidikan yang mereka dapatkan dan itu membuat mereka sangat hati-hati dan menahan diri. Sementara Bang Ali, entah pendidikan apa yang telah kenyamnya, dengan tekad penjualan barang super kuat mendorongnya menjadi pria pemberani yang tak perlu ragu-ragu dalam melayani pasien. Pengalaman bertahun-tahun menghadapi telinga manusia membuatnya tak perlu menunggu lama hanya untuk menentukan obat yang pas untuk pengunjungnya. Bahkan mungkim dia sudah tahu penyakit seseornag hanya dengan melihatnya caranya berjalan dan tersenyum saat mendekati kiosnya. Di samping itu, para Bond Girls yang ada di sekitarnya benar-benar berhasil menampilkan kesetiaan dan ketekunan seorang pegawai yang menghormati dan mencintai tuannya. Oh ya, omong-omong soal apotek yang dipecundangi Bang Ali, aku sudah sangat lama heran mengapa mereka menggunakan gelas penyihir dan ular bisa menjulurkan lidah sebagai logonya. Apa ini berarti sesuatu?

Nah, sekarang bagaimana kabarku? Alhamdulillah, berkat izin dan ridha Allah, obat dari Al-Mukarrom Ath-Thobib Bang Ali telah mengurangi sakitku. Mungkin dua hari lagi sembuh total. Mohon bantuan doanya, teman-teman.

Advertisements

2 Responses

  1. eh, rul ini serius ato lagi2 fiksi? saya jd bingung harus ikut prihatin ato ketawa :D. cool story, man!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: