Posted in baweanologi

Pangalak Olo

jembatan ini, memangsa kepala hasil tebasan Pangalak Olo
Sekarang kau akan menyebutnya urban legend, tapi saat itu, pada masa kecilku itu, hanya dialah yang bisa membuat anak nakal paling badung sekalipun menjauh dari hutan atau kebhun. Orang-orang tua kami menyebutnya pangalak olo, Si Pengambil Kepala. Itu bukan sebuah nama, sebagaimana masyarakat kita menamakan tuyul terhadap makhluk kecil botak pencuri uang, tapi ia adalah sebuah pekerjaan. Namun demikian, walau mereka memastikan bahwa Pengambil Kepala itu manusia biasa, tapi pangalak olo adalah salah satu dari semua terror Bawean Lama yang tak pernah ketahuan wujud aslinya—setidaknya olehku dan teman-temanku. Kami hanya mendengar keangkeran namanya, mendengar kedatangannya, mendengar gentayangannya, dan ancaman yang menguar dari situ cukup untuk menciutkan nyali bocah paling pemberani sepanjang masa.

Menurut penuturan orang-orang tua—dan hanya orang-orang tualah yang punya sumber beritanya, pangalak olo adalah seorang lelaki berasal dari Jawa yang diutus pemerintah untuk mengambil—lebih tepatnya memburu dan mengumpulkan—kepala anak-anak yang kebetulan ngeluyur jauh dari rumahnya. Dia menggunakan arit sebagai senjatanya, dan karung plastic sebagai wadah penampungan hasil tebasannya. Dipakai untuk tumbal jembatan, katanya. Jembatan mana? Aku tak tahu. Ibuku tak tahu. Kakekku pun tak tahu. Dan semua saudara serta tetangga juga guru-guruku pun tak ada yag tahu. Apalagi teman-temanku. Bahkan, bagaimana asal mulanya sosok tak berwujud tak bernama itu diketahui berasal dari pulau Jawa pun tak ada yang tahu. Tapi kupikir, mungkin itu pemahaman bawah sadar kami orang-orang pulau. Sepert halnya semua hal buruk yang datang ke Bawean, kami akan menyebutnya berasal dari Jawa. Bukan dari pulau lain apalagi negara lain.

Pangalak olo diyakini sebagai lelaki berpostur tinggi dengan pakaian serampangan, tidak robek-robek tapi sangat tidak rapi. Dia mengenakan topi lebar yang menjumbai ke depan wajahnya. Semua itu ia kenakan untuk menutupi segala ciri fisik yang mungkin akan dikenali oleh siapa pun yang melihantya. Pangalak olo tidak mau mengambil resiko sebutir pasir sekali pun. Dia mengelana dari satu tepian desa ke tepian desa lainnya. Dia bekerja dengan cepat dan rapi. Menyusuri satu hutan ke hutan lainnya. Mengawasi satu kebhun ke kebhun lainnya. Dan dia bisa membawa puluhan butir kepala dalam karungnya yang besar lagi dalam. Ketika orang tua kami menyebut namanya, serentak kami para anak-anak akan lari tunggang langgang meninggalkan tempat permainan kami. Tak perduli seberapa asyik kami waktu itu. Bayangan akan munculnya sosok asing lagi kejam dan mengarit leher serta memungut kepala yang menggelinding di antara dua kaki bisa menguapkan segala bentuk keceriaan dan kehebohan. Sampai-sampai tak satu pun dari kami yang sadar ekspresi puas di wajah ibu-ibu kami.

Untungnya, pangalak olo tidak selalu bergentayangan sepanjang tahun. Sekali waktu kabar tentangnya akan sepi, seperti hilang di telan kerimbunan semak belukar. Lalu tiba-tiba, isu keberadaannya akan datang lagi sama santernya dan sama hebohnya dengan yang kemarin. Dan alasan menggilanya psikopat ini selalu saja sama: mencari kepala buat tumbal jembatan di Jawa. Demikian, tak ada satu pun dari kami yang menolak ide tersebut. Bahkan kami tidak sempat mempertanyakan mengapa selalu ada jembatan dibangun dan selalu meminta kepala? Apakah jembatan kemarin sudah rampung? Butuh berapa ribu kepala sebenarnya untuk menyelesaikan pembangunan satu jembatan di Jawa? Dan, mengapa hanya jembatan di Jawa yang menginginkan kepala? Jika kucoba megingat dengan keras, sepertinya, musim ramainya isu penyerangan pangalak olo senantiasa terjadi saat musim liburan. Waktu di mana anak-anak lepas berhamburan dari penjagaan tembok sekolah dan menyebar di semua tempat yang jauh dari rumah. Waktu ketika para orang tua sangat mengkhawatirkan anak-anaknya.

Sampai sekarang aku belum tahu apakah pangalak olo benar-benar ada atau hanya trik orang-orang tua untuk menakut-akuti kami saja—yang mana kini aku lebih percaya dugaanku yang kedualah yang benar. Tapi ibu juga tetangga-tetanggaku selalu punya bukti untuk menguatkan ceritanya. Anak kecil dari desa anu pada hari anu pukul anu telah ditebas pangalak olo. Dan si pangalak olo butuh sepuluh kepala anak kecil lagi. Pangalak olo sekarang sudah sampai di kampung anu, lewat hutan anu, menuju desa anu. Begitu meraka akan mengumumkan pada kami yang sedang sibuk main pal-palan. Maka langsung bubarlah permainan yang menegangkan itu. Kami lari lintang pukang saling meninggalkan. Berusaha keras menyelamatkan diri dari sosok yang tak pernah kami lihat sebelumnya dan tak kami tahu sudah ada di mana sekarang tepatnya.

Sekarang, mungkin sudah tidak ada orang tua yang ‘menjaga’ anaknya dengan cerita pangalak olo. Mereka tak perlu menjadi pendongeng kisah horror agar anaknya tidak keluyuran di pinggir desa. Karena anak-anak sekarang jarang sekali ada yang mau bermain jauh menembus hutan dan berkeliaran di kebhun—tempat pembuangan sampah. Mereka kini menghadapi generasi yang terbius. Duduk bergerombol di tepi jalan sambil memencet ponsel dan berfacebook. Atau mendengarkan music. Atau bertelepon. Atau ber … ber … berpacaran.

Namun demikian, tetap saja aku penasaran. Benarkah pangalak olo pernah ada dan merajalela atau sekedar omong kosong belaka? Jika ada orang lain selain orang Bawean yang punya kisah serupa, terror si penjahat pangalak olo, aku akan mulai mempertimbangkan bahwa pemenggal kepala itu memang benar-benar pernah ada. Lantas, sungai brengsek macam apa itu yang menuntut dibuatnya jembatan sialan yang menginginkan kepala sebagai bahan penguat cornya? Dan, lebih brengsek lagi, pemerintah keparat macam apa itu yang tega menugaskan pembunuh bayaran untuk menjejali pondasi jembatan dengan kepala bocah-bocah tak berdosa yang juga adalah rakyatnya? Jika benar, halo, selamat datang di negara terkutuk kita semua.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “Pangalak Olo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s