• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

DUA BALITA

MEREKA sama kecilnya, sama lucunya, sama balitanya, tapi yang satu berasal dari keluarga yang lebih kaya, dan lebih terpelajar. Dari situ kita memulai, apa yang membuatku tidak khusyuk maghrib kali ini.

Dua balita itu awalnya suka bercanda bersama sewaktu orang-orang sedang khusyuk dalam shalat jamaah. Mereka akan berkejaran, berteriak-teriak, dan tertawa-tawa bersama, mengacuhkan para jamaah yang bisu menyimak bacaan imam yang terkadang salah.

Balita yang miskin selalu datang lebih awal ke masjid bersama ayahnya yang tradisional. Dia akan berjalan sendirian tanpa tujuan di depan barisan jamaah. Dan ketika balita berayah terdidik datang, berteriaklah si ‘lama’ memanggilnya, lalu keduanya tertawa, selanjutnya berkejaran berputar sampai imam mengucap salam.

Tapi maghrib ini hal berbeda terjadi. Balita keren datang dengan sebuah mobil mainan plastik mengkilat, membuat si kolot ngiler ingin merasakan memainkan mainan roda empat itu. Dia pun mendekat, tidak memekik memanggil nama, tapi merapat dengan hati-hati dan tanpa suara. Lalu apa kata si balita kaya? Dengan tak fasih, dia membentak, ‘ini punyaku!’ Lalu pergi menjauh. Meninggalkan si melas terduduk menatap mainan itu berayun di tangan ‘mantan’ kawannya.

Berikutnya, drama miskin kaya pun berlangsung di depan barisan jamaah. Balita miskin itu hanya membuntuti dari belakang, mencoba menggapai mobil mainan dan cuma mendapat bentakan. Sampai akhirnya, dia cuma duduk terlongong, tak jauh dari tempat sholatku, memendam rasa irinya akan mainan yang mungkin tak akan pernah ayahnya membelikan.

Dan segera saat itu aku menyadari satu hal, aku lebih senang dan tetap bisa khusyuk menghadapi bocah-bocah yang berkejaran berteriakan, bahkan bertengkar sekalipun, karena mereka tidak akan sampai saling tikam, dari pada harus menyaksikan kemiskinan membuat seseorang, dalam hal ini bocah di bawah lima tahun, tersisih dan menelan kepahitan. Sholatku benar-benar tercabar.

Aku merasa melihat diriku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: