Posted in sastra

The Mind Swimmer

‘Berdiri dan angkat tanganmu di atas kepala!’ Aku berteriak nyaring begitu pintu kelas yang kudobrak menjeblak terbuka. Engsel atasnya copot, membuat pintu kelas itu menggelantung pada kaitan bawahnya.
Di depan sana, seorang guru pria tua menatapku penuh heran dan kaget; pistol di tanganku tepat mengarah ke tempurung kepalanya.
‘Ada apa ini? Kenapa Anda mendobrak masuk dan menodongkan senjata pada saya?’ Suaranya lemah, gemetar, tak berdaya, membuatku tak percaya atas misi yang sedang kujalankan.
‘Saya hanya seorang guru tua bergaji rendah, anak muda.’ Dia melanjutkan. Tanganku tanpa sadar mengendur, moncong pistolku bergerak menyusuri dahi, hidung, dagu, leher dan dada.
‘Mungkin Anda harus memeriksa koper saya, Anak Muda.’ Katanya kemudian. Dia pun membuka kopernya, dan dengan tangan gemetar merogoh isinya, granat.

Aku ternganga, dan si guru tua hanya tersenyum sembari melanjutkan mengosongkan kopernya, stengun, revolver, M16, ranjau, hulu ledak.
‘Berhenti! Berhenti! Berhenti! Angkat tanganmu! ANGKAT TANGAN DAN MENJAUH DARI MEJA!’ Aku memekik ketakutan, kurasakan tanganku gemetar.
‘Tuan,’ sebuah suara memanggil, mantap dan berkelas. Berikutnya, ada telapak tangan lembut menyentuh pundakku.
‘Tuan, silahkan tanda tangan di sini, dan uang 2 milyar itu menjadi milik Anda,’
‘Apa?’ aku berseru kaget. Bingung atas apa yang terjadi, kuamati tangan kananku, pistol itu tak ada, kulirik dadaku, lencana polisi itu juga tidak ada. Dan yang duduk di depanku itu, seorang pria berstelan pegawai bank yang tersenyum melirik blanko di atas meja.
‘Silahkan tanda tangan, Tuan.’ Kata pegawai itu lagi.
Aku mengangsurkan tubuhku, memeriksa kertas-kertas itu,
warisan? ‘Maaf, dari siapa ini sebenarnya?’ Tanyaku penuh curiga.
Sekali lagi pegawai bank itu tersenyum, lalu dia menyebutkan sebuah nama.
‘APA? DIA? PIMPINAN MAVIA ITU?’ Aku memekik kaget. Aku merasa jika wajahku pucat kini.
‘Tuan, tidak ada istilah mavia di sini,’ jawab pegawai itu. ‘Yang ada hanya transaksi. Jika transaksinya resmi, maka semuanya bersih. Nah, uang yang Anda terima ini resmi dan bersih.’
‘Tidak. Tidak. Aku tidak akan menerima uang ini tak peduli apapun yang kau katakan tentangnya.’ Aku beringsut. Tapi seketika aku merasakan perubahan di wajah pegawai itu. Ada gurat yang kelam dan pekat di sana.
‘Anda harus menerimanya. Karena saya sudah berjanji untuk memastikan Anda menanda tangani surat pernyataan pembunuhan ini!’
‘Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan menerimanya! Aku juga tidak mau membunuh siapapun! AKU TIDAK BERSALAH!’
‘Tuan,’
‘Pergi!’
‘Tuan,’
‘PERGI!!!’
‘Tuan, kereta Anda akan berangkat 2 menit lagi.’

Toooot…terdengar raungan panjang dari kereta, tanda para penumpang agar segera bersiap berangkat. Kereta api terpanjang, dengan lokomotif yang tak lagi baru, beberapa kali hampir kecelakaan, berdiri diam di depanku.

Aku menghembuskan nafas. Sesuatu yang dalam dan sesak selalu menggelayuti benakku, ada apa ini? Tapi tak pernah ada jawaban, tak di manapun juga.
‘Tuan, mari, waktu Anda tinggal satu menit. Atau Anda harus menunggu kereta berikutnya, 30 menit lagi, mungkin.’
Aku tersenyum kecil untuk petugas yang ramah itu. Kuraih tasku dari lantai, dan berjalan cepat ke gerbong nomer tiga. Sekilas kulirik lagi roda paling depan kereta api ini,
dia masih di sana, masih di sana. Makhluk itu masih di sana.
Kupercepat langkahku, mengejar waktu yang kian mengkerut. Dan sebelum masuk ke dalam pintu, untuk terakhir kalinya, kulihat lagi makhluk berkaki banyak itu, dia masih menempel di roda depan, dengan matanya berputar-putar.
‘Kau mau apa di sana, gurita?’ Aku bertanya pada diriku sendiri.

Entah berapa lama aku tertidur dengan kepala menempel di jendela, tapi goncangan-goncangan di sini sangat menyebalkan. Pesawat yang mencoba menembus gumpalan awan bergemeretak jauh lebih keras dari pada truk yang merayap di bukit batu. Aku menghela nafas. Jauh di kananku, petir menyambar dengan cepat. Aku sering terpesona tiap kali menyadari jika aku baru saja melihat bagaimana petir keluar dari rahim komulusnimbus, tapi kali ini aku terlalu gelisah. Pikiran tentang mertua menyebalkan, bankir penipu dan bisnis yang mendekati runtuh membuatku tak bisa menikmati penerbanganku kali ini.

Aku kembali tidur, terlelap, dan tak peduli pada binatang-binatang buas yang mulai bermunculan dari balik kerimbunan. Langkah kaki mereka berkerasak menyaruk daun-daun kering di tanah. Mata mereka nyalang menatap tubuhku yang lelap. Mereka menyeringai, menampakkan taring kekuningan yang tajam dan panjang.

the end

Kawan, sekarang pertanyaan buatmu, tentang apa sebenarnya cerpen yang aku tulis dan posting lewat hp Sony W200i di atas? Kutunggu jawaban terbaikmu.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

6 thoughts on “The Mind Swimmer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s