Posted in baweanologi

Pembuat Anak

Image
dilahirkan untuk dilepaskan, dilupakan, disiakan.

Aku benci lelaki dan perempuan yang dengan—atau tidak—terburu-buru kawin, kemudian bercinta, membuat anak, dan satu-satunya hal yang dilakukan pada anaknya yang tergesa-gesa itu adalah meninggalkannya bersama neneknya yang tua dan hampir tidak bisa mengajari bocah itu apa-apa selain dengan bentakan dan kemarahan. Si bapak-ibu pergi merantau. Katanya untuk mencari uang buat kehidupan dan sekolah si anak. Tapi yang dia lakukan hanyalah membuat anak itu merana seperti kecoa yang ditinggal sendirian di kloset tua tanpa pengunjung setelah sekian lama. Dan aku menemukan orang yang seperti itu.

Seperti tahun kemarin, lebaran kali ini pun aku mudik ke Bawean. Menemui orang tua yang dengan tak sabar menunggu setiap hampir dua belas bulan lamanya. Dan pertemuanku dengan anak itu pun terjadi. Dialah Cukne. Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama kami. Sejak Cukne masih benar-benar kecil—sekitar kelas satu SD—dia sudah sering datang kerumah. Ibu yang memanggilnya. Untuk diajak makan, atau diberi jajan, atau sekedar diberi uang dan beberapa nasehat yang tampaknya tidak pernah menarik buatnya. Ibu selalu bilang jika bapak ibunya telah lama pergi merantau ke Malaysia dan tidak meninggalinya apa-apa selain harapan yang tampaknya tidak juga menjadi kenyatan. Cukne yang malang.

Cukne memliki dua orang kakak. Yang paling tua seorang perempuan, Akna, dan yang ke dua laki-laki, Makmang, kakak laki-lakinya itu seusia denganku. Hanya sedikit kenanganku tentang kakak perempuannya itu, kecuali bahwa dia seorang gadis yang baik, tidak banyak tingkah, dan berparas rupawan. Tak heran jika seorang duda—yang kata ibuku termasuk duda yang berpekerti bagus—datan melamar dan menikahinya. Keluarga baru terbina, keluarga lama harus melepasnya. Akna pun pindah ikut kekampung suaminya, meninggalkan Cukne dan Makmang, adik-adiknya semata wayang, berdua bersama kakek neneknya, seorang nelayan dan pembuat tikar pandan. Tak lama, dalam pernikahannya yang bahagia Akna pun dianugerahi kehamilan dan mati saat melahirkan. Menyusul istri pertama si duda kesepian. Cukne dan Makmang menangis. Itu hal terpasti yang bisa mereka lakukan.

Makmang yang pernah beberapa tahun menjadi teman kelasku, saat SMP dia menjadi adik kelasku karena setelah lulus SD dia berhenti setahun. Dari awal Makmang sudah agak berbeda. Berbeda dengan Akna yang tampak baik-baik saja dan berpikiran lurus. Makmang pikirannya agak melengkung seperti tanda tanya—dan itu juga tersirat dari roman mukanya, tanda tanya yang agak tidak menyenangkan. Dia menjadi bulan-bulanan. Diledeki karena hubungan pertemanan yang kurang bagus, juga karena saat menangis akibat pertengkaran neneknya akan datang membawa pengaduk nasi mencari si anak nakal.

Aku bukan siswa yang keren saat itu—haha, dan terus begitu sampai lulus SMA—hanya bisa menatapnya menangis di kempitan neneknya yang marah-marah di halaman sekolah. Sementara si anak nakal dan teman-teman berandalannya menertawakan Makmang di dalam kelas. Bapak ibunya yang di Malaysia tidak akan tahu hal itu. Bapak ibunya yang mungkin sibuk bekerja tidak akan pernah mendengar hal itu. Bapak ibunya yang tak pernah pulang tidak akan pernah mengerti bagamana jertian terhina anaknya yang butuh pertolongan dan perlindungan itu.

Aku sering mendapati Makmang duduk di rumah dengan nasi sepiring, sementara ibu sibuk mencuilkan ikan sambil menasihatinya. Dan walaupun aku masih kecil—sekecil si Makmang tentunya—aku menduga jika Makmang tidak begitu paham dengan nasehat ibuku. Tapi bagaimanapun, Makmang masih bisa tersenyum. Kadang juga mengangguk. Kadang juga berbicara entah itu mengajukan pembelaan atau menjawab pertanyaan. Dan memutuskan diam kalau ibu sudah menasehati dengan suara dikeraskan. Ketika Makmang sudah selesai dan pulang ke rumahnya, ibu bertanya apa aku di sekolahan bermain dengan kerabat jauhku itu, aku bilang aku punya geng sendiri.

Lama kemudian, setelah aku ke Jawa untuk kuliah sambil bekerja, aku pulang lebaran dan mendapati Makmang sudah besar—sebenarnya, dia memiliki struktur rangka yang besar, bahkan lebih besar dariku—dari dulu dia memang berbadan besar. Dia juga memiliki jerawat besar-besar dan menyebar. Rambutnya kemerahan dan kasar oleh paparan matahari. Dan ibu masih sering mengundangnya ke rumah untuk makan seakan dia anaknya sendiri. Dalam kesempatan itu, aku berbicara dengannya dan tak bisa bertahan lama karena tak tahu apa yang akan kami bicarakan. Sial, aku merasa sangat bodoh dan bersalah terhadap kerabatku itu.

Dia tak pernah nonton Naruto, jadi aku tak bisa mengajaknya berdebat apakah Kakashi Hatake seharusya jadi Hokage atau tetap pada Tsunade. Dia juga tidak baca komik Doraemon sehingga aku tak bisa mengajaknya tertawa mengenang cerita-cerita gila di dalamnya. Dia juga tidak kenal Al-Banna yang mestinya mau kuajak tukar pikiran mengenai pergerakan dan perubahan. Dan dia pun tak pernah dengar nama Johny Depp, apalagi film-filmnya semacam Edward The Scissor Hand dan Charlie and The Chocolate Factory. Apa lagi pernah mengeja kata E-N-G-L-I-S-H P-H-O-N-O-L-O-G-Y. Sementara Makmang tampaknya masih saja tidak banyak bicara, masalah komunikasinya belum teratasi setelah sekia lama. Aku bingung, dan dia pun bingung. Cara terbaik kami berbincang-bincang adalah dengan menyantap makanan. Aku bertindak sebagai yang menawarkan lauk di piring. Dia menerimanya dengan gembira. Mungkin tiga atau empat lebaran yang lalu, ibu mengingatkanku bahwa ibu dari tiga bersaudara itu, mendiang Akna, Makmang, Cukne, telah lama meninggal dunia. Bapaknya pergi ke Malaysia untuk mencari nafkah. Dan tak pulang-pulang. Itulah alasan utama mengapa ibu begitu peduli kepada mereka. Bukan sekedar mereka itu kerabat, tapi mereka itu yatim yang kesepian.

Aku tak menemukan banyak perubahan pada Makmang, dan mungkin karena dia sudah cukup dewasa dan merasa malu makan di rumah orang, kini Makmang mulai jarang datang ke rumah. Tinggal adiknya, Cukne, yang masih memenuhi panggilan ibu. Dan sekarang, lebaran tahun ini, begitu melihat Cukne untuk pertama kali, bagaimana dia membuka pintu pagar rumah, berdiri dan bergelayut di ujung pagar, melangkahkan satu kaki ke teras dan kaki yang lain memutar di tempat, membuatnya tampak terombang-ambing dengan plihan yang tak dimengerti, aku tahu ada ‘sedikit’ masalah dengan anak itu. Dan seluruh kenangan tentang orang tuanya pun muncul dibenakku. Cukne telah menjadi tanda tanya yang lebih melengkung dari kakaknya.

Kebodohan macam apa sebenarnya yang bisa menjerat sepasang orang tua dengan demikian membabi buta? Dan hal ini terjadi hampir di mana saja. Aku mendengarnya dari tetanggaku di Lamongan. Aku membacanya di koran nasional. Aku menontonnya di berita tv. Orang-orang yang kawin dan meninggalkan anaknya pada kakek neneknya sementara mereka pergi jauh dari rumah. Katanya untuk mencari uang, nanti dikirimkan untuk makan dan pendidikan keluarga yang ditinggalkan. Tapi faktanya, mereka—sebagaian dari mereka, tentunya—hanya pergi untuk berusaha melupakan ‘beban’. Mungkin mereka tak benar-benar berniat melupakan, tapi tindakannya yang sama sekali tidak perduli, lupa berkirim, tidak menelepon, bahkan tidak pulang walau sudah delapan lebaran lewat, benar-benar keterlaluan dan menyakitkan.

Tapi sebagian dari orang tua seperti itu selalu punya alasan untuk diberikan. Mereka biasanya akan berkata baha keadaan mereka di perantauan juga tidaklah menyenangkan. Mereka kesusahan dan kepayahan untuk memenuhi kebutuhan harian. Jika memang kemelaratan di perantauan yang menjadi alasan atas ketidak-bertanggungjawaban yang mereka lakukan, mengapa tidak pulang saja ke kampung halaman? Tidakkah melarat bersama anak istri jauh lebih berarti bagi si anak dari pada melarat sendiri-diri? Dan tentu bagi orang tuanya juga. Aku tak habis pikir, jika dia, dan mereka, memang menyadari bahwa keberadaan mereka di tanah rantau demikian susahnya sehingga tidak cukup untuk berkirim ke kampung halaman, untuk anak dan orang tua yang ditinggal, mengapa masih bertahan di sana? Mengapa tidak pulang saja dan saling berbagi kemelaratan jika memang itu yang dia percaya akan terjadi—dan aku meragukan fakta yang terjadi akan semengerikan ketakutan mereka. Kalau memang kesusahan yang dia dapat di rantau orang, dan kesusahan pula yang dia prediksi akan menyambut di tanah kelahiran, bukankah pulang akan lebih membahagiakan karena dia bisa berkumpul dengan anak dan orang tua?

Seorag anak sangat butuh keberadaan sosok untuk dicontoh dan diikuti kata-katanya, bukan sosok untuk ditakuti dan ditertawakan nasehatnya. Seorang anak butuh tempat berlindung yang disegani oleh lawan-lawannya, bukan penolong yang ditertawakan bersama-sama. Seorang anak butuh darah daging untuk dipeluk dan dikagumi bukan sekedar kulit keriput yang kelelahan mengejar dengan sapu di tangan. Seorang anak, pasti, butuh orang tuanya, baik mereka miskin atau kaya. Terlebih lagi, saat si anak merasa dirinya terkalahkan. Apa lagi tersia-sia.

Cukne di mataku tampak lebih mengerikan dari pada saudara-saudaranya yang lain. Akna telah meninggal sebagai pahlawan. Isteri beruntung yang dijamin dengan balasan sempurna. Dia berjuang untuk melahirkan buah hatinya dan ternyata takdir mengatakan bahwa dia harus segera ke surga. Makmang, walau pun dia—kupikir—merasakan kekalahannya tapi dia masih bisa bersikap dengan cara yang lebih wajar. Dia berbicara dan berekspresi lebih pada tempatnya. Bahkan tahun ini aku mendapatinya telah mendapat pekerjaan tetap: sebagai kuli kasar pengangkut kayu dan pasir. Tapi Cukne, dia berada di luar semua keberuntntungan tersebut.

Dia belum menuju gerbang surga, dia juga belum bekerja, alih-alih, dia segera berpindah dari pengasuhan neneknya ke pengasuhan bibinya, bibi yang memiliki suara nyaring dan memiliki kesombongan—atau mungkin rasa minder yang berlebihan. Dia, si bibi, tampaknya berusaha mencegah kerabat yang ingin berbagi rejeki dengan Cukne. Mungkin dia ingin menetapkan sebuah harga diri, hanya saja dia melakukannya dengan cara yang membuat orang yang ingin berbagi menjadi tersinggung dan jengkel. Dan Cukne pun diasuh dan tumbuh di bawah kebengisannya yang penuh prasangka. Kupkir, gabungan dari semua itulah yang membuat Cukne ini tak berjalan dengan cara yang wajar. Cara berdirinya agak miring. Seakan tak percaya diri. Dia suka merepet ke tembok. Seakan harus bersembunyi. Dan dia hampir selalu menunduk. Seakan semuanya adalah musuh yang tak bisa dia sentuh. Dia tak banyak bicara. Lebih buruknya lagi, kosa kata bahasa tubuhnya pun tampaknya terbatas—kadang tak tepat guna. Ketika ibu memanggil dan mengajaknya untuk buka bersama, Cukne tidak bersuara, tapi dia malah hanya menarik wajahnya ke belakang dan menunduk dalam, sembari menyembunyikan yang mungkin berupa senyuman atau apa pun di wjahnya. Tubuhnya bergoyang. Menyiratkan antara rasa malu, segan, ragu dan entah apa lagi yang tengah dia tampilkan dalam proporsi berlebihan. Aku tak paham. Tak bisa mendengar suara, tak mendapat kontak mata, dan bahasa tubuh yang tak ter-terjemah. Tapi banyak tahun yang telah ibu jalani degan bocah itu berguna banyak dalam ragam komunikasi yang tak bermakna tersebut. Itu artinya Cukne mau dan tak akan menolak. Begitu kami duduk bersama, gaya komunikasi antara aku dan Makmang, sekali lagi, terwariskan pada Cukne; aku menyorongkan makanan, dia menerima dengan suka cita—kusimpulkan begitu karena segera kemudian makanan itu lenyap dari tempatnya.

Aku berpikir, alangkah jahatnya akibat dari bentakan dan sikap kasar yang berkepanjangan. Psikopat pembunuh berdarah dingin yang menjadi inspirasi karakter Hannibal, sewaktu kecilnya hidup dalam keluarga yang komunikasi kedua orang tuanya melulu terjadi melalui teriakan, makian dan lemparan perabot rumah tangga. Bocah itu pun senantiasa dipukul di kepala. Hasilnya, ketika dewasa, dia menjadi psikopat yang paling psikopat di antara para psikopat. Cukne? Sialan! Tentu saja dia tidak akan jadi psikopat! Kami para kerabatnya melimpahi bocah itu dengan kasih sayang dan welas asih yang demikian melimpah sehingga kadang aku khawatir dia justeru akan tumbuh menjadi orang yang selalu menunggu belas kasihan orang lain. Cinta yang dia dapat demikian banyak dari luar. Hanya saja, karena dia tinggal serumah dengna bibi yang tak bisa bicara kecuali dengan nada tinggi, Cukne menjadi bocah yang tak pandai berkomunikasi. Dan, tentu saja karena dia tidak mengalami pengalaman bersama kasih sayang seorang ibu, yang marah dengan bahasa kelembutan, yang memukul dengan belaian.

Walau pun si bibi bukanlah seorang pendidik dan pengasuh yang ideal, jika ada yang ingin menyalahkan perempuan berpakaian sembrono itu, atau mengeluh kenapa Makmang kakaknya tidak berusaha untuk mendidik Cukne, aku ingin dia berhenti dari sikapnya yang suka menghakimi itu sekarang juga. Memang seharusnya mereka menjadi orang yang baik bagi Cukne tapi mereka bukanlah orang-orang dari olahan yang bisa kau harapkan untuk berbuat seperti yang kau standarkan untuk dimiliki para orang tua dan kakak. Bahkan aku tak tahu apakah bibinya itu paham tentang pendidikan anak, aku juga punya dugaan kuat bahwa Makmang termasuk kakak yang merasa malu untuk menunjukkan kasih sayangnya pada adiknya dalam bentuk kata-kata dan tindakan—dan itu terjadi di mana-mana bukan? Apalagi pada mereka yang tak hidup dalam keluarga yang utuh. Tidak, mereka tidak boleh demikian disalahkan. Karena aku punya target yang lebih masuk akal: orang tuanya. Dalam kasus ini, karena ibunya telah meninggal dunia, maka bapaknya! Ya, salahkanlah orang itu, kawan pembaca yang budiman.

Cukne makan dengan lahap sore itu. Ibu memberinya potongan daging sapi yang besar di piringya—hahaha, bukan kami yang membeli sapi tersebut, tapi dari tetangga yang selamatan menyambut lebaran. Dan aku menyodorkan empal dari piring satunya sambil berharap semoga masih ada sisa, buatku.

“Kemarin sewaktu emak di Malaysia,” ibu mulai bercerita. Sebulan yang lalu ibu diterbangkan kakak perempuanku ke Malaysia untuk mengunjunginya, juga kerabat-kerabat yang lain. “Pak Enjom meninggal dunia. Emak pun masih sempat takziah ke sana.”

Sinten Pak Enjom, Mak?” tanyaku. Tak melepaskan ayam goring dari gigitan.

“Bapaknya Cukne. Masak kamu ndak tahu?”

“Oh … sialan!”

 

 

18 / 08 / 2012

*Nama-nama tokoh adalah samaran dan sebagian peristiwa diubah tanpa mengurangi esensi dari peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sebagian lagi ditulis sesuai peristiwa sebenarnya.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

4 thoughts on “Pembuat Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s