• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SEORANG PEMUDA TAK LULUS SD, BAHKAN TAK PERNAH SEKOLAH, MENULIS SEBUAH NOVEL PENDIDIKAN YANG MENGINSPIRASI BANYAK ORANG

Seorang pemuda dari sebuah pulau kecil yang tak nampak di peta berhasil menulis sebuah novel bertema pendidikan dan mengispirasi banyak pembacanya. Pemuda itu tak pernah kuliah, atau sekolah TK maupun SD. Singkat kata, dia tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Tapi yang menakjubkan, dia berhasil menulis sebuah novel yang menginspirasi pembacanya dari berbagai kalangan. Mulai dari murid samai guru. Pegawai sampai wiraswasta. Mahasiswa maupun pekerja. Sesuatu yang mirip dengan keajaiban pastilah sedang bekerja di sini.

Siapakah pemuda berusia 24 tahun yang menakjubkan itu? Dia adalah Arul Chandrana. Ya, Arul Chandrana. Jika kau tak percaya, saya berani menantangmu untuk mengecek sekolah manapun di seluruh Indonesia guna menemukan namanya di daftar murid mereka. Dia tidak tercatat di PAUD manapun, di TK manapun, di SD manapun, di SMP manapun, di SMA manapun, di kampus manapun. Dia tidak ada di catatan pendidikan manapun. Namun begitu, dia berhasil menyusun sebuah novel setebal 400 halaman lebih dengan materi yang tak ringan. Mengalahkan sahabatnya David Khoirul yang memproklamirkan diri sebagai ketua rukun kematian tak resmi di desanya yang terpencil.

Ya, cukup. Cukup sampai di sini leluconnya. Aku bayangkan, David akan tertawa terpingkal-pingkal membaca ini sebagaimana biasanya dia lakukan untuk setiap kebodohan sengaja yang kubuat. Atau yang kami buat. Untuk saat ini, aku memang sangat merindukan momen itu, lagi. Aku ingin melihat rambut panjangnya yang tak pernah berubah itu bergejolak oleh gelengan kepalanya. Aku ingin melihat matanya yang menyipit karena tertawa geli. Aku ingin mendengar gelegar tawanya dari mulutnya yang terbuka lebar. Sesuatu yang kini tak pernah lagi kutemukan di manapun aku duduk membuka buku.

Untuk diriku yang saat ini, jujur saja, aku berhutang padanya. Karena dia, ya, dia, yang pertama kali mau mengakui dengan sungguh-sungguh ada apa dengan tulisanku. Dia yang membuatku besar kepala dan meyakini aku berbakat dan bisa membuat sesuatu yang hebat. Cerdas dan mengagumkan. Tidakkah kau merasa sangat berhutang budi pada orang yang membangkitkanmu seperti itu?

Di novel Pemburu Rembulan, kau akan beberapa kali menemukan namanya tertulis di sana, sebagai sosok tak terlihat yang memberi pencerahan dan kekuatan. Inspirator. Bahkan kau juga bisa menemukan namanya di halaman depan. Hanya saja, di novel itu juga kutulis jika dia sudah mati. Dalam sebuah kecelekaan sepeda motor—aku sebenarnya ingin menambahkan detail bahwa kepalanya tertinggal dalam helm saat polisi mengevakuasi, tapi kupikir itu akan terlalu brutal kedengarannya. Sesuatu membuatnya mati lebih dulu. Sebelum ada yang menyadari.

Tapi jika definisi mati seperti itu yang kugunakan, bahwa keterputusan hubungan dan komunikasi adalah sesuat yang mematikan, maka aku sepertinya telah mengalami lebih banyak kematian jauh sebelum ini. Orang-orang yang semestinya demikian hidup bagiku tapi dengan teratur mati satu persatu. Menghilang. Dan aku hanya tak tahu bagaimana semuanya bisa masih berjalan dengan baik-baik saja. Beberapa kematian sama sekali tak kurindukan dan aku tak bertanyata-tanya tentnag itu. Beberapa yang lain, aku menangisinya.

Sampai di mana aku? Mestinya tadi aku mau menulis sebuah tulisan akhir tahun tapi karena kemudian aku tak pernah berpikir untuk mengucapkan ‘selamat tinggal 2011’ atau’ selamat datang 2012’, aku juga tak merasa perlu membuat catatan-catatan prediksional tentang masa depan, aku pun tak merasa perlu melakukannya. Aku hanya ingin menulis apa yang menurutku bisa membantuku. Atau orang lain yang merasakan hal yang sama. Hanya saja kemudian aku merasa tulisan ini demikian menyedihkan. Aku dari tadi sedang meratapi kehilangan, bukan?

Habibi sedang mendaki gunung Rinjani, dan temanku yang lain entah sedang apa. David di dalam novel telah mati. Amar tak pernah terdengar lagi. Semuanya seperti asap yang dikibaskan dari ujung rokok dan tak butuh waktu lama untuk menghilang. Raib. Ada banyak hal yang tak ingin kita percaya, pada saat yang sama, semua itu memaksa kita agar tahu tak ada pilihan selain untuk menerima.

Serangga cahaya bisa terbang dalam kegelapan. Kunang-kunang. Binatang bawah laut juga punya lampu di ujung sungutnya. Mereka tak perlu takut kegelapan. Tapi manusia butuh manusia lainnya untuk mengalahkan kegelapan. Khususnya ketika kegelapan itu menetes menjadi kesepian yang tak henti berdenting dalam kelengangan.

Aku dulu pernah berharap untuk bisa masuk ke dalam film kartun yang kutonton. Aku tak bercerita pada siapapun tentang ini. Tapi aku tahu david akan dengan senang hati mendengarkannya. Aku pernah begitu bangga bisa bercanda dalam bahasa inggris dan david akan turut bangga tiap kali kukatakan padanya, ‘hey dengar, kita bercanda dengan Bahasa Inggris!’ Aku juga akan mengingat makan yang lahap di warung yang murah itu. Walau tidak lagi dengan tawa, tapi dengan sedikit mata berkaca-kaca.

Kematian demi kematian terjadi begitu cepat. Hampir-hampir kita tak sempat memikirkannya. Tak seperti orang Kasim yang mempersiapkan kematiannya dengan membuat peti mati terbaik. Kita sering terhenyak karena keterkejutan yang mengerikan. Tiba-tiba saja tersadar sesuatu telah begitu lama hilang. Mati diam-diam.

7 Responses

  1. It’s a very touching post.

  2. Mas Arul, ajari aku menulis. Aku ingin bisa menulis sepertimu.

  3. hahahahaha, David, u are the inspiration. thanks for being death. hahahaha.

    ajik, permintaanmu salah alamat kawan, yang berkomen di atasmu, David itu, dialah master tulis menulis. aku banyak diajari-nya cara mencari kerang di pantai kemarin hari olehnya

  4. dalem bgd mz.. ‎(˘⌣˘)

  5. memang selalu ada kedlaman tersendiri untuk tiap kenangan yang memilukan, markitin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: