Posted in ehon, Teaching

THE DEFEATED JAPANESSE SOLDIER FACE

Barulah pada apel Sabtu pagi kemarin aku menyadarinya, satu wajah di antara wajah-wajah siswaku yang lain. Wajah pucat itu, dengan matanya yang sipit dan miring, hidung kecilnya yang hampir tiarap, tulang pipinya yang agak naik, mulutnya yang kecil, dan rambutnya cepak tipis lagi kaku. Dia berdiri lebih tinggi dalam barisannya. Seketika wajahnya itu melemparkanku pada kenangan akan wajah tentara-tentara Jepang yang dikalahkan dalam perang Dunia Kedua sebagaimana yang biasa kusaksikan di film-film Barat. Wajah yang pucat dan bersedih. Wajah yang seakan menyimpan keraguan akan masa depannya. Wajah yang terus menunggu dan tidak juga datang jemputan. Wajah yang selalu membuatku bertanya-tanya, seberapa lama lagi sebenarnya manusia sanggup menanggung kesedihan pedih hatinya? Tapi sebenarnya bukan sekedar penampang dari wajahnya itu yang membuatku tersentuh, ada yang lain yang—kupikir sudah agak lama aku merasakannya—menyambar kesegala arah, menebarkan tanda tanya kira-kira kesedihan macam apa yang dia punya, itu terbetik dalam sorot matanya. Tatapan yang seakan berhenti tepat satu jengkal dari wajahmu, tatapan yang tak berani terlalu jauh dibentangkan, dan kalaupun iya, tatapannya itu hanyalah tatapan kosong terseret dalam lamunan.

Dia dari keluarga yang jauh, juga kurang mampu. Aku belum pernah melihat keluarganya datang menjenguk semenjak empat bulan lalu ia di pondokkan. Yah, memang bukan dia seorang yang mengalami itu, tapi aku juga tidak tahu pernahkah keluarganya menelepon selama jangka waktu itu. Pastilah dia amat rindu dengan mereka. Kerinduan dan merasa tak dipedulikan selalu menjadi pemicu ampuh untuk mengubah sikap seseorang, dan itulah yang aku saksikan pada awal-awal dia di pondok. Dia usil. Menjahili temannya. Beberapa menangis karenanya. Dan nasehat serta peringatan pun dia dapatkan dari para ustadz. Tapi dia belum juga berubah banyak. Sampai akhirnya aku menyadari tidak ada lagi santri lain yang mengeluhkannya. Dia tidak lagi berulah. Dia sudah berubah. Dan mungkin itu akan menjadi satu pengabaran yang menyenangkan, paling tidak untuk diriku sendiri, seandainya Sabtu pagi itu aku tidak menangkap rona di wajahnya itu. Dia begitu mirip dengan tentara Jepang kalah perang dan meringkuk dalam sesaknya penampungan. Sesuatu yang lain sedang menangkap hatinya.

Aku berharap bisa melakukan lebih untuknya, dan aku pun berusaha. Aku percaya, hal kecil tak terduga selalu berhasil memberikan efek luar biasa untuk membantu mencapai suatu tujuan besar. Kusempatkan untuk bicara dengannya saat bersimpangan di jalan. Kuberikan beberapa detik lebih lama menatap matanya dengan tenang saat sedang berlangsung jam pelajaran di kelas. Kusebut namanya beberapa kali saat dia menjawab dengan benar atau jawabannya perlu diluruskan. Menepuk punggungnya saat berbaris dalam shof sholat jamaah. Dan malamnya, saat belajar kelompok, aku duduk di sampingnya, memegang pundaknya, dan bertanya, pernahkah kau mendapat juara dulu waktu SD? Dia tersenyum dan menggeleng—oh iya, dia memang jarang bicara. Lalu kukatakan lagi padanya, maka jadilah juara sekarang, di sini. Berusahalah dengan keras. Kalau pun kau belum juga dapat juara, kau sudah berusaha. Dia tersenyum. Agak mengantuk, tapi dia bersemangat. Ku ambil kertas rumus perubahan kata ilmu shorofnya, menanyakan beberapa hal dan dia menjawab beberapa pertanyaan. Lalu dia ijin untuk mencuci muka. Dia pergi, tak lama kemudian kembali dengan muka basah dan lebih cerah. Dia berbaring di dekatku, membaca LKS Bahasa Indonesia sambil terngkurap dengan wajah yang masih meneteskan air kran. Mungkin jika dia menoleh, dia akan melihat wajahku juga basah. Oleh air mata. Karenan melihatnya, seperti melihat diriku sendiri waktu masih kecil lagi.
17 October 2011

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

3 thoughts on “THE DEFEATED JAPANESSE SOLDIER FACE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s