Posted in ehon, nebula, think

PRIVATE TUNNELS

Ini seperti mendesah dan berkata, hfff, aku sudah berubah sejauh ini, tapi aku belum menjadi apa-apa. Kau pasti pernah punya perasaan seperti itu, atau. setidaknya, yang hampir seperti itu. Yah, kali ini aku tidak berencana menguraikan tentang perasaan semacam itu, tidak, tapi pada bagaimana kita terkerkendali oleh segala pemikiran itu. Kadang kau ingin menyelamatkan diri, bukan?

Terakhir kali orang menemukan burung dodo di pulau Mauritius pada abad ke 17. Burung tanpa saya dan tak bisa terbang itu memiliki sebentuk kemiripan dengan bebek atau kasuari atau merak jantan. Dia memiliki postur yang agak besar tapi tak bisa bergerak lincah. Unggas darat yang lamban. Dan akhirnya, punah. Tidak seperti kerabatnya penguin yang bertahan di udara tanah dingin, atau ostrich yang tetap bertahan berlari di dataran luas dan panas. Kini kita hanya punya image suram atau hitam putih bagi burung itu. Dia punah, tapi dia menjadi sesuatu. Dia mengingatkan manusia bahwa satwa selalu berkurang dan tak kan bisa bertahan menghadapi gempuran manusia. Pada keadaan itu, aku merasa bukan lagi siapa-siapa karena aku tak bisa memberi sumbangsih apa-apa.

Seperti kata Nabi Muhammad, adalah maut dan ketuaan dua hal yang tak bisa diobati. Tak bisa dielakkan. Tak bisa ditepis dengan cara apapun itu. Itu dua hal yang terus berlomba mengejarku. Dengan segala cara yang tak bisa aku menolaknya. Seperti halnya Hayam Wuruk pun tak sanggup menghindarinya. Tapi aku belum juga menjadi apa-apa. Tidakkah ini sedikit sia-sia? Atau lebih banyak lagi? Apa yang kulakukan sampai usia 24 tahun jauh tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang dibawa oleh Jengis Khan untuk kaumnya pada usia yang sama. Setidaknya, Khan telah mengendarai kuda lebih dari 1000 kilometer sebelum mencapai usia ke tujuh belas. Dan aku? Belum setapak kakipun pernah mengendarai binatang gagah berkaki empat itu. Aku belum menjadi apa-apa. Belum menjadi apa-apa.

Aku hanya tidak ingin berkemas dengan wajah yang tertunduk. Atau, merapikan baju dan segala pakaian sebelum pukul empat pagi. Itu terlalu berat rasanya. Atau, bukan itu, itu terlalu memalukan bagiku. Aku hanya tidak ingin papan-papan menutupku sementara ibuku belum pernah mendapatkan tepuk tangan karena ku, aku tidak ingin nantinya hanya ibuku yang masih terus mengenangku sendirian. Sedangkan orang lain berlalu-lalang dengan keheranan ketika mendapati sebuah catatan di pinggir jalan, mereka mendesah, hfff, Arul ini siapa? Aku tak kenal. Bukan siapa-siapa.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s