• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SEMUA HAL YANG BERUBAH DAN DITINGGALKAN

segalanya terus berubah dan tergantikan. terlebih lagi waktu…

Bahkan saat usiaku belumlah sampai sepertiga abad, jika kupikir-pikir, aku justeru telah menyaksikan perubahan demikian hebat pada dunia dan kehidupan. Hanya saja aku cuma mengingat beberapa, lupa sebagian besarnya dan tidak tahu lebih banyak lagi. Kali ini aku ingin sejenak mengajak Anda jalan-jalan, melewati lorong usiaku dan apa saja yang kusaksikan itu. Segala perubahan dan kehilangan.

Samuel Finley Breese Morse, atau lebih seringnya dipanggil Samuel Morse, menemukan telegraf pada tahun 1837 dan ketika aku sudah memasuki bangku sekolah dasar tahun 1994, telegraf telah menjadi media komunikasi yang sangat jarang digunakan. Setidaknya begitulah yang terjadi di tempat tinggal ku waktu itu, Pulau Bawean. Aku hanya mendengar cerita-cerita dari kakek-nenek serta ibu tentang telegraf. Mereka menyebut-nyebut nama barang itu saat mengenang bagaimana ‘dulu’ orang-orang ingin mengirim kabar dengan cepat pada kerabat di tempat yang jauh.

Suatu ketika seorang tetangga yang suaminya bekerja di Samarinda mendapatkan tele mengabarkan suaminya telah meninggal di sana. Orang serumah dan sanak keluarga menangis sejadi-jadinya. Kesedihan dan sakit hati menancap menyayat. Menjemput mati sebagai orang asing di tanah asing adalah kengerian yang tak bisa dibayangkan oleh kami orang Bawean yang komunal. Tahlilan digelar sampai tujuh hari dan tepat pada hari ketujuh, suaminya yang mati itu pun sampai ke rumahnya, dalam keadaan masih hidup dan keheranan mengapa ada upacara kematian.

Sapa he mate?” dia bertanya pada istrinya, ingin tahu siapa yang mati dari keluarganya.

Aku tertawa mendengar cerita tersebut. Lebih lucunya lagi, karena si suami yang ditahlili itu sering kutemui duduk di atas pagar beranda rumahnya dengan perut tambun terbuka. Saat dia naik sepeda motor vespanya, semua orang sepakat jika motor itu sungguh sangat kekecilan.

Di sekolah aku pun mulai tahu sedikit banyak tentang telegraf, mesin komunikasi yang telah menjadi sejarah tersebut. Orang bisa mengirim tele lewat kantor pos dengan biaya ditarik dari tiap karakter yang digunakan. Itulah mengapa pengguna jasa telegraf harus menghemat kalimat untuk mengurangi pengeluaran. Akibatnya, salah paham sangat besar peluangnya untuk terjadi. Sebenarnya si suami mengirim tele yang mengabarkan bahwa dia meninggalkan Samarinda tanggal 23, Badrun meninggal samarinda tgl 23, tapi istrinya yang kurus dan mudah panik segera terpukau oleh kata meninggal dan menangis meratap menyimpulkan bahwa itu adalah telegraf kematian suaminya.

Maka itulah yang terjadi, telegraf, sarana komunikasi cepat yang sangat prestisius sejak masa penemuannya, telah menjadi alat yang ditinggal semenjak aku masih kanak.

Lantas apa pengganti kotak morse tersebut? Orang-orang mendapatkan pengganti yang lebih nyaman dan terpercaya sekaligus memuaskan. Kerinduan orang yang terpisah bisa dihantar dengan utuh sekaligus emosional. Mereka tak lagi berkomunikasi dengan imej perantara reflektif berupa huruf-huruf hitam tapi langsung dengan suara yang terdengar. Pada jaman kanak-kanakku itu, orang-orang terpesona oleh: wartel, warung telepon.

Wartel di Bawean pada masa itu hanya ada di Sangkapura, kota kecamatan terbesar di pulau yang hanya memiliki dua kecamatan itu; satunya lagi kecamatan Tambak. Jika kami ingin menelepon keluarga di Malaysia, kami akan pergi bersama dua atau tiga keluarga lainnya ke tempat wartel tersebut. Kami harus mencarter mobil untuk bisa ke sana.

Pada masa itu, wartel demikian populer dan urgent dalam kehidupan kami. Tak satu pun dari kami orang Bawean yang merantau sudah menjadi tradisi turun temurun sanggup membayangkan akan ada sesuatu di dunia ini yang bisa menggulingkan kejayaan wartel. Tapi itulah yang terjadi. Memasuki tahun 2004-an, gejala keruntuhan wartel mulai tampak. Telepon genggam mulai dimikiki oleh banyak orang. Untuk bicara dengan sanak keluarga di Malaysia tak lagi harus mencarter mobil dan pergi ke Sangkapura. Kotak komunikasi sudah tergenggam di tangan. Dan akhirnya kini, delapan tahun kemudian, aku tak lagi menemukan ada wartel buka di Bawean.

Saat pindah ke Jawa, mengikuti kegemaranku jalan-jalan ke tempat-tempat baru dan asing, aku menemukan banyak kamar-kamar di luar rumah yang mangkrak tak berguna. Dari catnya yang kusam dan tempelan hurufnya yang mengelupas tampak sekali jika kamar-kamar itu sudah lama tak dijamah orang; tak dipedulikan pemiliknya dan tak dikunjungi tetangganya. Namun demikian, siapapun masih bisa membaca tempelan nama pada dinding luar kubus-kubus tersebut: WARTEL.

Kadang aku merasa penasaran, berapa persenkah dari anak SMA kelas sebelas yang mengenal wartel? Dan butuh berapa tahun lagi agar wartel benar-benar menjadi barang asing bagi remaja negara ini? Seandainya bukan karena pelajaran fisika dan sejarah, mungkin sekarang akan sangat langka menemukan siswa SMA yang mengenal telegraf. Hal serupa tampaknya akan terjadi pada bisnis wartel, dan, akan segera disusul oleh warnet.

Jasa telegraf gulung tikar setelah wartel datang. Dan kini nasib menjadi tersejarahkan pun menimpa bisnis wartel setelah HP menjadi barang umum masyarakat. Warnet, yang saat ini menjadi bisnis sangat menggiurkan dengan tingkat kelarisan sangat tinggi, tinggal menunggu masanya untuk mengalami nasib serupa. Murahnya harga HP berinternet dan semakin canggihnya alat telekomunikasi mungil tersebut akan berkontribusi besar dalam pengeliminasian bisnis warnet, disamping juga keberadaan modem dan semakin memasyarakatnya pemasangan jaringan internet di rumah-rumah.

Perubahan lain yang kualamai dalam usia yang masih sedikit ini adalah pergantian mata pelajaran sekolah. Baik itu berupa pergantian nama atau peleburan. Siapa di antara Anda yang tahu arti PMP? Apakah PMP menurut, Anda? Itu adalah akronim dari Pendidikan Moral Pancasila. Di kemudian hari, PMP berubah menjadi PPKN. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan pengantian tersebut, apakah karena menteri pendidikan yang baru merasa terlalu memboroskan sumber daya, dana dan masa jika para siswa harus bolak-balik belajar moral dengan sumber yang beragam dan pondasi berkebalikan sedangkan tujuannya tetap sama saja untuk perbaikan moral? Mengapa kau berkata jujur? Tuhanku menyuruhku. Lalu, mengapa kau membantu nenek itu? Karena burung garuda menyukai itu. Atau mungkin, pergantian itu dikarenakan sang menteri baru yang lebih visioner dari menteri sebelumnya: Pancasila bukan sekedar teori, tapi Pancasila adalah pandangan hidup, ideologi. Setelah agak lama, PPKN pun berubah menjadi nama yang sangat ringkas: PKN. Hal yang sama juga terjadi pada pelajaran sejarah. Dulu aku mendapatkan pelajaran PSPB—sepertinya itu kudapatkan sewaktu masih sekolah dasar; aku lupa kapan tepatnya. PSPB merupakan singkatan dari Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Kemudian dia pun menghilang diganti dengan pelajaran sejarah saja, yang mencakup sejarah alam, sejarah kehidupan purba, sejarah kerajaan-kerajaan lama di dunia dan Indonesia, sejarah masuknya Islam ke Indonesia, sejarah penjelajahan dunia dan perang dunia, sejarah penjajahan di Indonesia, serta beberapa potong sejarah yang tidak teralu lama berselang.

Dulu aku menyukai pelajaran sejarah karena hobi membacaku dan kegemaranku pada kisah-kisah menakjubkan. Sekarang, aku mengagumi sejarah karena menyadari betapa cepatnya manusia melupakan segala sesuatunya. Pelupaan-pelupaan tersebut menghasilkan demikian banyak kehilangan yang tak berhingga: kehilangan ‘tanda bahaya—kewaspadaan’ dan kehilangan pengetahuan. Semakin ke sini, minatku terhadap sejarah semakin menguat. Aku akan sangat berbahagia dan akan sangat berterimakasih pada siapapun juga yang bersedia meminjamiku buku-buku sejarah, pinjaman selama sebulan akan sangat memuaskan bagiku; apalagi jika sekalian dberikan!

Awal kali masuk kuliah, pertengahan tahun 2005, aku sama sekali belum mengenal internet. Mungkin aku sudah mendegar namanya dari film-film tapi aku samasekali belum pernah melihat ‘wujudnya’. Beberapa tahun kemduian, aku mendapati orang-orang ramai membicarakan friendster, sebuah jejaring sosial di dunia maya. Waktu itu aku sudah memiliki email dan sudah berkirim email tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan friendster. Yang kusaksikan, pembicaraan tentang friendster demikian marak dan bergairah hingga akhirnya aku menyadari ada perubahan intensitas dalam perbincangan tersebut sebagai pertanda bahwa kini ada sesuatu yang telah berhasil menumbangkan dominasi jejaring tersebut, bertindak mengambil alih pengaruh: facebook.

Aku yakin, 30% dari pengguna facebook di indonesia saat ini sama sekali tidak mengenal friendster. Padahal, pada awal mulanya orang sama sekali tidak mengenal facebook. Orang demikian cepat melompat pindah akun dari friendster ke facebook sehingga mereka yang sebelumnya tidak tertarik dengan friendster tiba-tiba dengan gairah yang sangat besar ikut membuat akun facebook. Aku salah satunya.

Ada banyak hal lagi yang kusaksikan ada kemudian menghilang. Di kantor desa yang lama di Kumalasa—desaku di Bawean, saat aku masih kelas dua atau tiga sekolah dasar, aku menyaksikan benda itu dengan penuh kekaguman: kentongan kayu besar bercat biru dengan rongga di tengahnya tempat menaruh kayu pemukulnya. Dia terbaring di lantai tak berdaya. Dua atau tiga tahun kemudian aku sudah tidak melihatnya lagi di sana. Bekas kantor desa telah berubah menjadi rumah penduduk. Kentongan yang tadinya tergeletak tak terurus sudah hilang entah ke mana atau entah bagaimana: dipindah ke dusun sebelah, hancur oleh hujan atau musnah sebagai kayu bakar. Yang pasti, dulunya kentongan itu demikian berkuasa dalam kehidupan masyarakat desa Kumalasa.

Ada beragam jenis pukulan kentongan dengan beragam pesan yang dihapal para penduduk desa. Tapi aku tak tahu satupun. Yang kutahu hanyalah bahwa pukulan bertalu-talu tanpa jeda merupakan pertanda bahaya. Kentongan pensiun begitu TOA berhasil masuk desa. Pengeras suara itu bertengger di puncak kubah masjid dan menggema lantang setiap kali seseorang mulai bicara pada mikrofon di bawahnya. Di dekat mimbar jum’at. Dan kengerian terasa demikian mencekam saban kali lelaki tua itu mengawali pengumumannya dengan kalimat: assalamu ‘alaykum warahmatullahi wa barakatuh…setelah kalimat salam itu yang terdengar adalah kaimat istirja’, kalimat penanda kematian. Di Bawean pengumuman menggunakan salam hanya untuk pengumuman kematian, karena itulah salam yang yang menggaung di angkasa saat malam buta selalu membuatku ketakutan.

Waktu masih kecil aku juga lumayan sering menonton layar tancap. Setiap kali ada hajatan besar, baik itu pernikahan atau khitanan, atau perayaan tujuh belas agustus, orang-orang menggelar layar tancap. Film-film laga Barry Prima adalah idola segala usia. Itu sungguh keajaiban  yang luar biasa. Kain putih besar di bentang di antara dua tiang menjulang, ratusan orang menggelar tikar dan duduk bergerombol di depan layar besar tersebut, para penual makanan dan mainan merajalela di sekitar mereka. Tidak pernah ada dalah kehidupan masa kecilku saat yang semenakjubkan itu: duduk bergerombol dengan orang se desa, di depan kami layar putih yang luar biasa, sementara di sekeliling adalah para penjual kegembiraan dan kelezatan: mainan dan makanan. Di belakang para penonton, sebuah mesin berputar tanpa henti menggulung pita besar dengan moncong menembakkan cahaya terang menghantam layar di depan, dan, di sanalah, di layar putih itu, semuanya terjadi: Barry Prima berlompatan menghajar Advent Bangun sambil mengeluarkan jurus sakti yang membuat tangannya berlipat jumlahnya menjadi seribu! Advent Bangun pun terkapar tak berdaya. Para penonton bersorak bahagia dan puas setelah satu jam dicekam ketegangan dan kekhawatiran. Mereka hiruk pikuk mengelu-elukan sang jagoan yang berhasil menang dengan perjuangan panjang. Sekarang, aku tidak pernah lagi menyaksikan yang seperti itu. Tidak ada lagi tiang tinggi di ujung lapangan. Tidak ada lagi kain putih membentang. Tidak ada lagi proyektor berputar-berpendar, tidak ada lagi derum mesin diesel menyalakan listrik. Tidak adalagi raungan TOA mengeluarkan teriakan maut tokoh utama. Semuanya telah berganti dengan satu layar kaca kecil bertengger bosan di atas meja. Tiga atau empat orang yang menatapnya duduk bungkam. Kadang bahkan hanya sendirian. Tidak ada keriuhan. Tidak ada teriak kemenangan bersama. Tidak ada gegap gempita kepuasan. Desa-desa tak lagi ramai dengan TOA membacakan syair-syair maut Arya Dwipangga. Tapi hanya suara lemah dari kotak-kotak kaca yang memancar di tiap-tiap rumah. Saat malam, desa-desa itu sepi karena semua orangnya sedang dihipnotis dan tak sadar apa-apa.

Pastilah masih ada jutaan atau setiaknya ribuan perubahan lain yang terjadi selama dua puluh tahun ini, tapi aku tidak mengetahuinya. Tulisan ini hadir untuk mengajak Anda mengingat, mengenang sejarah, melihat masa lalu, membuat perbandingan, menemukan di mana kesenangan lebih besar ditemukan. Dan jika Anda mendapati hal-hal menarik di masa lalu, aku ingin mendengar Anda bertindak untuk  membawa kegembiraan itu datang kembali ke masa depan, kemasa ini. Dan bagi Anda yang menemukan perubahan-perubahan lainnya yang belum aku sebutkan di sini, tolong tunjukkan padaku. Aku sangat penasran untuk mengetahuinya. Dan mencatatnya.

24/05/2012

Advertisements

2 Responses

  1. Aku tidak melihat kuliner disebut-sebut. Bukankah kau pemakan segala, wahai Arul Chandrana? Tidakkah kau mengingat kudapan yang dulu menjadi kegemaran semua bocah kini berubah menjadi burger, pizza, crepes, dan sebangsanya? Dan itu menjadi jajanan umum di sekolah-sekolah masa kini.

  2. oh iya, aku tiba2 terkejut dan merasa bersalah mbak, kok bisa2nya melupakan pembahasan tersebut. hehehehe, kayaknya lain kali deh saya bicarakan lagi, insya Allah. secara khusus dan tajam, setajam sembilu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: