Posted in Teaching

MINAN

DIA bertanya padaku dengan senyumnya yang lugu, ‘Pak Arul kok gak ngajar aku lagi?’ Dan aku hanya bisa tersenyum sembari mengusap rambutnya, ‘maaf Minan, Pak Arul tidak ngajar kelas empat.’ Dan itu sudah cukup untuk membuatnya merasa kehilangan. Tapi yang sebenarnya terjadi, kami berdua telah sama-sama kehilangan.

Minan bukan dari keluarga berada, seperti murid-muridku lainnya, tapi yang membuatnya berbeda, dia selalu tampak lebih berantakan. Bajunya lebih kumal dan lebih tua–seingatku, aku pertama kali melihatnya mengenakan baju yang kekecilan. Rambutnya kusut dan kemerahan. Sedang kulitnya berdebu. Dia bukan tipe yang akan mendapati simpati guru kebanyakan, di samping juga karena belajarnya yang lamban–dia belum bisa menulis! Tambahan lagi, seperti bocah lelaki lainnya, dia usil.

Metode belajar-bermain yang kupakai tampaknya cocok dengan sobat kecil itu. Dia selalu menunggu jam pelajaranku. Bahkan dia termasuk yang paling rajin. Dalam semangatnya itu, Minan tetap menjadi siswa biasa saja, dia tidak bisa mengalahkan teman-teman lainnya. Tapi dia berani berkompetisi, dan aku dengan antusias memberi aplaus yang besar untuk tiap jawabannya yang hampir benar–sayangnya itu sangat jarang terjadi.

Minan masih tersenyum, membekukanku yang bahkan tak bisa membuatnya menulis sedikit lebih baik. Entahlah. Hingga pada suatu hari, saat ‘kegilaan mengajarku’ tak tertahan, aku mengajak mereka semua untuk main drama! Ya, main drama! Siswa-siswi kelas dua dan tiga MI.

Pementasan berjalan dengan penuh semangat, tawa, kecanggungan, dan intonasi tanpa ekspresi. Sampai kemudian tiba waktunya kelompok Minan tampil ke depan. Kelompok yang didominasi perempuan. Di situ, Minan berperan sebagai orang jahat.

Aku percaya, Tuhan menciptakan kita dengan pesona masing-masing. Kekuatan alami itu kita miliki sejak lahir dan sering tidak kunjung disadari. Saat memerankan tokoh jahat, Minan tampil gemilang dan penuh keyakinan. Tidak hanya bahasa tubuhnya yang menyiratkan kepenjahatannya, tapi juga suara, intonasi dan mimiknya. Minan benar-benar tampil sungguhan.

Sayang sekali, aku terlalu terjepit untuk bisa mengajar kelasnya. Memang tak ada jaminan dia akan jadi ‘pintar’ dengan aku tetap mengajarnya, tapi setidaknya aku tahu dia sangat bahagia belajar di kelas di mana aku berdiri mengajar. Kuharap, kebahagiaannya itu tak memudar. Teruslah Minan, buat semangatmu berkobar, jangan pudar, jangan mundur, terus maju menggempur. Dan pada-Nya bersyukur

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “MINAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s