Posted in sastra

Pada Suatu Ketika di Sana

Ya, kau jumpai aku kesepian lagi. Merasakan dingin menghantam dari tembok, dari pintu lemari, dari lantai, dari langit-langit, dari jendela karat, dari baju yang tergantung kisut, dari lampu yang semakin tua dan semakin buta. Lalu aku tahu jemariku tergores. Kepiluan itu menyambar segala ruang dan wujud. Dan waktu pun terpancung.

Suara air yang pecah dari luar sana. Dan angin yang merintih dari lobang atap rumah. Ke mana petir dikirimkan untuk menyambar? Sedangkan Guntur dengan begitu ketakutan disembunyikan dalam belukar? Ini bukan tentang laut dengan badainya. Atau anak kecil yang berlari mengejar tangan terulur dari intaian. Hanya saja, warna yang ditabur telah pun luntur. Dan gelombang menerkam sampai ke pintu kubur. Sehingga pada masanya kini, seperti yang semua orang sudah pahami. Hanya ada searang goresan perih. Bukan lagi mimpi.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s