• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Bahkan Debu pun Mengkhianatiku

dan aku pun tak bisa menulis di sana…

Kadang aku bisa merasakan adanya dorongan yang sangat kuat untuk menangis. Aku tak bisa mencegahnya. Ia datang begitu saja dan aku pun sesenggukan di malam buta saat semua orang terlelap dalam tidur tak gelisah mereka. Ketika itu terjadi, yang kurasakan adalah seakan aku sedang memasuki suatu segmen penyucian diri yang menyesakkan. Segala hal terasa murung dan keterlaluan. Kesedihan membungkus semuanya. Dan aku hanya bisa merenung-renungkan semua itu dalam pikiran letih dan isakan yang semakin merepih. Aku menggapai dan tahu itu tak akan sampai. Dan rasanya ada cuilan-cuilan yang copot dari tempatnya. Dari dalam hatiku.

 

Mungkin orang lain akan pergi merokok ketika trance ini mencekiknya, tapi aku tidak merokok. Aku juga tidak mengendarai motor. Aku pun tidak menelepon. Aku juga tidak pergi nonton. Aku pasrah. Membiarkan badai dan gelombang itu meyeretku kemanapun dia mau. Aku memang memahaminya sebagai bagian dari kekakuanku: butuh untuk hanyut dalam kelemahan dan larut dalam sedu sedan sedalam-dalamnya. Biasanya, di ujung semua itu, aku akan merasakan lega. Walau tak jarang, yang terjadi hanyalah aku jatuh tidur karena kelelahan tanpa ada yang menjadi baikan. Terlupakan dan tanpa kekuatan.

 

Suatu ketika, setelah demikian lama tak mengunjungi dan bertemu sahabatku yang pernah demikian akrab denganku, aku pergi ke rumahnya dengan keinginan berjumpa yang sangat membara. Aku ingin berbincang lagi dengannya. Berharap dia belum kehilangan caranya tertawa yang gila dan bisa meruntuhkan tidak hanya atap rumah tapi juga benteng keterpurukan dalam diriku. Aku tiba di rumahnya mungkin sekitar pukul empat sore. Dan pintunya tertutup rapat. Tirainya menjuntai. Dari celah yang sempit, aku mengintip ke dalam. Semua lampunya padam dan tak tampak ada siapapun di sana. Aku merasakan dingin yang menggila. Aku merasakan irisan yang semakin lama semakin nancap. Aku, merasa patah dan kehilangan. Dalam keadaan tak menentu tersebut, aku masih mengetuk pintunya berkali-kali berharap dia atau siapapun dari keluarganya sedang tertidur di kamar dan akan mebukakan pintu. Setidaknya aku ingin meninggalkan pesan pada kawanku itu. Menyadarkannya bahwa aku masih mengingatnya dan datang mencarinya. Tapi tak satu orang pun menyahut. Tak satu orang pun keluar. Bahkan tidak tetangganya.

 

Benci untuk pergi dengan sia-sia, aku akan meninggalkan pesan di kertas yang akan kusorokkan lewat bawah pintunya. Tapi, untuk suatu kemalangan yang aneh, hari itu aku justeru tak membawa buku catatan kecilku. Tak ada kertas untuk kutulisi dan kutinggalkan. Tapi aku belum ingin menyerah, aku memikirkan apa kira-kira yang bisa kupakai untuk meninggalkan pesan buat sahabatku itu, dan aku pun menemukan ide: debu di kaca! Aku akan menulisi sisi luar kaca riben ruang tamunya dan yakin dia akan membacanya saat membuka pintu hendak masuk rumah. Setahuku, orang-orang hanya membersihkan kaca luar rumahnya dua kali setahun: saat akan hari raya. Dan, ketika aku menggoreskan ujung telunjukku ke kaca hitam tersebut…

“Bahkan debu pun mengkhianatiku…” Aku bergumam dalam kelukaan yang mengerikan. Kaca itu bersih. Murni. Tak ada setitik debu pun di sana. Dingin dan kesat. Dan aku pun pergi dari rumahya dengan hasrat menangis yang susah payah kutahan-tahan agar orang di jalan tidak memelototiku keheranan. Hanya saja, ada yang belum kuketahui, bahwa apa yang kualami hari itu belumlah semuanya.

 

Malamnya, tertekan oleh kesedihan yang tampaknya tak akan usai, aku mulai mengontak nomor temanku. Itulah satu-satunya yang bisa kupikirkan. Dia lah satu-satuya yang bisa kuputuskan untuk kuajak bicara. Teman yang sudah beberapa bulan hilang. Tapi televisi melakukan hal yang mengerikan, aku telah memencet channel yang salah. Di situ sedang diputar film India, dengan tokoh utama yang kami suka dan kami pun senantiasa menyanyikan lagunya tiap kali berjumpa. Lagu lama yang selalu kami nyanyikan dengan kegembiraan dan melupakan beban-beban. Akan tetapi, terlampir kembali kepada kenyataan bahwa dia pun menghilang, aku pun hancur. Air mata itu menumpah ruah. Kehilangan itu terasa benar di sekat-sekat dadaku. Dan ketika teleponku diangkat, aku bicara terbata-bata sambil menangis. Di ujung sana, ibu sahabatku itu kebingungan mendengarkan dan akhirnya memutus teleponku.

“Bahkan telepon pun menipuku.”

 

Tiap kali tangisan itu usai, aku bernafas lega, walau terkadang tidak ada apa-apa yang teratasi. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, menangis membuatku merasa seperti mengalami upacara penyucian dan penjujuran. Pada kegelisahan, pada kesepian, pada kerinduan, pada kekacauan, pada hakikat sebenarnya sebagai pribadi yang tak sempurna. Pribadi yang bisa saja dilemma.

 

Salah satu yang bisa membuatku terjebak demikian susahnya adalah pilihan. Pilihan adalah jalan bercabang yang meragukan sekaligus menyulut harapan. Mungkin, akan ada satu dua orang atau mungkin jutaan yang akan menyarankan agar berbuat yang baik dan jujur saat membuat pilihan. Dia salah. Mereka salah. Semuanya salah karena mereka melupakan hakikat kejujuran dan kebaikan yang sebenarnya: berbuat jujur selalu berkaitan dengan diri sendiri sementara berbuat baik lebih seringnya berkenaan dengan orang lain. Ketika aku berbuat jujur, jelas aku telah berbuat mulia atas nama diriku sendiri. Kejujuranku akan membawaku pada kualitas tertentu untuk diriku pribadi. Dan bisa jadi aku merugikan orang lain karena kejujuranku itu. Tapi, jika aku berbuat baik, orang lain pastinya akan senang dan mendapatkan manfaat dari perbuatan itu. Ketika aku berbuat baik maka aku memberikan manfaat dariku untuk orang lain yang berkaitan dengan kebaikan itu. Tapi aku harus bersiap untuk menganggung resiko terluka sendiri. Aku harus menerima jika ada yang hilang dariku demi kebaikan itu. Lantas mana? Apa? Bagaimana? Apakah kita, aku, harus berbuat jujur atau berbuat baik saat menentukan pilihan?

 

“Bahkan sifat terpuji pun mengkhianatiku.”

 

31/05/2012

Advertisements

2 Responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: