Posted in ehon, nebula

DANCE IN ENGLISH

lets dance, boy!
Secara resmi, aku boleh menaruh sebuah gelar di ujung namaku. Menunjukkan bahwa aku telah lulus pendidikan tinggi tertentu, dan jika kau mau bertanya lebih lanjut, kau juga akan tahu jika aku mempelajari Bahasa Inggris untuk gelar itu. Tapi aku hampir tidak pernah melakukannya, menempelkan tiga huruf tak beraturan itu di ujung namaku. Aku merasa aneh. Aku merasa tiba-tiba saja menjadi orang asing tiap kali melihat namaku menjadi lebih panjang satu kata dengan gabungan tiga huruf akronim tersebut. Kadang aku juga seperti melihat kalau embel-embel itu akan jatuh ke jurang di bagian akhir namaku. Lebih lucunya lagi, aku merasa seperti sedang berlebihan tiap kali harus dengan terpaksa membubuhkan tiga huruf itu di ujung namaku di bawah pengawasan kepala sekolahku. Apa sebenarnya yang sedang terjadi denganku? Aku tak bisa menjelaskannya dengan baik padamu. Yang bisa kukatakan hanyalah, aku belajar Bahasa Inggris sama sekali bukan untuk mecomot gelar panjang yang dipersingkat itu, tapi karena aku mencitai bahasa ini. Bahasa yang berdesis ini.

Aku penggemar film barat sedari dulu, khususnya film action yang menghabiskan milyaran rupiah untuk pembuatannya. Dan ketika film selesai, aku akan dengan sendirinya—aku merasa itu benar-benar ototmatis—mencoba meniru adegan-adegan yang ada di film tersebut. Adegan dialognya. Aku akan mulai mendesis sendiri. Aku akan membunyikan ‘ch’ yang sangat tebal sendiri. Aku akan membunyikan ‘t’ di ujung kata dengan sangat keras sehingga seakan aku bicara hanya untuk membunyikan huruf t tersebut. Saat itu, seperti sebuah gurauan, aku sedang menggila.

Tapi kesukaanku pada Bahasa Inggris tidak lantas membuatku ahli dalam bahasa paling banyak digunakan di planet ini. Kelas satu dan dua MTs (sekarang sebutannya kelas VII dan VIII) hubunganku dengan Bahasa Inggris bagai pendaki gunung yang lebih pintar terperosok dari pada menanjak. Tapi semua orang tahu aku pendaki yang keras kepala, terus mencintai gunung dan berusaha mencapai puncaknya walau selalu dibingung-pusingkan dengan ‘bagaimana ceritanya kok kata kerja untuk I, you, they dan we tidak ditambah es/s sedangkan untuk she, he dan it ditambah es/s?’ dan banyak lagi hal lain yang membuat korelasi nilai Bahasa Inggrisku dengan kecintaanku seperti nasib pecinta yang bertepuk sebelah tangan. Untungnya, tadaaa, semua berubah di kelas IX. Seorang guru yang hebat membuat semuanya mencapai titik kemenangan dan kelegaan yang nikmat. Rasa suka itu pun berbuah menjadi keluarbiasaan. Orang tidak lagi hanya berkata aku Si Anak Ingusan Pecinta Bahasa Inggris, tapi Si Calon Remaja Tampan Mengesankan Yang Mahir Dan Layak Diandalkan Untuk Perlombaan Bahasa Inggris di Kecamatan; dan sampai aku lulus MTs, aku tidak pernah ikut perlombaan. Lomba apapun di manapun.

Tahapan ini membawaku pada perkenalan yang lebih mendalam dengan Bahasa Inggris dan itu sangat menyenangkan. Aku mulai mengenal kegiatan yang disebut dengan ‘translation’. Menerjemahkan teks Bahasa Inggris ke dalam bahasa penerjemah, Bahasa Indonesia. Yang menakjubkan dari kegiatan tak ringan ini, adalah bagaimana kau harus membawa rasa bahasa sebuah negara sejauh 45.000 km sesuai dengan rasa bahasa negaramu sendiri. Aku kalang kabut sewaktu pertama kali menemukan kata: beat about the bush. Ini mau ngapain? Menghajar semak belukar? Terjemahan-terjemahan awalku kacau dan menggelikan. Tapi tak urung, itu adalah nilai terbaik yang bisa kau harapkan dari seluruh penghuni kelasku yang kurang mencintai Bahasa Inggris—sebagaian malah membencinya. Oh ya, apa masih perlu kutunjukkan bahwa artinya beat about the bush adalah bertele-tele?

Memasuki aliyah, aku dikejutkan dengan pencarian besar-besaran yang dilakukan teman-teman dan kakak kelasku. Hari itu kegiatan belajar belum aktif, banyak guru yang belum masuk sekolah, tapi, guru baru itu yang usianya tak lagi muda datang dengan sekarung rasa percaya diri dan sekeranjang harapan besar. Guru Bahasa Inggris yang keren itu. Jika kuingat-ingat sekarang, wajahnya, aku yakin aku tak salah ingat, benar-benar mengingatkanku pada wajah Popeye Si Pelaut. Hanya saja waktu itu aku belum mengenal Popeye. Aku dicari-cari karena di hari pertama mengajarnya itu sang guru baru ingin mendengar setidaknya satu dari murid-murid ‘asingnya’ untuk tampil di depan kelas dan berbicara dalam Bahasa Inggris selama lima menit saja. Teman-temanku putus asa mendapat tugas macam itu. Guru-guruku juga tak mau menanggung malu karena kegagalan itu. Mereka mengharapkanku. Dan aku harus segera ditemukan untuk membuat kesan yang diharapkan. Lantas, apa yang terjadi setelah aku ditemukan dan diarak masuk kelas? Aku berhasil. Dengan banyak kesalahan dan kekacauan. Tapi aku berhasil. Membuat guru baru itu terkesan. Membuat teman-temanku merasa aman. Membuat kepala sekolahku tak terlalu sungkan telah mendatangkan Sang Popeye. Hari itu, aku tahu aku tak ingin membagi cintaku selain untuk Bahasa Inggris.

Dan keajaiban membawaku pada penemuan yang lebih mengagumkan lagi. Menjadi mahasiswa Bahasa Inggris. Di bangku kuliah, aku bukan hanya menemukan guru-guru yang luar biasa—sebagian karena cara mengajarnya yang mudah kucerna sebagian lagi karena saking hebatnya sampai aku tak paham apa maksudnya—tapi juga mendapatkan teman belajar yang mencerahkan. Ya, anak itu, si David. Dia memiliki antusiasme belajar yang luar biasa. Sesuatu yang kadang membuatku merasa agak ngeri, maksudku, aku hidup tidak hanya untuk kuhabiskan melahap buku, aku butuh melakukan yang lain, bukan? Seperti makan dan makan dan makan dan makan lagi. Tapi kemudian aku tahu dia tak seburuk itu. Dia juga gila, bercanda dengan cara-cara yang tidak dipahami orang lain, berteriak dengan ungkapan-ungkapan yang tak bermakna bagi orang lain, melompat untuk momen-momen yang tak berkesan bagi orang lain, tapi kami bisa saling mengerti dan menikmati tingkah polah irregular tersebut. dan yang paling utama, kami bisa bercanda dengan menggunakan Bahasa Inggris! Ya, bercanda dengan Bahasa Inggris! Bayangkan, ketika tak semua orang bisa bercanda memakai Bahasa Indonesia dengan menyegarkan, di masa kuliahku, bersama David aku telah mencapai tahap bercanda dengan Bahasa Inggris!

Penemuan-penemuan baru pun kunikmati di sini. Aku yang suka permainan kata mendapati jika bahwa Bahasa Inggris sangat kaya kosa kata untuk dibuat teka-teki atau lompatan-lompatan indah yang mengagumkan. Seperti ini, the different between danger and anger is only a word. Perbedaan antara marabahaya (danger) dan kemarahan (anger) hanyalah satu huruf saja (d). Wow, sungguh ungkapan yang cerdas untuk menunjukkan eratnya kaitan antara kemarahan dengan bencana, bukan? Demikian pula ungkapan ini, no pain no gain, tak ada kesuksesan tanpa kesusahan. Aku terpesona dengan rima-nya yang indah dan enak di dengar. Atau lelucon ini, if you’re hungry, don’t be angry, kalau kau lapar, jangalah marah. Ungkapan itu bukan sekedar ingin menunjukkan betapa kelaparan bisa membuat orang berubah liar, tapi juga pada kedekatan bunyi antara hungry dan angry. Dan, semakin lama aku belajar, semakin aku menikmati kejutan-kejutannya yang mencengangkan. Aku benar-benar menyukai bahasa yang tidak sesuai antara tulisan dan bunyinya ini.

Bagian tersusah dari Bahasa Inggris, menurutku, selain grammarnya yang kupikir terlalu banyak aturan, adalah pelafalannya yang melelahkan. Butuh lidah yang sanggup keseleo enam puluh kali sehari untuk bisa bicara Bahasa Inggris dengan fasih. Selama latihan pronunciation (pelafalan) aku merasakan betapa lidah yang katanya lincah bagai ular berubah menjadi kaku bagai robot kehabisan oli. Lidahku kurang melengkung, harus nyentuh langit-langit, jangan terlalu menyentuh gigi, nafas harus berhembus, harus menahan udara, harus menahan kentut! Hoaaaah, benar-benar kerja keras. Tapi aku menemukan satu fakta unik di awal-awal kuliah tentang pelafalan bahasa ini, yaitu, semakin kau fasih membaca Al-Qur’an, semakin mudah kau belajar bicara Bahasa Inggris. Ya, itu adalah fakta yang mencengangkan.

Ketika sudah lulus dan beberapa waktu telah lewat, aku menemukan satu fakta menyenangkan yang lain lagi. Pernahkah kamu benar-benar memperhatikan kata ganti Bahasa Inggris untuk orang ketiga tunggal lelaki dan perempuan? Dia laki-laki kata gantinya ‘he’ dan dia perempuan kata gantinya ‘she’, kau lihat betapa dekat hubungan keduanya? Lelaki dan perempuan adalah sepasang yang saling melengkapi, hanya satu huruf saja yang membedakannya, s. Dan setelah kupikirkan, sepertinya s untuk perempuan adalah perwujudan dari secretive (bersifat rahasia) yang dimiliki perempuan. Bukankah perempuan adalah sosok yang tak bisa kau tebak semudah menebak kover buku? S itu juga berarti sensitive (perasa), karena mereka mudah tersentuh untuk hal-hal yang mendalam. Bahkan hal ringan pun bisa membuat mereka terharu biru, atau tersinggung setengah mati. S juga untuk menunjukkan mereka soft (lembut), karena takkan ada bayi yang bertahan hidup tanpa adanya kelembutan seorang ibu, seorang perempuan. Bahkan sebuah keluarga tak akan bertahan lama tanpa kelembutan itu. Namun demikian, s pada kata she juga ingin mewakili kenyataan bahwa perempuan adalah pribadi yang strong (kuat). Kekuatan mereka bukan dari jenis pemecah batu atau pembelah kayu, tapi dalam ketahanan mendapatkan dera tanggung jawab menahan penderitaan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Mencintai, merawat, mengandung, melahirkan, memelihara, membesarkan, menyayangi, mengayomi, menjadi tempat mengeluh dan menangis. Wanita kuat untuk menerima semua itu dengan tetap menjadi seorang pribadi yang lembut dan utuh. Terakhir, dan ini bagian favoritku, huruf s dalam kata she adalah suatu penjelasan pamungkas terhadap keberadaan perempuan bagi kehidupan, bagi kelengkapan. S tersebut adalah perwakilan langsung dari seluruh keberadaannya yang sangat penting bagi semua pria, s tersebut adalah penjelas mengapa manusia selalu ada dan berkelanjutan. S dalam kata she adalah pendamping kata he, karena s itu bermakna: SOUL MATE.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

4 thoughts on “DANCE IN ENGLISH

  1. Satu hal yg selalu bikin kita sulit dan berujung pada malas untuk mempraktekkan bahasa inggris adalah ‘malu’.
    Malu ah,vocabnya gak banyak,grammar nya kacau,ntar diledekin,ntar diketawain,dsb.
    Pdhl orang2 luar yg bekerja di indonesia,justru sebaliknya,dgn semangat,mrk mempelajari bhs kita,gak peduli mo se-belepotan apa,gak putus asa kalo diketawain,hajar saja.dan salutnya lagi,mrk justru lebih memilih menggunakan bhs indonesia buat berkomunikasi dgn karyawan lain.hasilnya,dlm wkt singkat,bisa mengerti dan fasih mengucapkam.

  2. @asma: hahahahaha, siapa dulu yg ngajari sok swittt? smpean kan pedagang gula, hayo ngaku! yg [penting, English is fun. ayo semangat belajar

    @nvie, itu juga terjadi pada banyak temanku dan kadang diriku juga. kita tak bisa memaksakan untuk tiba2 berani. dan itu semua butuh proses, bukan? jadi, mari kita semua mencoba dan menemukan kemengan!

  3. seneng deh baca nya… (˘̩̩̩.˘̩ƪ) syukurlah sesendok gula yang kujual bisa menginspirasi isi tulisan mz arul … mz mz rasanya baru kmrn anak smpyn yang pertama lahir, kapan hadiah adek kedua dibuat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s