• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Si Bodoh Yang “Mengalahkan” Gurunya

yang dulunya bodoh, sekarang bos dah

Otak saya, suatu ketika, pernah menerima penghargaan oleh guru SMA saya sebagai organ kepala yang paling bodoh. Saya sedang melangkah keluar dari kelas siang itu ketika guru bahasa Inggris memanggil saya ke kantor, dan di tempat itu, khutbah pribadinya berlangsung. Ia berceramah soal betapa saya sangat nakal, betapa saya sering membolos, dan betapa saya tolol di kelas.

Saya tak tahu apakah ia sengaja menyakiti hati saya. Tapi saya mencium kecurigaan lain: Mungkin ia sedang menantang saya — menantang untuk membuktikan bahwa saya tidak demikian.

Dari 27 siswa di kelas, saya menderita kelemahan paling akut dalam bahasa Inggris. Saya selalu menolak mengerjakan pertanyaan di papan tulis. Bahasa Inggris, bagi saya saat itu, menyerupai monster mengerikan yang mengejar setiap pagi, setidaknya tiga kali dalam seminggu.

Berhari-hari, perkataan guru saya mengganggu di kepala. Hati saya sakit. Saya tidak menerima apabila ia menganggap bodoh. Maka saya mulai masuk ke perpustakaan sekolah, melihat-lihat buku di rak, dan memilih satu seadanya — sebuah buku berjudul Accelerated Learning.

Buku itu saya tarik dari rak biru besar. Itu membuat saya tampak seperti orang baru dalam internet yang berlagak sudah kawak. Saya memaksakan diri membaca.

Kutipan menarik dalam buku itu berbunyi: “Otak manusia itu tak terbatas, dan Anda hanya memakai secuilnya.” Kalimat ini memikat saya; saya meminjam buku itu dan membacanya di rumah, untuk membuktikan bahwa saya baru menjalankan eksploitasi paling kecil saja terhadap otak saya.

Ini menandai masa di mana saya pertama kali membaca buku dan bisa betah. Sebelumnya tak satupun kitab pernah saya khatamkan. Saya mulai mengetahui, dari Accelerated Learning, bahwa setiap manusia mampu memanipulasi otaknya. Seorang Amerika bernama Dan, menurut kisah di dalamnya, sanggup menghafal seluruh nama dan nomer telepon dalam buku kuning tebal Kota Los Angeles, lengkap dengan alamatnya. Saya juga mulai berkenalan dengan sistem menghafal, metode belajar, dan teknik peta pikiran yang ditemukan Tony Buzan, seorang Inggris dan konsultan pendidikan.

Menggunakan beberapa siasat dari buku ini, saya memasang satu komitmen: Saya ingin menghafalkan seluruh kata dalam kamus bahasa Inggris saya, yang saya beli Rp20.000 di pasar Kliwon. Kamus itu telah lama menganggur karena saya tak menyenangi, dan lebih tepatnya tak pandai, bahasa Inggris.

Setiap hari saya belajar sedikitnya 50 kata baru. Sebelum tidur, saya mengulas kata-kata itu. Dan saat bangun di pagi hari, saya mengunjungi kembali kata-kata yang kemarin dipelajari. Hanya dalam tiga bulan, saya telah menghafal seluruh kata bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dalam kamus setebal 5 cm tersebut.

Saya menggabungkan berbagai trik menghafal, mulai sistem asosiasi, cantol, hingga akronim, serta siasat mnemonics.

Dan selama proses itu, saya juga membaca buku hijau tipis soal tata bahasa Inggris — saya beli Rp6.000, juga di pasar Kliwon. Jika beberapa bab dalam buku itu menyulitkan saya, saya bertanya kepada Novin, teman yang seorang pemandu wisata. Saya menghabiskan sebagian besar hari-hari untuk mempelajari kitab grammar dan menulisnya ulang di buku.

Setelah merasa agak cakap, saya menulis buku diari dalam bahasa Inggris, mendengarkan siaran di radio dan tv, dan mengobrol dengan Rodhon, teman tuna netra, dengan mulut yang ngecewes — Rodhon dan saya mengawali belajar bahasa Londo ini, secara mandiri, secara bareng-bareng.

Beberapa bulan berikutnya, saya telah cukup menguasai rumus dan pembentukan kalimat bahasa Inggris, mulai dari tenses hingga preposisi, mulai dari frase dan klausa hingga compound sentence (kalimat majemuk) dan complex sentence (kalimat majemuk bertara).

Lalu suatu hari, guru bahasa Inggris saya, yang dulu menghina, meminta saya ke depan. Ia menyuruh mengerjakan satu soal Simple Past Tense, sebuah rumus pewaktu di masa lampau. Dan ini bukan persoalan yang susah. Namun karena sebelumnya saya selalu menolak mengerjakan sesuatu di depan, maka guru saya menunjukkan raut kaget saat ia tahu saya berjalan maju dan mengambil kapur tulis. Di muka kelas, saya tak hanya menjawab pertanyaan pada papan tulis, tapi juga menjelaskan dengan rinci kepada seluruh orang di ruangan, termasuk kepada guru saya, tentang struktur dan kegunaan Simple Past Tense beserta contoh kalimat yang saya cipta. Teman-teman bertepuk tangan. Dan saya melihat mata guru perempuan itu berkaca-kaca.
***
Kisah di atas ditulis oleh sahabat saya, David, berdasarkan kisah nyatanya semasa sekolah. Sekarang dia selalu menulis artikel berbahasa Inggris di blognya, dia menulis status facebook dalam tiga bahasa sekaligus: Inggris, Indonesia dan Jawa. Dia juga berprofesi sebagai translator dan telah banyak menerjemahkan makalah-makalah berbahasa Inggris. Prestasi terbarunya adalah menerjemahkan sebuah situs mobile blogging international, mywapblog.com, dari bahasa inggris menjadi versi Bahasa Indonesia.

Ada satu hal yang selalu kita lupakan, bahwa untuk bisa berbicara bahasa Indonesia pun dulu kita pernah mengalami kesulitan yang sangat besar. Bahkan, kita pun tidak seketika bisa berbahasa Jawa! Kita semua pernah mengalami masa buta wicara, tidak bisa berbahasa. Sewaktu kita kecil, kita tak punya vocab apapun, bahasa manapun. Tapi kita tak pernah menyerah. Sebagai bayi, kita selalu berani untuk belajar dan mencoba. Bahkan, kita tak pernah minder untuk berbicara walaupun kata-kata kita terdengar lucu dan belepotan. Atau, pernahkah kalian melihat ada balita yang menolak bicara karena malu ucapannya terdengar aneh? Hahaha.

Sobat, hari ini, kita sama saja dengan bayi yang sedang belajar bahasa Jawa, seperti anak kecil yang eblajar bahasa Indonesia, kita tak ada bedanya dengan mereka. Kecuali satu hal, ya, mungkin inilah satu-satunya perbedaan yang kalian kita miliki dengan para anak kecil: kita mudah menyerah dan takut mencoba. Sayangnya, perbedaan itu sangat buruk bagi perkembangan kita.

Nah, teman-teman, siapa lagi di antara kalian yang masih menyerah belajar Bahasa Inggris? Ada? Siapa? Kalau ada yang mengacungkan tangan, sumpah, akan aku cemplungkan dirimu ke bangku PAUD!!!

PERBANYAK MEMBACA, PERBANYAK MENERJEMAH, PERBANYAK BERTANYA, MAKA KAU JADI JUARA BAHASA!

Advertisements

One Response

  1. so inspiring story!!!! Bravo…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: