• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

MENGEMPER DI RUMAH SAKIT

Ini malam ke tiga aku tidur di rumah sakit dan aku bangun dg tubuh kencang menyakitkan. Punggungku kaku. Tak bisa menekuk dan leher susah menoleh. Luar biasa, aku merasa seperti rongsokan besi robot tua yg kehabisan pelumas. Tapi itu bukan hal utama yg bisa menarik aku bagi pada Anda–keadaanku itu memang sudah ‘layak’ diterima penjaga pasien ‘kelas tiga’. Aku tetap nyaman karena banyak hal bagus yang kudapatkan di luar dugaan di sini, RSUD dr. R Koesma Tuban.

Dengan memegang punggung, dilatari pemandangan para keluarga pasien yg tidur bergelimpangan di emperan gedung Teratai–tempat nenek dirawat–kelas lll A, diiringi suara adzan subuh dr banyak masjid dan musholla di sekitar masjid, aku menuju kamar mandi di ujung barat koridor panjang itu. Inilah salah satu yang membuat RSUD ini nyaman. Dia punya kamar mandi dn toilet yg terhitung terawat. Keduanya terpisah dalam dua kamar tertutup berbeda tapi masih d ruang yang sama. Kebersihannya melegakan karena tak ada lumut yg nampak–ini pastilah juga didukung oleh pencahayaannya yang temaram. Mandi dan buang hajat di tempat seperti itu sungguh melegakan. Sebelumnya aku selalu curiga dg sarana kebersihan di tiap-tiap tempat umum, khususnya yang dikelola pemerintah.

Dan kalau kita perhatikan, kebersihan di RS ini memang memuaskan. Penyapuan dan pengepelan rutin pagi dan sore. Hanya saja, di beberapa tempat kita masih bisa membaui air buangan di selokan-selokan yg tutupnya berlobang. Aku telah mengelilingi sisi barat RSUD yg letaknya berseberangan dengan markas KODIM ini, dan sayangnya, hanya kutemukan satu kamar mandi dan toilet di luar gedung perawatan pasien yg bisa digunakan penunggu dan pembesuk. Padahal, untk gedung Teratai juga gedung kelas tiga lainnya, jam besuk hanya dibuka pada jam 11.00–13.30 dan nanti dibuka lagi pada jam 16.00–20.30. Mungkin jumlah sarana MCK itu akan bertambah nanti setelah masjid rampung dibangun.

Untuk pertama kalinya, subuh ini gerimis turun. Dan langit gelap oleh mendung. Tapi seingatku, semalam aku tidur lelap. Gangguanku adalah kaku tubuh yg kurasakan waktu terbangun. Nyamuk sangat sedikit di sini. Hampir tak terdengar dengungnya. Mungkin karena tak ad genangan air terbuka di mana pun juga. Tapi aku kaget kemarin malam, phobiaku menjerit, aku melihatnya, sosok hitam yang merayap cepat di koridor sepi jalur evakuasi: tikus got hitam besar berbulu lebat berekor, alamak, puanjang!

Aku penakut tikus. Dari dulu. Dan itu membuatku kurang akur dg hamster, jenis apapun. Yang membuatku ngeri pada para tikus adalah bentuknya yg aneh. Bundar bungkuk menggembung. Kaki pendek dg kuku tajam. Mulut panjang dg kumis mengerikan. Ekor botak yg bergoyang-goyang macam cacing yg menempel. Dan, cericitnya yang sama sekali tak sedap di telinga. Och, aku merinding gara-gara tikus. Dan ngeri membayangkan mereka bergerombol muncul dr lobang got dan menyerang orang-orang yg sedang tidur. Nah, sialnya, ‘peternakan’ tikus di gedung pelayanan masyarakat ini terkategorikan berhasil! Hoh, kau harus siap-siap melihat ‘rekanan Donald Bebek’ itu tiba-tiba melompat menyeberang jalan enam langkah di depanmu. Tapi tentunya tak adil jika aku menulis tentang tikus hanya yang berhubungan dg rumah sakit ini. Faktanya, tikus ada di mana-mana dan belum tampak adanya tanda-tanda keberhasilan manusia mengendalikan binatang pengerat itu. Binatang berekor yg membantai Eropa abad pertengahan dg black death.

Nenek masih terbaring. Perutnya kembung lagi setelah beberapa gigitan semangka yg disajikan bersama nampan bubur oleh rumah sakit. Aku berharap, besok kami sudah bisa pulang. Berlama-lama tidur di emperan ternyata kurang mengesankan, apalagi dg cericit mengerikan yang timbul tenggelam saat malam.

Tuban, 18 / 02 / 2012

Nb. Aku menulis dan memposting ini lewat SE W200i. Thanks to David for changing me to be a mobile blogger.

3 Responses

  1. Mas bro, ini gue, Ranger Merah. Hehehehe … Moga neneknya lekas sembuh mas bro .. eh ada baiknya dikau beli sleeping bag (kantong tidur) tidak mahal kok, berkisar antara Rp 150,000 – Rp 250,000. Lumayan hangat dan nyaman untuk tidur.

    Salam

  2. kau kan ta’jub dengan surabaya jika kau main ke sini boi……… ada sesuatu yang tidak akan kau temukan di rumahmu, pondok qt dlu atau RSUD Dr. KOESMA!
    sesuatu yang begitu indah
    sesuatu yng akan membuatmu menjerit bahagia
    sesuatu yang akan meneteskan air mata haru

    tikus got yang lebih besar dari mbahnya kucing, bahkan kucing2 di sini hormat padanya, dia bak juragan penguasa got, preman surabaya yang menguasai makhluk2 kelas bawah.

  3. bang Andri, alhamdulillah udah keluar dri RS. makasih untuk bantuannya yah.

    Syauki. kau serius? benarkah? hoa, itu mengerikan!!! gak mau ke surabaya!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: