• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SONGAI DOJO, Pemandian Musim Hujan Penduduk Kumalasa, Bawean.

MASUK desa Kumalasa, kau pertama kali akan mendapati tanjakan tinggi dengan sudut kemiringan mendekati 360 derajat. Tak semua orang cukup berani mendakinya dengan bersepeda motor. Dan di puncak pungkasannya, sampailah kau di Kumalasa. Desa tempat Songai Dojo kita berada.

Untuk mencapai Songai Dojo tidaklah se sulit ke Songai Potak. Begitu kau berhasil melewati tanjakan pertama desa Kumalasa, menolehlah ke kanak, di utara jalan, kau akan lihat bangunan tembok yang tampak tua dan terbengkalai. Penuh lumut hijau tua kehitaman dan retak-retak. Itulah bangunan ‘baru’ Songai Dojo yang usianya belum belasan tahun.

Aku tak tahu sejak kapan tepatnya Songai Dojo digali, pertama kali aku ke Bawean, tinggal di Kumalasa, Songai Dojo sudah ada dengan kolamnya berdinding tatanan batu hitam yang disusun rapi (orang setempat menyebutnya gulugur) dan lantai yang bersemen yang pecah-pecah di semua tempat. Aku yakin orang-orang tahu jika air bekas mandi mereka masuk kembali ke dalam kolam, namun begitu, orang-orang tetap mandi di sana tanpa beban pikiran akan kebersihan.

Pohon besar entah apa namanya tumbuh tujuh meter di sebelah baratnya. Dari pohon itulah mengalir dua mata air, Songai Dojo dan geluran (kali) kecil tanpa nama di utaranya. Mungkin karena ukurannya yang masih sangat kecil dibandingkan pohon potak, dan tidak adanya hutan, sumber air Songai Dojo tidak pernah cukup besar untuk para pemakainya. Di musim kemarau, airnya mengering sangat banyak sehingga tampaklah dasar lumpurnya, coklat kehitaman bercampur pasir kuning. Di sumber mata airnya, aliran air kecil tak berdaya membentuk kubangan air yang langsung habir dalam sekali ciduk. Dan menunggu dua menit untuk cidukan berikutnya.

Keadaan berbalik 100% saat musim hujan. Jumlah air mendadak melimpah seiring hujan yang terus turun. Bahkan kolam air setinggi 150 cm dan panjang tujuh meter itu meluap airnya. Biru bergelombang. Di musim hujan, Songai Dojo mendapatkan kehidupannya.

Tahun 2005, pemugaran di lakukan. Bangunan tua berlumut itu dirombak. Orang-orang bergotong royong membangun tembok, lantai, dan menyemen kolam. Bahkan, sebuah surau beton dibangun di barat sungai. Dengan menggunakan kayu dari pohon besar sumber air satu-satunya Songai Dojo (dan pohon raksasa berusia puluhan tahun milik SDN 02 Kumalasa juga turut ditebang).

Memang kini Songai Dojo tampak megah, maksudku bangunannya, bukan kenyataan bahwa ia telah rengkah di beberapa sisi dan berlumut, dan lantainya rapat tanpa lobang, kolamnya pun besar dan kokoh, dasar lumpur-pasirnya diganti semen cor, tapi kehidupannya kini sekarat. Airnya berkurang jauh. Bahkan hampir mengering tiap musim kemarau. Musim hujan, air yang sangat banyak tiba-tiba datang menumpah di kolam, membuatku bertanya-tanya, dari tanah mana kau datangnya?

Terimakasih buat David untuk trik posting multiplel pages-nya. Ini yang pertama, Dude.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: