• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Elepent, lima atau enam tahun lagi

logo elepent

Suatu hari nanti, aku akan melepaskan semua lembaga pendidikan yang kutempati sekarang. Aku akan berhenti mengajar. Akan melepas semua kelas. Menanggalkan semua jabatan. Dan yang akan kulakukan, selain melanjutkan karir menulisku tentunya, adalah bermain-main. Yup, bermain-main. Aku akan bermain-main bersama semua siswa-siswaku. Kemungkinan aku akan melakukannya bersama Amar. Dan lembaga yang akan memayungi kami itu bernama: ELEPENT, Lembaga Pendidikan Tertawa. Kami bersepakat tentang hal itu karena kami bertekad untuk mewujudkan belajar yang menyenangkan dan membahagiakan bagi semua anggota belajarnya. Jika anak-anak bisa menjadi lebih baik dengan merasa bahagia, mengapa harus dibuat susah?

Aku merasa lelah dengan apa yang kuhadapi terus menerus. Lama-kelamaan, itu bisa menjadi borok yang akan menggerogoti diriku sebagai sebuah pribadi. Tontonan menyebalkan itu adalah bagaimana seseorang harus berteriak untuk membuat seorang anak menjalani proses belajarnya. Itu terasa demikian mengerikan bagiku. Karena aku masih ingat betapa dulu aku merasa ngeri tiap kali tiba saatnya pelajaran guru yang pemberang. Kelas berubah menjadi detik-detik yang tak nyaman. Dan halaman sekolah selalu tampak demikian menggoda bahkan untuk otak agar melamunkannya. Guru semacam itu tak pernah memberikan kesempatan bahagia dengan pengetahuan.

Elepent adalah sebuah impian luar biasa. Kadang terdengar muluk-muluk, tapi mengetahui bahwa banyak orang di luar sana yang ternyata sudah lebih dulu bergerak dengan konsep serupa, aku pun merasa cita-cita elepent belumlah seberapa. Entah berapa kali, tapi Amar menawariku untuk keluar dari mengajar. Dia akan melakukannya juga. Kemudian kita akan mencurahkan segala kemampuan yang ada pada kita untuk membangun dan membesarkan elepent. Kita tidak akan bisa membangun elepent, Rul, kata Amar suatu ketika. Karena kau terikat pada lembaga, aku juga terikat pada lembaga. Kita tidak bisa bebas, selalu ada tanggung jawab yang mengejar kita di belakang. Itu masalah pertama, dan Amar bersiap melanjutkan dengan analisa keduanya, kita tinggal terlalu jauh. Kau ada di ujung kabupatenmu, aku ada di ujung kabupatenku. Ini benar-benar membuat kita seperti terpotong-potong,

***

Kami yang masih terikat, dan jarak yang tak bisa dipersingkat.

31/10/2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: