• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Pamandian Gojoh

di pamandian gojoh

Kicau burung adalah musik yang tak pernah hilang dari tiap menitnya. Dan bayangan hitam sekeping-sekeping bergoyang konstan di permukaan tanah kerikil. Seperti kode rahasia yang berusia ribuan tahun. Monyet yang melompat dengan ekor panjangnya membuat kagum dan bertanya-tanya, bagaimana bisa ranting sekecil dan selentur itu mampu menyangga tubuh puluhan primata hitam dan tak patah? Dan desiran angin, adalah kesejukan yang bisa kau dapatkan di mana saja di seluruh dunia di tempat seperti ini, di setiap benua, di, hutan yang menyimpan segala kenangan perubahan.

Pamandian Gojoh adalah hutan yang berdiri pada dua bukit besar berkelok. Tak ada orang yang tahu di mana batasannya. Orang hanya tiba-tiba saja menyadari jika dirinya sudah memasuki Pamandian Gojoh. Orang-orang suku Bawean dari kampong Komalasa, Padong dan Sabo Rojing mengambil kayu bakar dari hutan itu. Mereka tidak menebang pohon, tapi memungut ranting-ranting kering yang jatuh atau pohon tua yang roboh. Atau, bekas tebangan dari orang-orang bergergaji mesin yang datang tanpa rencana penghijauan. Pada musim kemarau, hampir tiap minggu, bisa ditemukan iring-iringan orang memanggul kayu bakar keluar dari Pamandian Gojoh. Para lelaki menggotong ikatan kayunya, atau sebuah balok besar, di pundaknya. Sedangkan para wanita menaruh ikatan kayu bakarnya di atas kepala. Ini memang tidak menghasilkan leher jerapah sebagaimana sebagian leher perempuan Myanmar, tapi, jika ada yang mencoba mempelajari, mungkin akan ditemukan jika leher kaum wanita suku Bawean jauh lebih kuat dari pada leher kaum prianya.

Nama Pamandian Gojoh sebagai nama hutan tentunya bukan hal yang lazim. Belum ditemukan ada hutan yang lain di belahan bumi ini dinamai setakcocok dengan nama hutan Bawean itu. Mungkin sudah bisa kau tebak jika Pamandian Gojoh artinya adalah pemandian (untuk para) gajah. Nama itu lebih cocok untuk nama danau atau sungai besar dari pada nama hutan liar, bukan? Tapi memang itulah yang bisa kau temukan di sana, bukan hanya bukit dengan lerengnya yang curam dipenuhi pepohonan, melainkan juga sebuah sungai purba. Sungai yang telah mengering.

Pada pertemuan ke dua kaki bukit panjang itu, terbentuk jalur yang dulunya, mungkin puluhan dekade yang lalu, air pernah mengalir deras di sana. Sebuah sungai yang bergemiricik dan menyeret apa saja yang jatuh ke dalamnya. Kau bisa menemukan jejak sungai tersebut dari bongkah-bongkah besar khas batu kali yang berbaris seperti punggung naga berduri. Batu-batu itu memancing bayangan tentang gajah-gajah kecil yang berpijak dan terpeleset jatuh. Sementara induk dan gajah dewasa lainnya asyik berdiri di tepian dan menyedot air melalui belalainya yang sanggup menumbangkan sebuah pangopa besar.

Tapi benarkah ada gajah di pulau Bawean? Jika kebenaran masa lalu hanya bisa disandarkan dengan meyakinkan pada temuan barang peninggalan, maka kebenaran asumsi itu belum bisa dibuktikan. Tapi nama Pamandian Gojoh adalah nama tua yang membawa pesan. Dari nama itu kita bisa menarik tiga kemungkinan mengagumkan. Pertama, dulu—kata dulu di sini merujuk pada angka ratusan bahkan ribuan tahun lalu—memang ada gajah yang berkeliaran di pulau Bawean dan sungai itu adalah tempat pemandiannya. Kedua, mungkin saja ada orang dari entah kerajaan mana, bisa jadi Majapahit atau Campa di Vietnam (?), yang kapalnya berhenti di pulau Bawean dan mereka membawa satu atau dua ekor gajah serta. Pada jaman itu gajah adalah hewan kebanggan yang melambangkan kejayaan, bukan? Gajah-gajah kerajaan itu dimandikan di sungai tersebut. Pesan terakhir, bisa jadi nama itu hanyalah kiasan khas orang tua jaman dulu, cara untuk melebih-lebihkan. Karena sungai tersebut yang terbesar dan menjadi pusat pengairan dari tiga kampung di sekitarnya (atau mungkin saat itu ada lebih dari tiga), orang-orang pun memberinya nama megah yang mengisyaratkan kehebatannya, sungai yang luar biasa, tangguh, deras, memiliki volume air tak berbatas, pemandian raksasa, maka sungai dan daerah sekitanya pun diberi nama Pamandian Gojoh. Apapun kemungkinan asal-usul nama dari hutan itu, dan walaupun fakta bahwa kini sungai tersebut hanya menyisakan bongkah batunya saja, satu hal yang tak terbantah, hutan itu memang menyangga kehidupan banyak manusia di sekitarnya.

Memasuki territorial Pamandian Gojoh, orang asing mestinya mengajak satu atau dua penduduk asli. Bukan untuk menghindari macan, karena di sana benar-benar tak ada macan atau kucing besar lainnya, tapi untuk mengenal nama-nama tanaman dalam bahasa penduduk lokal. Di hutan berlereng terjal itu, kau bisa menemukan ghighirong, blorok, tengghojungan yang buah hijau bundar kecilnya bisa digunakan sebagai peluru cecettolan dan ketika sudah tua dan matang berubah hitam dengan rasa asam manis menyegarkan. Kayu Pangopa, tampel keddong, alebbon, kasia, bodung yang buahnya jauh lebih asam dari buah asam. Orang Bawean mengiris tipis buahnya yang bulat itu dan menjemurnya untuk memakainya nanti sebagai asam untuk masakannya. Bodung menghasilkan rasa yang jauh lebih segar dan masam dari asam yang dijual di pasar-pasar. Di hutan itu juga ada Lampenne, kaju manes, burne, duwok, anjhujhu, juga kaju bulu. Yang terakhir itu adalah pohon raksasa hutan dengan daun pipih kecil-kecil seperti daun beringin. Kulit pohonnya berwarna merah tawar dan mudah mengelupas. Tapi bagian yang mengelupas itu bukan kulit sesungguhnya, ia semacam kulit ari dari kulit sebenarnya yang berwarna putih berair dan tebalnya bisa mencapai beberapa centi. Kaju bulu memiliki buah kecil-kecil seukuran kelereng agak besar yang bentuknya bundar pipih dengan kulit luar sangat keras. Bahkan kulitnya itu bisa dibuat kayu bakar. Susahnya mengupas kulit buah kaju bulu terlunasi dengan isinya yang nikmat. Seperti kacang tapi lebih kental rasanya. Dan ibu-ibu Bawean suka membuat getteh dengan buah itu—menggodok buahnya dengan gula merah yang dicairkan.

Selain itu, jika beruntung kau juga bisa menemukan maone (mahoni, pohon berbuah pahit untuk obat malaria), kosambi, tengghulun, kalonyotan, sentul, tangkel yang rasa buahnya seperti melinjo, manenjhu, tonjhong gunong dan camplong. Camplong adalah pohon yang unik. Dia memliki buah bundar besar dengan kulit luar licin lagi keras dan dalamnya berongga. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan: gundu. Masih ingat gundu? Bentuknya seperi bola ping-pong tapi orang-orang memakainya sebagai kelereng. Beberapa yang lain melobangi kedua sisinya dan menjalinnya menjadi tasbih yang lebih mirip dengan tasbih para biksu Buddha. Isi buah camplong jika dilumat dan diambil minyaknya bisa digunakan sebagai bahan bakar. Orang jaman dulu menggunakan minyak camplong untuk menyalakan lampu teplok.

Seringnya berkunjung ke Pamandian Gojoh untuk mencari kayu bakar membantuku mengenali banyak bagian dari lanskap hutan tersebut. Walau aku tak benar-benar menghapalnya, tapi setidaknya itu membantuku untuk tidak tersesat di sana. Tapi aku akan selalu tersesat jika kau tanyakan nama-nama binatang apa saja yang mungkin untuk ditemukan di hutan tersebut. Ada berbagai macam serangga. Capung warna-warni—ada yang hitam, merah, kuning. Kumbang berbagai tanduk, belalang berbagai rupa, burung entah apa saja, dan yang paling banyak, binatang kecil merayap yang jelas sekali ia bukan semut atau rayap. Aku ingin menamai binatang-binatang itu setibanya di rumah tapi akan segera terlupa seiring kelelahan yang semakin parah kuderita karena beban seikat kayu di pundakku. Padahal aku tak pernah lebih kuat dari teman-teman pencari kayu lainnya. Selain itu, aku juga menduga ilmuwan-ilmuwan biologi atau entah apa istilahnya di universitas-universitas itu pastilah sudah menamai mereka. Aku tidak sempat memerdulikannya dengan cukup perhatian. Binatang yang paling mungkin kau temui di sana, dengan jumlah yang tak sedikit, adalah monyet. Bawean memang pulau yang kaya akan monyet. Dan bagaimana monyet bisa berada di pulau kecil di tengah lautan itu sama misteriusnya dengan bagaimana Pamandian Gojoh mendapatkan namanya. Rasanya seperti menonton tarzan saban kali menyaksikan primata pemangsa segala itu bergelayut dan memekik dari dahan ke dahan peohonan hutan yang tinggi-tinggi. Walaupun rusa Bawean adalah hewan endemic pulau tersebut, tapi sangat susah untuk bisa menemukannya di alam liar. Rasanya hampir mustahil untuk melihat binatang pemalu itu di sini, di pamandoan gojoh. Kau perlu menembus hutan yang lebih lebat lagi dan segudang keberuntungan untuk menemukan dan memotret rusa berbulu keemasan itu.

Pada musim kemarau, Pamandian Gojoh berganti rupa. Pohon-pohon berubah menjadi seperti nenek tua bijaksana yang rontok rambutnya. Ranting-ranting tak berdaun itu mengacung ke angkasa seperti jari-jari masa lalu yang kelelahan menengadah mengharapkan bantuan dari atas sana. Dan angin yang menyeret ranting-ranting kering memberi kesan jika pohon-pohon meranggas itu masih hidup dan bernafas di balik kekosongan hidup yang mereka jalani. Udara menjadi panas, kering dan membuat berkeringat tapi terasa sangat bersih. Kau akan gerah di sana, tapi kau tidak terpapar polusi. Di angkasa, jika beruntung kau bisa melihat elang membentangkan sayapnya terbang berputar-putar melengking nyaring dari ketinggian yang masih cukup untuk melihat bentuk kepalanya yang tegas dan mengesankan. Sebagian dari mereka ada yang berwarna keemasan. Burung menakjubkan itu sedang mengawasi wilayah kekuasaannya.

Enam bulan kemudian, mengunjungi Pamandian Gojoh seperti mengunjungi suatu tempat yang tak pernah kau temui sebelumnya. Daun-daun bersemi dan mengembang sempurna. Memenuhi seluruh ranting. Jarak yang dekat antara pohon satu dengan lainnya menjadikan ranting-ranting itu sebagai payung raksasa penangkal cahaya matahari yang tak tertembus. Pada musim hujan, ketika semua tanaman menghijau dan subur oleh kelimpahan air, di Pamandian Gojoh tengah hari datang sangat lambat sementara senja seakan datang hanya beberapa detik setelah tengah hari tiba. Dan lebih seringnya, sepanjang hari tampak seperti senja yang tiada akhirnya.

Hanya saja, setelah menyaksikan banyak musim hujan datang, aku tak pernah menemukan sungai itu hidup lagi walau di hari hujan yang paling deras sekalipun. Sungai purba itu benar-benar mati. Tidak seperti beberapa sungai lainnya yang hidup lagi tiap musim penghujan datang. Pada banyak hal, kita bisa menjadikan suatu peristiwa sebagai pertanda akan datangnya peristiwa lain di masa depan. Kedatangan musim gugur merupakan pertanda akan datangnya musim semi nanti. Tentang Pamandian Gojoh, aku memiliki kekhawatiran yang mengerikan. Apakah mengeringnya sungai itu, yang merupakan sumber dari nama tempat tersebut, adalah pertanda jika cucuku besok tak akan pernah menemukan hutan di sana?

15 januari 2012

Advertisements

2 Responses

  1. A good piece of work, dude. Sounds very scientific and national-geographic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: