• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SEBUAH KOTA SERTA MANUSIA SEPANJANG HUJAN KESANGSIAN

sebelum aku terdiam, aku akan terus berjalan

Dia mulai menghindari pohon gernicya bahkan makanan karena segala hal sekarang mengingatkannya pada kesedihannya. Dia tidak lagi berani berlama-lama di subuh remang sebelum matahari mengambang, karena di hatinya, keremangan itu, kemuraman itu, kedinginan dan kabut itu, adalah perih yang melayang-layang dan menggiris pucuk-pucuk kesadarannya. Dia pun lari dari ambang pagi. Setiap hari.

 

Sementara dia mengira panas matahari bisa melakukan sesuatu, dia pun tahu bahwa itu hanya dugaannya saja. Tidak ada apa-apa terjadi terhadap dirinya beserta kesedihannya. Matahari itu hanya memperhitam kulitnya dan membakarnya, tapi tidak racun yang tersembunyi di dalam dadanya. Dia masih dingin dan beku, lalu retak layaknya bongkah es yang dihantam palu dan remuk. Bersiap untuk runtuh. Dia pun menjauhi matahari panas karena tahu menyiksa dirinya hanya sia-sia dalam usaha untuk mengobati lukanya.

 

Senja, tak pelak lagi, adalah sumber segala kesengsaraannya. Matahari yang jatuh terperosok dalam garis hitam ujung lautan memberinya kesan pasti bahwa segalanya memang akan berakhir dan dia hanya bisa mengiringinya dengan lagu duka lara. Tanpa pilihan lain, tiap kali malam tiba menggantikan kepedihan senja, lelaki itu pergi ke kedai paling ramai dan menghabiskan malam-malamnya dengan domino dan kopi yang tiada habisnya. Dia berpendapat, kesedihannya adalah akumulasi dari kesepian dan kehampaan yang mengkarat dan akhirnya membuat jiwanya sekarat. Dia butuh hantaman keras. Dahsyat. Dia butuh sesuatu yang demikian kiatnya menjejak batinnya sehingga runtuhlah kesedihannya itu. Dan entah apa yang membisikinya, dia tanpa sadar menaruh harap bahwa begadang dan keramaian orang-orang adalah dewa penyelamat yang dia butuhkan. Untuk merenggutnya dari mati karena merasa tak terselamatkan.

 

Malam-malam pertama dia menjalani begadangnya itu dia selalu kalah dalam permainan domino. Bahkan ketika menghadapi anak kecil yang dibawa ibunya ke sana untuk menjemput suaminya yang kedapatan tertidur di bawah meja setelah empat hari lima malam tak pulang, dia kalah. Untunglah dia tidak berjudi karena memang orang di sana tidak ada yang berjudi, hanya saja, dia menjadi bahan tertawaan yang populer dan namanya pun mulai dipakai sebagai kata ganti dari: kesialan, kemalangan dan kebebalan. Menyadari dirinya sakit hati dan marah oleh hinaan tersbeut, dia mendapatkan apa yang dia cari-cari selama ini. Sesuatu yang bisa mengelabui pikirannya dari kenyataan bahwa dia bersedih. Dia merasa bahagia, walau belum bisa menghapus kesedihannya, dia merasa senang karena telah berhasil menekannya ke titik terendah dari lobang perasaan yang dia punya.

 

Akan tetapi, di malam ke 235 begadangnya itu, dia pun untuk pertama kalinya mengalahkan lawan main dominonya, seorang lelaki tua penggila domino yang mengaku masih keturunan jenderal besar pemimpin perang revolusi dan mati dibom oleh tentara lawan. Lelaki tua itu meraung dan menjerit frustasi dan roman kecewanya itu memberi gambaran pada si lelaki bahwa kira-kira seperti itulah wajah jenderal kakek buyutnya sewaktu mati ditimpa bom. Hancur bersama jeep militernya.

 

Dan sejak malam ke 255, dia pun tak terkalahkan lagi. Dia memulai malam harinya dengan berlari-lari kalap dari pinggir pantai yang memuram karena senja. Begitu ia sampai di kedai langganannya itu, yang menyediakan papan domino di tiap meja panjangnya, dia pun berseru riang pada perempuan pembuat kopi untuk membuatkannya kopi satu gelas besar dengan irisan jahe besar-besar yang sudah dibakar sampai memar. Lalu dia pun mulai duduk dengan siapa saja yang masih tak percaya bahwa dia tak terkalahkan. Kemenagnanya terus berlanjut sampai pada malam ke 1221. Pada malam itu, si perempuan pembuat kopi—yang anehnya tidak pernah terbentuk kantung mata di bawah kelopak matanya—menanyainya dengan tawa berderai karena kagum—si lelaki mengalahkan musuhnya hanya dalam waktu 6 menit, kapan kau terkahir kali kalah bermain domino? Sebagai akibatnya, lelaki itu, yang sudah kita ikuti kisah hidupnya selama ini, pergi meninggalkan kedai kopi itu menyendiri ke pinggir pantai. Malam itu berubah menjadi sangat tak nyaman karena tiba-tiba saja dia sadar. Sadar bahwa dia lupa.

Dia lupa kapan terakhir kali dia kalah dalam permainan domino. Yang dia ingat hanya ukuran waktu tak pasti bahwa peristiwa itu sudah sangat lama terjadi. Dia lupa kapan tepatnya. Dan, ketika hatinya sudah agak tenang, dia pun sadar bahwa dia pun telah lupa bahwa hatinya sedang bersedih gundah gulana. Setiap hari dia kabur dari pantai senja bukan lagi karena kesedihan yang menikam bunuhnya, tapi karena dia tak sanggup menunggu untuk melampiaskan nafsu begadangnya yang sudah menguasai seluruh pikirnanya. Kesedihannya telah musnah berganti gairah yang tak direncanakan. Dan itu membuatnya bertanya-tanya, apakah artinya aku tanpa kesadaran akan kesedihan itu? Kalau pun aku akan meninggalkan perasaan itu, setidaknya aku harus tau bahwa aku sadar melepaskannya. Bukan kehilangannya seperti malam ini.

 

Dia pun tak pernah muncul lagi di kedai kopi. Di meja domino.

 

Lelak itu pergi ke sebuah kota yang tertulis di brosur-brosur wisata sebagai kota dengan hujan panjang tiap tahunnya. Kota itu, sesuai catatan buku sejarah yang tak lagi dipakai di sekolah-sekolah, dulunya adalah kota pusat perdagangan penjajah yang kemudian direbut oleh para tentara revolusi dengan cara membunuh jenderalnya sendiri. Mengebomnya saat sedang mengendarai jeep militernya untuk inspeksi ke sebuah tangsi. Kemudian hari, diketahui bahwa pemimpin penjajah penguasa kota itu demikian benci pada jenderal sehingga rela melepas kotanya demi kematian sang jenderal karena dia mendapati istrinya kabur bersama jenderal berkumis lebat itu. Di buku-buku sejarah yang baru, yang sekarang dipakai anak-anak sekolah dan bisa dipinjam di perpustakaan, disebutkan jika jenderal itu mati akibat jeepnya melindas ranjau yang dipasang tentara musuh. Dan sisi dramatisnya adalah: jenderal itu baru saja berhasil menyelamatkan seorang wanita pribumi mata-mata revolusi yang disekap dan dipergundik si pimpinan penjajah.

 

Lelaki itu ingin tinggal di kota hujan tersebut. Karena di sana segala kesangsian bertahta bahkan berkuasa. Kesangsian akan jati diri, akan kebenaran sejarah, akan kenyataan yang terjadi sesungguhnya, segalanya. Dirinya yang sangsi membutuhkan segala hal yang sangsi demi menghangatkan keputusasaannya. Agar dia tidak terlalu merasa sendiri dan sepi.

 

28/05/2012

Advertisements

2 Responses

  1. seperti biasa, tulisannya harus dibaca pelan-pelan dan dipahami benar-benar 😀

  2. hehehe, makasih mbak. semoga jengnan tidak sedang keburu2 tiaqp kali masuk ke blog ini. thanks mbakkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: