• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Peribahasa

dompet mirip sumur kering

Yah, dompet itu seperti sehampar laut. Kadang dia pasang kadang dia surut. Hanya saja, bencana global mengakibatkan laut sebelah ‘sini ‘ lebih sering mengkerut. Dasar celaka.

Dompet yang sekarang kupakai adalah dompet peninggalan almarhum kakekku. Yang kubuatkan puisi untuk mengenangnya. Ah, sepertinya aku berlebihan menyebut dompet itu seakan sebuah peninggalan. Ia terdengar seakan sengaja dibuat agar tertinggal dan bisa digunakan siapapun yang ditinggal. Sepertinya bukan begitu. Ketika beliau telah berpulang, dan kami merapikan lemari-lemari yang berisi barang-barang tua, baju celana dan buku pegon fotokopian tua, aku menemukannya di sana, dompet berwarna cokelat tua yang kuduga terbuat dari kulit entah sapi atau buaya atau binatang apa. Sekarang, setelah hampir delapan tahun dan ia menjadi robek-robek dibagian lipatan tengahnya, aku tahu itu sama sekali bukan dari kulit apapun juga. Almarhum kakekku mungkin telah salah beli, atau mungkin beliau memang sengaja membeli barang palsu itu. Entahlah.

Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan bocornya dompet tersebut. Kepalsuan bahannya. Tidak. Aku tidak pernah alergi dengan barang palsu. Sebagian buku-bukuku palsu dan aku menikmatinya seperti menikmati buku hardcover limited gold edition. Aku bukan seorang dandy yang merasa wajib mengukur keunggulan dirinya dari barang yang dibeli di pasar. Tidak, aku bukan orang yang seperti itu. Tapi, yang membuatku mengelus dada dan merasa nestapa, entah mungkin ini disebabkan oleh tempat tinggalku sekarang yang hanya beberapa ratus meter saja dari tepi lautan, dompetku itu pun bersifat sepert lautan. Dia bisa pasang surut mengikut pengaruh bulan.

Sekali waktu dia akan menggembung (bukan menggembung dengan SoeTta, tapi oleh Pattimura dan dua level di atasnya), berikutnya untuk waktu yang lebih lama dia akan menggembos macam ban sepeda aus yang selalu brobos tanpa kenal situasi apalagi kondisi. Syukurlah aku masih belum berada dalam keadaan yang demikian tergantung dengan pasang-nya dompet. Yang jelas, jika kau memang penasaran kemana perginya gelombang-gelombang hijau itu, kau boleh membuka lemariku di rumah. Tidak usah repot, aku tak pernah menguncinya. Karena di situ jumlah buku jauh lebih banyak dari pada jumlah baju. Itu jenis lemari yang kurang diminati semua maling atau garong tingkat RT maupun RW. Maksimal tingkat desa. Kedua, kau bisa melihatnya dari, hahaha, tak usah kukatakan. Itu memalukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: