Posted in sastra

pelayaran perantau

akan begitu jauh…akan sangat lama…akan begitu mengiba…

Ketika dia berpaling untuk menaiki kapalnya, dia pun tahu bahwa dia tak kan bisa kembali lagi. Perasaan itu datang begitu saja. Perasaan itu, adalah firasat yang akan selalu dimiliki para perantau ketika dia untuk pertama kalinya berlayar melintasi lautan. Walau sebagian tak merasakan firasat tersebut, tapi kebanyakan tidak mengindahkannya. Harapan untuk segera pulang selalu berhasil mengatasi segala macam firasat menghilang yang datang bersama tiap deburan gelombang. Hantaman angin. Dan goncangan tak berpenghabisan. Jika seseorang bisa menemukan cara untuk menekan rasa takutnya ke dasar yang paling jauh sampai dia tak bisa lagi merasakan dengungnya, dia akan melakukannya. Di situlah firasat mati rasa.

 

Orang-orang tak langsung pergi kembali. Mereka masih berdiri. Di tepi. Di ujung dermaga. Dengan lambaian tangan. Dengan sapi tangan yang basah oleh air mata. Dengan pekikan nama. Dengan dengkingan tangis. Dengan pundak yang berguncang. Dengan kaki yang gemetar. Dengan tubuh yang limbung. Dengan lutut yang letih. Dengan pandangan yang merepih. Dengan bunyi yang makin memencil. Dengan silau yang tak lagi memukau. Dengan doa. Dengan harapan. Dengan ketakutan. Terlebih, dengan ancaman ketakpastian. Waktu, ruang, keterpisahan, semuanya membeludak dari tumpah ruah dari gudangnya dan menimbun mereka seketika. Kerinduan memuncak. Kegetiran meledak. Mereka adalah gerombolan manusia yang semakin tertinggal di ujung mata  gerombolan lainnya. Menjadi gerombolan yang ditinggalkan adalah menjadi rombongan orang-orang yang merasakan tikaman kehampaan. Itu adalah mata pisau kesedihan.

 

“Pulau itu…lebih kecil dari dugaanku,”

“Kapal ini membuat kita tertipu. Kita semakin jauh, bukan?”

“Eh, ya. Tapi bukan itu maksudku. Kupikir dia tidak akan mengecil secepat ini.”

“Ini sudah…36 menit.”

“Tiga puluh enam menit…”

“Aku merasa ini lebih lama. Kupikir aku akan baik-baik saja, tapi begitu tubuh mereka semakin mengecil, suara mereka semakin hilang, dan akhirnya dermaga itu raib membawa mereka serta, aku menangis. Heh, aku tak sadar aku menangis.”

“Aku juga.”

“Apakah, kita akan begini terus selama tiga tahun? Tiga puluh enam menit sudah terasa menyakitkan.”

“…..aku ingin kembali, dan menikahinya.”

“Aku ingin menggendong putraku. Aku khawatir ibunya tak bisa menidurkannya selama dua minggu nanti.”

“Aku…aku juga khawatir,”

“Kenapa?”

“Kalau dia dinikahi orang yang akan diangkut pulang oleh kapal yang sedang membawa kita sekarang.”

“Itu selalu terjadi.”

“Selalu menyakitkan.”

“Hff…aku rindu anakku.”

“Aku tak yakin bisa menikahinya…”

“…….”

 

Kehilangan adalah perasaan yang paling menyakitkan saat kita mengingat betapa ia demikian berharga. Tapi kita tak selalu bisa berbuat jujur. Kejujuranmu adalah kau tak ingin pergi, kau tak ingin merantau, kau tak ingin menjauh, kau tak ingin menghilang, kemanapun. Tapi kau merasa itu harus terjadi. Karena banyak alasan. Karena banyak yang terasa tak terelakkan. Dan ketika kau mengingat kembali semua kesayanganmu di tanah yang jauh, kau tahu kau tak bisa berpura-pura tak rapuh. Menangislah. Meragulah.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s