• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

terjadilah… berulanglah…

dalam sendiri, segalanya akan lebih berarti…

Seperti yang sudah kutetapkan, dan berusaha terus kulakukan, adalah satu tulisan dalam satu hari. Dan aku merasa tenang bisa melakukannya hari ini. Ini rencana yang baik. Tapi juga tidak mudah. Aku akan mendapati bahwa ini tak mudah. Rencana, niatan, keinginan, cita-cita, semuanya tak mudah untuk dipelihara. Dan selalu ada celah untuk jatuh. Kalah.

 

Suatu ketika, ketidak sabaran, kejengkelan, kelelahan, frustasi oleh pertanyaan yang tak pernah berganti, kejemuan oleh tekanan yang tak berubah, akan menjadi segala hal yang membuat pemeliharaan tersebut jatuh tak bernyawa. Apa lagi yang bisa dilakukan? Usaha mungkin akan berakhir begitu saja. Atau entahlah. Apa yang akan terjadi? Tidak ada yang tahu. Apa yang hendak dijelaskan? Tidak ada yang menduga.

 

Mungkin memalukan. Atau tidak. Atau tak pernah. Atau bertanya. Atau kehilangan. Atau bukan lagi sesuatu yang akan dipegang. Atau hancur. Atau berantakan. Atau berkecai. Atau memercih. Atau berkeping. Atau nampes tabor. Mengapa tidak bertahan? Mengapa tidak terus berdiri? Mengapa mundur? Mengapa memeilih tergelincir?  Mengapa mendidh? Mengapa kehilangan? Apa yang sedang dilukiskan?

 

Bukan kesombongan. Atau keengganan. Tapi hanya aku tak tahu. Aku tak bisa menjelaskan. Mengapa begitu susah untuk memelihara? Melihatnya jatuh meluncur. Menyaksikannya bukan lagi milikku. Atau, tak lagi bersamaku. Banyak sudah, berbagai cerita. Berbagai peristiwa. Kehilangan dan tahu itu akan begitu berulang. Seperti garis hitam pada tubuh zebra yang jatuh mendekati kematian. Hitam itu tampak kebanyakan dan menyesakkan. Aku merasa ada batu di tenggorokan. Dan garam di mata. Aku merasa hilang.

 

Mengapa begitu susah untuk memelihara?

 

Megapa itu selalu terjadi? Mengapa selalu berulang? Pada detik ke tiga. Pada menint ke Sembilan belas. Pada jam ke dua puluh. Pada hari ke tujuh ratus. Pada minggu ke tiga ratus dua puluh lima. Mengapa selalu terjatuh dan tak bisa lagi mencari pegangannya? Mengapa seperti hujan: jatuh tak tertahankan? Atau seperti dedaunan. Yang menguning. Merapuh. Dan menghilang. Pohon itu pun habis takbersisa. Kemana bekasnya? Tidak bisakah bersemi lagi? Atau memang takdirnya untuk pupus? Mengapa sangat sulit untuk memelihara?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: