• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

JULIAN PO: AKU INGIN BUNUH DIRI, DAN ITU MENGHIBUR SELURUH PENDUDUK KOTA INI.

my most extraordinary movie

Film ini bermula karena aku sedang depresi, ah, tentu saja. Aku yang tak pernah mengunjungi lautan dan hanya mengenalnya lewat televisi dan poster—di sana ada banyak hal menarik untuk kucoba—suatu ketika benar-benar tergoda untuk mengunjunginya. Dorongan itu begitu kuat karena semua masalah yangkuhadapi tampaknya tidak akan lagi menemui jalan keluarnya. Aku benci dengan pekerjaanku. Maka akupun berkemas. Aku depresi dan ingin bunuh diri. Maka aku pun berangkat pergi tanpa menoleh lagi.

Takdir membawaku berhenti di sebuah kota kecil sunyi. Demikian kecilnya kota itu sehingga semua orang mengenal orang lainnya. Dan kedatanganku ke sana telah membuat penasaran seluruh penduduk kota juga kecurigaan yang meluap-luap. Orang-orang mengawasi kemana pun aku pergi. Sheriff mengintai gerak gerikku. Mereka sangat tak ramah terhadap orang asing. Dan suatu ketika, ketika aku sedang makan di kedai, di bawah interogasi si sheriff gendut, aku pun berteriak pada mereka: aku sedang dalam perjalanan untuk bunuh diri. Dan dengan itulah aku meninggalkan mereka semua di kedai tersebut.

Tapi keajaiban, kalau boleh kusebut demikian, justru yang terjadi kemudian. Para penduduk kota yang bosan itu terperangah, terpesona, dan terpukau oleh niatku bunuh diri. Mereka mulau meihatku sebagai sosok yang luar biasa dan sangat berkomitmen atas tujuan hidupnya—selama bunuh diri masih bisa disebut tujuan. Dn simpati berdatangan. Aku layaknya orang sakti bagi mereka. Seorang pemuda datang padaku menanyakan masa depannya dan esoknya, dia langsung melakukan saranku: pergi menuju Hollywood. Dan, seorang perempuan juga mendatangiku. Dia yang akan mengubah semua ini menjadi lebih menyakitkan.

Penduduk kota yang keranjingan dengan rencana bunuh diriku mulai membuat taruhan kapan aku akan bunuh diri, bandarnya untung besar. Bukan hanya itu, pak tua pemilik usaha pangkas rambut menawarkan bantuannya untuk membunuhku jika hari itu tiba, menggunakan siletny ayang tajam berkilat untuk memutus leherku. Pemilik took pakaian juga tak mau ketinggalan, dia menawarkan pakaian termahal dan ternaiknya Cuma-Cuma untuk kupakai di hari kematianku nanti. Dia benar-benar ingin turut bersumbangsih untuk momen terheboh di kota itu. Juga si manajer hotel, dia punya senapan hebat yang menurutnya bisa menewaskanku dengan cepat. Apakah sheriff mengetahui kegilaan itu? Ya, dia tahu, dan dia sangat antusias menunggu datangnya hari akhirku.

Tapi, seperti yang kukatakan tadi, kawan, perempuan yang datang padaku kemarin telah membuat perubahan yang dalam atas hidupku. Aku yag awalnya sangat bernafsu untuk bunuh diri, perlahan mulai menyadari jika jauh lebih berharga mempertahankan hidup dari pada membiarkanya mati. Hanya saja, di saat aku semakin ingin hidup, wanita itu—yang dari awalnya memang kesepian—justru semakin ingin mati. Lebih parahnya lagi, orang sekota juga tahu mengenai hal itu.

Suatu pagi, wanita itu menghilang, telah bunuh diri di jembatan. Dan warga yang sudah tak sabar menunggu pembunuh dirianku, mulai menuntutku untuk segera melakukannya: wanita itu telah mati karenamu, sekaran kau harus menyusulnya! Digelandang oleh sheriff, wali kota dan pemilik pangkas rambut, aku digiring menuju jembatan tempat perempua itu menjatuhkan diri. Pada akhirnya aku akan sampai juga ke lautan. Dengan cara yang menyakitkan.

Itulah resensi film Julian Po yang bagi saya sangat luar biasa. Aku menontonnya bertahun-tahun yang lalu di RCTI, tengah malam, hanya sekali, dan tak pernah melupakannya lagi semenjak itu. Saya harap ingatan saya masih cukup kuat untuk memberikan detail ceritanya pada Anda. Dibintangi oleh Christian Slater sebagai Julian Po, aku telah melupakan siapa yang menjadi sutradaranya. Oh ya, maaf untuk gaya peresensiannya yang menyimpang. Mohon maklum yah.

Advertisements

4 Responses

  1. Suka dgn cara penyampaiannya..
    Nggak spt org meresensi kebanyakan..
    Good job!!

  2. hahahaha, itulah akibtnya kalau ingin meresensi tap[i terlalu bingung mau harus bagaiman dengan resensian. hehee

  3. apa yang harus aku lakukan saat aku ingin benar-benar mati? aku tahu itu dosa tapi aku tak sanggup hidup lagi.

  4. July, tidak usah repot kawan, mati pasti datang, tunggu saja sebentar lagi. dan sambil menunggu, kau bisa menyiapkan diri dengan perisapan terbaik. itu tips dariku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: