Posted in ehon

Kegilaan Waktu Ujian di Sekolahan–sebuah catatan dan kenangan.

Mengawasi anak-anak yang sedang sibuk mengerjakan soal-soal UTS Olimpiade IPA, membawaku kembali ke tahun-tahun dulu saat menghadapi ujian cawu 1, 2 dan 3. Ini benar-benar de javu yang membuatku rindu. Hanya saja, posisi kami kini berbeda. Dulu aku yang diawasi, kini aku yang mengawasi.

Ada yang menarik kerudungnya sampai membenam separuh wajah dengan tangan satu dan tangan lainnya menancapkan ujung pensil kuat-kuat ke lembar jawaban. Ada yang menggetarkan telapak kaki seperti ular derik menggetarkan ujung ekornya untuk mengukur lingkungannya. Tapi sebagian besar sibuk dengan penghapus karet mencoba menghapus jejak kesalahannya pada kertas putih yang tak bisa menipu.

Pengamatanku kemudian beranjak pada skala yg lebih spesifik. Anak yg benar-benar pintar cenderung diam dan beku dalam mengurusi soal-soalnya yang rumit. Anak yang pintar, pintar yang standar maksudku, akan mulang membuat ekspresi bekerja keras ketika terhambat. Mereka memencongkan bibir, menunduk dalam. Menggeleng. Menggambar. Lalu mendongak seakan menemukan hal yang benar dengan penuh kejutan. Anak di bawah rata-rata selalu gelisah. Kakinya tak bisa berhenti. Tatapan matanya terlontar melewati tirai jendela. Penanya mencoret apa saja. Menggores ruang mana saja. Memukul kepala seakan jawaban bisa rontok lewat telinga. Dan roman mukanya berubah hampa tiap kali berusaha keras mengingat apa yang dibaca semalam. Karena sejujurnya, dia tahu tidak ada apa-apa ‘di sana’ untuk diconteknya.

Tapi yang mengagumkan, ahahaha, adalah aksi anak-anak yang diketahui kemampuannya ada jauh di bawah teman-temannya. Mereka yang bisa melupakan lebih cepat dari kecepatan cahaya. Mereka, bisa mengerjakan soal-soal dengan ketenangan yang mengagumkan. Dia tak peduli. Dia bebas. Dia menyerahkan segalanya pada Tuhan yang Maha Baik. Mereka tidak pusing-pusing merencanakan menanam jagung, karena, tidak ada benih jagung di lumbungnya.

Tidak ada yang salah. Mereka benar. Dengan semua sikapnya. Bagaimana bertingkah. Itu respon alamiah untuk mereduce ketegangan dan kemampatan dalam jaringan syarafnya. Dengan itu kelegaan–semu–sedikit membantu. Aku dulu pun begitu.

Dan ini yang pasti, aku merindukannya. Masa sekolah itu. Ujian cawu itu. Ketegangan di bawah pengawasan. Usaha keras mencegah kawan mencontek jawaban. Dan terpojok ketika tahu tak bisa lagi mengarang jawaban.

Teman-teman mengenalku sebagai anak pelit dalam urusan memberi contekan. Tapi cukup baik untuk memberi petunjuk jawaban. Tapi mereka juga tahu aku keras kepala. Kebebalanku akan matematika terkenal kemana-mana, dan saat ujian tiba, tetap saja aku tidak mencontek siapa-siapa. Itu membuatku sanggup menyelesaikan soal-soal matematika jauh lebih cepat ketimbang soal bahasa Inggris–pelajaran favoritku.

Namun demikian, haha, kadang aku juga menggila. Ketika pengawasnya bertindak tak bijaksana, membiarkan kecurangan merajalela, aku juga menggila! Pernah aku membuka buku contekan terang-terangan karena kecewa, dan itu diikuti teman-teman lainnya. Di lain waktu, aku mengobral lembar jawabanku dengan cuma-cuma. Ah iya, aku ingat, itu adalah lembar jawaban ulangan matematika.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s