Posted in nebula, think

MATINYA WAKTU

(jika ada sesuatu yang paling fana dan cepat musnah di alam raya, dia adalah waktu)

Part One: The Shortest Life On Earth

waktu selalu mati satu persatu

Seringkali dalam pidato-pidato sambutan, atau pidato pembukaan, terlebih lagi pada bagian pembuka sebuah ceramah dan khutbah, orang menyinggung tentang betapa pentingnya waktu. Tapi anehnya, ketika pidatonya selesai dan dia pun turun dari podium, menunggu beberapa puluh menit atau jam kemudian sampai acara bubar, aku tidak melihat dia melakukan tindakan-tindakan yang mencerminkan betapa dia benar-benar memahami bagian pembuka dari pidatonya tadi. Ketika aku masih menjadi mahasiswa, aku sering ketawa bersama sahabatku saban kali menyimak bagian pembuka dari pidato-pidato itu. Dan ketika aku memperhatikan seluruh peserta acara, aku mejadi lebih kejang menahan tawa: tak ada satu pun hadirin yang tampak benar-benar memperhatikan pada semua ucapan si pembicara. Ada apa ini? Mengapa semua orang melakukan ini? Mengapa sambutan-sambutan harus selalu dipaksa ada jika keberadaannya sama saja dengan tidak ada? Orang-orang tidak memperhatikan dan tampaknya sama sekali tidak berminat untuk mengetahui isi sambutan. Ini semua sia-sia. Dan perihal pentingnya waktu yang dia bicarakan barusan, telah hancur menjadi kepingan omong ompong yang sangat kosong. Acap kali aku merasa pidato-pidato sambutan tersebut justeru sebenarnya adalah penyia-nyiaan waktu termencolok sepanjang berlangsungnya acara.

Aku tidak ingin mengulangi apa yang telah dilakukan rekan-rekan yang lain dengan membabi buta. Kau juga sudah mendengar sangat banyak kali tentang sura Al-‘Ashr dan entah bagaimana kau memahaminya. Aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa salah satu yang memiliki usia paling pendek di dunia ini adalah waktu. Kau tertipu jika mengira waktu adalah absolute dan memiliki masa bertahan tak berhingga. Itu bohong. Waktu justeru adalah sesuatu yang paling singkat usianya di dunia.

Tahun 1801, di mana Jerome Lalande membuat katalognya tentang bintang-bintang besar dan yang terbesar yang terdeteksi di semesta, hanya berlangsung selama 12 bulan. Setelah itu tahun 1801 pun tewas. Tahun yang hebat bagi dunia astronomi itu hanya bermula saat januari tanggal satu tiba dan seketika wafat begitu 31 desember menutup harinya. Bahkan usia kursi plastic yang sedang kududuki sekarang jauh lebih lama dari pada usia tahun 1801. Bulan Agustus, bulan di mana Negara Indonesia mendapatkan kemerdekaannya dari penjajah sesama bangsa Asia, ternyata juga memiliki nasib tragis yang lebih tragis dibandingkan dengan nasib tahun 1801: bulan Agustus berlangsung selama 31 hari saja! Jika semua tahun yang ada di dunia berlangsung selama dua belas bulan, maka bulan Agustus hanya berlangsung selama 31 hari saja. Alangkah pendeknya usia bulan ini. Dia hanyalah satuan waktu yang dimulai dengan tanggal satu dan tiga puluh hari berikutnya dia pun mendapati ajalnya pada hitungan ke tiga puluh satu. Belum lagi jika kita memeriksa bulan Pebruari, dia adalah bulan paling malang dalam kalender Gregorian yang kita pakai sekarang. Pebruari hanya berlangsung selama 28 hari, terkadang 29 hari. Jika tidak bergegas, apa yang bisa kau lakukan dengan jatah waktu sesempit itu?

Ketika kau mendapatkan kesempatan menyelesaikan pekerjaan dalam satu bulan saja, jangan menganggap itu waktu yang panjang sehingga kau bisa menundanya, kau akan tertipu. Setahun berlangsung selama 365 hari, tapi sebulan? Paling lama hanya 31 hari. Bahkan cabe di belakang rumahku usianya lebih lama dari pada usia sebuah bulan!

Bagaimana dengan minggu? Minggu lebih menyedihkan lagi. Dia oleh Tuhan hanya diberi usia selama tujuh hari. Tujuh hari saja! Itu bahkan tidak sampai separuh dari usia bulan pebruari. Kau tidak punya peluang untuk menunda jika mendapat amanah suatu pekerjaan yang harus kau selesaikan dalam seminggu. Apakah sekarang kau ingin bertanya tentang usia hari? Hari Senin atau hari Kamis? Sayangnya, hari apa pun juga dalam satu minggu yang singkat itu, mereka hanya berlangsung selama 24 jam! Dalam sehari kau nonton tv total selama lima jam, makan tiga kali sehari selama satu jam, kau tidur delapan jam, kau bermain empat jam, kau bergerak tak efisien total selama dua jam, ngobrol tanpa tujuan enam jam, kau berkirim sms dan bertelepon tak penting selama 4 jam, membuka internet untuk facebookan atau twitteran total selama 7 jam, kau meng—tunggu! Kau baru saja menghabiskan tiga puluh tujuh jam dalam pembuangan waktu yang sangat mengerikan!!! Jatah hidupmu sehari hanyalah selama 24 jam sementara kekonyolan yang kau kumpulkan sampai melewati tiga puluh jam! Ini luar biasa, kawan, kau bahkan tidak punya cukup waktu untuk semua omong kosong itu. Lantas pada jam yang mana kau akan menorehkan sesuatu yang berguna? Kau adalah pencipta sejarah. Lenin dikenang oleh dunia sebagai tokoh sejarah atas tindakannya yang tak segan-segan membantai jutaan bangsanya guna meraup kekuasaan, sementara Vasco da Gama dikenang tidak hanya oleh bangsa Portugis sebagai tokoh sejarah atas keberaniannya mengarungi samudera. Engkau? Aku? Kita? Hahahaha, jangan khawatir sobat, aku ada bersamamu, kita akan dikenang dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh yang kehabisan waktu untuk omong kosongnya. Mari bersulang.

Maka jangan lagi kau pertanyakan tentang usia jam, usia menit, terlebih usia detik. Bahkan beberapa detik baru saja tewas bergeletakan di ujung mata dalam usahamu untuk mengetahui usia detik yang sebenarnya. Ratusan detik sudah tewas semenjak kau mulai membaca judul tulisan ini sampai pada kalimat ini. Jika kau merasa telah sangat dirugikan, mohon maafkan aku, dan segeralah pergi! Berambuslah! Tinggakan artikel sadis ini! Lakukanlah hal berguna yang akan membuatmu lebih kaya—pahala, jiwa, pengetahuan, hubungan, juga harta. Salah satu hal berguna yang bisa kusarankan padamu dan kau benar-benar tak perlu mengorbankan banyak hal untuk mendapatkannya adalah dengan: membaca istighfar disusul dengan menamatkan membaca artikel ini. Lakukanlah teman, saya memegang nama ayah dan ibumu agar kau melakukan saranku itu.

Maka sekarang kau sudah tahu, siapa makhluk di dunia ini yang memiliki usia paling pendek: waktu. Walaupun satu tahun disusun oleh dua belas bulan, satu bulan terdiri dari 31 hari, satu hari dibentuk oleh 24 jam, satu jam memiliki komponen 60 menit, satu menit berasal dari 60 detik, pada hakikatnya, semua itu hanyalah berupa satu detik. Ya, WAKTU HANYALAH HITUNGAN DETIK. Tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, semua itu sebenarnya hanyaah susunan detik yang berjejer berbaris dengan rapi dan tak pernah terlambat. Usia yang kau lewati sebenarnya adalah usia detik-detik. Detak jantung yang kau pacu tanpa sadar di balik tulang dadamu adalah detak detik-detik. Kembang kempis paru-paru yang menghela udara dan memompa darah adalah gerak detik-detik. Semua itu adalah rangkai detik yang menyusun urut dan runut. Hidupmu, kawan, hanyalah berada pada hitungan detik. Jika kau membaca artikel ini, dan tepat ketika kalimat ini berakhir sebuah meteor jatuh ke atas atap tempatmu berada, maka detik terakhir kalimat ini  adalah adalah detik terkahir usiamu…

Halo? Apa kau masih membaca ku? Halo? Apa kau masih di sana kawan? Jantungmu masih berdetak? Darahmu masih berlari di pembuluhnya? Kelopak matamu masih berkedipkah? Halo? Bagi kawan-kawan yang masih membaca ini, mari kita beristighfar lagi sekaligus mendoakan entah kawan pembaca yang mana yang kejatuhan meteor di atas kepalanya.

Part Two: Our Always Endangered Precious One

Apakah milik kita yang paling berharga yang selalu terancam kepunahan? Jawabannya adalah: tanggal ini. Peteranodon si burung karnivora purba telah punah jutaan tahun lalu tapi mereka masih menyisakan jejak fossilnya bagi ku, kau, tetangga kita, dan seluruh umat manusia. Aku berpikir, sesungguhnya kita belum benar-benar kehilangan Si Pete bergigi tajam itu. Tapi, hey, apakah kau masih melihat tanggal 17 Desember 1903 saat Wilbur dan Orville membangun pesawat terbang pertama di dunia dan berhasil terbang perdana selama hanya 12 detik saja? Tidak! Tanggal itu sudah habis dan tidak akan pernah ada lagi. Ya, tanggal 17 desember itu hanya datang satu kali sepanjang sejarah alam raya sampai nanti kiamat tiba. Tanggal 17 Agustus 1945 juga hanya sekali turun ke dunia. Tanggal 17 lainnya yang menyusul kemudian walau datang pada bulan yang sama, telah berbeda seutuhnya dari tanggal tujuh belas-tujuh belas yang telah lewat sebelumnya. Inilah mengapa waktu sangat berharga: dia adalah makhluk yang sangat kuat tapi sangat rapuh. Dia datang sekali dan sedetik kemudian dia akan langsung musnah. Tak ada jejaknya. Tak ada sisanya. Tanpa fosil bahkan tanpa sisa polusi. Waktu adalah makhluk berharga dan langka yang selalu punah.

Jika kau mengajukan foto, lukisan, tulisan, hasil karya bangunan, aransemen musik, dan segala macam wujud lainnya yang dibuat pada waktu tertentu sebagai argument bahwa mereka adalah sarana-sarana yang bisa mengekalkan waktu, jawabannya adalah: tidak. Sama sekali tidak demikian. Yang dilakukan foto hanyaah merekam sesuatu yang justeru memperjelas bahwa waktu telah tewas dan yang nampak adalah makhluk lain yang kebetulan berada saat waktu tersebut masih ada. Foto sama sekali tidak mengekalkan waktu, atau membekukan waktu, tidak, dia hanya mereka imej dari sesuatu yang ada pada masa lalu. Membawanya ke masa depan. Bangunan, music, novel, kerajinan tangan, patung dan segala macam hasil karya manusia lainnya, semua itu adalah perlambang-perlambang yang dibuat manusia. Benda-benda tersebut mengingatkan manusia bahwa dulu, pada tahun tertentu, bulan tertentu, tanggal tertentu, jam tertentu, seseorang mengerjakan sesuatu dan kemudian dia menghentikan pekerjaannya dan inilah hasilnya.

Maka sekarang, aku terpaksa harus mengubur salah satu khayalan fantasi termenyenangkan yang biasa kulamun-lamunkan: kembali ke masa lalu. Aku tahu itu terlalu mustahil. Terlalu tidak bisa diwujudkan. Yang terjadi pada waktu dia bukan sekedar hilang dan tertinggal seperti yang biasa kita bayangkan, tidak—karena jika itu yang terjadi kia pasti bisa kembali untuk memperbaiki banyak hal dari hidup kita. Tapi semua butir waktu itu mati dan musnah. Hilang tanpa bekas.

24/05/2012

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “MATINYA WAKTU

  1. wahahahaha, mbak, kalau saya sih gak keberatan saja sambutan ditiadakan-walau kadang dia memang penting untuk diadakan. hanya saja,mengikut kebiasaan, orang akan merasa tak nyaman jika sambutan ditiadakan. setidaknya, mereka kehilangan beberapa menit bercengkerama sebelum acara utama tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s