• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

pada kabut tinggi

Aku baru menyadari betapa sedikit sekali aku megerti tentang diriku sendiri ketika david menunjukkan foto itu. Seorang lelaki berkaca mata dengan tubuh kekar luar biasa. Dan wajah yang begitu mirip dengaku, aku bahkan sampai tak mengenalinya. Aku tak tahu apakah dia memang bukan aku atau aku yang diphotoshop. Sudah sebegitu banyakkah perubahanku? Tapi aku memang menyadari bahwa akhir-akhir ini aku sudah kehilangan begitu banyak hal.

Aku tak lagi bisa merasakan hebohnya waktu pemulangan. Aku tak tahu lagi bagaimana kegembiraan di hati anak-anak ketika jam dinding menunjukkan 5 jam lagi mereka bisa pulang ke rumah masing-masing

Ternyata aku lebih kesepian dari apapun. Kenyataannya, lelaki dengan tawa paling banyak adalah lelaki dengan kesedihan yang paling menyakitkan. Bahkan aku tidak bisa menangisi semua itu. Ternyata lelaki yang paling banyak didengarkan adalah lelaki yang tidak memiliki siapa-siapa untuk mendengarkan semua penderitaannya. Ternyata aku adalah yang paling sendirian, bukan orang lain yang sedang kuusahakan untuk berbahagia. Apa jadinya aku? Bahkan aku tak mempunyai siapapun untuk kutunjukkan tangisanku. Hanya pada tengah malamlah semua itu akan kuungkapkan. Dalam tangis yang tertahan. Apa jadinya aku? Wajah yang paling banyak terseyum adalah wajah yang sedang susah payah menipu kepedihannya. Karena diriku, sebagian dariku, tercangkul dan membuangnya ke kali keruh. Lalu jeram menyeretnya sampai ke muara terkutuk. Lantas apa aku ini?

Pada suatu malam buta, pada cermin yang memudarkan cahaya, bayangan itu mengajukan tuntutannya: masihkah kau cukup bahagia? Tanpa siapa-siapa? Jadi untuk apa kau mencapai segalanya? Bukankah semuanya tidak ada gunanya? Apa artinya jika bahkan tak ada seorang pun yang cukup menghargai air matamu? Apa arti semua itu?

Aku merindukan suatu hari, suatu ketika, di mana aku bisa duduk sendiri. Untuk mengingat segalanya. Dari dulu hingga kini, dan menangisi semuanya sepuas hati, sekeras-kerasnya. Sampai tuntas segala air mata. Ternyata orang yang paling bersedih bukanlah mereka yang menangs setiap hari, tapi mereka yang selalu tampak bahagia tapi ternyata pada suatu malam yang menyakitkan dia pun hancur dalam tangisnya yang tak bersuara.

Dan tidak ada penghabisannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: