Posted in nebula, sastra

Satu Rombong Mie Ayam Untuk Seluruh Bangsa

Memasuki tahun 1940, di mana seperti yang kau tahu tahun 40-an adalah masa ketika segala bencana dengan serakah menimpa planet bumi beserta hampir seluruh penghuninya, perang dunia dan fasisme yang membantai jutaan manusia di hampir semua negara, kekacauan itu pun menimpa Mongrosia. Semua orang sudah menduga itu akan terjadi, tapi mereka tidak mengira akan secepat itu dimulai. Gejolak yang dipelopori kaum muda dengan semangat membakar dan kaum tua yang terpelajar. Dari awal dekade itulah kisah ini mendapatkan permulaannya.

Mongrosia yang sudah hampir seratus tahun di bawah penjajahan Kerajaan Inggris, tidak lagi merasakan berdiri sebagai bangsa merdeka semenjak dikuasai Portugis sekitar dua abad sebelumnya. Tapi baru pada masa Inggrislah orang-orang pribumi mendapatkan kesempatan untuk memerintah pribumi lainnya. Inggris demikian pintar sekaligus licik. Mereka tidak harus kehilangan tentara British untuk menyelesaikan pemberontakan karena para bawahannya, orang-orang pribumi, bersedia dengan sepenuh hati melawan para pemberontak demi mempertahankan gedung pemerintahan yang pemerintah Inggris ‘sewakan’ pada mereka. Kebencian pun menyebar ke seluruh penjuru negeri dengan cepat. Bukan hanya kepada orang asing berkulit putih, tapi juga kepada sesame bangsa Mongrosia.

Tahun 40an, ketika para pemuda, dengan dukungan generasi tua yang memiliki massa dan dana, mulai melancarkan aksi pemberontakannya. Penyerangan pos-pos jauh dari pusat pemerintahan, penyergapan patroli yang tidak waspada, perampasan gudang-gudang logistic maupun senjata dengan penjaga yang mabuk-mabukan, serta, sering kali, penempelan pamphlet perlawanan di tempbok-tembok bangunan di pusat pemerintahan. Semua itu benar-benar membuat pemerintah Inggris, atau lebih tepatnya perwakilan Ratu Inggris di Mongrosia, berang dan naik darah. Aksi militer balasan berlangsung dengan keras dan tanpa belas kasihan. Siapapun yang kedapatan keluar malam hari akan ditangkap dan diangkut dengan truk pesek yang bisa dipastikan korbannya tidak akan pernah kembali lagi. Petani yang beristirahat di pinggir jalan saat konvoi tentara lewat akan diseret dengan tuduhan sebagai informan gerilya. Rumah-rumah digeledah dan segala barangnya dirampas karena lelakinya, sang ayah maupun anaknya yang sudah pemuda, dilaporkan tidak tampak selama tiga hari. Mereka pasti sedang mengikuti kegiatan para gerilyawan di hutan, demikian tuduh para opsir pribumi tersebut.

Puncaknya terjadi pada awal tahun 1942, di mana kekuatan Jepang menguat dan negara-negara sekutu mulai benar-benar merasa terancam. Inggris tidak lagi setengah-setengah menanggapi gerakan perlawanan sporadic para pemuda Mongro tersebut. Tentara-tentara keturunan India didatangkan dan pertempuran-pertempuran mematikan meletus di hampir setiap tikungan jalan. India melawan pribumi. Pribumi melawan pribumi. Dan, hasilnya, golongan yang melawan pun tertekan. Banyak para pimpinan perlawanan yang sebelumnya aman bersembunyi dibalik status saudagarnya akhirnya ditangkap karena penyamarannya dibongkar para pengkhianat. Hartanya disita, keluarganya ditawan, dan pelakunya disetrum.

Pasukan pembebasan Mongrosia pun melemah, jatuh bangun berusaha menyelamatkan nyawa perjuangannya. Para gerilyawannya bersembunyi di hutan, simpatisannya menyingkir dari tanah kelahiran. Pergi keluar negeri mencari keselamatan. Salah satunya Min Wok, penjual mie ayam yang secara diam-diam menyumbangkan 60% labanya untuk perjuangan. Tapi Min Wok baru meninggalkan negerinya pada tahun 49, di mana Inggris kembali lagi ke Mongrovia setelah beberapa tahun terusir oleh Jepang. Inggris ingin melanjutkan pesta poranya yang sempat terjeda. Dan mereka tidak berniat untuk menghadapi rongrongan walau dari semut merah sekalipun.
***
Min Wok sudah tahu dan sudah mempersiapkan diri mengenai apa yang akan dia kerjakan nanti di negeri orang: berjualan mie ayam. Mungkin usaha itu tidak akan berjalan mulus, tapi dia yakin dia bisa melanjutkan kesuksesannya seperti di negerinya, Mongrosia. Bersama istri dan enam anaknya, Min Wok memulai usaha mie ayamnya setelah dua bulan menetap di negeri baru tersebut. Negeri yang tak terlalu jauh dari Mongrosia, walau pun agak jauh berbeda. Tapi bukan itu alasan utamanya pindah ke sana, melainkan karena dia tahu di negeri tersebut ada banyak orang patriotis Mongrosia seperti dirinya berada. Mereka semua punya tujuan yang sama: bekerja untuk kembali lagi ke Mongrosia.

Min Wok pun memulai usaha mie ayam dengan sanjungan luar biasa dari warga di sekitar rumah. Belum pernah ada yang menjual mie seperti itu, kata para tetangga baru tersebut. Dan bisnis kuliner itu pun menjadi semakin lancar ketika lima bulan kemudian Min Wok sudah sangat fasih berbicara bahasa setempat. Kini orang-orang tidak hanya mengakui kelezatan makanan baru tersebut, tapi juga mengakui keramahan si pendatang baru itu.

Sementara Min Wok mulai menunjukkan tanda-tanda akan membuka cabang warung mie ayamnya di luar kota, rekan-rekan pejuangnya di Mongrosia mendengar berita kesuksesannya. Dan diambillah satu keputusan besar mengenai hal itu. Pimpinan perlawanan, dengan susah payah, menyelundupkan salah satu orang kepercayannya keluar negeri untuk menemui Min Wok. Saat itu hubungan pemerintah Inggris dengan negeri jiran tempat Min Wok berada sedang bagus-bagusnya. Pemerintah Inggris meminta agar semua orang yang datang dari Mongrosia, baik itu warga negara Mongrosia atau bukan, agar ditolak dan dideportasi kembali ke Mongrosia. Dan, lebih dari itu, pemerintah Inggris meminta agar pemerintah negara terebut mengawasi aktifitas orang-orang Mongrosia yang terlanjur dengan legal menetap dan bekerja di sana. Semua itu dikabulkan. Tentu saja, di samping karena keuntungan yang didapatkan dari kerja sama politis tersebut, juga karena setiap aksi mata-mata dan penculikan warga Mongrosia tidak dilakukan oleh oknum pemerintah, melainkan oleh orang-orang suruhan perwakilan Kerajaan Inggris di Mongrosia. Maka adalah keajaiban jika pada tanggal 23 maret 1953, tepat ketika matahari berada di titik nol derajat di khatulistiwa, utusan pasukan pembebasan Mongrosia tiba di warung mie ayam Min Wok. Mereka berpelukan. Menangis haru. Tergugu kehabisan kata-kata. Selanjutnya utusan itu menghabiskan lima mangkok mie ayam tanpa sisa.
***
Dari catatan para pemimpin perlawanan yang seusia dengan Min Wok, kita tahu bahwa tidak membutuhkan waktu satu hari bagi utusan tersebut untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Dan, seperti yang bisa kau harapkan dari seorang patriotis sejati, Min Wok menyambut permintaan bantuan itu dengan antusias dan totalitas. Dana yang tadinya akan dia pakai untuk membuka warung baru dia sumbangkan seluruhnya untuk rekan-rekannya di Mongrosia. Tiga hari kemudian, utusan tersebut kembali ke negaranya dengan dana 9 juta dalam karung goni tua. Sebagian sumber menyebutkan jumlah tiga belas juta. Min Wok sendiri tak pernah bersedia menyebutkan pada orang lain berapa tepatnya yang ia berikan pada utusan tersebut. Yang pasti, itu adalah sumbangan dana terbesar yang didapatkan pasukan pembebasan semenjak penagkapan para jutawan penyokong dana perlawanan mereka beberapa tahun yang lalu. Dan Min Wok mendapatkan balasan yang menyenangkan atas kedermawanannya itu.

Empat minggu setelah kepulangan si utusan, tersiar kabar jika pasukan pemberontak berhasil memuku mundur tentara pemerintah colonial Inggris di provinsi Beun. Besarnya jumlah pasukan pemberontak bersenjata api adalah factor utama kemenangan tersebut. Kegemparan melanda seluruh Mongrosia. Dan semua orang Mongrosia yang ada di luar negeri, yang mendukung kemerdekaan, terlontar ke udara oleh melambungnya harapan kebebasan bangsanya. Bisik-bisik di bawah tanah pun beredar dengan cepat. Termasuk di negara tempat Min Wok kini berada. Dan perubahannya sangat terasa.

Tiba-tiba, ada banyak orang ‘asing’ mendatangi warung mie ayam Min Wok. Warga setempat tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Tapi mereka bisa melihat bahwa perawakan dan wajah orang-orang itu mirip dengan penjual mie ayam kesukaan mereka itu. Mereka juga bisa merasakan bahwa para pelanggan baru itu memiliki suatu kedekatan emosional tertentu dengan Min Wok walau pun mereka tak pernah saling bicara lebih dari dua menit. Bahkan satu menit pun sangat jarang terjadi. Interaksi mereka tak ada bedanya dengan pembeli-pembeli lainnya. Hanya saja, ada beberapa selentingan yang mengabarkan bahwa mereka, atau beberapa orang dari pelanggan baru itu, membayar semangkuk mie ayam seharga 10 ribu, 20 kali lipat dari harga sebenarnya. Tapi tak ada yang pasti dari semua desas-desus itu. Bahkan suatu ketika, pernah terjadi Min Wok memaki dan menghujat habis-habisan tiga atau empat pemuda—yang tampak mirip dengan anak-anaknya—karena mereka hanya membayar dua mangkuk dari semua yang mereka makan. Para mata-mata utusan pemerintah boneka di Mongrosia pun merasa tenang dan mengendorkan kecurigaannya. Di samping itu, mie ayam Min Wok memang lezat luar baisa, tak heran jika banyak orang memburunya.

Faktanya, semua terjadi seperti yang mereka duga. Dan semua prasangka itu benar. Para orang yang tampak mirip dan dekat dengan Min Wok itu memang orang-orang yang mirip dan dekat karena mereka semua dalah imigran Mongrosia. Kabar bahwa mereka membayar sampai 20 kali lipat semangkuk mie ayam juga memang benar, karena mereka tidak hanya membayar makan, tapi menitipkan uang untuk mendanai perlawanan. Sedangkan para pemuda yang dimaki itu, itu memang harus dilakukan, karena di sela-sela makian dan kemarahan Min Wok terdapat kata-kata rahasia menunjukkan tempat di mana mereka akan bertemu untuk mengambil uang sumbangan para donatur perlawanan. Min Wok yang mengatur semua itu, Min Wok pula yang membuat kata sandinya, dan Min Wok pula yang mengkoordinir penggalangan dana. Suatu keahlian yang dengan ajaib dimilikinya yang tak pernah sekolah.

Menyadari bahwa para mata-mata akan mengendus kegiatan subrversifnya, Min Wok hanya mempekerjakan anak-anaknya di warung mie ayam tersebut. Dan mereka, empat pemuda serta dua pemudi, sudah tahu mana yang penyumbang dan mana yang mata-mata menyamar sebagai penyumbang. Para simpatisan ketika menyelesaikan makannya akan menyisakan sehelai mie dan secuil tulang ayam di mangkuknya. Itu kode rahasia yang, tentu saja, dibuat oleh Min Wok. Biasanya, di bawah mangkuk-mangkuk tersebut terdapat beberapa lembar uang yang diselipkan. Tapi jika warung tidak terlalu sepi, mereka akan langsung membayar pada kasir, istri Min Wok, dengan segenggam uang yang sudah mereka persiapkan. Untuk menjaga kelancaran aksi rahasia tersebut, anak-anak Min Wok dengan tangkas akan segera mendatangi meja para pembeli dengan wajah Mongrosia begitu mereka meletakkan sendok dan garpunya di meja.

Para mata-mata tentu saja memikirkan suata cara untuk membongkar konspirasi tersebut. Dan mereka melakukan usaha yang cukup pintar karena mereka menebak dengan tepat kira-kira bagaimana cara penyumbangan dana itu terjadi. Setelah diskusi panjang, mereka sepakat bahwa pastilah interaksi Min Wok dengan para penyumbang dana terjadi melalui bawah mangkuk mie ayam: uang diselipkan. Akan tetapi, setiap kali mereka menyelipkan uangnya di bawah mangkuk, anak-anak Min Wok yang menemukan uang tersebut akan memanggil mereka dan mengembalikan uang selipannya di depan para pelanggan lainnya. Tak perduli berapa besar jumlah uang tersebut. Sungguh usaha penyelamatan yang luar biasa. Pertama, gerakan pendanaan perlawanan tetap aman, ke dua, para pelanggan dibuat terkesan oleh kejujuran yang demikian tulus mereka demonstrasikan. Tak lama kemudian, Min Wok meluaskan warungnya selebar 15 meter.

Berapakah yang berhasil dikumpulkan Min Wok untuk mendanai perjuangan bangsanya? Jika kau bertanya pada Min Wok sendiri, kau tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Tapi dari para petinggi pemerintah Mongrosia merdeka, kau akan mendapatkan jumlah yang berbeda-beda walau tak terlalu mencolok. Aku menduga bahwa semua informasi itu benar. Ya, semuanya benar. Mengapa? Karena Min Wok tidak menyerahkan dananya pada satu pimpinan pemberontak saja, melainkan mengrimkan uang sumbangan tersebut pada hampir semua pasukan perlawanan yang tersebar di provinsi-provinsi maupun hutan-hutan. Sungguh kebijaksanaan yang luar biasa. Dengan demikian, setiap satuan pemberontak bisa memperkuat pasukannya dan membuat pasukan pemerintah boneka kerajaan Inggris kaget dan ketakutan. Sampai akhirnya, datanglah tahun 57 yang membuat setiap darah dan air mata tampak berubah menjadi bunga dan tawa.

12 Pebruari 1957, pasukan pembebasan melakukan penyerbuan serentak ke pusat-pusat pemerintahan di tiap-tiap provinsi. Baik tentara keturunan india, pribumi, maupun orang-orang Inggris, semuanya dibikin kacau dan kalang kabut. Para gubernur saling menelpon meminta kiriman pasukan bantuan dan mereka tak bisa berbuat apa-apa. Pertempuran terjadi demikian brutal dan tanpa perhitungan. Pasukan pemerintah menembak ke segala arah, sedangkan pasukan pemberontak melontarkan peledak ke setiap bangunan dengan menggunakan ketapel kayu. Ledakan demi ledakan yang membahana di gedung atau benteng pemerintah semakin menciutkan nyali penjajah. Sambil mengutuk pemerintah Cina, negara dari mana para pemberontak membeli persenjataannya, para pegawai pemerintah dan petinggi militernya kabur dari pintu belakang. Tapi karabin dan senapan mesin sudah ‘menunggu’ mereka.

Dari delapan provinsi yang ada di Mongrosia, hanya satu yang tak terkalahkan. Dan dua hari kemudian, pada tanggal empat belas Pebruari, deklarasi kemerdekaan pun dikumandangkan. Pada hari itu, setelah membaca telegram berita kemerdekaan tersebut, Min Wok menggratiskan mie ayamnya bagi semua yang datang ke warungnya. Dia tak lagi takut pada mata-mata yang dia tahu ada di antara mereka. Apa yang perlu ditakuti dari penjahat yang kehilangan tuan pembayarnya?
***
Bulan Mei tahun yang sama, Min Wok kembali ke Mongrosia dan menjadi orang Mongrosia pertama yang disambut kedatangannya dengan upacara kenegaraan. Sang presiden, yang merupakan pimpinan pemberontak ke tiga yang menerima sumbangannya, mencium tangan Min Wok dan foto adegan tersebut segera menjadi berita besar di dalam maupun di luar negeri: presiden mencium tangan penjual mie ayam.

Tapi, yang paling mengesankan dari semua itu adalah apa yang dikatakan Min Wok pada presiden, wakil dan menteri-menterinya saat acara makan malam. Min Wok menolak bintang tanda pahlawan negara yang akan dianugerahan padanya dalam upacara kemerdekaan tahun depan, dia juga menolak rencana pengangkatan dua putranya sebagai pembantu pertama menteri dengan alasan bahwa tak satu pun dari anaknya ada yang bersekolah. Semua yang hadir di makan malam tersebut pun larut dalam tangis haru yang tulus. Sementara anak-anak Min Wok dan istrinya tertawa memikirkan betapa gila kalau mereka sampai jadi pejabat pemerintah. Tapi malam itu bukannya berlalu tanpa permintaan, putra ke tiga Min Wok yang mengajukan. Kalau boleh, katanya, berilah keluarga kami satu stan yang bagus di pelabuhan internasional Mongrosia. Kami mau melanjutkan jualan mie ayam di sana. Dan kali ini semua orang tertawa bahagia.

Ketika Min Wok berkata bahwa tidak ada anaknya yang bersekolah, dia berkata jujur, tapi itu bukan berarti dia hanya membesarkan anak-anak yang bodoh. Putranya yang ke tiga adalah anak yang cerdas di antara mereka berenam. Dan semua saudaranya mengikuti keputusannya dengan senang lagi percaya. Putra ke tiga itu membaca banyak buku, mulai dari peristiwa Revolusi Prancis sampai teori evolusi Darwin. Tapi buku kesukaannya adalah yang membahas tentang penjajahan. Dan satu hal yang dia pelajari dan dia antisipasi dengan baik, adalah, bahwa sebuah negara yang baru berdiri, kemungkinan akan terjatuh sangat besar sekali. Itulah mengapa ia meminta stan di pelabuhan internasional. Agar ia bisa sewaktu-waktu mengevakuasi keluarganya ke luar negeri. Mungkin ke negara yang dulu mereka datangi. Sayangnya, kekhawatiran putra ke tiga itu terbukti pada tahu 1974. Tahun ketika jumlah pejuang pembebasan tinggal sepuluh orang saja di kursi pemerintahan. Selebihnya, adalah kaum muda yang mengabdi pada negara-negara besar tetangga Mongrosia.

Sumber gas alam, minyak bumi, tambang emas, kekayaan laut, hutan yang lebat, lahan yang subur, semua itu menjadi anugerah yang membawa petaka bagi Mongrosia yang semenjak jaman Portugis sampai merdeka belum pernah benar-benar makmur atau benar-benar damai. Paham dengan keadaan negara muda yang labil, negara-negara berkembang di sekitar atau negara-negara maju di luar benua berebutan menancapkan pengaruhnya. Generasi awal yang menerapkan kebijakan menolak campur tangan asing lebih dari 30% keseluruhan proses pengelolaan kekayaan alam, menemui bencananya pada generasi penerus yang bahkan melelang sumber kekayaan alamnya pada korporasi-korporasi asing. Persaingan pun terjadi, pengaruh disebar, dan sengketa pun dimulai. Suatu siang ketika Min Wok sedang sibuk melayani rombongan pembeli luar negeri bermata miring, putra ketiganya datang bersepeda motor dengan kekhawatiran besar membayang di wajahnya. Saat itu tahun 1972, putra ke tiganya membisikkan tentang kudeta yang akan dilakukan beberapa orang pemerintahan, hanya dua tahun sebelum ia menjadi nyata.
***
1972. Tepat delapan belas menit sebelum tiga buah bom meledak menghancurkan warung mie ayamnya, Min Wok beserta istri dan enam anaknya, empat menantunya dan lima cucunya, naik ke kapal fery terakhir yang akan membawanya ke luar negeri. Keluarga besar itu berdiri berjejer di geladak bertumpu pada pagar menatap api yang berkobar menjilat langit terik di atas pelabuhan sana. Mereka tahu salah satunya datang dari warung mereka. Min Wok mengusap matanya yang basah. Seluruh keluarganya mengusap mata yang basah. Bahkan cucunya yang belum begitu mengerti kata-kata pun menangis—karena mabuk dan kepanasan.

“Tenang bapak, kita akan membangun lagi. Kita akan membangun lagi.” Kata putranya yang ke tiga.

“Ya, benar. Kita akan membangun lagi. Terimakasih.” Min Wok mengucapkan terimakasih merujuk pada kebijaksanaan putranya karena telah mengajukan permohonan kios di pelabuhan pada presiden pertama negaranya. Dan seluruh saudaranya tiba-tiba menyadari betapa penting terimakasih itu untuk diungkapkan buat saudara mereka yang ke tiga. Mereka pun berpelukan dalam keharuan dan kebahagiaan. Tapi kekecewaan dan kemarahan serta kehilangan masih jauh lebih besar menggelayut dalam hati mereka semua.

“Ada yang paling menyakitkan bagiku dari semua ini, yaitu pertanyaan apakah Mongrosia akan tetap bertahan atau berubah menjadi negara yang berbeda. Bagaimana menurutmu, anakku?” Min Wok bertanya. Tapi putra ke tiganya itu hanya diam. Lalu katanya,

“Kita aka membangun lagi, bapak. Kita akan membangun lagi.” Hanya saja, sepintar apapun putra ke tiganya itu, dia tidak bisa mengetahui bahwa dua menit kemudian empat buah roket akan menghantam fery besar tersebut.

Sebuah kapal perang milik negara tentangga yang secara rahasia menyokong salah satu partai politik di pemerintahan Mongrosia menghantamkan empat buah misilnya tanpa perduli itu kapal penumpang atau kapal perang. Tembakan pertama menghantam anjungan kapal. Tembakan ke dua dan ke tiga mengoyak lambung kiri kapal, dan tembakan terakhir membenamkan buritan yang terangkat ke atas. Semua itu terjadi dalam hitungan detik. Mungkin tak sampai lima belas detik. Dari seribu enam ratus penumpang, hanya tujuh puluh lima yang selamat. Tiga di antaranya adalah keluarga Min Wok, putra ke tiganya dan dua menantunya. Selebihnya, tak ada yang tersisa dari keluarga pejuang tersebut.
***
Hanya berlangsung enam bulan sebelum kemudian negara Mongrosia hilang dari peta. Negara kaya itu hancur tercabik dan terbagi menjadi milik negara-negara di sekitarnya. Tak ada lagi Mongrosia, kini yang ada hanyalah negara-negara Asia yang bisa kau lihat di peta. Sungguh tidak ada yang bisa kau pastikan di dunia ini, bahkan sebuah negara yang diperjuangkan selama puluhan tahun, hampir seratus tahun lebih, bisa hancur hanya dalam hitungan bulan.

Min Wok yang tewas di laut Mongrosia sepertinya tidak mati sia-sia, setidaknya, dia masih sempat merasakan hidup dan mati di negara yang dia cita-citakan. Putra ketiganya yang selamat beserta dua anggota keluarga yang lain mendapatkan suaka dari pemerintah Swiss. Beberapa tahun setelah peristiwa pegeboman itu, bersama tiga orang rekannya sesama penerima suaka, berhasil mengumpulkan buku-buku yang mencatat sejarah dan dokumen-dokumen kenegaraan Mongrosia yang belum dihancurkan. Semua berkas berharga itu kini tersimpan aman di salah satu museum HAM yang terdapat di Swiss. Dan untuk mengenang ayahnya tercinta, Min Wok, putra ke tiga itu pun menulis biografi mini mengenai perjuangan ayahnya. Yang menarik dari biografi tersebut adalah perhitungan yang dia lakukan bersama timnya berkenaan jumlah dana yang digunakan pasukan perlawanan sejak tahun 50 sampai merdeka. Hasilnya mengejutkan, ternyata, dari total seluruh dana yang digunakan untuk berpernag melawan Inggris dan pemerintah bonekanya, 60%-nya berasal dari Min Wok, atau setidaknya, melalui tangan Min Wok. Dan itu membuat putra ke tiga Min Wok menangis tanpa bisa menahan diri. Dia dan saudara-saudaranya turut memeras keringat untuk semua hasil itu. Untuk sebuah negara yang hanya bertahan selama 17 tahun di peta dunia.

03/11/2012

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s