Posted in Teaching, think

BAGAIMANA ANAK ANDA BERUBAH MENJADI MONSTER DAN MENELAN SEGALANYA?

jangan buat dia keras dan marah hatinya
Anda mungkin sering bertanya-tanya, mengapa anak Anda sangat lemah di mata pelajaran tertentu—sebut saja matematika—sementara temannya yang lain sama seklai tidak memiliki masalah dengan matematika. Atau, Anda mungkin juga sering heran, mengapa anak Anda begitu mudah berbohong, seakan-akan berbohong adalah satu-satunya cara bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhannya. Atau, untuk kasus yang lain, Anda mungkin juga sudah capek menghadapi anak Anda yang demikian bandel dan nakalnya, sehingga kadang Anda berpikir dosa apa yang telah Anda perbuat di masa lalu sampai-sampai Tuhan menghukum Anda dengan dikaruniai anak yang demikian super kenakalannya. Semua itu membuat Anda jengkel dan kehilangan kesabaran, bahkan, pada beberapa orang, mungkin sudah putus asa mengharapkan perubahan pada si anak. Anakku nakal dan bandel, dia bodoh lagi pembohong, dia hanya membawa kesusahan pada orang tuanya. Tak heran, pada titik tertentu, Anda mungkin akan merasa sedikit—atau banyak—menyesal telah memiliki anak tersebut. Oh, jika itu telah terjadi, jika pendapat itu telah muncul dalam benak Anda sebagai orang tua, pendidik dan pelindungnya, maka ada sesuatu yang harus Anda pahami sebelum Anda mengeluhkan penyesalan tersebut pada rekan kerja Anda, pada bekas guru Anda, pada penjual sayur langgananAnda, atau pada orang tua teman anak Anda.

Ketika anak berbuat nakal—atau tepatnya, berbuat sesuatu yang tidak diinginkan orang tua walaupun kadang itu sebenarnya perbuatan yang baik—orang tua cenderung menilai bahwa anaknya adalah anak yang tidak beres, ada yang salah dengan dirinya, suatu kepribadian telah muncul dari dirinya dan membuatnya menjadi sosok yang tidak menyenangkan. Orang tua mengira keburukan itu asli berasal dari anak itu sendiri, seakan sama aslinya dengan hidung yang menempel di wajah si anak. Dan karena orang tua menganggap keburukan-keburukan itu merupakan sifat alamiah yang dimiliki si anak, maka yang harus dibereskan adalah anak itu sendiri. Yang harus ditangani dan dirubah adalah anak itu sendiri. Yang harus dihukum, dipukul dan ditindak dengan tegas adalah anak itu sendiri. Pernahkah Anda melihat ada orang tua yang memukul tangannya sendiri karena mendapati anaknya mencuri? Ah, tidak ada, yang terjadi, tangan anaknyalah yang biru lebam dihantam. Yang menjadi pertanyaan saya, yakinkah Anda dengan pendapat Anda tentang kenakalan anak tersebut? Yakinkah Anda bahwa keburukan yang dilakukan si anak adalah sifat alami yang pasti muncul suatu hari nanti? Yakinkah Anda bahwa anak Anda memang memiliki jiwa jahat yang sudah tiba saatnya keluar dan harus dihentikan? Yakinkah Anda bahwa anak Anda memang asli dari sononya nakal dan itu harus segera dihentikan dengan tindakan? Bagimana Anda bisa yakin dengan semua itu? Mungkin untuk menjawab pertanyaan saya yang terakhir Anda akan menjawab dengan tegas: karena saya tidak pernah mengajari mereka melakukan hal-hal buruk tersebut! Tidak pernah sekalipun dalam hidup saya! Oh, begitu ya, maaf, kini giliran saya mengajukan pertanyaan berikutnya, ketika anak Anda lahir, dia hanya bisa menangis dan merengek, kini dia bisa bicara bahkan menyanyi, siapa yang mengajarinya? Pasti Anda yang mengajarinya—dengan cara apapun. Ketika anak Anda lahir, dia hanya bisa tidur terlentang, sekarang dia bisa tengkurap, merangkak, berjalan, berlari bahkan melompat, siapa yang mengajarinya? Pasti Anda yang mengajarinya—dengan cara apapun. Anak Anda juga terlahir tanpa mengenal siapapun, kini dia mengenal banyak orang, bahkan dia juga tahu istilah ayah, kakek, nenek, saudara, teman, orang jahat, orang baik, musuh, penjahat, dan banyak lagi, siapa yang mengajarinya? Pasti Anda yang mengajarinya—dengan cara apapun. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa anak-anak itu terlahir tanpa membawa bekal pengetahuan sedikitpun. Tanpa membawa definisi satupun. Tanpa memiliki konsep kepribadian sedikitpun. Mereka kertas putih bersih. Kaset kosong. Lemari tanpa isi. Dan bagaimanakah sekarang ia bisa sedemikian berubah? Bagaimana ceritanya kertas putih itu kini sangat ramai dengan coreng moreng? Apa yang membuat kaset kosong itu kini hingar bingar dengan jeritan dan bentakan dan omongan tak sopan? Lemari itu kini bahkan penuh dengan barang-barang tak berguna. Siapa yang mengisinya? Siapa pelakunya? Disadari atau tidak, kita, para orang tua, adalah pelaku dari semua itu. Entah Anda salah satu pelakunya, atau mungkin, satu-satunya pelaku. Saya tahu akan ada bnyak protes di sini, pada kesimpulan menyakitkan ini. Kini, mari kita simak penjelasan berikut, karena bisa jadi, seperti yang Anda jawabkan tadi, Anda memang sama sekali tidak mengajarkan hal buruk pada putra atau putri Anda, tapi sebenarnya tanpa sengaja Anda telah menjadi sosok yang demikian gigih mengajarkan keburukan tersebut. Tanpa Anda sadari. Dan di sinilah kita akan bersama-sama mencari jalur itu, menemukan apa-apa yang mungkin telah luput dari pengamatan.

Mari kita gunakan contoh kasus mengapa seorang anak menjadi pembohong yang handal. Ini untuk membantu Anda mengetahui mengapa seorang anak berubah suka berbohong—jika kebetulan putra Anda suka berbohong, dan ini untuk membantu Anda untuk mencegah agar putranya tidak menjadi seorang pembohong—bagi yang putranya belum menjadi tipe seperti itu.

Pada dasarnya, kepribadian seorang anak tidak bisa muncul dengan sendirinya, tapi dibentuk. Dia dibikin menjadi begitu, bukannya secara kudroti menjadi begitu. Yang sering terjadi, orang tua tidak menyadari bahwa dia sedang membentuk kepribadian anak-anaknya. Tahap pembentukan tersebut melewati fase-fase berikut: lingkungan > perilaku > kecakapan > kepercayaan diri > identitas atau kepribadian. Lingkungan memberikan kondisi tertentu pada seorang anak, kondisi itu mendorongnya untuk mengambil perilaku tertentu. Seiring dengan rutinnya dia melakukan perilaku tersebut, dia akhirnya menjadi cakap, ahli dalam bidang tersebut. Ketika dia mulai ahli, dia akan mulai percaya bahwa itulah dirinya, bahwa itulah bakatnya, bahwa itulah yang semestinya dia lakukan, dan ketika kepercayaan tiu sudah tertanam dalam benaknya, ta-ta, selamat, Anda telah membentuk satu kepribadian pada diri anak Anda.

Sebuah contoh kasus. Sebut saja namanya Ray. Ray duduk di bangku kelas tiga SD dan dia tidak ada bedanya dengan anak kecil yang lain. Riang dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi, di rumahnya Ray tidak terlalu bahagia. Orang tuanya mendidiknya terlalu keras. Jika ada yang salah dari perbuatan Ray, hukuman yang berat akan dia terima. Sekali waktu Ray tanpa sengaja menjatuhkan gelas kaca, Ray harus berdiri satu jam di dekat pintu kamar mandi setelah selesai membersihkan pecahan gelasnya sambil dimarahi oleh ibunya. Ray merasa tertekan. Dia tidak mendapatkan ketenanagan atau rasa aman di rumahnya. Dia merasa setiap tindakannya mengandung resiko besar yang harus dia tanggung jauh diluar kemampuannya. Suatu ketika, sebagai anak kecil yang belum bisa membuat pertimbangan bijaksana, Ray menghabiskan ayam goreng untuk makan malam nanti. Ray ketakutan, dia sudah bisa menduga bahaya macam apa yang sedang menunggunya. Dia tahu ibunya akan sangt marah dan hukuman sudah pasti dia terima. Ayahnya juga tidak akan tinggal diam. Ayahnya sangat tidak suka pada anak yang melakukan hal-hal yang menurutnya tidak benar. Ray harus menemukan cara untuk menyelamatkan dirinya dari semua bahaya yang menunggunya. Ray pun mulai mencari cara, mencari alasan, mencari penyelamatan diri, dan yang bisa dia temukan adalah ini: mengalihkan pelaku. Atau dengan kata lain, berbohong. Ray membuat seakan habisnya ayam goreng itu karena dimakan kucing. Dengan itulah dia akan menjawab pertanyaan interogatif orang tuanya, ayam gorengnya telah dicuri dan dihabiskan kucing.

Ketika orang tuanya pulang dan mendapatkan ayam goreng habis, Ray menjelaskan jika kucing telah memakannya. Orang tuanya percaya dengan keterangan Ray. Ray pun lega, dia telah lolos dari satu hukuman. Dia telah selamat dari satu bencana. Dan keberhasilan ini telah memberikan satu kesimpulan sederhana bagi Ray: kebohongan bisa menyelamatkanku dari bencana yang biasa ditimpakan papa-mama. Berikutnya, seperti yang mungkin sudah Anda duga, hal itu kembali berulang dan berulang. Kasusnya bukan lagi dengan ayam goreng, tapi lebih luas dan beragam. Ray menjatuhkan vas bunga dan kepada orang tuanya dia melaporkan seorang anak nakal yang melemparnya sewaktu bersepeda dengan kawan-kawannya. Ray mendapat nilai merah di sekolah dan harus ditunjukkan pada orang tuanya, Ray takut dimarahi, diapun membuangnya dan melaporkan jika kertas itu jatuh di angkot dan hilang. Ray pulang terlambat dan beralasan jika kegiatan ekstra ditambah waktunya. Semua itu bohong, dan semua itu menyelamatkannya dari hukuman. Ray merasa aman dan dia tetap bisa bersenang-senang. Orang tuanya merasa anaknya baik-baik saja, tapi sebenarnya dia telah menjadi seorang pembohong pemula—yang kemungkinan akan menjadi profesional sebentar lagi.

Yang terjadi kemudian, Ray mulai berbohong lebih sering dari yang dia bayangkan. Ray terus-terusan membuat kebohongan untuk setiap tindakan yang dia percaya tidak akan disukai orang tuanya. Kebohongannya terus dan terus bertambah. Berbohong mulai menjadi suatu perilaku yang tidak bisa dia hentikan, karna dia selalu mengharapkan kemamanan bagi dirinya. Dan dengan semakin seringnya dia berbohong, dia pun semakin cakap. Semakin ahli.

Tapi masalah baru muncul lagi. Dan itu memang sudah alamiah sekali untuk terjadi. Kebohongan tidak bisa selamanya dipertahankan, bukan? Akhirnya orang tuanya pun tahu jika Ray selama ini berbohong. Orang tuanya marah. Mereka mulai mencurigai Ray dengan segala kecurigaan untuk segala yang Ray katakan. Kepercayaan tidak lagi diberikan pada Ray. Dan Ray yang malang pun hnaya bisa tersudut dengan kerapuhannya. Dia sesekali masih melakukan kesalahan sebagaimana anak kecil pada umumnya, dia ingin berbohong untuk menyelamatkan dirinya, tapi orang tuanya tidak lagi memberinya kepercayaan. Orang tuanya senantiasa mendesaknya dan menampik semua alasan darinya. Orang tuanya terus menganggap semua jawaban dan alasan dari Ray adalah kebohongan. Ray tak ingin dirinya tersudut lebih jauh, dia pun mati-matian mempertahankan kebohongannya. Perdebatan terjadi. Dan orang tuanya mulai menjudge Ray sebagai bocah nakal pembohong yang tidak bisa dipercaya. Kejengkelan itu demikian besar di antara kedua belah pihak (saya pribadi pernah beberapa kali mendapati orang tua yang memperingtkan tetangganya agar tidak percaya pada anaknya karena anaknya itu seorang pembohong, dan perigatan itu dia berikan tepat di depan anaknya sendiri).

Ray sedikit demi sedikit mulai menyerap dalam benaknya semua penilaian dan anggapan negatif yang diberikan orang tuanya. Ray mulai merasa bahwa dirinya memang jahat, bahwa dia memang buruk, bahwa dia, memang seorang pembohong! Mulai saat itu, Ray pun menganggap dirinya seorang pembohong, aku adalah pembohong, dan karena dia meyakini bahwa berkata bohong adalah bagian dari dirinya, maka melakukan kebohongan bukanlah sesuatu yang terlarang dan buruk bagi dirinya. Mengapa berbohong akan buruk bagiku karena aku adalah seorang pembohong? Berbohong adalah benar bagiku, dan itu menyelamatkanku dari banyak hal buruk yang bisa menimpaku.

Dengan demikian, sebuah keluarga telah menjadikan salah seorang anaknya seorang pembohong.

Dengan skema di atas—perubahan kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan, perilaku, kecakapan, kepercayaan yang akhirnya membentuk identitas—bisakah kita menggunakannya untuk menjelaskan kasus berbeda? Tentang lemahnya anak dalam belajar misalnya? Jawabannya, bisa!

Ambillah contoh seornag siswa bernama Rini. Rini adalah seorang siswi di sebuah SMP, yang terjadi padanya adalah setiap kali dia gagal dalam ulangan matematika, orang tua dan gurunya akan memberikan hukuman paadanya. Dengan ini lingkungan telah memberikan suasana yang buruk antara Rini dan matematika. Satu hal yang muncul dalam benak Rini—dan anak-anak lainnya yang mengalami situasi yang sama dengan Rini—bahwa matematika bisa menimbulkan masalah baginya. Efeknya, hal ini membuat Rini takut. Gelisah. Kecemasan mendatanginya tiap kali tiba jam pelajaran matematika. Dan dia menjadi sangat tertekan saat ulangan. Hampir di semua sekolah yang memiliki guru matematika killer, pasti murid-muridnya merasakan kecemasan saat pelajaran matematika berlangsung. Penyebabnya bukan karena matematika itu menakutkan, bukan, tapi karena gurunya yang telah menciptakan suasana mengerikan bagi anak-anak. Perilaku baru telah terbentuk dalam diri Rini, dia tidak menyukai matematika, kini dia juga enggan mencoba, dia merasa kegagalan adalah bagian antara dirinya dan matematika. Perilaku inferior itu berpengaruh pada kecakapan Rini dalam bidang matematika. Kini Rini menjadi siswi yang cakap untuk gagal, dengna kata lain, kecakapan matematika Rini tidak berkembang dan jauh tertinggal. Kondisi ini sama sekali tidak baik bagi Rini. Guru dan orang tuanya terus-terusan tanpa henti menekannya. Mereka menjejali Rini dengan rumus dan pressure, dengan bentakan dan sesekali kemarahan. Bahkan kemudian, guru dan orang tuanya mulai berkata, kamu bodoh banget ya sama matematika. Rini pun mulai merekamnya dalam benaknya, dan dia bertanya pada dirinya sendiri, apa aku emang bodoh sama matematika? Kegagalannya yang terus datang menjadi jawaban bagi dirinya, bahwa dia memang tidak bisa mengatasi matematika, bahwa dia memang bodoh dalam ilmu matematika, aku bodoh! Saat ini, Rini mulai percaya dirinya bodoh dalam ilmu matematika, dan tak butuh waktu terlalu lama baginya—dengan tekanan yang tak henti dari orang tua dan guru serta hasil ulangannya yang tak membaik—untuk meyakini bahwa dirinya bodoh dalam ilmu matematika. Rini pun mulai menanamkan dalam keyakinannya bahwa aku, Rini, adalah siswa yang bodoh dalam ilmu matemtatika, jika nilaiku jelek, ulanganku salah, orang tuaku marah dan guru juga marah, itu sudah wajar, karena aku memang bodoh dalam ilmu matematika. Jadi, sekarang sebuah sekolah dan sebuah keluarga telah mencetak satu lagi siswa yang menyerah dan menggagalkan diri dalam bidang ilmu matematika.

Apa Anda terkejut? Apa Anda merasa heran? Ya, Anda pasti tidak menyadarinya sama sekali, semua yang Anda perbuat, semua yang Anda katakan, semua gerakan tangan yang Anda berikan, semua tatapan mata penuh amarah yang Anda layangkan, semua bentakan yang Anda teriakkan, pada akhirnya, membentuk anak Anda menjadi sosok yang berbeda. Bahkan sampai Anda tidak mengenalinya lagi, apa yang terjadi padamu, nak?

Semuanya berawal dari lingkungan. Lingkungan tempat dia tinggal, tempat dia menuntut ilmu, lingkungan tempat dia menghabiskan paling banyak aktifitasnya sehari-hari. Apa yang dia dapatkan dari lingkungan itu adalah apa yang paling banyak dia dengar, paling banyak mempengaruhi emosinya, dan akhirnya, paling banyak masuk dalam benaknya. Kemudian, apa yang dia dapatkan dari lingkungannya akan perlahan-lahan membentuk perilakunya. Pastinya Anda tahu, bagaimana seseorang yang tadinya sewaktu masih di desa baik-baik saja tapi setelah pindah ke kota, dia kembali dengan tampilan berbeda? Mungkin sebagian orang tetap tidak berubah, ya, itu karena mereka sudah dewasa, sudah dapat membedakan dengan sempurna mana hal baik dan mana hal buruk. Tapi anak-anak? Mereka adalah kertas yang masih kosong. Mereka adalah individu yang masih mencari, dan sosok berotoritas di sekitarnyalah yang menentukan akan berperilaku seperti apa dia nantinya. Perilaku yang senantiasa diulang akan degan sendirinya membentuk kecakapan pada anak tersebut. Dan orang-orang di sekitarnya akan mulai menilai dan mengidentifikasi anak tersebut sebagai anak bermaslah, merka menyebutnya sebagai anak nakal, mereka mengejeknya, memanggilnya dengan panggilan negatif, dan perlahan, anak itu pun mulai mengulang-ngulang hal itu dalam hatinya. Pada akhirnya, dia mulai mempercayai apa yang orang katakan mengenai dirinya. Aku adalah anak nakal. Secara betahap pula dia akan merasa nyaman dengan penilaian tersebut. Ketika itu sudah terjadi, kepribadian baru sudah diinstal kedalam jiwanya yang bersih. Dia telah berubah. Anak kecil itu telah berganti. Anda tidak mengenalinya lagi, dia kini menjadi makhluk asing bagi anda. Anda akan sering kali dibikin jengkel olehnya. Pertanyaannya, benarkah perubahan itu adalah kesalahan si anak? Benarkah dia seorang yang harus bertanggung jawab atas keburukan yang dia lakukan?

Paciran, 29 Oktober 2011

Disarikan dari Hypnotherapy for Children oleh Adi W. Gunawan

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “BAGAIMANA ANAK ANDA BERUBAH MENJADI MONSTER DAN MENELAN SEGALANYA?

  1. Hai..blognya keren lho…saya udah baca beberapa konten…
    salam kenal..nama saya Kak Zepe.
    Saya juga punya sebuah blog yang membahasa segala sesuatu tentang dunia anak.
    Khususnya tentang lagu anak-anal..
    Kalau mau tahu lebih lengkap, silakan bergabung di blog saya.
    Ada di

    http://lagu2anak.blogspot.com

    Sekalian ikut serta dalam mengembangkan lagu anak di tanah air yang kian merosot…
    Mohon dukungannya untuk mensukseskan gerakan ini.
    Salam cinta lagu2anak…
    ..,.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s