• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Terjemah Dan Misteri Yang Dikandung Bagian Awal novel “A Jornada De Geraldino O Agricultor” (The Journey Of Geraldino The Farmer)

Ayahku adalah seorang petani, kakekku juga seorang petani. Buyutku bekerja menanam kentang terbaik di seluruh provinsi, tentu saja dia seorang petani. Ayah dari buyutku bekerja di tanah seorang kaya di luar desa, sebagai petani lobak. Begitu pula dua orang penduhulunya, bekerja sebagai petani. Aku yakin memang keluargaku sudah menjadi petani sejak bermulanya sejarah manusia—jangan-jangan, garis keturunan kami sampai kepada Qabel? Kecuali leluhurmu yang ke tujuh, kata ayahku suatu hari, sambil tangannya yang kasar dan besar menunjuk sebuah medali perunggu kusam yang dipaku ke dinding rumah. Aku tak pernah tahu medali itu pernah pindah tempat dari situ. Masih kata ayahku, kakek buyut ke tujuhlah yang memakukannya di sana dan selalu begitu sampai tiga ratus tahun kemudian. Sampai aku melihatnya—untuk yang ke-ribuan kali dalam hidupku—hari itu. Ketika aku mencoba menariknya dari sana, aku baru tahu jika paku baja kokoh itu telah menyatu dengan lobang medali tersebut, direkatkan oleh karat dan debu dan waktu.

Deumo (jabatan setingkat bupati atau walikota yang mulai digunakan sejak masa pemerintahan Raja Giuseppe III) menganugerahkan langsung medali kehormatan tersebut kepadanya di depan seluruh penduduk kota dan utusan desa. Kakek moyangku itu adalah seorang guru terbaik yang telah membantu wilayah pimpinan sang Deumo menjadi wilayah penyumbang pajak terbesar di kerajaan. Dan karenanya, putra Sang Deumo dipersuntingkan dengan keponakan sang raja. Aku penasaran dan dengan antusias menanyakan pada ayahku, “apa yang dia ajarkan, Pampa?” pampa adalah panggilanku untuk ayah. Ada sesuatu dengan lidahku waktu kecil sehingga tak bisa mengatakan papa tanpa memasukkan m di tengahnya. Lalu ketika sesuatu itu telah hilang, panggilan pampa sudah menjadi kebiasaan dan tak kunjung hilang.

“Dia seorang guru yang hebat. Dia mengajari cara menanam yang baik, cara memelihara tanaman yang baik, dan cara menyimpan hasil panenan dengan baik. Apa lagi yang bisa membuat seorang petani menjadi kaya jika bukan dari tiga cara tersebut? Perhatikan, cara bertani yang kau lihat saat ini, itu adalah warisan dari kakek moyangmu yang ke tujuh.” Kata ayahku sambil menatap medali dengan semacam binar kebanggaan di matanya yang tua.

Dan aku pun menjadi sangat bangga. Untuk pertama kalinya aku punya rasa bangga atas silsilah keluarga. Aku memang tak tahu wajah leluhur ke tujuh tersebut, tapi medali perak itu telah membantuku untuk mengenalnya sangat dekat bahkan terasa sangat akrab. Kini aku punya bahan untuk kuceritakan pada teman-temanku yang lain. Sebuah kebanggan yang selama ini hanya di miliki Si Kata Bapakku.

Si Kata Bapakku adalah anak tetangga dan usianya sebaya denganku. Tapi dia menikmati kemewahan yang tidak kami miliki—kami, semua teman bermainnya. Dialah satu-satunya bocah yang ayahnya bekerja sebagai pelaut di antara ratusan bocah lainnya yang ayahnya bekerja sebagai petani. Semua bocah, termasuk aku, tanpa saling bercerita pun tahu apa kisah yang akan mereka dengar dari ayah teman-temannya. Karena kisah para ayah tersebut sama persis dengan kisah ayahnya sendiri. Mereka paling-paling hanya bisa saling membanggakan hasil panen keluarganya. Tidak ada yang lain. Karena hujan, kekeringan, hama, pupuk dan saat tanam terjadi bersamaan dan dirasakan bersamaan. Sedangkan Si Kata Bapakku, dia memiliki ayah yang tahu hampir semua hal yang tidak dan tidak akan pernah diketahui oleh ayah-ayah kami. Ketika kawan kami itu datang ke kerumunan dan berteriak, hei, kalian sudah tahu bapakku baru saja pulang dari pelayaran? Kata bapakku… maka tak perduli seheboh apapun kerumunan tersebut, akan hancur berantakan dan semua orang lari berhamburan merebut tempat paling dekat kemulut Si Kata Bapakku. Aku, juga teman-teman lainnya, tentu saja sangat menikmati semua kisah petualangan bapaknya, tapi, berbeda dengan semua teman-temanku yang sekedar cemburu pada ayahnya, aku ingin menjadi seperti dia sekaligus menjadi seperti ayahnya. Keinginan itu kemudian menindas seluruh hidupku.

***

Ketika datang kesempatan bagiku untuk menceritakan tentang leluhurku yang ke tujuh dan medali penghargaannya, tak ada satu pu dari temanku yang tahu atau merasa pernah mendengar namanya. Mereka menatapku dengan ekspresi bocah bingung untuk pertama kalinya disapa oleh orang asing dari Kalikut—aku tahu nama Kalikut dari cerita Si Kata Bapakku. Tak rela gagal secepat itu, aku pun memaksa mereka untuk menanyakan perihal buyutku tersebut pada kedua orang tua mereka. Beberapa orang mengiyakan dan hasilnya, esok harinya mereka menertawaiku karena bahkan orang tua dan nenek mereka tak mengenal nama buyutku itu. Maka aku pun berhenti berusaha menceritakan perihalnya kepada teman-temanku. Rencana untuk menunjukkan medali penghargaan itu pun kubatalkan. Aku kecewa. Bahkan seorang guru—yang sukses gemilang—pun tidak bisa mengalahkan keagungan seorang pelaut. Aku sudah khawatir bahwa kekecewaanku hanya akan bertambah seiring bertambahnya usia. Dan itu terbukti.

Beberapa tahun kemudian aku pun mempelajari keyataan menikam tentang buyut ketujuhku dari penggalan-penggalan cerita pampa. Buyutku itu juga membajak. Dia juga menanam. Dia juga menyiram. Dia juga turun untuk memanen. Maka pada ulang tahunku yang ke tiga belas, aku yakin pasti bahwa buyutku itu bukanlah seorang guru seperti guru yang biasa kulihat di akademi atau di biara-biara, tapi dia hanyalah seorang petani yang kebetulan menemukan cara berbeda dalam menanam, memelihara dan menyimpan. Kemudian cara itu ia ajarkan kepada petani-petani lainnya atas permintaan sang Deumo. Kakek buyutku yang ketujuh adalah petani. Walaupun dia berhasil membuat hal-hal sulit menjadi lebih mudah, tetap saja dia adalah petani, bukan seorang guru. Dan dengan mudah aku pun tahu jika ayah buyut ketujuhku pun seorang petani, dan aku yakin kakeknya pun petani, begitu pula buyutnya dan seterusnya. Seterusnya. Seterusnya. Keluargaku berakhir dengan permulaan sebagai petani semenjak awal kali sejarah manusia bermula.

“Memangnya apa buruknya dari menjadi seorang petani, Nak?” suatu ketika pampa menanyaiku dengan tajam. Aku tak tahu apakah kejengkelannya itu karena aku yang mengeluhkan kegiatan mencangkul tanpa bosan atau karena dia merasa tersinggung.

“Buruknya adalah, karena ia sama sekali tak menarik, Pampa!” bahkan sampai usia tiga belas aku masih memanggilnya pampa—kenyataannya, aku memanggilnya pampa bahkan sampai ia meninggal dunia. Beberapa tahun lagi.

“Omong kosong apa yang kau katakana itu, Nak?”

“Getusho selalu ditunggu anak-anak yang lain karena ayahnya pelaut. Dia selalu punya kisah menarik untuk diceritakan. Semua anak mendengarkannya. Aku … ingin menjadi seperti dia.”

“Nak, keluarga kita adalah keluaga petani. Petani yang sempurna. Sejak dari dulu kita sudah bersahabat dan saling mendukung dengan tanah. Keluarga kitalah yang pertama kali memahami bahwa tanah butuh makanan dan kakek buyutmulah yang pertama kali bisa memberi makan pada tanah yang kelaparan karena selama ini memberi manusia makan. Keluarga kita adalah petani teladan. Yang makmur dan mendengarkan alam. Semua it kebanggaan yang tiada bandingnya. Kau lihatlah di rumah kita, medali perunggu itu. Tidak ada yang memilikinya di sini kecuali kakek buyutmu.”

“Tapi, pampa, petani kehidupannya tidak pernah berubah. Tidak pernahkah pampa merasa bosan dan ingin pegi? Selain itu, sudah tak ada lagi yang tahu mengenai buyut dan medalinya.”

“Oh Tuhan, seremeh itu alasanmu? Perhatikan, Nak.” Pampa meletakkan pemangkas rumputnya. Berbalik dan memegang pundakku. “Yang menjamin kehidupan sebuah kerajaan adalah para petaninya. Kau tahu mengapa Barthomeu Diaz pergi berlayar? Atau mengapa Copernicus meninggalkan negaranya? Itu karena orang-orang di negeri mereka sudah mulai malas bercocok tanam. Rakyat mereka tak lagi menghasilkan panen yang mencukupi untuk kehidupan kerajaan, maka mereka pun pergi jauh melewati lautan, menerabas badai, menembus gelombang dan melarung di samping kematian. Itu semua karena para petani mereka yang malas. Mereka berlayar bukan karena itu pekerjaan yang menyenangkan, Nak, tapi karena kerajaan mereka menjadi hampir bangkrut gara-gara orang-orang Saracen berhasil menguasai Byzantium. Tidak ada yang mau bertarung dengan gurita raksasa di tengah laut sana, Nak.

“Sekarang lihat kita, semua yang hidup di sini, semua orang adalah petani. Dan pekerja keras. Itulah mengapa tak ada banyak pelaut di sini, Nak. Karena kerajaan sudah tercukupi dengan kerja keras dan hasil tanah kita. Deumo melindungi dan membawakan penghargaan raja buat kita. Apa lagi? Semua sudah cukup dan kita tercukupi.”

Pampa tersenyum. Aku pun tersenyum. Tapi aku tidak tersenyum pada kehebatan penjelasan pampa, melainkan karena merinding membayangkan semua bahaya yang dihadapi pelaut dari apa yang pampa sedikit sebutkan barusan. Pampa telah salah jalan, dia tidak bisa membuatku berubah pikiran, tapi malah membuatku semakin penasaran.

Seingatku, untuk pertama kalinya dalam hidupku, tiga hari berselang dari peristiwa itu, aku pergi seorang diri menempuh 23 mil ke utara. Menuju pantai pertama dalam hidupku. Lautan pertama dalam petualanganku. Gelombang pertama dalam rangkaian bahayaku. Tak butuh waktu sampai sebulan bagi pampa untuk menyadari bahwa aku mulai mencuri-curi waktu untuk pergi ke lautan. Dia pun tahu aku kadang pergi dengan teman-teman. Terlebih saat ada kabar kapal layar besar akan datang atau akan berangkat. Dan lelah oleh kekhawatiran aku yang mulai remaja akan memberontak, pampa pun mengungkapkan satu cacat kecil dalam keluarganya.

“Kalau kau mau mematuhiku pergi ke laut cukup sebulan sekali, dan lebih giat membantu pampa di lading, aku akan memanggilkan pamanmu Mercutio. Dia satu-satunya pelaut dalam keluarga kita. Dia akan bercerita banyak padamu.”

Aku pun mengambil kesepakatan tersbut. Dan aku bersabar, membiarkan kapal-kapal besar datang dan pergi. Menatap iri pada teman-temanku yang berlari dan berteriak-teriak saling mengajak melepas kepergian kapal tersebut. Hanya saja, pengetahuan bahwa ternyata ada pelaut di keluargaku benar-benar menjadi obat terbaik dalam mengobati kegelisahanku, sebaik obat para tabib istana. Dan di akhir bulan Mei tahun itu, paman Mercutio yang ber-brewok lebat dan berambut tembaga datang dengan mengenakan pakaian yang tak pernah kulihat dan kucium baunya selama hidupku yang hampir masuk empat belas tahun itu. Entah dari mana, aku seketika teringat pada Presbyter John, raja Kristen di Timur yang tak pernah dilihat seorangpun tapi di percaya siapapun.

***

Bagaimana pendapat Anda? Apakah kisah ini cukup menarik atau sama sekali tak unik? Ini kisah tentang anak petani yang ingin kabur ke lautan dan justru tersesat ‘di sana’ dan menemukan banyak rahasia kehidupan. Kapalnya yang hancur tidak membuatnya terdampar di sebuah pulau istana atau pulau purba, tidak, tapi membuatnya teronggok di sebuah pulau kecil padat penduduk—mungkin pulau itu hanya seluas stadion sepakbola—dan satu-satunya tempat kosong yang ada di pulau tersebut untuk bermain para anak-anak hanya seluas separuh lapangan tenis. Tapi mereka punya sebuah pulau gunung tempat mengusir orang-orang yang tak beruntung. Di sana, tak ada yang selamat bertahan hidup. Kecuali seorang lelaki aneh, dan tidak ada yang tahu kalau lelaki itu hidup sementara dia mempersiapkan sebuah rencana seorang diri selama bertahun-tahun.

Novel ini ditulis oleh seorang penulis Portugis, Pieter Sonna, dan tentu saja dalam bahasa Portugis. Bagaimana bisa aku menerjemahkannya? Belum ada yang bilang aku pernah belajar bahasa Portugis, kan? Hehe, seseorang bernama Richard Gibson telah lebih dulu menerjemahkannya ke bahasa Inggris sekitar dua atau tiga puluh tahun lalu. Yang menarik dari novel ini adalah, sekeras apapun usaha Anda mencarinya di internet, saya jamin Anda tidak akan menemukannya.

Baiklah, coba berhenti membaca artikel ini, pindahlah ke google atau ke yahoo Anda, dan masukkan semua kata kunci yang kau temukan mengenai novel petualangan fantasi ini dan katakan padaku jika Anda menemukan sesuatu. Anda pasti akan kembali lagi ke sini untuk berkomentar: hey bung, kau benar, aku tidak menemukan apa-apa mengenai novel ini. Mungkin sebagian orang akan melanjutkan keheranannya, dari mana kau mendapatkan novel ini, bung? Untuk yang bertanya seperti itu, jangan khawatir, saya akan jawab semuanya dalam beberapa kata saja: sayalah yang mengarang novel ini dan sama sekali belum dipublikasikan.

Wahahaha, aku mendengar ada yang berteriak, woy sialan si Arul! Wahahaha, tenang, tenang kawan, aku memang merasa agak sialan, dan itulah yang ingin kubagikan. Bukan untuk mempersial kita semua, tapi untuk melegakan apa saja yang melindas pikiran. Oh ya, sebelum itu, bantu aku mendapatkan jawaban untuk pertanyaan ini: siapa saja yang dari awal percaya bahwa cuplikan di atas memang karya orang asing? Anda mempercayainya karena cuplikan itu terasa seperti karya orang asing atau karena aku menginformasikannya begitu?

Saya mengalaminya sudah lama, dan sepertinya saya tahu apa penyebabnya. Bagi saya pribadi, antara novel dalam negeri dan luar negeri terasa sangat berbeda. Aku merasakan bahasa yang berbeda walau pun sama-sama pakai bahasa Indonesia, saya merasakan idiom yang berbeda, ungkapan yang berbeda, dan entah apa lagi yang terasa demikian berbeda. Bahkan salah satu kebiasaan anehku adalah membandingkan bagian pembuka antara novel luar dan dalam negeri. Dan sejauh ini, bagi saya pribadi, pembukaan novel luar negeri terasa lebih menyenangkan. Apa alasannya, entahlah. Saya tak tahu. Saya tidak bisa memberikan penjelasan analitik mengapa hal itu terjadi. Tapi saya bisa menjelaskan pada Anda penyebab kecenderungan tersebut: Iwan Simatupang.

Saya pikir gara-gara orang itulah aku menjadi seperti saat ini. Novel pertama yang berhasil membuat saya terkesan dan sangat-sangat terkesan adalah Ziarah karya Iwan Simatupang—kabarnya, ia sudah diterjemah ke Bahasa Inggris atas prakarsa Yayasan Djarum. Yang unik dari novel tersebut adalah, dia novel Indonesia yang sangat nginggris. Struktur kalimat dan gaya berceritanya benar-benar luar negeri—tentu saja saat saya membacanya pertama kali saya tidak tahu bahwa gaya seperti itu adalah gaya luar negeri, saya masih SMP waktu itu dan sama sekali tidak tahu menahu tentang novel kecuali bacaan-bacaan untuk anak SD yang kuserobot dari perpus sekolah di dekat rumah. Membaca Ziarah benar-benar berbeda rasanya dibandingkan dengan saat membaca Wiro Sableng atau kisah Regu Garuda Berkemah dan sejenisnya. Membaca Ziarah seakan membaca ‘aku’. Dan sejak saat itu, aku tahu tulisanku berubah. Sangat berubah. Bahkan beberapa hari setelah menamatkan Ziarah itu aku sangat terobsesi untuk menulis se-Ziarah mungkin.

Selanjutnya, aku menyadari jika gaya bercerita seperti Iwan memang gaya bercerita yang tidak pada umumnya—untuk orang Indonesia. Aku tidak pernah menemukan orang yang bertutur seaneh dia, selucu dia, seironis dia, se-takmasuk akal dia. Aku tak menemukan ada buku lain yang seperti Ziarah. Pengobatku saat itu hanyalah dengan membaca Ziarah bolak balik dan selalu menemukan hal baru dalam tiap pengulangannya—seingatku, aku sudah sepuluh kali membacanya, atau lebih. Tapi anehnya, aku menemukan gaya Iwan itu dalam pelajaran Bahasa Inggris. Struktur kalimat Bahasa Inggris ternyata mirip struktur kalimat yang dipakai Iwan dalam novel Ziarah. Sehingga saat saya pindah ke Jawa dan mulai membeli beberapa novel aku pun mulai tahu, aku telah dimutasi, telah dirubah, telah dibikin kecanduan, untuk lebih tertarik pada novel terjemahan. Dan itu seratus persen mempengaruhi isi perut lemariku.

Apakah aku selalu menyukai novel asing? Tentu saja TIDAK. Seorang teman membeli The Host karya Stephenie Meyer dan aku menganggapnya sangat sangat aneh sekaligus tak masuk akal karena dia menganggap buku itu bagus. Haha, maaf, aku benar-benar memberikan penilain subjektif untuk buku tersebut. Karena aku benar-benar tak tahu dari mana sisi seru-nya. Selain The Host, ada lagi lainnya yang sudah kulupakan baik judulnya maupun pengarangnya. Dan novel Indonesia pun tak semuanya tak menarik. Aku bahkan membelinya, tak sekedar meminjam seperti yang biasa dilakukan pembaca yang bikin jengkel toko buku resmi sekaligus toko buku bajakan. Namun demikian, entahlah, tetap saja, novel asing itu demikian kuat menarik minatku. Saya bahkan membaca mereka sambil membawa stabilo karena tahu pasti ada informasi-informasi baru yang menarik dan mengayakan untuk kutandai di sana. Berharap suatu saat nanti bisa kututurkan pada yang lainnya. Jadi, kawan, apa pendapatmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: