• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

TENTANG KETAKBERNAFASANNYA

kenangan selalu ada untuk menunjukkan kebearadaan

Aku bukan orang yang percaya bahwa benda-benda punya jiwa. Bagiku, mereka adalah benda mati biasa yang tidak memiliki kesadaran atau kehidupan sekecil apapun. Mereka berdiri sendiri dalam wilayah yang sepenuhnya tunduk pada perubahan sekitarnya. Tapi, satu hal yang kupercaya tentang mereka, bahwa benda-benda punya kenangan. Itulah yang membuat mereka bertahan dalam ketakhidupan mereka. Kenangan itulah yang membat benda-benda mati seakan berbisik dan senantiasa menarik kita ke satu sudut hati yang tak pernah bisa kita tinggal.

Dengan cara itu, aku berusaha untuk selalu bisa menyisakan satu dari pakaian masa-masa sekolah dasarku untuk tetap bertahan. Untuk bisa kulihat lagi sewaktu-waktu dan menyadari bahwa aku pernah menjadi anak-anak dan aku menikmatinya. Aku juga menyimpan buku-buku tempatku menuangkan segala tulisanku tak perduli sejelek atau seberantakan apapun itu. Tak perduli jika nanti aku akan tertawa terpingkal-pingkal menyadari betapa konyol yang telah kutuangkan di sana. Atau, dalam banyak yang kubaca ulang, betapa malu aku telah menulis yang seperti itu. Aku tak peduli dan tak mempermasalahkannya dan tetap akan menyimpan buku-buku tipis itu. Karena mereka menyimpan kenangan. Satu dari bagian-bagian kehidupan. Itu juga mengapa aku suka sekali mengumpulkan buku-buku tua. Aku selalu menyempatkan diri untuk berhenti sebentar untuk membuka buku-buku lusuh dan berdebu saat sedang bersih-bersih. Kusempatkan beberapa jenak untuk membuka buku tersebut—buku tulis maupun buku cetak. Dan pada tiap halaman yang kubuka-baca, aku seakan mendapatkan satu kesempatan emas untuk menyentuh jari-jari yang dulunya mengukir tulisan tangan di sana. Jelek atau pun rapih. Aku juga seakan mendapat satu kehormatan indah untuk membuakakan halaman-halaman buku cetakan untuk sepasang mata yang membacanya bertahun-tahun yang lalu. Aku menyukai petualangan dalam kenangan seperti itu—walau terkadang kenangan yang kuselusur adalah kenangan yang kubangun sendiri berdasar pencitraan yang kukesan dari apa yang tersaji di hadapanku. Ah, dan banyak lagi lain alasan mengapa aku selalu punya dorongan untuk menyimpan satu bagian dari sesuatu, dari sebuah benda.

Sewaktu di Bawean, hampir rutin seminggu sekali aku bersama sepupu dan tetanggaku pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar. Itu perjalanan menyenangkan yang melelahkan. Kadang berat sekali untuk melakukannya. Jalanan menanjak, sempit dan licin. Perdu tumbuh di kanan dan kiri jalan. Begitu tiba di tempat, tantangannya menjadi lebih berlipat-lipat. Kami harus menuruni lereng dengan tanah kering berbulir-bulir. Kaki bisa saja tergelincir jika tak hati-hati atau tak kokoh memijak. Kerapatan pohon sedikit membantu karena dengan itu kami bisa berpegangan saat turun atau naik. Hanya saja, dengan kayu di pundak dan jalan menanjak, gumpalan-gumpalan tanah dan pohon-pohon memagar, perjalan pulang selalu menyakitkan dalam kepuasan mendapatkan kayu bakar. Keringat dan boret di tangan adalah pertanda yang harus kau dapatkan untuk mengalami perjalanan itu. Sekarang, ketika mungkin sudah empat tahunan tidak mengalami mencari kayu bakar, aku agak menyesal karena tidak menyimpan sebutir tanah kering atau sepotong tonggak kayu mati sebagai kenangan dari semua perjalanan itu. Satu-satunya yang kuambil dulu sewaktu masih MI. Sekeping kayu mati berrongga akibat dimakan rayap. Kugunakan sebagai pelengkap bermain orang-orangan Dragon Ball. Kutinggalkan sewaktu mulai merasa cukup tua untuk meningalkannya. Dan hilang karena tak lagi dibutuhkan. Mungkin ibu menjadikannya bagian dari kayu bakar di dapur sewaktu aku sedang mengikuti mata kuliah Perkembangan Psikologi Peserta Didik di kampusku di Tuban. Aku menyesalinya.

Tapi aku selalu berusaha untuk membatasi diri. Untuk menegur diriku sendiri atas kecenderungan melankolis dan agak merepotkan ini: aku tak bisa menyimpan semua benda kenangan, bukan? Beberapa di antaranya benar-benar menjadi sampah. Yang lain menjadi usang dan bahkan aku sudah lupa mengapa aku dulu menyimpannya—seperti secarik kertas berisi potongan kata-kata entah siapa, robekan kecil kertas ujian dengan gambar aneh di dalamnya. Barang-barang memorabilia yang lekang seperti itu pada akhirnya harus menerima kegugurannya. Tong sampah atau dapur menyala. Dan karena aku sudah lupa semua alasan mengapa menyimpannya, aku tak pernah keberatan atau terluka saat memusnahkannya. Pergilah pergi.

Oh ya, untuk memberi satu alasan, sepertinya ini pulalah yang membuatku menggemari photography, ada hantu fotografi dalam diriku—seperti kata ayah Farhan dalam 3 Idiots. Aku suka menggambil gambar apa saja, khususnya ketika aku bepergian kesuatu tempat yang aku tak pernah bisa menjamin bisa mendatanginya lagi, atau ketika aku menemukan momen atau lanskap yang aku tak bisa menjanjikan diriku akan menyaksikannya lagi. Aku akan terbakar habis untuk mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera buram handphone ketinggalan jamanku. Tapi tentu saja, seperti yang sudah kau tahu, aku tak punya keberatan untuk itu. Selalu begitu. Aku hanya berharap akan punya kamera, atau hp kamera, yang lebih baik dari yang kupunya sekarang. Aku akan membawanya kemana-mana layaknya uang saku untuk perjalanan jauh. Aku akan menjepret setiap momen yang kusaksikan di tempat baru itu. Aku akan masukkan semua kesan bahkan diriku di tempat itu ke dalam memori hp yang canggih tersebut. Aku akan benar-benar memuaskan diriku dan konsep ‘benda kenanganku’ dengan gadget yang hebat itu. Ya, aku akan melakukannya. Eh, tapi, sepertinya tak lama kemudian aku akan menjadi orang yang sedih dan diserang kerinduan. Saat duduk di kafe pinggir jalan, menikmati minuman ringan sembari mengamati hp hebatku di atas meja, pada momen itulah, aku akan dirongrong kerinduan yang amat pada hp bututku saat ini. Dan aku sudah punya cukup alasan untuk bersedu-sedan.

Arul chandrana
06 Desember 2011. Kutulis bersama Owl City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: