• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

PACIRAN JAM DELAPAN MALAM: NENEK TUA BERTONGKAT JALAN SENDIRIAN

para perempuan perkasa

Di Paciran, selain fakta bahwa tingkat kematian penduduk usia lanjut sangat tinggi, fakta baru yang lain kudapati juga mengenai kota kecamatan di sebelah lautan ini. Bahwa orang Paciran bekerja keras sampai pada usia yang tua bahkan renta. Aku menyaksikan orang-orang tua tersebut di pagi hari berjalan beriring ke selatan, ke ladangnya, dan baru pulang nanti saat petang menjelang. Para lelakinya membawa parang atau semacam sabit di tangan, para perempuannya memanggul kain berisi bahan makanan dan minuman untuk seharian. Mereka para petani yang tangguh. Para pemanjat pohon siwalan tanpa kegentaran. Para penggergaji saren tulen. Tapi yang kutemui kemudian adalah, sesuatu yang jauh di luar apa yang bisa kubayangkan tentang bekerja keras untuk orang tua. Atau mungkin, semangat hidup menyala yang kekuatannya sanggup mencibir kaum muda yang terlelap dalam kelemahan tanpa daya.

Malam itu, setelah makan dan akan turun ke asrama, dua santri berlari menyongsongku yang baru akan naik ke ruang makan. Wajah mereka memang tidak ketakutan, tapi mereka tercekam. Salah satunya menyebut-nyebut tentang nenek tua yang sangat sangat renta.

Wong tuo, tad. Tuoooo nemen.” Orang tua, Ustad, demikian kata mereka, sangat sangat tua. Dan aku pun melihatnya, sambil membawa tongkat turun menyusuri jalan curam dan rusak. Aku tidak terkejut, tentu saja, karena beberapa minggu sebelumnya aku sudah dibikin kaget demi melihat nenek tua itu berjalan dengan tongkat kayu dalam keremangan. Sendirian, pulang dari ladangnya yang jauh di selatan. Tanpa suara, tanpa penerang, aku terheran-heran bagaimana nenek itu menetapkan langkah kakinya di jalan yang rusak dan berlubang itu. Aku saja masih bisa tersandung dalam berjalan di siang terang, nenek itu dengan santainya menjejakkan kakinya di jalan gronjal di malam hitam. Selain tongkat di tangan, nenek tersebut juga menyampirkan selembar kain menggendong wadah makannya yang—mungkin—telah kosong.

Aku diam di samping kedua santri yang juga terbungkam menyaksikan nenek itu lurus berjalan ke utara, berjalan menuju kegelapan dan hilang dalam rimbunnya belukar. Aku terpikir tentang kerja bakti membabat semak-semak tersebut. Dan ketika anak-anak beranjak kembali menuju asrama, aku pun bergerak menuju tempat makan. Dalam senyap, aku terhenyak oleh sebuah fakta yang baru saja kutemukan: di Paciran bukan hanya kematian yang bertindak dengan sangat mencolok dan mencuri perhatian, tapi semangat kerja penduduknya juga demikian memukau dan mencengangkan.

Aku bertanya-tanya tentang anak-anak dan cucu dari nenek tersebut. Apa yang mereka pikirkan? Tidakkah mereka ingin mencegah neneknya itu terus bekerja di ladang dan pulang pukul delapan malam? Tidakkah mereka berusaha menghentikannya tersu berjalan dalam kegelapan dan hanya duduk saja di rumah menjaga jemuran kacang dari patukan ayam tetangga? Tidakkah mereka menasehati nenek jompo itu untuk diam saja di depan televisi menikmati masa tua dan beristirahat bukannya menyusuri jalan batu dengan tongkat tanpa ada yang menunjukkan jalan? Aku yakin mereka melakukan semua itu. Karena semua orang di Nusantara akan berkata begitu pada neneknya yang tetap ngotot ingin bekerja. Hal yang bisa kusaksikan setiap waktu dari bibiku saat menghadapi nenek yang sibuk memotong kayu dengan parangnya. Tapi mengapa nenek tua itu tetap ‘berkeliaran’? ini rahasia yang lain lagi tentang hari tua.

Yang kutemukan, bahwa usia tua, bagi sebagian orang, tidak berarti sebagai usia pasif dan diam saja. Bagi sebagian orang, usia tua adalah usia yang maha membosankan dan membutuhkan demikian banyak penghiburan. Dan penghiburan yang paling indah bagi orang tua adalah dengan memberi mereka kebebesan penuh untuk melakukan apa yang paling dia akrabi. Yang paling dia hidupi sepanjang hidupnya. Nenekku suka memasak dan membuat jajanan ‘super ringan’, maka beliau selalu ingin punya kebebasan untuk membuat jajanannya: pisnag goreng, gemblong, pasak ubi, sangrai jagung, emput jagung, atau godok talas yang semuanya dimasak di dapur kayu. Di koran sering kutemukan features tentang orang-roang tua yang cekatan dan luar biasa dalam menganyam walau usianya sudah demikian lanjut. Semangat hidupnya mengalahkan fakta usia. Dan ancaman kebosanan membuat bekerja menjadi hiburan yang sangat menghanyutkan bagi beliau-beliau itu. Akan halnya nenek tua di Paciran yang kami jumpai malam itu, adalah salah satu dari orang tua yang tengah menjalani hiburan terbaiknya: menjalani aktfitas paling akrab sepanjang hdupnya. Pastinya keluarga itu mengerti fakta ini. Pastilah mereka mengijinkan nenek itu bekerja dan pulang malam karena tahu itu yang bisa membantu sang nenek menikmati sisa harinya. Karena memang begitulah cara yang dia sukai untuk merayakan anugerah usia panjang miliknya.

Sambil makan, aku terus kepikiran dan sebuah pertanyaan mendekatiku diam-diam: tidakkah sebenarnya itu adalah ulah kemiskinan? Pertanyaan susulan ini demikian menggodaku dan membuatku lambat dalam menyuap. Kemiskinan yang menjerat kita dalam suatu lingkar kerja yang berat dan menyiksa. Kita harus menggeluti ragam kerja yang demikian berat untuk hasil yang tak seberapa. Kita yang dipaksa untuk bekerja dengan resiko tak pernah sepadan dengan hasilnya. Aku teringat pada tetanggaku di Bawean yang bekerja sebagai penyelam dan mati lemas kekurangan oksigen. Itu terjadi pada tengah malam di lautan. Dan bukan korban pertama. Kita adalah warga dari negara yang kebanyakan penduduknya memiliki kerja lebih berat dari kerja penduduk negara tetangga. Atau, jikapun kerja kita sama beratnya—ambillah contoh bekerja sebagai kuli bangunan—maka hasil yang kita dapat selalu lebih rendah dari kerja kuli bangunan negara tetangga—orang Bawean yang bekerja bangunan di Malaysia bisa beli mobil sementara saudaranya yang menjadi kuli bangunan di Bawean masih dalam proses kredit motor bekasnya. Tentang nenek itu, pastinya, rutinitas kemelaratan hiduplah yang sedang dia lanjutkan hingga mencapai usia tubuh renta. Aku mengambil kesimpulan dalam diam. Tapi pelan-pelan, aku juga merasa malu dan agak ketakutan.

Nenek itu telah demikian tua, tenaganya telah bercecer dalam puluhan tahun yang habis dalam beratnya penghidupan, tubuhnya telah tergerus oleh panjangnya penggiling kehidupan yang dia jalankan, tapi, aduhai, kekuatannya tak nampak berkurang banyak. Dia masih saja berjalan dengan lancar dan tak bungkuk dalam curam, gelap dan rusaknya jalan. Itu bentuk kemampuan yang aku tak yakin masih akan bisa kumilki sampai tua nanti. Seketika, aku merasa nenek tua itu usianya jauh lebih muda dari pada usiaku sekarang ini. Nenek itu demikian renta, usianya, sekaligus demikian muda, perjuangannya.

beban di punggung kami bukanlah beban untuk semangat kami

Memikirkan ini, aku pun teringat lagi pada foto yang kuambil beberapa minggu yang lalu. Aku sedang dalam perjalanan ke kota Lamongan, di tengah jalan, ketika sudah jauh berbelok ke selatan melewati pasar Blimbing yang penuh sesak dan sering macet, aku menemui mereka, para wanita perkasa dengan setumpuk raksasa rumput pakan ternak di punggungnya. Mereka berjalan beriring satu-satu. Berjalan terbungkuk. Menyusuri jalanan yang menanjak. Tapi, aduhai, suara mereka masihlah riang menyambutku yang minta ijin mengambil foto. Meyaksikan gunung rumput di punggung mereka, aku tahu hal itu hanya terjadi di negara yang kurang sejahtera. Dan, belum usai, setelah jauh meninggalkan ibu-ibu pembawa rumput tadi, ketika memasuki kawasan hutan, aku kembali mendapati pemandangan mencengangkan itu: seorang kakek tua dengan sepeda onta membawa seikat besar kayu bakar di boncengannya. Bagian yang lain dari kesusahan hidup. Kesusahan yang mengekor kita seakan ular yang tak bisa lepas dari ekornya sendiri. Mungkin terkadang kita perlu meniru cicak, dia tahu kapan harus ‘melepaskan’ ekor untuk memutus masalah.

halo bung, kau berani bersaing denganku membawa kayu ini?

Membandingkan antara nenek tua sendirian di malam Paciran dengan para wanita pengumpul rumput di Blimbing serta kakek tua pengangkut kayu di tengah hutan, aku menemukan beberapa hal yang mengejutkan. Adalah memang benar kita sudah dan sedang menjalani hidup yang berat. Kita tak bisa menolak perkataan bahwa kita sebagai sebuah bangsa tidaklah sesejahtera para tetangga. Itu kenyataan. Dan dampaknya dalam kehidupan dapat kita indera untuk menyaksikan buktinya. Kemelaratan. Gizi yang buruk. Hunian yang terbengkalai. Penegakan hokum yang parah. Penipuan dalam selubung proyek negara. Pekerjaan yang demikian berat. Penghasilan yang tak seimbang dengan segala kesusahannya. Dari mereka itu, fakta-fakta itu, aku belajar menerima kenyataan.

 

Tapi, lebih dari semua itu, aku juga mendapatkan pelajaran berikutnya yang lebih mengesankan: bahwa segala kesusahan yang menguntit tersebut tidak bisa menjadi pembenaran untuk hidup jatuh berkubang dalam keluh kesah dan kemarahan. Untuk hidup dalam pasrah dan menyerah. nenek tua di Paciran yang pulang pukul delapan malam dari ladang tanpa penerangan sepanjang jalan, benar hidupnya susah, tapi dia tidak menyerah. Dia tidak berpasrah dan menunggu saja Izrail melakukan kewajibannya atas dirinya. Nenek itu tetap bekerja tak peduli sekecil apapun hasilnya. Dia tetap saja bekerja tak peduli tenaganya yang renta itu mungkin hanya menghasilkan sangat sedikit ketimbang yang dia harapkan dari ladangnya. Para wanita di selatan pasar Blimbing pun tak menyerah dan pasrah bergantung pada kerja suaminya. Mereka bangkit dengan temannya dan pergi mengambil rumput untuk ternak di kandang. Membawa beban yang sangat berat dan menenggelamkan dirinya. Sementara Pak Tua di hutan, dia tidak hanya duduk mencangklong menghisap klobot dan menyaksikan usianya menguap bagai asap rokok yang menghilang. Tidak, mereka semua bergerak. Berjuang, bertarung. Mereka tak menyerah. Mereka terus berusaha tanpa mendebat dirinya akan berapa banyak hasil yang nanti didapatkan. Yang mereka tahu adalah bahwa hidup butuh semangat dan butuh kerja. Dan itulah yang menjadi alasan mengapa mereka puas dengan kehidupannya. Aku bersyukur bisa mempelajarinya. Aku bersyukur masih menyadarinya. Benar sekali, kesusahan akan selalu ada, tapi yang membuat kita dinilai sebagai manusia bukanlah berapa banyak koleksi kesusahan yang menimpa kita melainkan berapa keras usaha yang kita kerahkan untuk mengatasinya. Terimakasih, Nenek.

Tulisan ini diikutkan lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh komunitas blogger Anging Mammiri bekerja sama dengan Telkomsel Area Sulampapua (Sulawesi – Maluku – Papua)

29 Responses

  1. Keren, kawan. Membaca judulnya saja saya ingin menyarankan ikut lomba blog ini. Rupanya memang ikutan🙂

    Bagus … bagus. Pesaing berat nih🙂

    Oya, saya pun tak yakin (seperti tak yakinnya dirimu) akan menjalani hari tua sekuat dan setangguh mereka. Berhubung sekarang ini, godaan makanan tak sehat membuat diri orang2 berusia kepala 3 mulai terserang kolesterol, asam urat, dll.

    Salut saya sama orang2tua di Paciran sana.
    #Btw, Paciran itu tepatnya di mana ya letaknya? Sy sudah lama tak buka peta#

  2. hehehehe, makasih mbak Niar untuk spiritnya. dan, fakta sebenar dibalik keikutsertaan blog ini adalah karena iri jenengan yang udah ikutan lomba tersebut–juga banyak lomba blog lainnya.

    setidaknya, kali ini saya akan belromba dengan sanga pemenang lomba blog leutika. hehehehehe

  3. keren, Maassssss..

  4. baguuuss tulisannya, om ^^
    semoga menang🙂

  5. Keren, om.
    Semoga menang ya🙂

  6. hadeeuuuh.. dia ikutan jugaa
    mana tulisannya bagus pula

  7. as usual.. tulisanmu apik, Mas..
    Fakta yg kutemukan dari note ini adalah bahwa para pejuang renta itulah the real motivator. Meski motivasi yang mereka suguhkan tidak lewat biaya berjuta-juta dalam ruang ber-AC di sebuah hotel berbintang.

    • makasih mbak linda, tulisan jenengan yg ttg makanan juga apik, bahkan lezat. jika juri lagi lapar saat melakukan penilaian, kayaknya jejengan bisa menang. hehehehehe. ayo semangat

  8. tulisan yg mengkompori kaum muda.semoga aku ikut terkompori secara…aku kan masih muda…xoxoxo..^_^

  9. Wah, saya malah iri sama jenengan lho, sudah punya 2 buku solo kan? 😀
    Oya sudah liat update pesertanyakah … di:
    http://mugniarm.blogspot.com/2012/06/rumput-itu-ternyata.html

    eh bukan di:

    http://angingmammiri.org/update-peserta-lomba-blog-paling-indonesia/

  10. cerita yang sangat kreatif kak. seandainya saja semangat nenek itu juga dimiliki para pemuda maka akan tercipta kerjasama yang baik dalam membangun bangsa. dukung dalam lomba telkomsel.sukses kak

    • makasih Ryan untuk semangat dan dukungannya. semoga bisa menang ya.
      nenek tersebut memang contoh dari semangat indonesia sejati. berjuang dan berjuang dan berusaha menghindari menyushakan orang. ayoh, semangat….!!!!

  11. Selamat mas. Tulisannya bagus, dan saya jadi teringat saat saat SMA melewati daerah paciran. Terus menulis mas.

  12. Selamat kawan. Sudah kubilang tulisan anda bagus.
    Selamat ya sudah jadi salah satu pemenang, ikut senang dan bangga🙂

  13. memang seperti itulah kehidupan di desaku (paciran) meskipun org sudah lanjut usia masi gemar beraktifitas di ladang? kakek aku pun usianya sudah lebih dari 80th masi bisa berkerja di ladang dia jga masi bsa merawat sapi2 nya?? meskipun keladang guna sepeda otel tapi dia tetap bersemangat??

    moga ja dia tetap sesat selalu di rumah.?

  14. maksud aq bkan sesat tpi sehat? hehehe…..

  15. elor ku segoro kidulku ngalas
    wetanku pendil kulonku pencu
    aku nek tengah tengah
    ra wedi ketigo ra wedi lesu
    udan mlayu ngidul
    terang mlayu ngalor
    bancaan ra tau lali
    wiridan iku mesti
    sak mben prapatan warung kopi
    aku ciran ra no seng kurang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: