Posted in nebula, sastra

Merghik

apa yang harus kulakukan? apa?
Merghik adalah Bahasa Bawean untuk suatu peristiwa di mana sebuah tunas muncul dari biji yang disemai—atau dilemparkan begitu saja. Sebagai contoh, seorang bocah makan mangga di kebung orang tuanya dan melempar biji mangga setelah habis dagingnya. Beberapa hari kemudian, dengan sama sekali tanpa rasa terkejut, bocah itu mendapati jika sebuah tunas (baru saja) muncul dari biji tersebut. Merghik.
***

Jika aku membayangkan diriku sebagai sebuah biji, sebuah benih, maka saat ini aku adalah sebuah biji yang kurus, yang tidak bisa merghik. Hampir tiga minggu (atau mungkin akan lebih dari tiga minggu) aku tidak menulis. Tidak menulis satu essay pun—walau yang paling gila atau ngawur sekalipun, tidak menuis satu artikel pun—walau yang paling palsu sumber datanya sekalipun, dan lebih bencana lagi, aku tidak melanjutkan novelku yang rencananya akan kuikutkan dalam lomba DKJ besok. Ini mengerikan. Aku biji yang dilempar terlalu kencang oleh bocah umbelan hingga jatuh masuk ke celah batu—kekurangan cahaya, tak tersentuh embun, dan jauh dari udara. Ketika aku sedang berharap agar menemukan sebuah pemecahan, bocah sialan yang sama melempar segepok kulit kelapa menutupi segalanya—tadinya aku mau menulis kulit durian untuk menguatakan dramatisasi, tapi mengingat di Bawean belum kutemukan ada orang menanam durian, aku sebut saja kelapa yang memang banyak ditemukan di sana, bahkan di tengah hutan.

Stuck yang menerkamku saat ini bisa bersumber dari banyak hal. Dan sebenarnya tidak ada yang special, karena hal serupa juga bisa menelanmu kapan saja. Aku benci dicurigai—seperti ada orang yang curiga bahwa aku mencuri nama Arul Chandrana dari sebuah kitab suci penduduk Planet Namec. Aku benci dituduh—seperti ada orang yang menuduh bahwa aku adalah pengisi suara karakter Rango dalam film kartun luar biasa hebat dengan judul yang sama: Rango. Terlebih lagi, aku benci diinterogasi dengan pertanyaan yang sama berulang kali—seperti ada orang yang selalu menginterogasiku berusaha mendapatkan konfirmasi bahwa wujud sebenarku adalah sosok di tautan ini. Kamu klik saja jika memang sangat penasaran, aku tidak tersinggung kok. Semua hal itu membuatku tertekuk dan mampat. Sumbat. Macet. Cupret. Guncret. Gombret. Borontet. Brogontret. Simbroncret. Gruempret. Semuanya. Yang mana membuat gambaran diri sebagai biji yang tidak bisa merghik: terjepit, kurang cahaya, kurang udara, menjadi demikian actual dan tak terbantahkan.

Tapi efek-efek berbeda bisa saja muncul saat orang yang lain berada dalam posisi seperti benih tadi. Dicurigai bisa mendorong seseorang dengan kesadaran penuh berteriak dengan nada suara 8 oktaf membanting HP membentur pohon pisang di seberang jendela. Dituduh pun bisa mendorong seseorang tertawa terbahak-bahak sambil membenamkan modem ke dalam sumur dengan kedalaman 8 atau 9 meter di bawah tanah. Dan, didebat berkepanjangan, ajaibnya, malah bisa membuat seseorang jatuh tidur dan melupakan segalanya. Keesokan harinya dia akan bangun hanya untuk menghapus semua input menjengkelkan yang mengendan di balik tempurung kepalanya. Jika itu kau anggap konyol, kawanku, ketahuilah, ada bahkan orang-orang yang lebih konyol lagi!!! Seperti, karena keseringan dicurigai, muak dituduh dan bosan berdebat, dia memutuskan untuk berdialog dengan tali. Lehernya langsung berdialog dengan tali dan itu sungguh dialog yang sunyi.

Maka inilah giliranku kini: berpikir. Naskahku yang mangkrak. Blogku yang sepi, timeline-ku (oh Tuhan, sebenarnya aku begitu membenci timeline, aku rindu wall fb-ku kembali) yang mandeg pada jam 9 beberapa minggu lalu, twitter-ku yang terbungkam diam selama lewat sebulan. Dan impianku yang terpingkal-pingkal menertawai kekhawatiranku yang membesar. Aku pun merinding sendirian. Aku punya masalah.

Tapi hal yang aneh malah terjadi. Ada teman-teman tertentu yang tidak bisa menulis dengan penyebab karena dia: tidak punya masalah. Ini menakjubkan!!! Wahahahaha. Tapi, tunggu dulu, tentu yang dia maksud bukan masalah seperti yang diderita biji mangga di atas. Masalah dalam sebuah cerita bagiku sama saja dengan tujuan dari sebuah kehidupan. Cerita itu menjadi berarti karena dia membawa masalah. Laskar Pelangi menjadi novel motivasi karena dia membawa masalah pendidikan dan perjuangan. Snow menjadi novel politik karena dia membawa masalah politik dan kudeta. Ayat-ayat Cinta menjadi novel pembangun jiwa karena dia membawa masalah pergolakan batin dan pilihan dan keyakinan. Begitu juga Pemburu Rembulan, dia menjadi novel pertarungan alien luar angkasa pertama di Indonesia karena membawa masalah serupa (untuk membuktikan kebenaran info tentang novel Pemburu Rembulan, silahkan anda membeli bukunya dan buktikan). Jadi, masalah dalam sebuah cerita adalah ruh yang akan memberi bentuk dan jenis dari cerita yang dituturkan. Harusnya ini menjadi soal yang mudah, kawan, karena masalah selalu ada dan dia ada di mana-mana. Kau tinggal memilih mana yang paling kau suka. Yang paling membuatmu bergairah saat menuturkannya. Yang akan membuatmu senang dan lupa daratan. Yang akan membuat adrenalinmu tak berhenti memompa energy dan semangat.

Lantas bagaimana untuk mengetahuinya? Kau bisa membuka lemarimu dan memeriksa buku-buku koleksimu. Tentang apakah kebanyakan buku-buku tersebut? Maka itulah masalah yang paling kau suka. Jika kau—dengan bantuan Pak Yusuf Kalla, mungkin—ingin membayarku senilai seratus tiga puluh dua juta lima belas ribu rupiah agar membuat sebuah novel dengan masalah percintaan yang mengharukan dan berleler-leler, maka yang kau dapatkan dari tangnaku hanyalah setumpuk kertas yang bvudgb/vifug ln ciuhf, itu tergambar dari isi lemariku yang melarat dari referensi genre tersebut: tidak ada. Tapi, jika kau membayarku—dengan bantuan Sheikh Mansour pemilik Manchester City, mungkin—senilai empat milyar tujuh ratus juta enam puluh dua ribu rupiah untuk menyelesaikan sebuah novel yang akan membangkitkan kenanganmu tentang Edward The Scissor Hand sekaligus akan Julian Po dan Charlie and The Chocolate Factory, aku bisa menghadirkannya untukmu dalam waktu tiga atau tiga bulan setengah. Mungkin empat bulan untuk hasil yang lebih menggetarkan. Jadi, buka lemarimu, periksa bukumu, temukan masalahmu, dan aku akan merayakan artikel pertamaku setelah seabad hiatus.

Terimakasih, masalah. Love you full.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s