• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

PERJALANAN LENGANG

Yang kini kubutuhkan, adalah sebuah perjalanan wisata naik bus bersama sebuah rombongan yang tak banyak bicara. Beri aku tempat duduk di pinggir jendela. Dan menikmati semuanya yang terpapar di sana. Aku akan mengamati tepi jalan menanjaknya, dan berpikir jika hamparan pucuk bambu di bawah sana adalah beledru hijau lembut yang tak pernah henti mengantarkan udara sejuk menyembuhkan. Sepertinya perjalanan ke Ruili bisa menolongku.

Aku tak akan berbicara. Aku tak akan membuat catatan. Aku juga tak akan memotret. Aku hanya ingin diam. Menyimak. Membiarkan pikiranku terlompat bersama roda bus yang terhentak tiap kali melindas bongkahan batu lepas dari aspalan. Beri aku waktu untuk bermenung dengan mesin yang terus menggerung. Karena aku terlalu bersebih untuk mengekalkan kenangan. Karena aku telalu luruh walau hanya untuk menghitung waktu. Aku tak perduli, aku hanya perlu tahu jika aku terus bergerak bersama sopir yang kami larang merokok sepanjang perjalanan. Dan biarkan aku mengalir bersama tatapan yang tak bisa bergulir.

Yang kini kubutuhkan, adalah pemandangan wanita-wanita Naxi bergerombol menuruni lereng gunung membopong daun-daun pinus serupa jarum dalam kelelahan purba. Di musim dingin, ternak mereka akan tidur di tumpukan daun tersebut untuk menghangatkan badan, dan nanti saat musim semi tiba, kaum wanita yang sama akan mengambil daun-daun yang telah bercampur kotoran itu sebagai pupuk untuk tanaman mereka yang baru. Bahkan daun jarum pohon pinus pun tak kesepian dalam hidupnya. Debu akan sedikit membuat para wanita itu batuk. Dan aku akan bertanya-tanya tentang para lelaki yang ada di rumah mereka. Aku ingin menghela nafas dengan sangat dalam dan panjang tanpa ada orang yang merasa perlu untuk menanyakan beban apa yang sedang kutanggungkan. Aku ingin keheningan itu. Dan aku akan teringat pada kamarku yang kecil. Dengan satu lemari sempit yang hampir memuntahkan isinya. Buku-buku menumpuk sementara lipatan baju tak pernah baru. Kau tentu masih ingat aku punya keberatan tertentu tentang semua ini.

Dalam perjalanan keheningan, aku akan mulai terhanyut. Aku tahu aku bisa menangis kapan saja. Burung putih terbang bergerombol meninggalkan petak sawah yang dibajak. Tupai melompt menjauh dari dahan yang di sana ular merah kehitaman merambat. Rusa lari sembunyi dari pinggir jalan tempat bus menyimpang. Aku akan mulai terngiang lagu-lagu menyedihkan yang selalu membuatku merana. Aku akan terdengar lagu tentang kepatahan oleh masa lalu. Aku akan mulai menutup mataku beberapa detik hanya untuk merasakan sesuatu yang hangat membasahi kelopaknya. Aku ingin berteriak bahwa aku bersalah dan aku ingin menyelesaikan semua kekacauan. Tapi aku tak ingin rombongan perjalanan ini mendengarnya. Aku tak ingin pimpinan rombongan yang membawa mikrofon menanyakanku apa yang jadi masalah. Aku tak ingin sopir berhenti beberapa detik dan menjadikan itu alasan untuk meyulut sebatang rokok. Aku hanya ingin keheningan, dan biarkan kelengangan ini hingar bingar dalam kepalaku yang tak bisa kau sentuh.

Keheningan ini tak pernah berubah sedari dulu.

Aku akan menyandarkan kepalaku pada kaca yang tebal dan tak bergeser. Aku akan merasakan goncangan di bawah kakiku tapi aku tak akan pernah terganggu. Aku akan meresapinya. Batang-batang eucalyptus berbaris di pinggri jalan berselingan dengan paulownia. Menyaksikan garis air di kaca yang dingin. Aku akan menghela nafas. Aku akan mendiamkan diriku. Aku akan mendengarkan nafasku. Aku akan melihat pantulan wajahku. Aku akan merasakan kegelisahanku. Aku akan membiarkan semuanya berlalu. Aku akan diam dalam jeritan parau itu. Aku akan memejamkan mata dalam gejolak ketakutan. Aku akan berpegangan dalam hantam yang mendentam. Aku akan tersenyum menyambut keakhiranku dalam ledakan. Bus wisata kami jatuh ke dalam jurang yang tak pernah dituruni orang sejak dua puluh empat tahun silam.

29 Desember 2011

Dari balik jendela
Kulihat seseorang menghapus namaku susah payah
Dan dia hanya semakin terluka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: