• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

BOTOL, PERAHU DAN LAUTAN

Seingatku, aku mulai melempar surat dalam botol dengan rutin semenjak pelayaranku di tahun 2005, pelayaran untuk kuliah di Jawa. Saat itu, aku masih ingat, kumasukkan suratku dalam botol plastik bekas minuman penyegar. Aku menyembunyikan dalam-dalam di antara baju-bajuku, melesakkannya jauh-jauh di dasar ransel tuaku. Aku tak siap jika hal itu ketahuan ibu atau kakak perempuanku apalagi oleh para tetangga, terlalu mengerikan. Kau tahu, mereka pasti tersenyum heran sambi ketawa cekikikan mengetahui ada pemuda ingusan melempar surat di tengah lautan, kau ingin pacaran dengan ikan paus, anak muda? Aku berhasil menyembunyikan botol bersurat itu, membawanya keluar rumah dengan aman, sampai di dermaga dan aku naik perahu ke tengah lautan. Tapi apa sebenarnya yang kutuliskan?

Pada surat selembar kertas itu, aku menuliskan…ng…kawan, aku lupa, aku lupa apa tepatnya yang kutulis di sana. Tapi yang bisa kupastikan, aku menulis bahwa aku sedang meninggalkan Bawean, dan aku bertanya-tanya akan jadi apa aku nanti di masa depan. Apakah akan jadi mahasiswa berkesuksesan? Karya-karyaku diterbitkan? Atau hanya akan kembali pulang dengan beban gelar sarjana kurang kerjaan? Aku sangat khawatir waktu itu. Kutoleh sekelilingku, gelap. Semua lampu perahu padam, hitam pekat. Perahu berayun dalam derum ombak tanpa ujung. Dengan helaan nafas panjang, kulempar surat botol pertamaku ke tengah lautan. Aku tak melihat bagaimana ia melayang setelah satu meter ia terbang. Kegelapan tengah lautan menelannya jauh sebelum lautan menelannya. Aku juga tak mendengan bagaimana ia jatuh ke air, karena derum mesin perahu tak henti meraung. Tapi aku lega, aku telah melakukannya. Dengan sukses dan memuaskan.

Mungki ada yang bertanya-tanya, pada siapa sebenarnya surat dalam botol itu kualamatkan, atau botol-botol surat lainnya kemudia, jawabannya, kutujukan Tidak Pada Siapapun. Aku menyerahkannya pada angin dan gelombang untuk di bawa ke pantai mana saja di benua Asia, atau Afrika. Aku juga pasrah jika ternyata pelaut tangguh suku Maori yang memungutnya dari dalam perut hiu tangkapan mereka. Semua kuserahkan pada takdir yang berkenan.

Setelah hari itu, pada pelayaran berikutnya, aku selalu menulis surat. Bahkan mudik kemarin aku mengajak murid-muridku untuk turut menulis surat.

Tahun ini, aku pun akan bersurat lagi, dan begitu botol itu lepas dari genggaman, segera aku akan tertelan oleh sebentuk perasaan tak terkatakan: rasa penasaran mendapatkan pengabaran dari siapapun yang menemukannya. Kawan, andai malah engkau yang menemukan, tolong jangan segan untuk aku dikabarkan.

5 Responses

  1. semoga botolnya bersandar di Tanjung Gaang😀

  2. Ngaturaken sedoyo lepat nyuwun ngapunten

  3. sudah selesai baca ‘Pemburu Rembulan’, keren!😀

  4. makasih kawan2 untuk komennya. galuh, ah, engkau membacanya juga? maksih udah berbagi/. yiohaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: