• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

AKU BANGUN PAGI INI DISAMBUT DENGAN KEMATIAN SALAH SATU PENGHUNI RUMAH

AKU berjengit mendapatinya tergeletak kaku di bawah kabinet tempat menata piring, tak jauh dari kulkas. Dia sudah meninggal, semalam entah jam berapa. Tapi kedinginan yang merambati pagi telah membuatnya kaku seakan sudah mati beberapa hari yang lalu. Aku pun bergegas sholat, berpikir jika tikus hitam itu harus segera dibuang sebelum penghuni rumah yang lain bangun.

Menemukan tikus mati itu, membuatku teringat pada salah satu rancangan novel yang belum kelar, Ray dan Keluarga Toe Melawan Tiger, novel fantasi yang mengisahkan jika tiap keluarga punya ‘tikus keluarga’. Tikus itu bukan menjadi hama bagi keluarga pemiliknya, tapi malah menjadi pelindungnya–seperti menjaga makanan dari pencurian tikus-tikus liar. Hanya saja, jika disesuaikan dengan standar novel RKTMT, tikus itu tidak bisa disebut sebagai tikus keluarga; ingat, tikus keluarga tidak pernah merepotkan tuannya, bahkan jika ada anggotanya yang mati mereka akan membawa mayatnya jauh dari rumah. Tapi, bagaimanapun, tikus itu pasti sudah cukup lama berkeliaran di rumahku. Baiklah, sebut saja dia tikus keluargaku, ok.

Aku membawanya jauh ke tengah perkebunan dengan serok sampah. Aku belum memberinya nama, dan aku hanya berani menatapnya sekilas saja. Kau tahu sendiri kan, aku penakut pada tikus. Dan hey, lihat sobat kecil itu, dia tidak buruk-buruk amat. Tubuhnya gemuk, kupingnya bundar, wajahnya lucu, dan ekornya amat panjang. Kombinasi yang keren bukan. Tapi, hrrr, tetap saja aku bergidik.

Mendekati tempat pelepasan (atau tepatnya: pembuangan), aku setidaknya tahu makhluk kecil ini telah menjalankan misi hidupnya sebaik mungkin. Dan mungkin saja, dia mati demi memperjuangkan sesuatu. Sesuatu yang penting bagi bangsa tikus.

Dengan cepat kulempar dia ke dalam semak-semak. Dan langsung menghilang. Saat aku berbalik pulang, aku tersadar belum memberinya nama! Huff, well, bagaimana kalau dia diberi panggilan Fatty Toe, termasuk dalam keluarga Toe? Kedengarannya lumayan, bukan? Aku juga yakin, Mr. Pastle Toe tidak keberatan punya anggota keluarga baru.

Selamat tinggal, Fatty Toe.

Advertisements

5 Responses

  1. hihihihi…lucu… tikus yang malang, keracunan saat pngen btahan hidup karna kelaperan be’e…hehe :p

  2. LUCU memang, tp mengenaskan. Jga menjengkelkan! Adinda, di pagi buta mengurusi jenazah…tikus! Hroaxks!

  3. kakanda yang lucu itu mze…hehehee..bukan tkusnya…. udah berapa lama tikus mati itu bertahan di dapur?

  4. ENTAH udah brapa lama, makhluk it tdk mgsi formulir kependudukan. hahaha

  5. hihihihi… :))) selamat ujian mze. tak ada kata telat ngucapin.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: