Posted in ehon

Arul Chandrana has ‘Died’ Twice

Aku akan menduga bahwa ada banyak kebingungan dan penasaran, mengapa aku yang demikian berhutang pada David kok demikian getol menuliskan tentang kematiannya. Dan lebih mengherankan lagi, mengapa pria separuh tampan itu bisa menerimanya dengan demikian rendah hati serta senyum demikian kembang? Ada apa ini? Money politic macam apa yang tengah berlangsung di batas negara ini? Atau, ketololan level berapa sebenarnya yang sedang menjangkiti aku dan dia? Aku akan mencoba menguraikan kekisutan benang itu di tulisan ini. Cara ini bisa membantuku tertawa, semoga ini juga bisa membantumu merenung.

Sebagaimana seharusnya, aku lupa tanggal berapa peristiwa itu terjadi: aku memaksa David mengedit foto hitam putih diriku guna ditempel di ijazah S1 pertamaku. Tentunya itu permintaan yang tidak akan diajukan kecuali adanya kepercayaan yang demikian besar dari diriku padanya. Tentu saja. Dan kami mengerjakannya. David datang ke rumahku di pagi hari dan kita menghabiskan separuh hari penuh dengan tawa dan tuding-menuding bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Disamarkan. Ditebalkan. Dicerahkan. Diabu-abukan. Dicut. Dilasso. Dicrop. Dan segala macam di lainnya yang bisa didapati di program Photoshop.

David pertama kali menyelesaikan fotonya. Bagus dan meyakinkan. Ketika dia menggarap punyaku, aku mengambil waktu untuk pergi ke belakang. Di samping memang alam sedang memanggilku, juga karena aku ingin merasakan untuk kesekian kalinya kejutan yang luar biasa darinya. Sejauh ini, selama persahabatan kami semenjak tahun 2005—seandainya aku menemuinya sebelum tahun itu, tahun 1267 mungkin, maka kita akan sudah menjadi sahabat semenjak tahun 1267—sampai sekarang, dia selalu berhasil memberiku kejutan yang menyenangkan. Dia membuat desain yang unik-unik untuk tulisan-tulisan yang kubuat dan kami copy-sebarkan sendiri.

Begitu selesai, aku kembali ke ruang tamu dan mendapati David sedang merenungi hasil karyanya—manipulasi yang secara rela hati ditimpakan pada foto diriku. Komputer layarnya membelakangiku. Maka aku pun melangkah lagi dan melihat bagaimana sebenarnya foto itu dimodifikasi oleh David. Sebuah foto kematian.

Aku menjerit. Histeris. Foto itu benar-benar mengerikan. Menakutkan dari segala sisinya, mencekam dari segala sudutnya, mengancam dari segala aspeknya. Rambutnya demikian simetris dengan lekukan-lekukan tajam yang secara brutal mengingatkanku pada kepala Mao Setung. Itu membuatku menelan ludah yang mempahit dan memberacun. Rambut itu lebih tepatnya ternampak seperti rambut seorang kamerad pemuja Ketua Mao yang dicopot dengan kulitnya lalu ditempelkan ke atas kepalaku tanpa melalui proses operasi yang memadai. Lalu dahinya, astaga dragon! Lihat, itu dahi tersombong yang pernah aku temukan dalam rekam jejak bencana foto editing di sepanjang sejarah terciptanya Photoshop. Dahi itu demikian luas. Demikian membentang. Demikian gilap. Demikian menggoda untuk dihantam pakai parutan kulit durian. Lebih parahnya lagi, bagian tengahnya yang menjorok dengan semena-mena menghadirkan imaji tentang sebuah tanjung yang kuno dan mengerikan. Tempat bunuh diri para pegawai negeri frustasi yang dilarang-larang untuk korupsi. Itu dahi paling horror sepanjang masa yang aku yakin, untuk membuat hal itu terjadi, David telah dengan diam-diam menempelkan banyak dahi pria lain yang dia kumpulkan di internet ke atas dahi asliku. Aku menggigit bibir menyaksikan dahi meteor tersebut. Lalu, yang membuatku lebih ketakutan, tenggelam dalam lautan terror dan kesadaran yang gigl, adalah tatapan matanya.

Aku tidak tahu tatapan mataku akan demikian mengerikan hari itu dalam photo tersebut. Mata itu terbuka tapi begitu sayu. Mata itu menatap tapi demikian hampa. Mata itu menyorot tapi demikian redup. Mata itu…adalah rongga yang aku temukan di mata actor-aktor film peperangan yang tewas di tebas sebelum sempat menutupkan mata. Mata itu membuatku menggigil dan ingin menghantam tengkuk David dengan akuarium sepanjang satu meter di sebelahku.

Eksplorasiku berlanjut pada hidung dan pipinya. Hidung itu masih menyisakan gambaran kemancungannya, hanya saja, besarnya bagian ujung membuat siapa saja akan teringat pada hidung Guru Jiraiya saat berubah kedalam sennin mode. Hidung yang mirip katak. Besar dan membundar. Ditambah lagi dengan kepucatan pipinya, membuatku semakin tak nyaman bernafas. Ini adalah hasil jepretan wartawan frustasi yang dengan ogah-ogahan memotret mayat pria putus asa yang sudah tewas tiga puluh lima jam sebelumnya di dalam kulkas raksasa tempat menyimpan daging sapi. Yang kutangkap dari 70% foto hasil editan David itu tak lebih hanyalah kengerian dan kemaha-mautan yang datang mendadak dan mengkhawatirkan. Tapi, aku baru saja akan memasuki bagian paling terkutuk dari hasil kerja keras tersebut. Bagian mulut.

Dalam foto itu, sebagaimana yang bisa kau saksikan, tampil dengan sangat meyakinkan bagaimana bagian mulutku adalah sebuah hasil transplantasi tak bermoral dengan mulut tawanan Guantanamo yang dihajar tanpa henti selama 45 jam setelah penangkapannya. Mulut itu menghitam. Membesar. Meledak. Mengerikan. Tanpa kehidupan. Hampa. Bungkam. Tanpa nafas. Tewas. Bagian mulut itu demikian mengerikan sampai-sampai aku rela membayar orang untuk mengeditnya dengan menutupkan cadar atau semacamnya untuk menutupi bagian mulut tersebut. Aku tidak menyangka, semua yang tersaji di depanku adalah akumulasi bencana kreatifitas bejat yang berbasis pada fotoku pribadi. Ini pembantingan harga diri yang demikian kencang ke atas setumpuk koran berlumur ingus balita ngompolan.

Dude, kata David, tampaknya ini…eng…kurang memuaskan bagimu. Benar? Aku ingin berteriak waktu itu. Atau juga menghina. Tapi aku segera teringat betapa kami—pada dasarnya—kesulitan untuk mengedit fotoku tersebut. Ingatan itu berhasil menahan semburanku. Ini adalah hasil yang mestinya sudah bisa kuantisipasi. Tapi demikian, jelas sekali perutku tak akan tahan jika aku harus mengatakan bahwa foto itu baik-baik saja hanya untuk menghibur harga diri David sebagai seorang foto editor. Maka aku pun tak segera menjawabnya.

Dude, bagaimana? David mendesak. Sepertinya dia memang sedang menyiapkan diri untuk mendapatkan keluhan se-kontainer. Tapi aku masih berpikir. Secara ajaib, tiba-tiba aku merasa demikian akrab dengan foto itu. Au merasa demikian kenal. Demikian sering. Demikian tak asing. Demikian terbiasa dengan segala penampakan hancurnya. Aku pun memeras pikiran. Jadi, apa kau sangat kecewa, dude? David menanya lagi tanpa hendak mengangkat wajah menatapku. Dan, hya! Aku ingat! Itu adalah foto yang biasa kusaksikan di halaman belakang koran. Di halaman kesedihannya. Lembar berita kematian. Foto itu sangat mirip dengan foto kematian entah siapa saja di dunia ini!

Tidak, dude. Aku menjawabnya. Tidak demikian buruk. Ada satu kegunaan yang akan sangat cocok untuk foto ini. Apa itu? David bertanya lagi. Foto kematian, dude. Jawabku. Foto itu benar-benar layak untuk dipasang pada berita kematianku.
***
Kami menerimanya. Itu memang tampaknya sangat benar sekali. Aku pun buru-buru mempostingnya di blogku entah berapa minggu berikutnya. Sewaktu aku mengabari David tentang posting tersebut, seperti yang sudah demikian klise dia lakukan, dia tertawa gila. Tapi di telingaku tertawanya itu tak pernah klise. Sungguh.

Lalu kemudian, tanpa perlu berpikir banyak, saban kali aku hendak menulis sesuatu yang dramatis, aku akan ingat kematian. Dan tiap kali aku menginginkan sosok asli untuk kutulis bersandeng dengan kematian, aku akan ingat David. Hahahaha. Hukum karma. Tapi sebagian kritikus akan berkelitung dan berkata bahwa aku sebenarnya sedang balas dendam atas tragedy foto kematian untuk ijazah S1 tersebut. Tidak, bukan demikian. Tuduhan itu demikian borokai sehingga aku sangat jengkel untuk sekedar menuliskannya di sini. Sama sekali tidak ada perdendaman di kematian-kematian itu, semuanya adalah spontanitas yang manis. Semuanya adalah keceriaan dan kecepatan guyonan yang tak berhingga dan memukau siapa saja yang terlibat. David akan tertawa, dan aku akan puas. Mungkin saja, dengan cara ini kami justru akan semakin dekat dalam mengakrabi kematian. Mungkin ini akan cukup membantu kelak.

Hanya saja, ketika kuperiksa-periksa lagi tulisanku di blog yang dulu-dulu, secara mengejutkan kutemukan jika ternyata! Ternyata! Ternyata sudah demikian lama aku menulis hal-hal konyol bin berbau kematian mengenai David dalam posting-postingku sebelumnya. Rupanya aku yang mengawali perkematianan ini. Lalu, setanpun merayuku untuk berkelitung: jangan-jangan David yang balas dendam lewat foto itu?
***
Dan aku pun melupakan foto itu. Dan aku tak ingat lagi. Aku sudah lupa bahwa aku punya foto kematian yang lebih dini. Bahwa aku sudah almarhum secara konyoliah di dunia maya. Sampai akhirnya, sore ini…

Aku terhenyak. Kaget. Tercerabut. Dan merasa mati lagi. Maka foto itu pun melompat keluar dari lembaran ingatan peristiwa yang sudah tertumpuk banyak lembar lainnya. Ia kuingat lagi. Dan, sekali lagi, aku mempostingnya dengan cerita yang beda. Kematian yang serupa.

Nb.: pada faktanya, aku pernah demikian takut untuk melihat foto itu. Hahahaha, benar-benar foto permatian yang menciutkan.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

3 thoughts on “Arul Chandrana has ‘Died’ Twice

  1. @mas muhlis, link yang sampean berikan sungguh luar biasa! tapi, itu gmana caranya ya?

    @mbak Mugniar, hahahaha, kalau matanya udah menutup itu artinya si Arul sudah….tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s