Posted in nebula, sastra

penutur

he's waitin for nothin'
Seperti halnya semua anak-anak lainnya, aku pun menyukai kisah-kisah lucu Abu Nawas. Aku yakin kau pun demikian. Aku suka sekali mendengarkan kisah-kisah konyol lelaki Baghdad itu bersama teman-teman selepas ngaji maghrib di masjid. Kami akan tertawa terpingkal-pingkal setiap kali sampai pada bagian ‘gila’ dari tiap kisahnya. Ya, kali ini aku ingin bertutur tentang sebuah kisah berkenaan dengan penutur Abu Nawas. Kisah yang tejadi pada masa kecilku.
***
Pria itu kami panggil Obok Yomsi. Obok dalam bahasa Bawean adalah panggilan untuk orang yang lebih tua dari orang tua kita. Dan, tanpa suatu alasan yang jelas, kami semua sepakat bahwa Obok Yomsi pastilah lebih tua dari orang tua kami.

Dia kurus, tinggi, hidup sendiri, dan lama ditinggal isteri, mungkin hiburannya hanya kami, anak-anak tetangga kanan kiri. Yang membuat spesial pria ini adalah kemampuannya dalam bercerita Abu Nawas. Dia membuat kisah itu sangat amat lucu, bahkan yang baru berusia lima tahun pun bisa merasakan kelucuannya. Setiap hari, jika kami minta dia akan menceritakan kisah yang berbeda. Seakan ada jutaan kisah Abu Nawas di dalam lemarinya. Dan kalaupun dia mengulang kisah yang sama, kelucuannya tidak berkurang walau secuil saja. Bahkan bertambah-tambah. Pernah suatu ketika, karena penasaran, kami meminta Obok Yomsi menceritakan kisah Abu Nawas yang menungging di depan raja berulang-ulang seminggu penuh. Dan, tetap saja kami dibikinnya tertawa. Cerita itu selalu terdengar baru tiap kali kami mendengarnya. Dan pada hari ketujuh, cerita itu berhenti bukan karena kami bosan, tapi karena obok yang, katanya, mau muntah karena keseringan menceritakan kisah Abu Nawas yang sama.
***
Tapi jika kau pikir Obok Yomsi adalah jenis dari pria yang terlunta dan kurang berguna, kau salah besar. Obok Yomsilah pria yang ‘memegang’ kunci sholat kami. Beliau juru adzan. Sedikit yang kudengar mengenai dia, dulunya, jauh sebelum kakak pertamaku lahir, ia pernah mondok sampai beberapa tahun di Jawa. Dan saat kembali, bapak mengambilnya sebagai mu’adzin tak tergantikan untuk bertahun-tahun kemudian. Kupikir, Obok memang bukan hanya seorang penutur Abu Nawas yang berkarisma, tapi juga juru adzan yang sangat dicinta. Bahkan kemudian, orang-orang tidak hanya menggunakan istilah adzan untuk masuknya waktu sholat, mereka juga bilang, ‘la akasak Yomsi?’ sudah berbunyikah Yomsi? Subuh terasa sangat berbeda jika suara pertama yang kudengar bukan suara Obok. Dan lebih dari apapun itu, Obok juga telah mengambil peran sebagai orang dewasa keren pertama dalam hidupku.

Semua itu terjadi ketika suatu hari di tahun ke empat sekolahku aku mendapat tugas puisi dari guru bahasa Indonesia. Aku sangat bersemangat mendapat tugas tersebut. Bukan hanya karena berharap nilai, tapi karena membayangkan puisi tugasku itu akan menjadi puisi yang dibaca anak-anak sekolah berpuluh tahun kemudian seperti Berdiri Aku-nya Amir Hamzah yang diwajib-bacakan oleh guruku. Mungkin, itulah pertama kalinya aku terpesona oleh sebuah ketenaran. Aku pun menulis puisiku, dengan usaha memiripi Berdiri Aku yang sangat kelihatan: tepi Labbhuan / jejak kaki dan hilang / ujung ombak yang tak memaafkan / menyeret teriak angin dan harapan / awan tak sobek oleh sayap / meninggalkan lembayung jingga di perbatasan / tapi nelayan sudah kemalaman / bahkan burung sudah pulang / melupakan / jejak kaki dan hilang. Aku bermaksud untuk menggambarkan suatu senja di tepi pantai Labbhuan di desaku, dan aku dengan tololnya menganggap sudah berhasil membuat puisi sebagus Berdiri Aku. Kemudian, aku melakukan kesalahan pertamaku, aku mencari bapak, mendapatinya sedang memberi jenggot kitab kuning, menyodorkan puisiku dan kemudian aku menyesal. Berharap bisa membatalkan semua yang barusan kulakukan.

Bagi bapak, puisi adalah omong kosong. Kegilaan. Kemalasan. Kelemahan. Ketakberdayaan. Mungkin juga kebancian. Bapak lebih suka aku berani tidak mendapat nilai dari pada harus membuat puisi. Kalau sampai kau bikin puisi lagi, apalagi puisi cinta, ancam bapak tanpa mengangkat wajahnya dari ketas kuning itu, kubakar bukumu. Yang tidak bapak tahu setelah bapak kutinggal masuk kamar, puisi itu kurobek dari bukunya, kukantongi dan aku pergi. Aku ingin tertawa. Aku ingin Abu Nawas. Abu Nawas yang diceritakan Obok Yomsi, bukan orang lain.

Dan begitulah yang terjadi, aku tertawa terpingkal-pingkal seperti yang kuharapkan, lebih keras dari yang lainnya, bahkan. Obok Yomsi menceritakan bagaimana Abu Nawas mengakali telur ayam dari raja yang harus dia erami dan tetaskan. Setelah selesai, kami semua pulang dengan lebih bahagia. Tapi aku tidak. Aku berbalik. Kembali ke rumah obok dan mengetuk pintunya dengan sangat pelan. Siapa? Obok bertanya dari dalam. Dan tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintu lagi untuk mendapatiku berdiri dalam kegelisahan. Aku menceritakan pada obok tentang bapak dan puisiku. Dia tersenyum dan meminta puisiku tersebut. Entah penglihatanku yang terkaburkan oleh keremangan atau memang kenyataannya demikian, aku, mungkin untuk pertama kalinya, melihat kemuraman yang dalam di wajah Obok Yomsi. Bersama dengan detik yang tak henti menitik, penyesalan pun menjalari pikiranku dengan cepat dan menyakitkan. Ternyata sebegitu buruknya sebuah puisi. Dengan itu aku telah membuat bapak marah, dengan itu pula aku telah membuat Obok merana. Dalam hati, kuumpat Amir Hamzah dan puisinya. Tapi kemudian, kata-kata Obok menyentakku, Rul, bagus sekali puisimu. Bagus sekali. Kau bukan hanya berhasil menyusun kata-kata yang indah kedengarannya (aku ingat guruku menyebut ini dengan istilah rima), tapi juga kuat maknanya. Seakan kau menghadirkan kesedihan yang tak bisa dielakkan (aku ingat guruku menyebut puisi begini dengan istilah bernyawa). Obok Yomsi memuji puisiku. Memuji rima dan kekuatannya. Bahkan, dia juga membuat sebuah pengakuan: aku juga suka puisi.

Obok Yomsi adalah orang dewasa paling keren pada masa itu. Masa di mana aku hanya mengenal ornag dewasa yang kulihat, bukan yang kubaca.
***
Tak jelas bagaimana benarnya kabar ini, ada yang bilang istrinya pergi ke Malaysia dan menikah lagi di sana, ada yang bilang istrinya kawin lari karena tak sabar dengan kemelaratannya, ada yang bilang karena istrinya percaya dia tak bisa memberinya anak. Banyak sekali rumor tentangnya yang di kemudian hari aku tahu itu rumor yang tak sedap, tapi bagi kami, para anak-anak fans berat Abu Nawas, Obok Yomsi adalah pria tanpa cela. Tak ada yang perlu dikeluhkan tentang dia. Baik adzan atau cerita-ceritanya. Atau kesendiriannya. Satu-satunya yang kami keluhkan adalah, bahwa di ujung aku kelas enam MI, Obok Yomsi mulai melemah dan sakit-sakitan. Memang dia masih adzan, tapi nafasnya tak lagi sepanjang biasanya. Memang dia masih bercerita, tapi batuknya mengganggu tiap kejutan yang biasa dia berikan dari intonasinya. Hingga suatu hari, selepas mengaji kami serombongan anak-anak datang ke Obok Yomsi dengan satu timba penuh buah-buahan. Ada jambu, srikaya, papaya, delima bahkan beberapa butir apel. Guru IPA kami adalah orang tertingi gelarnya di sekolah kami, kami percaya kata-katanya, dan tadi siang dia bilang jika buah-buahan bisa membantu untuk menjaga kesehatan. Malam harinya, kami pun datang untuk membantu pria dewasa terkeren dalam kehidupan kami, Obok Yomsi. Agar dia cepat sembuh. Agar adzannya panjang lagi. Agar dia bisa bercerita lagi. Agar tertawa kami bisa sempurna lagi. Agar masa-masa menghadapi EBTANAS (sekarang UAN) tidak semenakutkan ini. Kami bernyanyi di sepanjang jalan menuju rumah Obok Yomsi.

Temanku yang paling bersemangat yang sampai duluan di halaman. Dia yang pertama kali masuk beranda. Dia yang pertama kali mengucapkan salam. Dia yang pertama kali mengetuk pintu. Dia yang pertama kali memanggil Obok berulang-ulang. Tapi, akulah yang pertama kali merasakan kegelisahan. Akulah yang pertama kali tahu ada yang tak menenangkan. Akulah yang pertama kali mendobrak pintunya yang tak terkunci. Akulah yang pertama kali lari ke kamarnya. Dan, akulah yang pertama kali melihatnya di sana berbaring diam. Obok Yomsi sudah mati. Sendiri.
***
Masih perlukah kugambarkan bagaimana kekalutan itu membakar kami semua? Bagaimana jeritan panik, takut, sedih, frustasi dan tak percaya meracuni pikiran kami semua? Tidak ada malam yang sekejam itu bagiku kemudian. Kami menangis di pinggir dipan Obok. Sebagian dari kami, yang sudah SMP, lari keluar memanggil tetangga. Rumah itu pun segera penuh sesak dan tak muat. Kami para anak kecil dipaksa keluar dan duduk di halaman. Sambil menatap pintu masuk, aku berpikir, seharusnya kami yang duduk di dalam rumah itu, di dekat tubuhnya yang kaku, karena kamilah yang benar-benar tahu tentang pria yang mati di situ, bukan para orang dewasa yang tak pernah mau mendengarkan cerita-cerita Abu Nawas yang lucu. Namun demikian, sampai tiga menit kemudian, atau lebih, barulah aku menyadari jika air mataku mengalir terus tak berhenti.

Kematian Obok Yomsi membuat kami murung dan kehilangan antusiasme. Seperti orang kematian pacar. Suatu petang, empat hari setelah kematiannya, aku mendapati bapak membakar banyak kertas di belakang rumah. Dia tak menjawab waktu kutanya kertas apa itu yang dia bakar. Diam-diam aku mengambil satu. Kertas itu penuh dengan tulisan pegon (bahasa jawa atau Indonesia yang ditulis dengan huruf hijaiyah). Dan aku segera tahu siapa penulisnya, Obok Yomsi! Kefasihanku membaca Qur’an membuatku mudah saja membaca aksara pegon itu dan seketika itu pula aku tahu jika yang sedang dibakar oleh bapak adalah ratusan lembar puisi karya Obok Yomsi. Gigiku gemeretak, aku berdiri dan memberanikan diri untuk bicara tegas, walau yang kudengar hanya suara mencicit menggelikan, bapak, sesungguhnya Obok Yomsi sangat menyukai puisi! Kemudian aku diam. Dan bapak pun hanya diam. Hanya deru api dan cahaya kuningnya bermain di muka kami. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku pun berbalik hendak pergi tapi suara bapak menghentikanku, kembalikan kertas yang kau pegang itu. Memang selembar puisi itu kukembalikan, dan aku juga menyaksikan sendiri bagaimana bapak melemparnya ke dalam api tanpa ekspresi. Tapi yang tidak bapak tahu, aku menyimpan sepuluh yang lain dalam sakuku. Atau, dia tahu tapi membiarkanku? Entah.

Di kamar, aku membaca satu persatu puisi-puisi itu dan aku mendapatkan dua hal yang membingungkan sekaligus membuatku penasaran, pertama, kebetulan sekali, ternyata salah satu kertas itu berisi tulis ulang puisi pantai Labbhuanku. Ke dua, selain pada puisiku, Sembilan puisi lainnya mengandung satu nama yang sama: Masiyah. Nama yang kabarnya adalah nama wanita yang dulunya sempat menjadi istri Obok Yomsi.
***
Kematian Obok Yomsi telah menjadi satu peristiwa tersendiri untuk masa kecilku. Setelah itu aku masih pergi mengaji di masjid. Juga masih berkumpul dengan teman-teman. Bercanda dan saling mengolok-olok. Hanya saja, setiap kali seseorang menceritakan kisah Abu Nawas yang dulunya pernah diceritakan Obok, aku sama sekali tak merasakan itu lucu. Sepertinya, kisah Abu Nawas telah mati kelucuannya bersamaan dengan kematian penuturnya yang terbaik. Dan, oh ya, setelah aku dewasa barulah aku tahu jika, mungkin, 80 persen cerita Abu Nawas yang Obok ceritakan sebenarnya adalah cerita karangannya sendiri. Itu menjelaskan mengapa dia punya demikian banyak koleksi Abu Nawas untuk diceritakan tiap malam.

Arul Chandrana

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s