• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Gunong Bengko

salah satu landscape di desa kumalasa

Jika kau pergi ke Kumalasa, desaku di pulau Bawean, dan kau berjalan ke selatan, sampai keperbatasan, kau akan sampai di gunong bengko. Sebuah bukit yang telah melahirkan demikian banyak kenangan dan jejak kaki yang tak pernah hilang walau perdu dan rumputan menghapusnya tiap musim hujan datang. Memang Gunong Bengko bukanlah bukit Siwalik di Himalaya yang menjadi terkenal ke seluruh dunia karena penemuan giganthropus di sana, atau bukit Tsur yang menjadi termasyhur karena salah satu bagian penting sejarah Islam terjadi di sana, ia juga bukan Dieng yang dulunya menjadi tempat semadi para begawan dan resi, tak ada satupun kualitas sejarah fenomenal yang pernah terjadi di sana, atau kemungkinan penemuan satu fosil menggemparkan, tidak ada, akan tetapi, gunong bengko telah tegak mencuat karena dia telah ditakdirkan menjadi tempat seorang anak kecil berlarian mengejar monyet dan belajar memanjat mangga berusia puluhan tahun. Aku.

Memalukan sekali jika kutakan Gunong Bengko menjadi spesial karena dulunya pernah menjadi tempatku menghabiskan masa kecil. Ah, itu berlebihan sekali, kawan. Gunong Bengko menjadi spesial—atau paling tidka bagiku—karena dia dulunya adalah bagian dari masa lalu sebuah masyarakat di pulau kecil dengan peradaban yang masih merangkak dan lama akan berjalan tegak. Gunong Bengko adalah salah satu dari sekian banyak bukit yang dulunya dihuni manusia dan menjadi rumah. Gunong Bengko adalah saksi bisu atas suatu periode di mana manusia dan para binatang pemburu, anjing, pernah hidup berdampingan dalam kerja sama yang menakjubkan.

Peliharaan pertamaku adalah anjing cokelat merah yang tak pernah memahami perintahku dan tak pernah bisa kugendong—mungkin itulah alasan kenapa kemudian aku lebih suka memelihara kucing. Tapi sebagai anjing, yang bahkan tak ada nama buatnya, dia benar-benar tahu alasan mengapa ada relasi majikan dan peliharaan antara aku dan dia, antara keluargaku dan dia. Kami memberinya makan dan kasih sayang—dalam batas-batas yang diperbolehkan—dan dia memberi penjagaan. Apa yang harus dijaga si kaki empat itu? Segala macam tanaman buah dan umbi-umbian dari serang monyet dan babi hutan. Ini adalah awal dari petualangan yang menakjubkan kawan, yang aku sadari semakin tua aku semakin mustahil mendapatkan petualangan yang sama serunya.

Di siang hari, saat matahari bersinar terik dan angin meniup lembut, kedamaian lamat-lamat turun dari puncak bukit ke lereng, membuat kami—para manusia—terlena dan hendak menutup mata, tiba-tiba anjingku yang perkasa menyalak dengan garang dan penuh kemarahan. Aku terlonjak, kakakku tergagap, ibuku melemparkan kain yang menutup mukanya, sedetik kemudian kami pun sudah saling berbagi pemahaman: monyet hutan melakukan serangan!!!

Kami pun lari ke luar gubug dan mendapati primata hitam berekor itu tengah bergelayutan di cabang-cabang pohon. Beberapa meter lagi mencapai bibir ladang. Ibu segera berteriak-teriak mengusir binatang yang difitnah Darwin sebagai nenek moyangnya. Kakakku mengambil seben—pelontar batu berupa tali diikatkan pada selembar kain seperti yang digunakan para pejuang intifadah—dan menghantamkan bongkahan batu kumbung pada hama bertangan itu. Dan aku, tentu saja, menemui anjingku yang dari tadi menggongong tanpa henti. Aku punya caraku sendiri.

Tanpa berkata-kata. Tanpa mengusap kepalanya. Tanpa membelai punggungya. Aku bertepuk tangan dan memekik: huarrrrooooo!!! Dan anjing itu pun tahu apa yang harus dilakukan: berlari sekencang-kencangnya dengan empat kaki kokohnya, melesat bagai anak panah lepas dari busur, melejit bagai kilat, menghantam kerumunan monyet yang kelabakan. Anjing itu berlari tanpa ada yang bisa menghentikan. Mengejar musuh alamiahnya yang juga musuh majikannya. Semkin keras aku memekik, semakin nyaring aku bertepuk tangan, semakin bersemangat anjing itu mengusir kawanan monyet. Pada akhirnya, seperti biasanya, seperti pertarungan antara Spongebob-Tuan Krab vs Plankton, kami selalu memang. Monyet itu berhasil diusir dan ladang kami aman. Buah dan umbi-umbian selamat dan bisa kami nikmati nanti waktu panen. Hanya saja, hasilnya tak selalu begini. Kadang-kadang, kami juga lengah dan ketika sampai di ladang pemandangan menyedihkan yang kami temukan: pisang-pisang bertebaran di bawah batangnya yang kacau karena daunnya koyak berceceran, ubi dan talas bergelimpangan di atas tanah yang terbongkar, buah sukun mengelinding dengan menyisakan lobang besar-besar, butir kelapa belah bertaburan di tanah rumput, dan mangga, tinggal batoknya bersisa. Sangat menyedihkan saat itu terjadi—hanya saja, anehnya, saat aku mengenagnya lagi saat ini justru itu terasa dmeikian manis dan indah. Hahaha.

Yang selalu membuatku heran adalah bagiamana caranya anjing itu mengetahui kedatangan para monyet? Aku saat itu belum tahu tentang kemampuan dengar super milik para anjing. Aku kagum karena jelas-jelas aku tau dia sedang tidur dan tiba-tiba kepalanya tegak dan kupingnya berdiri. Lalu menyalak lantang ke arah tepat di mana si monyet jahat datang.

Apa kenangan masa kecilmu, kawan? Apa kau punya bukit seperti itu?

Advertisements

One Response

  1. Kenangan bersahabat dgn alam atau alam yang msh bersahabat..
    demikian Gunong Bengko tempoe doeloe atau Bawean pada umumnya.
    kebanyakan orang mengenang alam dan tingginya sosial masayarakat waktoe doeloe…
    gak tau sekarang, apakah kesan itu masih seperti dulu atau tinggal kenangan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: