Posted in sastra

ISHMAEL, Sebuah Teguran Dari Buku Peraih Hadiah 4 Milyar Lebih.

cover Ishmael
Manakah yang lebih menakutkan bagimu: hey, lapisan ozon makin tipis, dataran es di kutub tiap hari makin berkurang dan meleleh, dan, coba lihat, hewan-hewan terus mati dan spesies terus berkurang. Atau yang ini: kau sudah dengar kabar hari ini? Cabai akan naik seribu rupiah, diskon di supermarket itu akan berakhir satu jam lagi, nanti malam sinetron anu tidak akan tayang, pesepak bola ini cedera dan tidak bisa main. Aku yakin, sebagian dari kita, sebagian besar, akan memilih kabar pertama lebih menakutkan dari yang kedua. Hanya saja, anehnya, yang terjadi sebaliknya, setelah mendengar kabar pertama, setelah merasa agak merinding, dan mengucapkan ’oh’ singkat, kita akan diam dan tak membahasnya lagi. Namun kabar yang kedua, setelah mendengarnya kita akan larut dalam perbincangan serius membahas kabar tersebt dengan segenap perhatian. Bagaimana bisa kita kehilangan kepedulian kepada dunia?

Ishmael adalah sebuah novel dialog yang luar biasa, membahas sejarah manusia dan seluruh isi bumi, menjelaskan bagaimana segalanya terjadi seperti sekarang ini, mengungkapkan kesalahan yang telah berawal semenjak sepuluh ribu tahun lalu, dia memberikan banyak pertanyaan dan keterkejutan pada kita sebagai pembaca. Anda tahu, pada era Perang Dunia ke Dua, seluruh warga Jerman sebenarnya sedang tertawan tanpa kecuali. Yang Yahudi maupun yang Germany. Mereka semua tertawan. Bagi non bangsa Aria, kita mungkin mudah memahami ketertawanannya: mereka ditindas oleh NAZI dan berada di ambang kehancuran. Tapi bagaimana seorang Aria juga sebenarnya tertawan? Oleh apa? Ya, mereka tertawan oleh cerita. Cerita yang disebarkan oleh Hitler dan mendengung di telinga mereka siang dan malam sehingga membuat mereka tak mampu lagi keluar dari bius cerita tersebut: bangsa Aria adalah bangsa penguasa, kita harusnya menguasai segalanya, maka lakukanlah segalanya utuk menguasai semuanya. Cerita itu menawan bangsa Aria, mereka tak bisa berbuat apa-apa selain mengorbankan segalanya untuk mewujudkan mitos tersebut. Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur yang dibuat Hitler. Jika pun mereka ingin melawan ketertawanan itu, hanya ada satu pilihan: keluar dari Jerman. Ternyata sampai saat ini ketertawanan seperti itu pun masih terjadi, kata Ishmael, dan korbannya bukan hanya orang Jerman, melainkan kita semua, seluruh umat manusia di bumi. Bedanya, orang Jerman saat itu punya pilihan untuk keluar dari ketertawanan sementara kita saat ini tak punya pilihan untuk keluar dari ketertawanan tersebut. Apakah kita bisa keluar dari bumi seperti keluar dari Jerman pada tahun ’40an?

Ishmael, uniknya, adalah seekor gorilla, dan dialah tokoh utama novel ini bersama si ‘aku’ yang hidupnya gelisah. Aku menemukan sebuah koran yang mengiklankan pencarian seorang guru atas murid yang ingin mengubah dunia. Aku yang dulunya memang ingin mengubah dunia bersama para pemuda lainnya di era 60’an, tergoda untuk mendatangi alamat yang tercantum dalam iklan tersebut. Dan di sanalah, di gedung itu, kisah Ishmael ini terjadi, dalam dialog panjang yang mengejutkan. Berhari-hari.

Ishmael juga mengejutkan ‘aku’ dengan pertanyaan ringannya, bagaimana manusia bisa berpikir bahwa dunia ini memang diciptakan untuk memenuhi segala hasratnya? Untuk dikuasainya? Apakah jika kita bisa bertanya pada ubur-ubur jawabannya tidak akan berbunyi demikian: oh, kawan, tentu saja setelah ubur-ubur muncul di bumi tidak ada lagi mahkluk baru yang muncul, tahu kenapa? Karena dunia diciptakan untuk ubur-ubur! Lalu kita bergerak ke pinggiran, bertemu kepiting, kita mengajukan pertanyaan serupa, dan kepiting pun akan menjawab: hoho, semua ini untuk kami sobat. Dan kau, spesies macam apa kau ini manusia? Boleh aku menelitimu sedikit lebih lama? Masalahnya, ketika yang berpikir bahwa dunia ini miliknya adalah para manusia, maka spesies itu pun melakukan segalanya untuk mendapatkan haknya. Tentunya bagi manusia itu tak salah, sebab seluruhnya yang ada di dunia dimaksudkan untuk memenuhi hasratnya. Bahkan bulan pun boleh menjadi tujuan wisata kalau mereka suka. Hanya saja, semua usaha yang dilakukan manusia untuk menguasai dunia justru membawanya lebih dekat pada penghancuran dunia.

Semuaya karena sebuah cerita, bahwa manusia adalah penguasa dunia, maka kuasailah, karena dunia untuk ditaklukkan, maka taklukkanlah, karena dunia untuk memuaskan segala kebutuhanmu, maka kuraslah. Dan, seluruh manusia terperangkap, tertawan dalam cerita ini. Lucu sekali menyadari bahwa hampir semua upaya kita untuk mencukupi kebutuhan kita adalah ternyata satu langkah untuk lebih mendekatkan dunia pada kehancurannya.

Pada akhirnya, saya minta maaf pada semua pembaca atas tak bagusnya resensi ini, saya tak tahu bagaimana caranya meresensi novel ini dengan lebih bagus lagi. Karena bagi novel itu sendiri, sepertinya, alur, konflik, klimaks, tak lebih dari sesuatu yang tak begitu penting, sepertinya, sebab keseluruhan novel inilah yang penting. Dialog itu sendiri. Yang membawa kita berkelana, mengenalkan kita bahwa binatang di kebun binatang yang hanya makan dua kali sehari jika mereka kita lepas ke alam bebas maka mereka akan makan tak ubahnya mereka bernafas. Di mana saja kapan saja mereka akan makan. Dengan dialog itu pula kita tahu ada banyak hal yang secra tak adil kita hembuskan pada semua orang dan pada diri kita sendiri akan kesombongan kita terhadap alam dan semua spesies lainnya. Daniel Quinn, sang pengarang, memang layak mendapatkan hadiah 500.000 U.S. dollar untuk novelnya ini. Novel setebal 356 halaman ini.

Namun demikian, melalui Ishmael, Daniel tidak meninggalkan kita dalam tanda tanya besar, untungnya. Ishmael telah menunjukkan begitu banyak kesalahan dan kesialan, maka dia pun menunjukkan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Jika di dunia ini hanya Anda yang merasa bumi sebenarnya sedang dalam bahaya, mungkin tidak ada artinya dan Anda bisa saja terlarut lagi dalam ketidak perdulian banyak orang lainnya. Tapi, bagaimana jika lebih dari separuh manusia di bumi yang menyadari bahaya yang sedang mengancam bumi akibat ulah manusia sendiri? Itu akan berarti banyak dan membawa kita semua pada suatu gerakan bersama untuk mengubah keadaan yang terus menepi jurang.

Sekali lagi, mohon maaf untuk resensi yang, mungkin, sama seklai tak membantu anda untuk mengenali jalan cerita novel ini. Yah, mungkin memang karena tak ada jalan cerita yang bisa ditunjukkan. Semuanya tentang dialog, dan dengan dalog itulah kita akan terhenyak. Selamat membaca.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s