• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

BAYI BERUSIA 12 TAHUN, 23 TAHUN, 45 TAHUN, 60 TAHUN DAN 100 TAHUN

si imut yang lagi semaput (Ustadz Aa, maaf foto junior saya pakek, hehehehe)

Anda punya seorang bayi di rumah? Atau Anda pernah merawat bayi? Anda mungkin pernah bertanya mengapa bayi tiba-tiba menangis, atau mengapa dia rewel, orang tua atau perawat sering kali bingung dan gelisah karenanya. Mereka melakukan segala cara untuk menenangkan bayinya, perhatian terbaik dan terbesar dicurahkan, dan walaupun—sepertinya—kedua belah pihak sama-sama tak mengerti bahasa yang digunakan, akhirnya bayi itupun tenang, berhenti menangis dan tertidur pulas dengan damai. Apa sebenarnya yang terjadi?

Seorang bayi, yang tidak memiliki bahasa selain tangisan dan gerak tangan dan kaki yang kacau, bisa merasakan keadaan di sekitarnya. Ketika dia merasa sendiri, ketika dia merasa ditinggal, diacuhkan, sakit, atau diperlakukan dengan cara yang tak dia inginkan, maka dia pun berteriak meminta perhatian dari orang-orang terdekatnya dengan tangisan, menjerit sekeras yang pita suaranya bisa lakukan. Dan seketika, semua orang di sekitarnya pun mengejarnya dan buru-buru menggendongnya. Memberikan perhatian terbesar dan limpahan kasih sayang yang luar biasa banyak. Karena hanya dengan cara itulah si bayi bisa ditenangkan. Apa Anda mengira bayi akan berhenti merengek kalau kita menjawab tangisannya dengan pukulan di kaki atau tangannya?

Maaf, saya punya sebuah pertanyaan yang mungkin akan membuat Anda tergelak karenanya. Tapi tak apa, saya tetap akan mengajukannya: jawablah, apa beda antara bayi dengan manusia dewasa dari segi respon mereka saat ditimpa masalah? Silahkan saudara menjawabnya, sepanjang atau seringkas apapun jawaban tersebut. Saya yakin, akan ada banyak sekali ragam jawaban yang saya dapatkan, tapi sejujurnya, dan ini jawaban yang paling jujur yang bisa Anda dapatkan, jawabannya adalah: TAK ADA BEDANYA. Ya, tak ada bedanya. Ketika manusia dewasa, atau remaja, atau juga anak-anak ditimpa masalah, mereka akan mencari pertolongan, akan berusaha mendapatkan perhatian, akan berusaha mendapatkan simpati dan kasih sayang untuk menguatkan dirinya. Inilah yang terjadi pada semua orang tapi hampir tidak diperdulikan oleh siapapun juga.

Bagi seorang pendidik, pemahaman ini sangat mendasar untuk disadari. Pemahaman bahwa tidak semua orang mampu menghadapi masalah seorang diri merupakan langkah awal untuk bisa menjadi sosok yang menentramkan, dan pemahaman bahwa tidak bisa menghilangkan masalah seseorang dengan menambahkan masalah (bentakan, pukulan, sindiran, larangan keras, dsb) merupakan langkah berikutnya untuk menjadi sosok yang menyelamatkan.

Anak-anak pun seperti bayi, ketika mereka mendapat masalah, tertekan dalam pelajaran, tak sanggup memenuhi tuntutan, atau merasa dikucilkan dalam pergaulan, merasa selalu dipersalahkan, merasa kurang diterima atau kurang dihargai, merasa rendah diri dan tak bisa membangun rasa percaya diri, mereka pun akan mengungkapkan gangguan ‘jiwa’ tersebut. Cara mengungkapkannya bisa dengan bermacam-macam cara—dan itu yang perlu kita sadari. Jika bayi cenderung dengan tangisnya yang kemudian kita sebut sebagai bayi rewel, maka anak-anak akan dengan tingkahnya yang kemudian kita sebut: ANAK NAKAL.

Masalah pada anak muncul karena mereka membutuhkan bantuan, hanya saja, karena keterbatasan kemampuan yang mereka miliki, mereka tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya pada orang-orang dewasa di sekitarnya—dalam hal ini kita sebagai para guru. Mereka juga tak tahu bagaimana caranya menegur orang dewasa di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Lantas apa yang terjadi? Yang nampak kemudian dari anak bersangkutan adalah: perubahan perilaku. Si anak mulai bertingkah sebagai suatu langkah untuk mendapatkan perhatian.

Pembaca yang budiman, mari kita asuh baik-baik ‘bayi’ yang diasuhkan ke pangkuan kita. Mari kita berhenti menganggap masalah yang muncul pada anak sebagai sebuah aksi pembangkangan mereka kepada kita, mari kita mengubah anggapan bahwa anak bermasalah adalah anak yang harus dihukum, mari kita memberi makna baru terhadap masalah-masalah itu. Seorang anak yang bermasalah adalah anak yang butuh bantuan. Sangat butuh bantuan. Maka bantulah.

10 September 2011

4 Responses

  1. ternyata susah juga jadi bayi yang penurut….. eh kalo dpet kasih sayang sekaligus perhatian , mw juga ah nyoba jadi bayi nakal…. ?\(^o^)/?

  2. hahahahahahahaha kau korbankan di faiq……?

  3. sekali waktu faiq pengen unjuk gigi ki.

    asma, tapi menjadi anak sangat menyenangkan lho

  4. heheee…. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: