• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

LELAKI TUA PEMBUAT SAMPAN RAKSASA

Seberapa sering kenangan menerpa dirimu? Aku tak punya jawaban jika kau tanya apa ada bedanya antara yang sering atau yang jarang atau yang hampir tidak sama sekali. Aku tak tahu, tapi yang bisa kukatajan padamu, juga pada diriku waktu udzur nanti, bahwa tiap kenangan yang datang adalah petunjuk tentang seberapa banyak aku memperdulikan sesuatu. Semakin jarang aku terkenang, kesimpulannya sederhana, qemakin sedikit yang kuperdulikan.

Karena penasaran, aku pun menanyakan namanya pada seorang muridku, ‘oh, itu Mbah Mun, Pak.’ jawabnya. Dan seketika pada detik itu pula aku tahu jika Mbah Mun akan jd bagian kenanganku. Lelaki itu sudah jompo, jelas dengan keriput dan uban serta kurusnya. Seusianya, kebanyakan orang tua mungkin sedang berbaring letih tanpa daya. Tapi Mbah Mun tidak. Sejak Ramadlan, aku melihat ia sibuk dihalaman rumahnya yang luas menggergaji, memotong, membentuk dan memalu bilah-bilah papan dan potongan kayu. Dia melakukannya seorang diri. Pada minggu ke dua, aku berdiri terkejut untuk bebepapa detik di jalan demi mengetahui apa yang sedang ia buat: sebuah sampan besar. Sampan yang akan membawanya jauh ke tengah laut, mencakup air di mana keringat masa mudanya terlarut.

Kadang aku merasa tak sabar menunggu Mbah Mun merampungkan sampannya. Aku tak kuasa menunggu lama-lama, magnet dari kerja keras selalu ampuh membuatku belingsatan. Sampai Ramadlan mencapai paruh akhir dan aku akan mudik ke Bawean, Mbah Mun belum rampung dengan pekerjaannya. Aku meninggalkan Jompong hari itu denganmendengarkan hantaman palu kayunya yang bertalu. Sampai nanti Mbah, kutunggu sampanmu.

Dan sekarang, setelah aku kembali ke Jawa, dengan lelah menapaki lalan cor kampungku, aku masih menyaksikan punggung Mbah Mun mencangkung memalu bilah papan pada rangka sampan. Ia belum selesai.

Belakang, aku terpikir sedikit hal, tentang bayangan Mbah Mun mendayung ke tengah lautan. Melihat betapa pelannya ia menggarap, betapa tak terburu-buru, jangan-jangan, ia sebenarnya tak pernah berencana membuat sampan itu untuk dirinya, sampan itu bukan untuk membawanya menjaring ikan, tapi untuk anaknya. Anaknya yang belum kujumpai.

Mbah Mun tahu ia sudah sangat tua, sudah tak ada waktu yang cukup lama, ototnya juga tak cukup tahan untuk mendorong dayung, maka sampan itu tak pernah ia niatkan untuk petualangannya. Tidak, bukan untuk kenangannya, tapi untuk memberi kesempatan bagi putranya buat meneteskan keringat di tempat mana dulunya ia mencucurkannya. Mbah Mun butuh ‘sampan yang lain’.

Sambil melihat muridku berlari menyusul temannya yang sdang menendang sandal, aku berbisik, Mbah Mun, engkau adalah kenanganku.

2 Responses

  1. Assalam… ada di twiter…?

  2. waalaikum salam. ada mas bro, pean cari aja arul_chandrana, entar pasti muncul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: