• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

TIME IS A WOK

Di antara yang ingin selalu kukenang dari tahun 2011, selain tentu terbitnya novel perdanaku setelah belasan tahu menulis, adalah apa yang terjadi malam ini. Aku membuat nasi goreng dengan kakak pertamaku. Nasi goreng dengan bumbu ala kadarnya, garam, cabe, sedikit vetsin, daun bawang, bawang merah, terasi mentah dan serbuk kuning semacam kunyit. Meskipun arma bumbunya saja sudah membuat rasa laparku meningkat beberapa derajad, tapi sesuatu yang lain dengan halus menyelisipi diriku. Dan ketika kakak sudah selesai mengaduk nasi dengan bumbunya, aku menyalakan kompor, minyak di penggorengan mulai panas, dan nasi satu cowek dilongsorkan ke dalam penggorengan yang mendesis, aku pun langsung mengingatnya. Kakak perempuanku. Orang yang paling suka kuajak masak bersama. Jika dia ada di sini, dan kami masak bersama di malam sepe seperti ini, kami akan dengan senang hati memberi nama nasi goreng kami: Nasi Goreng Persaudaraan Dimasak Tengah Malam Untuk Menghentikan Kelaparan Dan Membahagiakan Kesepian. Kami suka memberi nama yang panjang untuk masakan kami.

Beberapa tahun ini kakak perempuan itu tinggal di Malaysia bersama suaminya. Dia mengajar Al-Qur’an dan suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Sewaktu kukirimkan novelku padanya, dia menangis membaca halaman sambutan. Seperti yang sudah kuduga. Tapi bukan itu bagian yang paling menarik, bagian terhebat dari keberadaan novel itu di sana adalah ketika dia berkata ingin segera pulang dan mencoba beberapa masakan India Mamak (Bangladesh (?)) yang dia pelajari sewaktu masih bekerja di kantin. Aku senang mendengarnya. Tapi aku tak berharap itu suatu janji. Waktu kadang bisa sangat lama menipu harapan kita.

Kakak pertamaku terus mengaduk nasi yang semakin menguning tua warnanya. Sementara aromanya semakin menebar ke mana-mana. Sejak kecil aku sering diceritani oleh ibu tentang keahliannya membuat masakan, khususnya nasi goreng. Pernah suatu ketika dulu dia membuatkan nasi goreng buat teman baniknya yang kaya, dan dengan gaya bercerita ibu yang luar biasa, aku tahu aku bisa merasakan kelezatannya di ujung lidahku yang masih awam soal makanan. Jika memang keahliannya itu tidak berkurang sejak hari itu sampai sekarang, mungkin 18 tahun, maka aku tak heran jika temannya yang tak pernah merasakan sensasi memasak sendiri akan ketagihan dengan nasi gorengnya.

Kami menyantap nasi goreng yang lezat malam itu. Aku menggigit beberapa cabai untuk menambah kekuatan rasanya. Dan aku semakin teringat pada kakak perempuanku. Setiap suapan yang kutelan, pun turut mengingatkanku pada ibu yang sering meminta bantuanku untuk melembutkan rempah-rempah. Aku lumayan lihai menggunakan ulek-ulek dan cowek. Seingatku hanya sekali aku melubangi cowek karena terlalu keras menekannya—aku mengulek ketumbar waktu itu. Tapi aku tak lihai sama sekali untuk menyembunyikan yang bersembunyi di balik mata.

Kubayangkan, waktu adalah sebuah penggorengan. Bundar dan memiliki dasar tunggal. Tak peduli betapa cepat tahu berputar, tak peduli betapa jauh tempe ingin pergi, nanti, akan dengan sendirinya jatuh ke titik pusat. Tak perduli betapa jauh aku pergi, menempuh jarak waktu, selalu saja ada jedah dari seluruh waktu yang membuatku tergelincir dan jatuh. Menyelisip turun dengan cepat ketitik pusatnya; orang-orang yang layak dirindukan. Inilah yang membuat Malaysia menjadi salah satu Negara yang ingin kukunjungi. Bukan untuk bermain-main. Atau membuat buku perjalanan antar negara. Tapi untuk berdiri di samping panci yang panas di atas kompor menyala bersama kakak perempuanku. Lalu dia kan berkata di akhir acara memasak hari itu, bagaimana kalau ini kita beri nama masakan ini “Tomyam Segar untuk Siang Hari yang Panas dan Saudara yang Datang dari Jauh”. Aku akan menyetujui nama itu. Atau kami akan mencoba membuat roti canai yang bertabur kuah kental gurih. Orang-orang bercerita tentang India Mamak yang ahli membuat roti canai dengan memutar-mutar segumpal tepung sehingga terbentuk satu lempeng besar yagn memenuhi penggorengan datar. Mungkin kakak perempuanku tidak bisa melakukan atraksi seperti itu, tapi kami bisa mengatasinya dengan membuat adonan itu tipis dan menggorengnya di atas tutup panci datar. Hasilnya tidak akan jauh beda. Lalu kami akan merayakan proses pemberian nama yang menyenangkan: Canai Sederhana Dari Dua Orang Sederhana Untuk Sajian Yang Luar Biasa Di Suatu Hari Berbahagia. Nama yang tak terlalu buruk bukan?

Awalnya kami beencana membuat nasi goreng yang pedas, karena kakakku tahu aku suka pedas—tapi bukan pedas yang sangat pedas. Dan setelah matang, ternyata cabai yang kami pakai kurang tiga atau empat. Tapi itu tidak masalah, aku bisa mengatasinya dengan menggigit cabai untuk tiap suap nasi. Minyaknya juga pas. Tidak terlalu banyak sehingga nasi terasa basah, juga tidak terlalu sedikit hingga nasi tetap menggumpal. Semuanya terukur. Gurihnya pas, tidak berlebihan dan tidak menggumpal di satu bagian. Setiap bulir nasi terasa gurih. Nasi goreng malam itu memang nasi goreng yang lezat. Setelah semua selesai, kakak pun pulang, dan pintu menutup dengan cepat seiring dengan menghilangnya punggung kakakku itu di persimpangan jalan. Kembali ke rumahnya. Aku memutar kunci. Berjalan ke dapur untuk menyaksikan wajan yang kosong. Aku kembali ingat kelezatan nasi goreng beberapa menit barusan. Dan detak jarum jam berkejaran seakan kereta api yang tak bisa berhenti. Aku duduk dan terdiam. Merencanakan besok pagi untuk membereskan semuanya. Dan perlahan-lahan aku teringat sebuah lelucon dari sebuah film superhero yang mengesankan. Lelucon itu demikian bunyinya: seorang pria datang menemui seorang dokter di sebuah kota. Dia mengaku sedang depresi, merasa sedih dan kesepian. Dia merasa terasing dan butuh hiburan. Lalu dokter itu menjawab, “pengobatannya mudah kawan, kau datanglah ke pusat kota, di sana ada badut yang sangat lucu. Pagliacci namanya. Kau pasti akan tertawa melihatnya.” Lalu pria itu menjawab, “tapi dokter, akulah Pagliacci.”

Lelucon yang bagus.

31/12/2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: